
Jam 3 sore Arkan dan Milea baru sampai di rumah sakit. Mereka langsung berangkat dari hotel usai makan siang setelah Arkan membaca pesan dari Pram.
“Sudah baikan, Kak ?” sapa Arkan saat melihat Henri sudah setengah berbaring di atas ranjangnya.
Milea yang menyapa kedua orangtua Arkan masih mendapat tatapan sinis dari Mami sedangkan Papi sudah membalasnya dengan senyuman ramah.
“Sudah jauh lebih baik,” sahut Henri sambil tersenyum.
“Jangan bilang kalau kalian…” Henri menunjuk Milea dan Arkan bergantian sambil tersenyum menggoda.
“Milea belum mau sebelum masalah kalian beres,” sahut Arkan gantian menatap Henri dan Arumi bergantian.
Kakak kandung Arkan sedang menyuapi sepotong kue untuk suaminya. Terlihat Arumi masih sangat menyayangi suaminya.
“Aku terserah Rumi saja,” sahut Henri. “Kalau Rumi belum bisa memaafkan, aku tidak bisa apa-apa karena tidak mungkin menghapus Emilia dari kehidupan…”
“Bisa nggak jangan membahas itu dulu. Yang penting sekarang Mas Henri cepat sembuh dulu,”
ujar Arumi dengan nads ketus dan wajah galak.
“Dan kamu Ar, daripada rempong ngurusin masalah orang, lebih baik kamu pikirkan cara meyakinkan Milea tanpa perlu dipusingkan soal Emilia,” ketus Arumi sambil melotot ke arah adiknya.
“Sayang, kamu jangan galak begitu, bisa-bisa Milea tidak mau menerima Arkan karena punya kakak dan boss yang galak.”
“Nggak usah panggil-panggil sayang, aku masih kesal nih sama kamu !” Arumi menyahut dengan ketus.
Arkan tertawa sambil mencibir sementara Henri hanya berani tersenyum menghadapi istrinya.
Arkan pun mengajak Milea duduk di sofa bersama Papi dan Mami supaya Henri bisa meneruskan makannya.
“Apa kamu tidak punya malu menolak anak saya tapi mau aja diajak pergi berduaan ?” ketus Mami Mira sambil menatap tajam ke arsh Milea.
“Mami kenapa sih kalau ketemu Milea bawaanya ngajak berantem terus ?” protes Arkan.
“Kenapa ? Kamu pikir Mami nggak punya pikiran sampai besikap keras sama dia !” Mami Mira menujuk Mile dengan tatapan emosi yang sulit ditahan.
“Mami, namanya Milea,” ujar Arkan.
“Tidak penting soal namanya karena malas Mami menyebutnya. Kamu seenaknya bersikap kasar pada Dina padahal kamu sendiri tidak lebih dari perempuan murahan yang suka menjebak laki-laki seperti anak saya !”
__ADS_1
“Mami !” pekik Arkan.
“Apa maksud Tante ?” Milea berusaha memberanikan diri membalas tatapan Mami Mira.
“Jangan kamu pikir saya hanya bisa menuduh tanpa bukti !”
Mami Mira melemparkan handphonenya di atas meja dengan kondisi layar terbuka. Terlihat foto-foto Arkan dan Milea saat mereka menghabiskan waktu di pantai 2 hari yang lalu.
“Apa itu namanya kalau bukan perempuan murahan ? Kamu pikir dengan sikap sok polos dan lembut, kamu bisa menipu saya ? Seenaknya saja kamu menganggap Dina perempuan murahan karena membuat Arkan meninggalkanmu.”
Milea mengepalkan tangannya di antara pahanya untuk menahan emosi.
Arumi yang ikut penasaran mendekati sofa dan melihat foto-foto yang diterima oleh Mami Mira.
“Saya tidak pernah mengatakan kalau Dina adalah perempuan murahan, Tante. Yang membuat saya kecewa bukan karena Dina menikah dengan Arkan tapi sebagai sahabat, mereka tidak membicarakan pada saya yang saat itu berstatus kekasih Arkan. Dan di hari pernikahan mereka, Dina…”
“Jangan menjelekkan orang yang sudah tidak ada !” bentak Mami sambil menggebrak meja.
“Saya berusaha mendengarkan suami dan anak-anak saya untuk melihatmu sebagai gadis baik-baik, tapi apa yang terlihat di foto itu lebih mencerminkan kepribadian kamu yang sebenarnya !”
“Maaf kalau saya sudah membuat keluarga Arkan malu dengan foto yang anda terima, tapi apa yang terlihat mata seringkali tidak sesuai dengan kenyataannya. Saya pastikan kalau tidak terjadi apapun antara saya dan Arkan meskipun di foto itu kami sempat berciuman. Selain itu saya pastikan juga kalau itu semua akan menjadi yang pertama dan terakhir antara saya dengan Arkan. Saya permisi,” Milea beranjak bangun dan Arkan langsung menahannya.
“Tidak usah diperjelas Arkan, tidak ada gunanya,” Milea melepaskan tangan Arkan yang memegang lengsnnya.
“Mana mungkin kamu mau mengaku kalau memang terjadi sesuatu,” sindir Mami dengan senyuman sinisnya
Milea hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan kembali melepaskan tangan Arkan, namun pria itu sama kerasnya dengan Milea hingga akhirnya dengan sedikit kasar Milea menghentakkan tangan Arkan dan bergegas keluar kamar.
