
Ketiga pria tampan itu kemudian memisahkan diri dari istri-istri mereka untuk berbicara bisnis, sedangkan ketiga wanita cantik memutuskan untuk berghibah kalau mengambil istilah dari Yuna.
"Jujur lho, aku jarang kumpul sama kaum sok sialita walaupun sering diundang" ucap Yuna sambil menyeruput capuccino nya.
"Apalagi aku mbak, pasienku sudah banyak juga. Ini saja aku dah minta no emergency call! Soalnya kemarin sebelum acara ke VR, aku udah ops tiga orang dari pagi" sahut Diana.
"Aku malah baru punya teman di sekolah dan mbak-mbak semua" timpal Dara. Diantara mereka bertiga, Dara memang paling muda.
"Kamu kalau mau kumpul kaum emak-emak, mending sama kita-kita, Dara. Dijamin, makin Gesrek" kekeh Yuna.
"Mbak, jangan kau bawa sepupu gilamu deh" protes Diana.
"Maksudnya gimana?" Dara tidak mengerti keluarga Pratomo seperti apa.
"Asal kamu tahu ya Dara, sepupu mbak Yuna itu nggak ada yang beres. Cewek tapi bar-barnya minta ampun, ada empat orang pula Pusing kamu nanti kalau ikut kumpul dengan mereka." Diana memasang wajah lelah.
"Bukannya asyik tuh mbak, biasanya kalau begitu nggak munafik" sahut Dara.
"Nah bener tuh!" timpal Yuna jumawa. Diana hanya memutar matanya malas sebab dia sendiri baru saja bertemu di acara peresmian kantor kurator Yuna yang baru, dan semua keluarga besar Pratomo kumpul. Disanalah Diana tahu bagaimana keluarga konglomerat itu benar-benar kacau gesreknya.
"Ohya mbak Diana, kenapa mas Abi tidak suka sama pak Damien ya?" tanya Dara penasaran.
"Kamu ada hubungan apa sama Damien?" tanya Yuna mengingat pria itu rival Ryu, sepupunya.
"Putrinya pak Damien adalah muridku. Kemarin dia berbuat ulah jadi aku panggil bersama ayahnya" jawab Dara.
"Gimana ya. Kalau nunggu Abi, pasti sampai kapan pun dia nggak mau cerita. Tapi kalau tidak aku ceritakan, kamu juga penasaran. Kita bertiga saja yang tahu ya." Diana menatap serius ke kedua wanita cantik dihadapannya.
"Deal."
"Jadi kalian tahu Abi itu satu SMA denganku dan kami waktu kelas satu itu sekelas. Abi itu anaknya pendiam, sulit berinteraksi dengan orang lain seperti ada yang disembunyikan namun aku melihat dia sebagai anak yang kesepian."
Diana menatap Dara dan Yuna, lalu melanjutkan.
"Aku yang mengajak Abi berbicara duluan, hanya sekedar say hi. Dan itu aku lakukan setiap hari hingga lama kelamaan Abi nyaman, voila jadilah kita sahabat sejak itu. Suatu hari Abi main ke rumahku untuk belajar bersama dan asal kalian tahu, aku bukan dari keluarga kaya. Ibuku membuka usaha kost-kostan yang berada di paviliun sebelah rumah kami yang merupakan warisan dari almarhum eyangku."
"Salah satu penghuni kostku ada mbak Jasmine. Dia sudah bekerja waktu itu di sebuah restoran daerah Kuningan sebagai kasir. Ketika Abi datang ke rumahku, dia bertemu dengan mbak Jasmine yang saat itu lima tahun usianya diatas kami. Dan aku tidak tahu kalau Abi jatuh cinta pada pandangan pertama dengan mbak Jasmine."
Dara dan Yuna melongo.
"I mean, totally fall in love. Abi itu bukan tipe pria yang mudah jatuh cinta tapi dia sangat tergila-gila dengan mbak Jasmine. Sejak saat itu, Abi sering main ke rumah ku hanya untuk bertemu atau melihat mbak Jasmine."
__ADS_1
Dara melirik sekilas ke arah suaminya yang sedang asyik bercerita dengan dua sahabatnya.
"Bahkan Abi mulai bekerja sembari sekolah sebagai guru les anak SD hanya untuk mendapatkan uang tabungan buat melamar mbak Jasmine. Meskipun Abi anak orang kaya, dia tidak mau minta pada almarhum papanya. Dia ingin membuktikan bahwa dia bisa mencari uang sendiri."
Diana menyeruput teh mintnya. "Haus gue!" yang disenyumi Dara dan Yuna.
"Lanjut. Ketika kami kelas dua SMA, terjadi tragedi. Abi benar-benar shock waktu itu dan nyaris depresi kalau aku tidak mendampinginya. Pertama, papanya meninggal karena serangan jantung. Kedua, mbak Jasmine terpaksa menikah dengan bossnya Damien Xavier akibat date rape drugs yang diberikan saingan bisnis Damien dan mbak Jasmine yang jadi korban."
