Menikahi Suami Sahabatku

Menikahi Suami Sahabatku
And I'm Coming Home Now


__ADS_3

Keesokan harinya, semua memutuskan kembali ke Jakarta di siang hari setelah pagi harinya Damien menunggu utusan dari Triad Heilong datang mengambil semua orang-orangnya termasuk Firman dan dokter Anisa. Mereka semua akan dibawa ke Hongkong dan entah apa yang dilakukan kakek tua pemimpin Triad tersebut. Setelah semuanya beres, Abi dan Dara pun bersiap pulang.


Damien dan Edward menjemput keduanya di rumah sakit setelah hasil pemeriksaan oleh dokter Paulus menunjukkan Abi dan Dara boleh naik pesawat selama lima jam menuju Jakarta.


"Kalian sudah siap?" tanya Edward dan Damien yang sama-sama mengenakan jaket hitam, kaos abu-abu dan jeans hitam.



"Sudah" jawab Dara sembari memegang tangan Abi. Kali ini bumil memakai baju berwarna peach sedangkan Abi mengenakan pakaian yang sama dengan dua pria yang menanti di depan pintu.



"Pak Damien, terima kasih" ucap Dara tulus setelah berhadapan dengan pria keturunan Rusia itu.


"Sama-sama Bu Dara. Maaf jika saya lancang memasang microchip di dalam batu Ruby di gelang ibu." Damien melirik Abi yang cemberut.


"Justru berkat itu, saya bisa selamat dan kembali bertemu dengan suami dan juga orang-orang yang saya sayangi." Dara tiba-tiba memeluk Damien dan Edward bergantian.


Abi yang melihatnya hanya bisa menahan emosi karena tahu tanpa bantuan keduanya, dia tidak bisa menemukan Dara.


"Jangan lama-lama pelukannya" ucapnya dingin.


"Astaga Abimanyu masih jealous mode on?" kekeh Damien.


"Sepulang dari sini, kamu harus melepaskan microchip di gelang Dara!" Abi menatap Damien judes.


"Sebenarnya dengan adanya microchip itu membantu sekali lho Bi" sahut Edward.


"Nanti aku beri programnya di ponselmu Bi" timpal Damien nyengir.


Abi hanya cemberut melihat dua orang di depannya.


***


Abi merangkul Dara sembari keempatnya menuju mobil yang terparkir setelah berpamitan dengan dokter Paulus. Kedua mobil hitam itu pun meluncur ke bandara Domine Eduard Osok.


"Silahkan pilih kursi yang mana" ucap Edward setelah mereka masuk ke dalam pesawat pribadi milik keluarga Blair.



Abi dan Dara duduk di kursi untuk dua orang saling bersebelahan sedangkan Edward berada di hadapan pasutri itu dan Damien di seberangnya. Tak lama pesawat pun tinggal landas.


"Pak Damien..."


"Damien saja Dara" potong Damien. "Jangan panggil aku pakai 'mas', rasanya kurang cocok!"


"Bagus kalau paham" sindir Abi yang mendapat pelototan Dara.

__ADS_1


"Kamu itu lho mas, selama aku hamil kok malah jadi kayak anak kecil" cebik Dara.


Edward tertawa mendengar ucapan Dara.


"Kau tahu Ra, dulu waktu Yuna hamil Duncan, aku lebih dari Abi. Bahkan Yuna bilang aku mafia yang berubah wujud jadi bayi" kekehnya.


"Iyakah mas Edward?" Dara tertarik mendengar pengalaman para suami pada saat istri hamil karena merasa Abi berubah banyak kadang romantis kadang jadi anak kecil.


"Hu um. Kamu tahu, selama hamil D, Yuna sama sekali tidak bisa minum susu, rasa apapun sedangkan aku yang tidak doyan susu malah menjadi maniak minum susu."


"Kalau dulu Jasmine hamil Maya, dia hanya bisa makan nasi, tempe goreng dan sayur kangkung. Selain itu, dia muntah padahal itu gizinya kurang menurutku. Tetap aku paksakan makan daging."


Dara menatap Abi yang mendengar nama Jasmine disebut oleh Damien namun suaminya hanya menatap dirinya dengan mesra.


"She's my past life, but you're my present and future life" bisiknya yang menunjukkan sudah tidak ada perasaan apapun jika mendengar nama Jasmine.


