
Seminggu Setelah Peristiwa Itu...
Dara termenung di depan jendela kamarnya yang terdapat sofa panjang. Hatinya sangat remuk mengingat bagaimana Abi seperti terkena sengatan tawon setiap Dara meminta untuk sekamar dengannya dan tidur berdua. Entah apa yang membuatnya seperti itu dan Dara bertekad untuk mengetahuinya.
Dara masih memandang langit kota Jakarta yang tanpa bintang malam ini. Di semua sudut kamarnya, Dara paling suka area ini. Sofa panjang dekat jendela kamarnya yang besar dan terkadang Dara sengaja membukanya untuk mencari udara segar.
Dara teringat bagaimana dulu Yanti berusaha menarik Abi agar pernikahan mereka menjadi pernikahan yang pada umumnya, suami istri satu kamar bukan terpisah. Sayangnya disaat Yanti mulai mendapatkan jalan, Tuhan memanggilnya.
Sekarang, Dara yang mengalami akan hal itu tapi Dara bukan Yanti. Dara ingin membuka pola pikir Abi bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang aneh, istri adalah partner dalam apapun bukan hanya urusan ranjang, Dara ingin melakukan pillow talk atau percakapan sebelum tidur. Apalagi Dara hanya sementara bekerja sesuai dengan kontraknya pada pihak sekolah dan janjinya dengan Abi.
Semenjak peristiwa itu, hubungan Dara dan Abi merenggang. Meskipun Dara masih seperti biasa melayani Abi tapi tidak untuk urusan di ranjang. Dara merasa sakit hati akibat perilaku Abi disaat terakhir mereka bercinta atau hanya have s*** dari sisi Abi karena hanya naf*** yang ada bukan perasaan seperti yang makin Dara rasakan pada suaminya.
Ya, Dara merasa mulai jatuh cinta pada suaminya. Sejak kapan, Dara tidak tahu tapi siapa yang lama-lama tidak jatuh cinta dengan Abi? Walaupun tidak ada kata cinta dari bibir Abi, namun perhatian kecil dan sepele dari suaminya membuat Dara tersanjung. Namun seminggu ini Dara merasa semua itu mulai jarang ia rasakan. Mungkin dia salah terlalu egois tapi Dara tidak bisa memungkiri rasa sakit hatinya.
Sekarang pintu penghubung sengaja Dara ganjal pakai kursi agar Abi tidak masuk dan pintu kamar pun dia ganjal. Dara tidak mau dianggap hanya sebagai selir atau apalah seperti jaman kerajaan yang hanya didatangi kalau paduka butuh.
Dara bertekad untuk tidak menangis lagi namun dia butuh waktu untuk menata hatinya.
***
Abi berusaha membuka pintu penghubung namun tidak bisa seperti ada sesuatu yang mengganjal, begitu pula dengan pintu kamar. Semua pintu di rumah Abi menggunakan password kode kecuali kamar hanya pemilik kamar dan sidik jari Abi yang ada disana.
Sudah seminggu ini Dara seperti menghindari dirinya meskipun dia tetap melayani di meja makan, mencium dirinya sebelum kerja namun seperti hanya formalitas.
Abi tahu Dara merasa tersinggung akibat perbuatannya seminggu lalu namun untuk mengatakan alasannya Abi tak mampu.
Pria itu pun kembali ke kamarnya dengan perasaan galau.
***
Hari Sabtu ini semua anggota keluarga duduk bersama di meja makan. Abi memandang wajah istrinya yang agak pucat, begitu pula dengan Antasena yang memperhatikan kondisi kakak iparnya.
"Mbak Rara nggak papa?" tanya Antasena.
"Nggak papa dik. Mbak cuma kecapekan saja seminggu ini banyak kerjaan" senyum Dara yang tampak dipaksakan dan semua itu tidak terlepas dari pandangan tajam Abi.
"Kamu sakit Adara?" tanya Abi akhirnya.
"Nggak mas, cuma capek saja. Maaf, aku kembali ke kamar dulu." Dara kemudian berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
"Adara, makananmu belum habis!" seru Abi namun Dara tidak menggubris dan dia terus naik tangga ke lantai dua. Suara pintu tertutup pun terdengar.