Dara dan Yuna terkejut.
"Jadi kalian tahu kan alasan kenapa Abi benci banget sama Damien? Abi menganggap Damien merebut mbak Jasmine meskipun itu kecelakaan. Setelah peristiwa itu, Abi menjadi pribadi yang lebih tertutup dan dingin. Sampai dua setengah tahun lalu, aku mendapatkan seorang pasien bernama Jasmine Xavier."
"Apakah dia sakit, Di?" tanya Yuna.
"Iya mbak. Mbak Jasmine mengeluh sakit di dadanya dan aku yang memeriksanya menemukan bahwa dia memiliki gejala sindrom brugada. Sindrom Brugada adalah gangguan irama jantung akibat kelainan genetik. Ibarat mesin yang memiliki sistem listrik di dalamnya, pasien yang mengidap sindrom brugada juga mengalami gangguan aliran listrik pada jantungnya."
"Bukan jantung koroner?" tanya Yuna lagi.
"Bukan mbak. Aku sudah wanti-wanti sama mbak Jasmine agar lebih waspada dan sering berolahraga. Saat itu mbak Jasmine hanya tersenyum sampai tiga bulan kemudian, Damien membawa mbak Jasmine ke rumah sakit dan ternyata dia terkena serangan jantung. Aku dan tim sudah berusaha, namun Allah berkehendak lain."
Dara menutup mulutnya dan tanpa disadari ada air mata di sudut mata cantiknya.
"Pada saat itulah Abi memutuskan menikah dengan Yanti, anak sahabat almarhum papanya. Abi berharap untuk bisa move on setelah mendengar mbak Jasmine meninggal, namun ternyata musibah masih belum bisa berpaling dari Abi."
Dara menatap Diana dan Yuna bergantian. "Sejujurnya, aku sudah jatuh cinta dengan mas Abi namun hingga detik ini, mas Abi belum pernah menyatakan perasaannya."
"Abi itu bukan tipe yang bisa mengatakan 'i love you' atau 'je t'aime' atau 'aishiteru' atau 'saranghae' tapi dia tipe menunjukkan lewat perbuatan. Bagaimana dia begitu posesif padamu dan itu tidak mungkin dilakukan kalau dia tidak ada perasaan padamu" papar Diana panjang lebar.
"Kamu beruntung Dara, Abi begitu sayang padamu. Edward dulu jauh lebih menyebalkan, lebih dingin. Bahkan dia menolak jatuh dalam pesonaku hanya demi mempertahankan Porsche nya tapi akhirnya aku yang menang" kekeh Yuna.
"Jadi kamu paham ya kenapa Abi bisa begitu bencinya dengan Damien" senyum Diana.
"Terimakasih mbak Diana sudah menceritakan kenapa mas Abi semalam seperti itu. Aku jadi lega setelah tahu latar belakangnya" senyum Dara.
"Ohya, kamu nggak menunda kehamilan kan Ra?" tanya Yuna.
"Nggak mbak Yuna."
"Good. Biar nanti Duncan ada temannya, soalnya dia merengek minta adik cuma aku tipe susah hamil. Untung kami diberikan Duncan" ucap Yuna santai.
"Suruh Duncan main bersama Neil dan Nadya kalau bosan" jawab Diana.
__ADS_1
"Lho anak-anak kalian umur berapa?" tanya Dara.
"Duncan tahun ini tiga tahun, sedangkan anak kembarku Niel dan Nadya lima tahun" ucap Diana.
"Semoga kamu cepat diberi momongan" senyum Yuna.
"Iya mbak, semoga setelah kontrakku menjadi guru bimbingan konseling tiga bulan selesai, aku sudah hamil saat itu."
"Aamiin."
Ketiga wanita cantik itu lalu ngobrol tentang hal-hal lainnya bahkan Yuna berjanji akan mengajak kedua wanita itu ke beberapa museum sambil jalan-jalan cantik.
***
Ketiga pria tampan itu masih setia menatap istri masing-masing yang berada di sofa seberang mereka. Melihat keakraban ketiga wanita itu membuat hot daddies menjadi merinding.
"Kalau istri-istri kita pergi bersama, alamat kita bakal dicuekin" bisik Stephen.
"Aku yakin, Yuna akan makin sering pergi dengan Diana dan Dara sebelum kami kembali ke London" jawab Edward.
"Memang kapan kau akan kembali ke London?" tanya Abi.
"Mungkin dua bulan lagi, karena Yuna masih mengawasi kantor kuratornya dulu."
"Setidaknya sebelum kau kembali ke London, kita masih bisa boys hangout disini." Stephen menyesap kopi hitamnya.
"Bisa diatur itu bro" sahut Edward.
"Kira-kira, mereka ghibah apa ya?" kepo Abi.
***
Yuhuuu
Udah empat chapter ya sehari ini.
Lanjut besok yaaaaa
Thank you for reading
don't forget like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️