Menikahi Suami Sahabatku

Menikahi Suami Sahabatku
Ngidam ala Dara


__ADS_3

Setelah dua hari dirawat di rumah sakit, Dara pun pulang ke rumah bersama Abi yang semakin cerewet dan over protektif.


"Di rumah nggak usah naik turun tangga, kamu kalau sudah selesai di dapur mau istirahat, tuh di kamar tamu. Mas sudah minta bik Tarsih membereskan kamar situ biar kamu nyaman. Pokoknya jangan sampai kecapekan!" Dan masih banyak sederetan pesan Abi yang terkadang tidak masuk akal.


Pagi ini Dara merasa lemas tidak bisa bangun padahal biasanya dia yang mengurus semua kebutuhan Abi sebelum berangkat kantor. Diliriknya jam di dinding yang menunjukkan pukul lima pagi. Dara merasa lemas tidak bisa bangun tapi perutnya mual luar biasa ingin muntah.


"Mas..." panggilnya sambil menggoyangkan badan Abi.


"Hhhmmm" suara bariton Abi terdengar masih ngantuk.


"Tolong..." Abi langsung terjaga dan dilihatnya seperti menahan sesuatu.


"Apa? Kamu kenapa? Kita ke rumah sakit!" Abi langsung bangun dan Dara hanya terbengong melihat suaminya heboh dengan menggunakan boxer mencari-cari bajunya.


"Bukan ke rumah sakit. Tolong papah ke kamar mandi" ucap Dara yang membuat Abi berhenti.


"Owalah. Ayo sini mas gendong." Abi pun menggendong Dara masuk ke kamar mandi dan disana perempuan cantik itu memuntahkan isi perutnya. Abi dengan telaten mengusap-usap punggungnya.


Setelah berkumur dan menggosok gigi, Dara berjalan pelan sambil menggamit lengan Abi untuk kembali ke tempat tidur.


"Aku minta pak Harry buatin teh mint ya sama kemarin kayaknya ada biskuit asin deh!" Dara mengangguk.


"Eh mas" Abi pun berhenti. "Pakai baju dulu dong."


Abi melirik dirinya yang hanya mengenakan boxer. "Astagaaaaa" ucapnya sambil menepuk jidatnya.


***


Setelah Abi dan Antasena berangkat kerja, Dara duduk di ruang tengah sambil ngemil biskuit asin dan teh mint yang kedua kalinya. Hatinya sedih tidak bisa masuk dapur karena langsung mual dan muntah-muntah.


"Aduh nak, mommy mu itu pengen masak tapi kamunya kok nggak mau diajak ke dapur tuh gimana?" Dara mengajak ngobrol bayi dalam perutnya dengan wajah merajuk.


"Nyonya minta dibuatkan apa? Tadi tuan Abi berpesan, nyonya minta apa harus dibuatkan" ucap bik Tarsih yang duduk di sebelah Dara.


"Aku kok pengen cireng ya bik" cengir Dara.


"Baik nyonya, kita buatkan" jawab bik Tarsih.


"Hu um. Aku tunggu ya bik. Terimakasih" senyum Dara.


Siang ini Dara bersyukur bisa makan cireng dan bisa makan masakan pak Harry tanpa muntah. Usai makan siang, Dara pun memutuskan untuk tidur di lantai satu. Benar-benar kehamilannya ini membuatnya seperti beruang, hibernasi.


***


Abi pulang kantor tanpa melihat istrinya yang biasanya menyambutnya. Antasena melihat wajah kakak sepupunya kesal hanya bisa tersenyum simpul.


"Sabar ya mas, katanya wanita hamil itu hormonnya berbeda jadi kebiasaan mbak Rara pun akan agak berbeda" hibur Antasena sok paham.


Abi hanya merengut lalu naik ke lantai dua untuk segera mandi. Dia menolak menyentuh Dara kalau belum mandi karena tidak mau istri dan bayinya terkena kuman yang dia bawa dari luar.


Ketika masuk kamar, dilihatnya Dara sedang membaca sebuah novel yang dibelinya kemarin.

__ADS_1


"Lho mas sudah pulang?" lirik Dara lalu melanjutkan membaca novelnya.


Abi terperangah. Tidak biasanya Adara mengacuhkanku seperti ini! Hohoho, kamu ngajak saingan sama Daddy ya nak?


"Udah. Mas mandi dulu." Abi pun membawa baju yang sudah disiapkan Dara. Pria itu bersyukur istrinya masih menyiapkan baju seperti biasanya.


Usai mandi, Abi mengajak Dara sholat Maghrib berjamaah karena memang masuk waktunya. Keduanya pun berdoa dengan khusyuk usai sholat. Namun Dara hampir tergelak mendengar doa Abi yang menurutnya absurd.