Dara tersenyum mendengar ucapan Abi dan bersyukur suaminya sudah bisa berdamai dengan masa lalu.


"Tapi paling parah itu Diana. Coba bayangkan pagi-pagi Stephen minta pinjam pesawatku hanya untuk ke Singapore demi makan laksa di Universal Studio."


"Stephen menceritakan itu juga padaku" ucap Abi.


"Kau tahu Bi, begitu selesai makan disana, Diana langsung ngajak pulang. Sampai di Jakarta, Stephen datang ke rumahku marah-marah. Katanya 'Dikira pergi ke Singapore sama saja kayak ke tanah Abang!' Aku cuma bisa bilang 'sabar, ini ujian'" gelak Edward membuat semua yang di dalam pesawat tertawa.


"Ohya Bi, sudah tahu jenis kelamin baby mu?" tanya Damien.


"Sudah. Dokter Paulus yang memberitahu kemarin. Maaf sayang, aku lupa mengatakan padamu." Abi menatap Dara dengan melas.


"Tak apa, aku tahu kok. Baby boy kan?" kekeh Dara.


"Kok tahu?" tanya Abi heran.


"Feeling ibu."


"Benarkah itu Bi? Wah sayang sekali, padahal kalau perempuan akan aku jodohkan dengan D" kekeh Edward.


"Ho tidak tidak tidak" tolak Abi.


"Selamat ya buat kalian berdua" ucap Damien sambil tersenyum lembut ke arah Dara.


"Terimakasih Damien" sahut Dara.


"Tenang Bi, setelah baby boy lahir, tolong buat Dara hamil lagi dan please harus perempuan karena aku ingin menjodohkan D dengan anakmu." Edward dengan senyum lebar.


"Astaga mas Edward tuh gimana? Ini aja si boy masih lima bulan dalam perut kok sudah main booking mantu" kekeh Dara.


"Entah kenapa aku ingin berbesan dengan kalian" Edward menatap jahil ke Abi yang melengos melihat luar jendela.

__ADS_1


"Aku tidak mau punya besan Gesrek seperti Yuna. Apalagi keluarga besarnya yang ampun deh!" sungut Abi.


"Hati-hati, ucapan itu doa. Kita tidak tahu ke depannya" timpal Damien.


Abi langsung mengetuk-ngetuk meja di depannya.


"Amit-amit!"


"Sialan! Lu kira gue apaan Bi!" protes Edward.


***


Sesampainya di Jakarta, Stephen dan Antasena menjemput rombongan itu dan semuanya menuju mansion Abi.


Pak Harry dan bik Tarsih menyambut majikannya sambil menangis bahagia mereka bisa pulang dengan selamat. Mirna malah lebih parah tidak mau melepaskan pelukannya ke Dara karena takut nyonyanya nanti ada yang mencelakai lagi. Gadis manis itu baru mau melepaskan pelukannya ketika Dara merasa sesak dan dia mendapatkan Omelan dari Abi.


Diana memeluk Dara erat dan langsung mencecarnya dengan pemeriksaan menyeluruh. Dokter cantik itu langsung geram mendengar bahwa teman sejawatnya mencoba membunuh Dara yang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri.


Semua orang disana pun menikmati hidangan yang sudah disiapkan oleh bik Tarsih dan pak Harry untuk menyambut tuan dan nyonyanya.


"Sekarang dimana wanita itu?" tanyanya marah.


"Sudah dibawa ke Hongkong, Sayang" sahut Stephen.


"Hah? Kok ke Hongkong, kenapa tidak dihukum disini saja?" tanya Diana bingung.


"Aku akan menceritakan semua apa yang menjadi akar permasalahannya" ucap Bryan. Wajah pria dingin itu tampak lelah setelah mengurus semuanya dari depan peralatan digitalnya.


"Aku rasa kita semua beristirahat dulu, masih ada hari besok untuk mengungkapkan semuanya. Yang penting, Alhamdulillah, kita semua bisa selamat dan berkumpul kembali bersama."


Semua orang yang berada disana menatap Abi dengan tatapan heran.


"Hah? Kalian kenapa?" tanya Abi bingung merasa ucapannya tidak ada yang salah.


"Tumben lu bijak Bi" sahut Marcell geli.


"Haaaahhhh???"


***


Yuhuuu


Up pagi dulu yaaaaa


Mamaciihh readersku yang sudah membaca cerita pasangan sok romantis ini.


Don't forget to like vote n gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2