Menikahi Suami Sahabatku

Menikahi Suami Sahabatku
Gozali Ramadhan


__ADS_3

Abi dan Dara terbangun karena suara ponsel yang berbunyi tanpa henti. Biasanya Abi mematikan ponselnya atau membuatnya menjadi nada diam tapi entah kenapa kali ini dia lupa mematikan ponselnya.


"Halo..." dengan suara serak Abi menjawab.


"Bapak Abimanyu Giandra?" tanya orang diseberang.


"Betul. Ini dengan siapa ya?" Abi melihat jam dinding kamarnya yang menunjukkan pukul 2 pagi.


"Kami dari kepolisian. Bapak mengenal suami istri Sukri dan Imah?"


Abi terdiam sebentar untuk mengingat "Yang tinggal di kampung Selong?"


"Betul tuan. Apakah anda mengenal Gozali Ramadhan?"


"Iya, dia teman anak saya."


"Saya minta bapak ke rumah sakit Bhayangkara sekarang."


"Ada apa ya pak?"


"Bapak akan mengetahuinya nanti. Kami tunggu."


Abi memandang ponselnya. "Ini bukan prank kan?"


Dara yang terbangun pun bertanya "Ada apa mas?". Abi pun menceritakan apa yang baru saja terjadi.


"Kita kesana saja mas tapi tidak sendirian. Bawa pengawal saja. Coba aku hubungi mbak Nabila, dia punya teman di kepolisian."


Abi pun menurut. Keduanya pun mengganti pakaian lalu membangunkan Mirna dan Mini untuk menjaga Ghani dan Rhea selama mereka pergi. Dua pengawal yang awalnya menjaga rumah dibawa Abi setelah shift pagi dimajukan jam kerjanya.


***


Sesampainya di rumah sakit Bhayangkara, Abi mencoba menghubungi nomor ponsel yang tadi menghubunginya. Datanglah seorang polisi berpakaian preman disertai seorang perwira yang mengenakan seragam.


"Pak Abimanyu? Saya Kompol Syamsul dan ini pimpinan saya..."


"Mbak Dara? Saya Manggala teman Nabila" sapa perwira itu ramah yang langsung menyalami Dara. "Pak Abimanyu."


"Tunggu, anda memanggil istri saya 'mbak' tapi ke saya 'pak'?" tanya Abi tidak terima.


Manggala tertawa. "Karena mbak Dara adik dari Nabnab eh Nabila."


Abi hanya memutar mata malas sedangkan Dara hanya tersenyum.

__ADS_1


"Pak Gala, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Dara mengembalikan tujuan utama mereka kemari.


"Mari ikut saya. Sam, kamu berjaga-jaga disini ya" perintah Gala kepada bawahannya.


"Siap Ndan."


Abi dan Dara pun mengikuti Manggala yang berjalan di lorong rumah sakit itu. Semua polisi yang ada disana memberikan hormat pada pria berusia 40an tahun itu.


Sesampainya di depan sebuah kamar rawat, tampak Gozali terbaring tidak berdaya dengan infus dan berbagai alat menempel di tubuh kecilnya. Dara terkejut melihat banyaknya luka di tubuh sahabat putranya.


"Apa yang terjadi? Kenapa Gozali terluka seperti ini?" jerit Dara dengan menangis. Abi pun memeluk istrinya agar tidak histeris.


"Sersan Aira, tolong bu Abimanyu. Saya mau bicara dengan pak Abimanyu empat mata" perintah Gala kepada seorang polisi wanita.


"Baik Ndan. Mari Bu, kita duduk disana" sersan Aira menghela Dara ke sebuah kursi tunggu.


Abi mengikuti Manggala menjauh dari Dara yang tampak shock dan sedang dihibur sersan Aira.


"Pak Abi, apa bapak mengenal suami istri Sukri dan Imah?"


Abi menganggukkan kepalanya. "Mereka orang tua Gozali, anak yang sedang terkapar disana."


"Apa pak Abi membantu secara finansial kepada kedua orangtuanya Gozali?"


"Membantu langsung, tidak, karena keduanya tipe orang yang mau bekerja keras dan tidak mau dibantu cuma-cuma. Namun saya berhasil membujuk keduanya untuk memberikan beasiswa untuk Gozali bahkan rencananya sampai sarjana."


Abi semakin bingung dengan pertanyaan dari Gala. "Bukannya tadi saya bilang, mereka tidak mau dibantu cuma-cuma dalam arti mereka tidak mau menerima uang percuma. Makanya ketika saya bilang mau membantu pendidikan, mereka mau menerima karena itu demi kepentingan anaknya karena mereka sendiri tidak mampu. Sebenarnya ada apa ini?" Nada suara Abi mulai tidak sabaran dan mulai emosi.


