
Dara terbangun ketika merasakan sesuatu yang berat berada di atas perutnya. Dilihatnya sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang. Dara pun melirik dan tanpa sadar bibir melengkung membentuk sebuah senyuman.
Ternyata mas Abi memenuhi janjinya menemaniku semalaman.
Dara melihat jam dinding di kamar Abi yang menunjukkan pukul lima pagi. Pelan-pelan Dara melepaskan pelukan Abi di perutnya dan setelah dilihat Abi masih terlelap, Dara bangun dan berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
"Mau kemana Adara?" suara Abi yang terdengar khas bangun tidur mengagetkan Dara.
"Astaghfirullah!" Dara mengelus dadanya. Dia membalikkan tubuhnya untuk menghadap Abi dan betapa jantungnya semakin bertalu-talu melihat pose suaminya yang menurutnya sangat seksih.
"Mau kemana?" tanya Abi yang sekarang posisinya tengkurap namun matanya menatap Dara dengan mesra.
"A..aku mau ke kamar mandi" jawab Dara.
"Kenapa kau tidak pakai kamar mandiku?"
"Nggak mas. Aku ke kamar mandiku saja." Dara pun langsung melesat meninggalkan suaminya yang tersenyum.
Kamu sangat menggemaskan.
Hei! Ternyata aku bisa tidur berdampingan dengan Adara tanpa terserang panik seperti biasanya.
Abi bersyukur satu langkah bisa dia lewati. Setelah melakukan perenggangan, Abi bangun dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu lalu bermaksud mengajak Dara sholat berjamaah. Namun sesampainya di kamar Dara, rupanya istrinya sedang melaksanakan sholat subuh. Akhirnya Abi kembali ke kamarnya dan sholat sendirian.
***
Dara yang merasa tubuhnya sudah segar, keluar kamar menuju dapur dan benar para pelayan sudah sibuk bertugas. Bik Tarsih dan pak Harry terkejut melihat nyonyanya sudah masuk dapur sempat panik karena tahu Dara baru saja mendingan.
"Nyonya, istirahat saja dulu di kamar. Kami takut tuan nanti panik melihat nyonya disini" pinta bik Tarsih.
"Tapi aku bosan" keluh Dara.
"Nyonya minta dibuatkan apa, nanti saya buatkan" tawar pak Harry.
"Sup krim ayam lagi pak Harry seperti kemarin. Enak sekali!" puji Dara tulus.
"Siap nyonya dengan wedang jahe lagi kan?"
Dara memberikan jempolnya lalu berjalan kembali menuju ke kamar. Belum sampai ke tangga, suara Abi sudah terdengar di penjuru rumah.
"Adara!" teriaknya.
"Apa sih mas! Pagi-pagi sudah teriak!" omel Dara sebal. Badannya sudah mendingan membuatnya kembali menjadi Dara yang penuh semangat.
Abi melihat Dara dengan wajah kesal langsung turun tangga dan menarik tangan istrinya.
"Mas Abi!" bentak Dara kesal suaminya main tarik seperti itu. Keduanya masuk ke kamar Dara dan Abi menutup pintunya.
"Kamu itu! Enak sedikit malah langsung kemana-mana!" omel Abi yang kesal karena tadi tidak melihat Dara di kamarnya.
"Aku cuma ke dapur!" balas Dara sebal.
"Mau apa? Masak buat sarapan? Nggak usah! Kamu baru sembuh, jangan capek-capek dulu! Sekarang kamu istirahat!" Abi menghela pinggang Dara untuk membawanya ke tempat tidur namun Dara mencoba melepaskan dirinya.
__ADS_1
"Aku bosan tiduran mas!" ucap Dara setelah berhasil melepaskan diri dari Abi.
"Tiduran atau kamu aku tiduri sekarang juga?" ancam Abi sarkasme.
Dara terbelalak. Astagaaaaa!
Abi sendiri sebenarnya tidak tega untuk meniduri Dara dengan kondisi dia baru sembuh tapi kalimat tadi langsung saja main jeplak.
"Tega kamu mas! Aku baru sembuh sudah mau kamu terkam?" Dara mendelik sengit.
"Makanya manut!" Abi pun keluar dari kamar Dara melalui pintu kamar bukan dari penghubung dan menutupnya agak keras yang membuat istrinya terlonjak kaget.
Dara tersenyum dan sejurus kemudian dia tertawa terbahak-bahak mengingat wajah Abi tadi sempat merona saat sadar omongannya mulai ngawur.
Kamu kok bisa-bisanya bicara seperti itu tho mas.