"Mas, kayaknya mbak Rara benar-benar nggak enak badan. Apa perlu panggil dokter Diana?" tawar Antasena.
Dokter Diana adalah istri teman Abi dan Antasena yang bernama Stephen. Keduanya datang ketika Abi melangsungkan pernikahan dengan Dara di Solo.
"Coba kau telpon Stephen ajak Diana kesini. Semoga dia tidak pergi dengan anak-anaknya di weekend ini." Abi pun berdiri dan menuju lantai dua ke kamar Dara berharap kamarnya tidak diganjal lagi.
Antasena segera menelpon Stephen meminta tolong untuk ke rumah Abi bersama Diana.
***
Abi mencoba membuka pintu kamar Dara dan dirinya bersyukur kamarnya tidak diganjal. Dilihatnya Dara meringkuk di bawah selimut, wajah cantiknya tampak pucat.
"Adara" bisiknya setelah mendudukkan tubuhnya di pinggir tempat tidur Dara. Tangan Abi menyentuh kening Dara yang agak hangat.
Astaga dia benar-benar sakit! Abi merasa keringat dingin mulai menjalar di dahinya. Trauma masa kecilnya keluar lagi.
Suara ketukan mengagetkan Abi dan pria itu membuka pintu kamar. Tampak Antasena disana.
"Stephen dan Diana akan datang sepuluh menit. Mereka kebetulan ada acara di seputaran daerah sini."
"Wedang jahe buat nyonya, tuan."
Abi mengambil nampan kecil itu dan meletakkan di meja kecil samping tempat tidur. Tiba-tiba suara ponsel Anta berbunyi dan Abi mendengar kalau Stephen dan Diana sudah sampai depan mansion.
***
Diana sudah memberikan obat dan resep untuk Dara yang masih tertidur.
"Bi, obat yang aku berikan hanya sementara tapi lebih baik kamu tebus resep nya karena ini obat penting buat kondisi istrimu" Diana memberikan resep ke Abi.
"Sebenarnya Adara sakit apa Di?" tanya Abi.
"Istrimu yang cantik itu terlalu banyak pikiran Bi, jangan kau tekan terus" kekeh Diana.
"Sayang, Abi pengantin baru biarpun kedua kalinya jadi wajar lah. Kita bahkan masih rutin melakukannya" Stephen mengedipkan sebelah matanya.
"Oh come on, masih ada jomblowan disini" umpat Antasena jengah.
Stephen dan Diana tertawa. "Segeralah menikah bro" ucap Stephen.
__ADS_1
"Bik Tarsih, tolong tebus resep dari dokter Diana dan ini uangnya" ucap Abi ketika kepala pelayannya membawakan minuman lalu memberikan beberapa lembar uang warna merah. "Minta tolong antar pak Sigit ya."
"Baik tuan. Permisi."
"Stephen, Diana, terimakasih. Nanti aku transfer biayanya" kata Abi kepada kedua pasutri itu.
"Bayarannya gampang kok. Ajaklah istrimu makan malam bersama kami, kita dobel date. Gimana?" tanya Diana.
"Boleh. Permisi, aku keatas dulu. Sekali lagi terimakasih." Abi pun menuju kamar Dara.
"Rawat yang bener Bi!" seru Stephen dengan nada menggoda yang dibalas lambaian tangan Abi.
***
Abi memandangi wajah Dara yang sudah tidak terlalu pucat. Efek obat yang diberikan Diana mulai memperlihatkan hasilnya.
"Eengh..." Dara mengerang.
"Adara..." suara bariton membuat Dara membuka matanya lebih lebar.
"Mas...Abi?" bisiknya.
"Apa yang sakit Adara?" wajah Abi tampak khawatir.
"Kepalaku..." suara Dara masih terdengar pelan.
"Tunggu sebentar, obatmu sedang dibelikan. Kamu membutuhkan apa Adara?"
"Aku... "
***
Yuhuuu
Doubel Up yaaaa
don't forget to like vote n gift
thank you for reading
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1