Milea terus berlari dan untung saja pintu lift langsung terbuka saat ia menekan tombolnya.
“Mami sudah sangat kelewatan kali ini,” geram Arkan dengan wajah emosi.
“Arkan, tenang dulu, duduk dulu dan jelaskan detilnya,” pinta Papi berusaha menengahi kedua orang yang dilanda emosi tinggi itu.
“Mau menjelaskan seperti apapun Mami tidak akan peduli apalagi percaya padaku, Pi. Meskipun sudah melihat bagaimana Kak Rumi hancur hatinya dan aku lebih memilih pindah keluar negeri, bagi Mami, Dina tetap calon menantu idaman.”
“Mami tidak membenarkan tindakan Dina pada Arumi !” sahut Mami dengan suara melengking. “Tapi setidaknya Dina berani mengakui kehamilannya dengan Henri. Kalau 5 tahun lalu kamu tidak menghalanginya maka tidak akan kakakmu tersakiti seperti ini dan Dina akan menikah dengan Henri.”
“Mami sungguh ibu yang sangat egois !” geram Arkan
__ADS_1
“Bisakah kalian berdua tenang dulu !” bentak Papi Firman yang mulai emosi.
Arkan mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan semua kartu kredit miliknya dan melemparnya ke atas meja.
“Tidak ada gunanya bicara dengan Mami, Pi. Sekarang atau 5 tahun yang lalu, sama-sama menyakitkan buatku. Aku akan mengirimkan surat pengunduran diri dari perusahaan dan aku pastikan pada Mami kalau aku bisa hidup tanpa bayang-bayang kekayaan orang tua.”
“Arkan, jangan gegabah,” Arumi berusaha menenangkan adiknya dan mengusap punggung Arkan.
“Kak Rumi, untuk mendapatkan kembali hati Milea aku harus menunggu keputusan Kakak dsn Kak Henri dan sekarang semuanya berantakan karena sikap Mami yang tidak pernah memberikan kesempatan padaku untuk memilih. Maaf Pi, Kak Rumi, aku pergi dulu.”
Arkan bergegas keluar tanpa menunggu tanggapan dari keluarganya. Arumi hanya bisa menghela nafas panjang dan Papi Firman menatap istrinya dengan tatapan tajam.
“Kenapa kamu tidak coba tanyakan baik-baik pada Arkan ? Apa kamu tidak sadar kalau sikapmu itu malah membuat Arkan menjauh, bukan menurut padamu ?” teguran Papi Firman yang tegas membuat Mami Mira enggan membantah.
“Arkan sudah minta ijin pada Rumi, Mi, lagipula Milea tidak begitu saja mau diajak pergi oleh Arkan. Rumi ikut membantu Arkan membujuknya.”
“Mami hanya tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Arksn sudah pernah mengambil keputusan yang salah hingga membuat pernikahannya gagal.”
“Kenapa kesannya kamu selalu membela Dina ? Papi tahu kalau keputusan Arkan agak salah karena bukannya bicara terus terang soal Emilia sebelum Rumi menikahi Henri, tapi tidak berarti kepergiannya meninggalkan Dina dan menolak Emilia adalah kesalahannya juga. Apa mami tidak kasihan melihat Arkan, anak mami sendiri, hidup dalam penyesalan dan kekecewaan ?”
“Mami hanya ingin Arkan lebih hati-hati memilih pasangan,” lirih Mami dengan wajah menunduk.
”Arumi dari keluarga baik-baik, kalau itu yang Mami mau tahu. Papi sudah memastikan kalau keluarganya orang yang baik, menempuh pendidikan tinggi dan bukan perempuan yang mendekati pria hanya karena alasan materi.”
“Jadi Papi sudah menyelidiki latar belakang dia ?” Mami mendongak dan menatap Papi.
“Mami, gadis itu punya nama, jangan hanya menyebut dia dia terutama di depan Arkan,” tegur Arumi.
”Kan sekarang orangnya nggak ada,” sahut Mami dengan sedikit ketus.
Arumi hanya menarik nafas dan geleng-geleng lalu beranjak dari sofa dan kembali ke sisi ranjang Henri.
“Jangan sampai Arkan patah hati dan menyalahkan Mami seumur hidupnya lalu memutuskan untuk pergi menjauh dari kita. Mereka saling cinta dan itu terbukti selama 5 tahun keduanya tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Bahkan Milea menolak Dino.”
“Dino kakaknya Dina ? Papi yakin kalau Dino memilih perempuan seperti itu ?”
“Tadi Arumi sudah bilang kalau perempuan itu punya nama lagipula kalau sampai Dino, dokter muda yang sulit dekat dengan wanita memilih Milea, berarti Milea cukup istimewa.”
Mami terdiam dan agak kaget mendengar cerita Papi soal Dino. Diliriknya kartu kredit milik Arkan yang berserakan di meja.
__ADS_1
Teringat akan aksi nekat Arkan yang pergi meninggalkan Dina setelah wanita itu melahirkan, Mami berharap kali ini Arkan tidak akan mengambil keputusan yang sama karena gagal mendapatkan Milea.