
Sejak berhasil memecahkan 'misteri botol minum', Ghani pun semakin menjadi menganggap dirinya adalah detektif cilik seperti Conan Edogawa. Bahkan semua pelayan di rumah pun tidak lepas dari kekepoan anak berusia lima tahun itu.
Bik Tarsih yang sudah bekerja lama di keluarga Giandra memutuskan untuk berhenti bekerja. Meskipun Dara merasa kehilangan sosok ibu di mansion yang besar ini tapi Abi dan Dara tidak menahan keinginan bik Tarsih yang memutuskan pensiun dan pulang ke daerah asalnya di Salatiga.
Kini kepala pelayan dipegang oleh Mirna dan pak Harry pun mengambil putranya Hasan untuk membantunya dan memang diplot untuk menggantikan ayahnya karena Hasan seorang chef juga.
Malam ini Abi dan Dara akan datang ke acara peresmian kantor baru milik Stephen Blair. Ghani sendiri langsung mengangkat dirinya sebagai penjaga Rhea.
"Mas Ghani, mommy dan Daddy mau acara dulu sama Oom Stephen, titip jagain dek Rhea ya. Kan ada mbak Mini nanti yang bantu mas Ghani kalau dek Rhea minta maem" ucap Dara kepada putranya.
"Siap mommy. Nanti Gozali mau kesini juga buat pe er prakarya untuk dikumpulkan Senin. G soalnya nggak bisa bikin origami, tapi Gozali pintar."
"Boleh. Nanti kalau kemalaman, Gozali biar tidur sini saja, kan besok Minggu." Kali ini Abi yang berbicara.
"Ya udah, mas Ghani dan Gozali nanti jagain dek Rhea ya. Kalau ada apa-apa, lapor mbak Mini atau Bu Mirna biar nanti mereka telpon mom atau dad." Dara tidak mengijinkan Ghani menggunakan ponsel sama sekali hingga nanti SD karena tidak mau putranya terlalu addict dengan gadget sejak usia dini. Meskipun begitu, Dara tetap mengijinkan Ghani bermain iPad hanya saat akhir pekan itu pun harus ditemani Abi atau dirinya.
"Siap mommy. G akan jadi kakak yang baik!" ucap Ghani dengan gaya cool yang membuat kedua orangtuanya tersenyum.
"Mbak Mini, titip Ghani dan Rhea ya. Nanti Gozali main ke rumah, tolong disiapkan makan juga ya" kata Dara kepada asistennya.
"Baik Bu."
***
Abi dan Dara sampai di tempat acara Stephen Blair yang pindah kantor dari lokasi lama ke segitiga emas Jakarta. Desain interiornya diserahkan ke PRC group milik keluarga Yuna, kakak iparnya.
Mengenakan gaun malam, Dara hanya menyanggul sederhana dan makeup simpel sedangkan Abi mengenakan jas hitam dipadu dengan kaus turtleneck hitam.
Keduanya pun turun dari mobil Range Rover hitam Abi dan bertemu dengan Edward bersama Yuna yang juga baru datang.
"Halo calon besan!" seru Edward yang membuat Abi memutar matanya dengan malas.
"Siapa juga yang mau besanan sama lu, Ed!" cetus Abi.
"Hohoho, jangan remehkan kekuatan doa! Apa kau tahu aku selalu berdoa setiap malam kalau D bakalan jadi jodohnya Rhea" kekeh Edward sambil merangkul Abi. Edward malam ini memakai jas dan kemeja putih tanpa dasi, sedangkan Yuna memakai gaun hitam dengan tali menunjukkan bahu mulusnya.
"Haaaiissshhhh! Kenapa sih lu pengen banget jadi besan gue?" tanya Abi penasaran.
"Entah tapi aku tahu Rhea jodoh Duncan!"
"Alasan gak masuk akal Ed!" cebik Abi.
__ADS_1
Kedua pria itu masih saja berdebat meninggalkan istri masing-masing yang berjalan di belakang mereka.
"Mereka berdua kapan akurnya sih?" keluh Yuna kesal.
"Sampai mas Abi nyerah sama mas Edward setuju D jodohnya Rhea" kekeh Dara.
"Aku juga bingung Ra, kenapa juga suamiku ngotot sedemikian rupa jodohkan D ke Rhea dan sekarang D pun ngotot maunya sama Rhea! Pusing aku sama dua pria di rumah yang tiap hari bertanya-tanya, kapan Rhea gedhe yaaa" curcol Yuna.
