
Tiga bulan berlalu.
Hubungan Arkan dan Milea semakin dekat apalagi sikap Mami Mira sudah berubah jauh. Bukan hanya memberikan restu tapi juga semakin dekat dengan Milea.
“Loh kita mau kemana ?” tanya Milea saat mobil Arkan berbelok ke arah lain, bukan menuju ke rumah Arkan.
“Aku sudah bilang sama mami kalau hari ini giliran Kak Rumi yang menemani mami jalan-jalan. Enak saja kamu mau dikuasai mami tiap Sabtu, jadwal malam minggu aku jadi berantakan,” gerutu Arkan.
“Ya ampun Ar, perginya kan sama kamu juga, berarti kita tetap ketemu tiap Sabtu.”
“Bedalah ! 3 minggu ini tugasku bukan menggandeng pacar tapi jadi tukang bawa belanjaan, terus kapan aku bisa mesra-mesraan sama kamu.”
“Kayak abege aja,” ledek Milea sambil tertawa.
“Kan aku udah bilang sama kamu berkali-kali, semuanya buat membayar waktu 4 tahun yang hilang.”
“Iya.. iya.. Aku nggak akan lupa. Jadi kita mau kemana hari ini ?”
“Mau ajak kamu nginap di hotel,” sahut Arkan santai. “Makanya aku suruh kamu bawa baju.”
“Berdua aja ? Janjinya kan mau pergi sama keluarga kamu, tadi kamu pamit sama papa mama juga begitu.”
“Hari ini kita berdua dulu, repot kalau ramai-ramai.”
“Ar, aku nggak bercanda nih.”
Arkan tertawa dan membelokkan mobil ke arah tol dalam kota. Selesai membayar biaya tol. Arkan mengacak rambut Milea dengan gemas, membuat gadis itu makin cemberut.
“Jangan ngambek, dong. Jadwal berubah atas perintah Kak Henri dan sudah mendapat persetujuan Kak Rumi plus Mami. Tadi aku juga sudah ngomong kondisi yang sebenarnya sama papa mama kamu.”
“Berubah gimana ?”
“Ada proyek di Bandung yang harus dikunjungi, seharusnya tugas Kak Henri sebagai Pimpro. Semalam Kak Henri minta tolong supaya aku menggantikannya karena Kak Arumi mendadak tidak enak badan, Kak Henri nggak tega mau ninggalin hanya dengan Emilia.”
“Sukanya main belakang,” gerutu Milea.
“Bukan main belakang tapi kasih kejutan. Perjalanan sedikit lebih lama daripada ke pantai. Kalau kamu mau tidur nggak apa-apa, nanti aku bangunin begitu sampai di Bandung.”
”Nggak apa-apa, aku nggak biasa tidur di mobil juga kecuali lagi capek banget.”
Arkan tersenyum dan membelai kepala Milea dengan penuh cinta.
__ADS_1
“Perjalanan dinas kali ini akan terasa berbeda karena ditemani sama wanita spesial dalam hidupku. Baru kali ini aku pergi penuh semangat, biasanya sama Kak Henri atau staf kantor yang semuanya cowok.”
“Memangnya nggak ada arsitek cewek di kantor kalian ?”
“Ada tapi jarang diberi tugas yang jauh, kecuali memang mereka mengajukan diri dan menetap di dekat lokasi selama proyek berlangsung.”
Milea mengangguk-angguk dan banyak mendengarkan cerita Arkan tentang dunia kerjanya, tentang perjuangannya menjalani kuliah sambil bekerja karena enggan memakai uang Papa.
Beberapa kali Arkan gantian bertanya tentang kehidupan Milea selama menyelesaikan kuliah di Semarang.
“Jangan sungkan untuk berbagi cerita denganku atau ingin tahu tentang aku selama kita berpisah dan hilang kabar berita. Aku tidak mau kita malah mendengarnya dari orang lain hingga akhirnya salah paham. Masalah postingan Dina, aku akan mencari jalan keluar yang terbaik tapi aku percaya kalau banyak orang sudah paham siapa Dina,” ujar Arkan panjang lebar.
“Aku sudah memikirkan soal tulisan Dina dan seperti katamu, keluarga kita sudah tahu duduk persoalannya, jadi aku rasa memang tidak masalah dengan pikiran orang yang menilaiku negatif setelah membaca tulisan Dina.”
“Jadi kamu udah siap nikah dong sama aku,” ledek Arkan sambil tertawa.
“Kamu tuh ngebet kawin banget, sih !”
“Aku kan udah bilang alasannya, masa kamu tega membiarkan aku kelamaan jadi perjaka.”
Milea mencibir membuat Arkan kembali tertawa.