"Pak Abi, dengan sangat menyesal saya memberitahu kan bahwa ada perampokan di kampung Selong dan suami istri Sukri dan Imah menjadi korban kejahatan" ucap Manggala pelan yang mampu membuat Abi terguncang.


"Astaghfirullah, innalilahi wa innailaihi rojiun. Mereka gimana pak Gala?" Abi sampai harus bersandar di tembok rumah sakit.


"Keduanya tidak selamat dan Gozali pun nyaris tidak selamat kalau Bu Imah tidak melindunginya. Dan para peronda memergoki perampok itu."


"Apa pelakunya sudah tertangkap?"


Manggala menghela nafas panjang. "Pelakunya sudah tewas dihajar massa, pak dan ternyata dia baru berusia 17 tahun sedang mabuk dan mengira bahwa kedua orangtua Gozali mempunyai uang banyak karena anaknya berteman dengan anak anda."


"Astaghfirullah" Abi tak henti-hentinya beristighfar. "Ya Allah, Gozali."


Manggala mengusap-usap bahu Abi yang tampak shock.


"Lalu Gozali bagaimana? Apa ada saudara dari orang tuanya?" tanya Abi.

__ADS_1


"Hasil laporan dari anak buah saya di lapangan, menurut para tetangga, mereka tidak mempunyai saudara disini. Pasangan Sukri dan Imah itu kawin lari dari Jawa Timur lalu tinggal disini. Di rumah mereka saja hanya ada dua buku nikah mereka dan uang sebesar 300ribu upah dari kerja seminggu Sukri. Jadi bisa dibilang Gozali sebatang kara sekarang." Manggala menatap Abi yang mulai mengembun matanya.


"Gozali biar saya yang asuh. Adara pasti tidak akan keberatan jika kami menambah anak lagi apalagi dia sahabat Ghani putra kami" ucap Abi sembari mengusap wajahnya.


"Saya tahu kalian keluarga baik-baik kalau nggak Nabila pasti nggak bakalan gangguin saya di sepertiga malam ini demi adik perempuannya" senyum Gala.


"Saya lebih sering bertemu dengan Yuna dibanding Nabila kalau dari keluarga Pratomo" ucap Abi.


"Nggak heran, karena Nabila itu melanglang buana bersama Mike suaminya dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain" kekeh Gala. "Mari pak Abi, kita menjelaskan peristiwa kelam ini ke mbak Dara. Semoga dia kuat mendengarnya."


***


Dara menangis histeris ketika mendengar kejadian yang menimpa sepasang suami istri yang selalu ringan tangan membantu dirinya secara tragis. Abi sampai harus memeluknya erat agar istrinya lebih tenang.


"Ya Allah mas, pak Sukri Bu Imah itu orang baik! Kok bisa begini?" ucapnya berulang kali.


"Mbak Dara, apa mbak Dara keberatan untuk mengasuh Gozali sementara waktu?" tanya Gala hati-hati.


"Tentu saja tidak! Biarkan Gozali tinggal bersama kami!" sergah Dara tegas.


"Kami tetap akan mencari keluarga Gozali baik dari pihak ayahnya maupun ibunya" ucap Gala.


"Nggak usah! Biar Gozali jadi anak kami!" potong Dara emosi.


"Sayang, jangan begitu. Kalau Gozali masih ada kakek neneknya gimana? Masih ada oom sama tantenya?" bujuk Abi.


"NO ! Biarkan dia bersama kita mas! Kita keluarganya paling dekat! Gozali pasti trauma!" Dara menatap Abi galak.


"Baiklah, Gozali tinggal bersama kalian dulu sampai traumanya terkikis. Saya yang akan menjamin bahwa kalian memang pantas menjadi orang tua angkat Gozali." putus Manggala.


"Terimakasih pak Gala!" Dara memegang tangan Gala dengan wajah sumringah lalu memeluk suaminya dengan lega.


"Besok kita buat surat pernyataan dengan pengacara saya, pak Gala agar ada bukti hitam diatas putih. Soal pemakaman pak Sukri dan Bu Imah, biar kami yang menanggung biayanya" ucap Abi.


"Baik pak Abi. Ternyata Nabila benar, kalian orang baik" senyum Gala.


***


Yuhuuu


Up sore dulu Yaaaa


Thank you for reading

__ADS_1


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2