"Tahu nggak mbak, G sampai nggak mau terpisah tidur dengan Rhea karena takut Abang Duncan mengambil adiknya" sahut Dara.
"Tapi apa sekarang G masih sekamar dengan Rhea?"
"Sudah mau terpisah sekarang, Alhamdulillah. Apalagi G ada sahabatnya Gozali yang lebih tua setahun dan lebih dewasa pemikirannya."
"Siapa Gozali?"
"Gozali itu anak sepasang buruh di kampung belakang mansion. G kan memang aku masukkan ke TPQ disana dan bertemu dengan Gozali yang lebih duluan disana. G banyak belajar dari Gozali tentang belajar huruf Hijaiyah, pelafalan dan tanda bacanya. Mbak Yuna tahu, G hilang celadnya berkat Gozali."
"Kok aku melihatnya Gozali anaknya baik bisa dijadikan sahabat" sahut Yuna.
"G itu intuisinya kuat. Dari banyak teman-temannya di TPQ dan TK nya, dia memang cocok dengan Gozali."
"Semoga mereka bersahabat hingga besar karena mencari sahabat sejati itu tidak mudah apalagi yang hanya melihat siapa dirimu bukan apa dirimu" ucap Yuna.
***
Stephen menatap jengah kakak dan sahabatnya yang masih saja meributkan sesuatu yang belum jelas ke depannya tapi sudah ramai sejak Rhea masih dalam kandungan.
"Kalian itu sudah tiga tahun, masih saja ribut harus berbesan dan menjodohkan D dengan Rhea" keluh Stephen sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Harusnya ini menjadi acaranya tapi disini, kedua orang itu malah ribut tidak jelas dan tidak melihat tempat.
"Apa susahnya sih Abi bilang 'iya' gitu kan kami jadinya ayem" sahut Edward cuek.
"Ya ampun Ed, mau sampai kapan pun aku menolak berbesan dengan mu!" Abi memegang pelipisnya.
"See, pusing kan kau? Dibilang say yes, maka pusing mu hilang Bi" kekeh Edward.
Stephen pun meninggalkan kedua pria itu dan bertemu dengan para koleganya.
"Astaga, Ed. Sudah aku bilang berapa kali, jangan memaksakan kehendak. Kamu dan Duncan sama saja!"
"Nggak memaksa namun pendekatan secara persuasif."
"Sama saja itu!" cebik Abi kesal.
__ADS_1
"Oh ya, Rhea di rumah sama siapa?" tanya Edward mengalihkan pembicaraan.
"Rhea sama kakaknya lah, G dan temannya Gozali."
Edward menatap Abi tajam. "Gozali? Laki-laki?"
"Sejak kapan nama Gozali buat anak perempuan?" balas Abi sarkasme.
"Dia apanya G?"
"Gozali itu sahabatnya G sejak di TPQ. Mereka sekolah bersama bahkan aku yang membiayai pendidikannya karena kedua orang tua Gozali hanyalah buruh serabutan."
"Umur berapa si Gozali?"
"Dia setahun diatas G, berarti enam tahun cuma karena dia tidak ada biaya sekolah jadinya agak telat masuk dan sengaja aku barengkan dengan G."
"Apakah dia sering ke rumahmu Bi?"
Abi menatap Edward dengan tatapan bingung. "Kamu coba menginterogasi aku Ed?" tanyanya dengan mata dipincingkan.
"Aku hanya menjaga calon menantuku" jawab Edward santai sembari minum cocktail nya.
"Hah? Maksudmu kamu takut Gozali merebut Rhea suatu saat nanti?" kekeh Abi seketika mendapatkan ide menggoda Edward.
"Kita tidak tahu ke depannya gimana Bi."
"Nah, itu paham. Jadi, jangan memaksakan Rhea menjadi jodoh Duncan!" kekeh Abi dengan bahagia bisa membuat Edward kebakaran jenggot.
"Hohoho, berarti aku harus segera mengikat Rhea menjadi tunangan Duncan sekarang sebelum diambil pria lain. Abimanyu Giandra, aku melamarkan putraku Duncan Sherlock Blair untuk menjadi suami putri mu Rhea Greesa Giandra." Edward menatap Abi dengan serius.
"Are you NUTS??!!!"
***
Yuhuuu
Up pagi dulu Yaaaa
Don't forget to like vote n gift
Thank you for reading.
Semoga nanti siang bisa up lagi
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1