Sampai di lokasi, Milea ngotot ingin ikut Arkan turun dan melihat dunia kerja Arkan secara langsung. Setelah menelisik penampilan Milea yang memungkinkan untuk ikut ke lapangan, akhirnya Arkan mengalah dan mengajak gadis itu turun.
“Loh kamu pakai apa ?” tanya Milea saat Arkan memberikan satu helm keselamatan padanya.
“Di kantor ada banyak helm cadangan untuk tamu. Aku nggak rela kamu pakai bekas orang, jadi pakai bekas aku aja.”
“Yakin ? Kalau memang merepotkan, aku lihat-lihat saja dekat sini,” Milea malah berubah pikiran.
“Nggak apa-apa, sekalian aku mau kenalin calon istriku pada teman-teman yang ada di sini.”
Milea tersenyum dan menurut saat Arkan menggandengnya menuju kantor sementara. Di sana ternyata ada beberapa rekan kerja Arkan dan seperti janjinya pria itu langsung memperkenalkan Milea sebagai calon istrinya.
“Akhirnya Arkan menggandeng perempuan jua,” ledek Agus, rekan seumuran Arkan.
“Kita-kita di sini sempat meragukan Arkan soalnya nggak ada tanda-tanda dia suka sama perempuan.”
“Kurang asem, ya. Jadi selama ini kalian menganggap gue begitu ? Pantas aja suka menghindar kalau gue ajak visit berdua.”
“Aahh lebay deh di depan calon istri,” sahut Sinaga, rekan kerja yang lain.
__ADS_1
Selesai memperkenalkan Milea, ditemani kedua orang tadi, Arkan langsung menuju lokasi pembangunan apartemen yang sudah berdiri sampai lantai 15.
“Kamu tunggu di sini aja, jangan jalan-jalan jauh karena sedang ada pembangunan di lantai atas. Bahaya kalau ada material yang jatuh.”
Milea menurut dan berdiri di satu lokasi yang cukup strategis. Pemandangan di situ cukup menakjubkan. Apartemen yang didirikan di atas bukit itu memiliki pemandangan ke arah kota Bandung yang cukup indah. Milea yakin kalau pemandangan di malam hari akan lebih indah karena cahaya lampu bertaburan dimana-mana.
Pandangan Milea terus beredar hingga netranya menatap Arkan yang sedang berdiskusi dengan 3 orang di lantai 5 bangunan apartemen.
Tatapannya fokus ke arah Arkan. Memang benar kata orang kalau pria semakin menarik di saat mereka sudah cukup matang dari sisi usia. Arkan terlihat berbeda dengan 5 tahun yang lalu. Pria itu terlihat mempesona membuat Milea sedikit khawatir akan semakin banyak wanita yang mengejarnya, sama seperti saat mereka masih sama-sama SMA.
Hampir 45 menit Milea sendirian menunggu Arkan yang sibuk berkeliling. Karena pegal, Milea akhirnya memilih kembali ke area dekat kantor sementara setelah memberi kabar Arkan lewat pesan.
Hawa di sekitar lokasi masih sejuk meski matahari hampir bersinar tepat di atas kepala.
“Milea ?” sapa seseorang yang baru saja keluar dari dalam kantor.
“Arif ? Arif Putra ?” Milea bangun dari kursinya dan menautkan alis, memastikan pria yang berdiri di depannya adalah teman satu kampusnya saat di Semarang.
“Apa kabar Lea ?” pria itu mengulurkan tangan dan langsung disambut oleh Milea hingga keduanya berjabatan.
“Baik, aku sudah kembali ke Jakarta.”
“Lalu kenapa sekarang ada di sini ?” Arif menautkan kedua alisnya, bingung karena tidak pernah melihat Milea sebelumnya.
“Dia calon istriku dan sedang menemani aku kemari,” sahut Arkan yang sudah berdiri di dekat mereka.
“Arkan, kenalkan ini…”
“Arif. Aku sudah kenal dengannya. Dia staf keuangan yang sedang ditugaskan di sini,” sahut Arkan memotong ucapan Milea.
“Jadi kamu dan Pak Arkan…”
Arif menunjuk Milea dan Arkan bergantian dan langsung diangguki oleh Milea, tangannya pun langsung memegang lengan Arkan.
“Arkan ini calon suamiku,”
Milea menatap Arkan dari samping dengan senyuman dan tangannya masih menggandeng lengan Arkan.
“Kalau begitu jangan lupa undang aku saat kalian menikah,” ujar Arif sambil tertawa renyah. “Aku permisi dulu, mau ke kamar kecil.”
Milea hanya tersenyum sambil menggangguk. Wajah Arkan terlihat agak masam membuat Agus dan Sinaga cekikikan karena untuk pertama kalinya mereka melihat Arkan cemburu pada calon istrinya.
__ADS_1