Akhirnya Dara memutuskan untuk tiduran di tempat tidurnya menjadi bagian kaum rebahan sembari mengecek ponselnya yang seharian dia acuhkan.
***
Abi meraup wajahnya dengan kasar dan sempat dia mendengar sayup-sayup suara tawa Dara karena kamar Dara kedapnya tidak 100% seperti kamarnya. Alasannya adalah agar Abi bisa mendengar keadaan Dara dari pintu penghubung.
Abi berjalan gontai menuju kamarnya sembari berpikir keras bagaimana bisa dia mengancam Dara seperti itu. Seperti pria tidak ada akhlak tega meniduri istrinya yang masih dalam proses pemulihan.
"Kamu bodoh Biiii !!!" umpatnya kesal.
Efek tidur semalaman dengan Dara membuatnya semakin menginginkan istrinya dalam pelukannya.
***
"Nyonya, hari ini sarapannya nasi uduk saja ya" kata bik Tarsih.
"Boleh bik. Lauk lengkap ya" pinta Dara.
"Siap nyonya."
***
Antasena seperti biasa di hari Minggu sengaja bangun siang. Kapan lagi dia bisa bangun tanpa harus dirusuhi berangkat kantor. Setelah mandi dan tampak segar, Antasena pun keluar kamar menuju ruang makan.
Tampak disana Abi dan Dara menikmati makan paginya dengan lahap.
Berarti mbak Rara sudah sembuh dari sakitnya.
"Dik Sena, ayo makan" ajak Dara diikuti oleh Abi yang menengok ke arahnya.
"Sarapan apa mbak hari ini? Eh mbak Rara udah mendingan kah?" tanya Antasena seraya meletakkan tubuhnya di kursinya.
"Nasi uduk" jawab Abi sambil menyendok nasinya.
"Wah sip!"
__ADS_1
"Bukan mbak Rara kan yang bikin?" Antasena memincingkan matanya ke arah Dara yang masih cuek menikmati nasi udugnya.
"Bukan." Abi menjawab dengan dingin.
"Ya iyalah mbak Rara belum pulih bangets apalagi besok Senin sudah masuk kerja.
"Iya dik. Permasalahan di sekolah mbak sangat pelik anak-anaknya. Mungkin itu yang membuat mbak kelelahan."
"Keluar saja kalau kamu tidak sanggup" sahut Abi dengan nada dingin.
Dara melirik tajam ke arah Abi. Hatinya menjadi panas mendengar komentar suaminya. Tanpa suara Dara segera menghabiskan nasi uduknya lalu meminum obatnya yang memang dibawanya tadi.
"Aku sudah selesai. Maaf, aku ke kamar dulu." Dara membawa kantong obatnya lalu meninggalkan suami dan adik iparnya di meja makan.
Abi dan Antasena terkejut melihat sikap Dara yang berubah drastis padahal sebelumnya tampak baik-baik saja tadi.
"Ada apa dengan Adara, Anta?" tanya Abi bingung.
Antasena mengernyitkan alisnya lalu menjawab "Semua itu salah mas Abi yang memancing emosinya mbak Rara. Ucapan mas Abi yang menyuruh mbak Rara keluar dari pekerjaannya, membuatnya tersinggung!"
"Hah? Kan benar tho kalau nggak sanggup keluar saja" sanggah Abi.
"Maksud mbak Rara bukan itu. Mbak Rara tadi itu mau bercerita tentang pekerjaannya, bagaimana permasalahan yang dihadapinya namun mas Abi menanggapi berbeda. Please mas, jadi suami jangan kaku begitu, jangan judes apalagi mbak Rara baru sembuh."
"Astaga, aku tadi hanya..." Abi mengacak-acak rambutnya.
"Hanya ingin bercanda? Tapi mbak Rara bukan mode bercanda lho mas. Siap-siap saja mas Abi dicemberuti sama mbak Rara seminggu!" kekeh Antasena yang entah kenapa senang melihat kakak iparnya panik.
"Mati aku, Ta" bisik Abi.
"Selamat berjuang!" Antasena pun menepuk bahu kakaknya.
"Ambyar wis..." lirih Abi.
***
Yuhuuu
Akhirnya doubel Up biarpun author sempet ketiduran.
Terimakasih readersku yang wow bangets deh!
Don't forget to like vote n gift
Oh ya dukung novel author yang lain
Ini bercerita tentang dokter Nabila Pratomo dan dokter Mike Cahill
Kalau yang ini tentang Shanum Pratomo, adik Nabila, yang bar-bar dan Hiroshi Al Jordan.
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1