"Ya Allah, tolong anakku jangan julid sama Daddynya. Masa aku dicuekin sama mommynya?"


"Mas, kamu tuh doa apa sih?" kekeh Dara setelah mencium tangan Abi dan suaminya memberikan kecupan di keningnya.


"Kamu cuekin aku tadi soalnya" Abi kemudian mencium perut Dara "Son, kalau kamu julid ke Daddy, nggak ada Lego nggak rubik nanti!"


Dara memukul pelan punggung suaminya. "Kamu tuh lho mas, kok malah ngajak gegeran ma anak tho!"


"Lha kamunya gitu kan karena pengaruh si baby kan?" ucap Abi sambil menunjuk perut Dara. "Makanya aku harus nunjukin kalau mommynya punya daddy duluan."


Dara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Makin kesini suaminya makin absurd. Bumil cantik itu melepaskan mukena dan melipatnya. Abi hanya menatap wajah cantik itu lalu mencium bibirnya dengan lembut.


"Kamu ngidam apa tadi?" tanya Abi setelah mereka keduanya berada di tempat tidur.


"Cireng" cengir Dara.


"Hah? Terus dibuatkan pak Harry kan?"


Dara mengangguk namun setelahnya wajahnya bingung celingukan.


"Kamu kenapa? Kok kayak orang bingung?" tanya Abi yang melihat istrinya seperti ingin sesuatu tapi tidak bisa diungkapkan.


"Insyaallah mas akan kabulkan asal nggak aneh-aneh saja" ucap Abi. Tadi siang Diana menelponnya untuk mewanti-wanti ngidamnya Dara sebisa mungkin dikabulkan.


Dara sumringah. "Tolong bacain novelku."


"Haaaahhhh? Maksudnya?"


"Bacain, aku dengerin" cengirnya.


"Ya ampun Adara, kamu tuh..." suara Abi pun terhenti melihat mata Dara berkaca-kaca. "Ya udah sini, mana bukunya?"


Dara pun memberikan buku yang sedang dibacanya. Keduanya pun saling berpelukan dengan Abi membacakan seperti mendongeng.



Meskipun Abi mengomel panjang lebar dengan cerita romantis ala Barbara cartland yang menurutnya picisan, namun dia tetap membacakannya dan setelah hampir separuh halaman, dilihatnya Dara tertidur sambil memeluk Abi.


Abi mencium pucuk kepala Dara dengan lembut.


"Selamat tidur istriku, ibu dari anakku" bisiknya. Malam ini dia harus skip makan malam menjadi lebih malam karena tidak mau membangunkan bumil.


***

__ADS_1


Tengah malam Dara terbangun dan merasa perutnya lapar. Wajarlah dia melewatkan makan malam karena tertidur setelah didongengi Abi, tepatnya mendongeng disertai mengomel protes ceritanya. Dara tersenyum mengingat kejadian tadi.


"Ini cerita apaan sih?"


"Ceweknya bego banget!"


"Lord itu sama Marquis tinggi mana sih?"


Dan banyak Omelan gak jelas namun tetap dia bacakan.


Dara pun bangun dari tempat tidurnya dan melihat Abi tidur dengan nyenyaknya.



Dengan sedikit berjingkat Dara hendak keluar kamar untuk ke dapur mencari makanan namun langkahnya terhenti ketika melihat piring yang berisikan kimbab. Ada sebuah kertas memo disana.


Pasti kamu lapar. Ini aku buat dibantu pak Harry sebagian besar. Dimakan ya buat *mommy dan baby yang bikin mommy cuekin Daddy.


love Daddy*.


Dara terkikik pelan membaca pesan Abi.


Pelan-pelan Dara memakan kimbabnya. Rasanya enak apalagi tahu suaminya yang membuatnya biarpun dibantu pak Harry, chef di rumah.



Abi yang merasakan gerakan Dara turun dari tempat tidurnya, memandang wajah istrinya yang bahagia menyantap kimbabnya. Rasanya ingin bergabung namun Abi menahan dirinya.


Biarkan aku memandang wajah istriku yang menikmati kimbab buatanku. Pemandangan ini akan selalu aku ingat dalam memoriku.


Abi masih melihat istrinya menghabiskan kimbabnya lalu membawa piringnya ke wastafel kamar mandi untuk mencucinya agar tidak ada semut di kamar. Abi masih menunggu istrinya keluar dari kamar mandi. Setelah Dara meletakkan tubuhnya di sebelah Abi, pria itu kemudian memeluknya.


"Enak kimbabnya?" tanyanya dengan suara serak.


"Enak mas. Terimakasih."


"Hu um. Dah sekarang mommy dan baby Boboks." Abi mengetatkan pelukannya. Dara mencium pipi Abi yang mulai muncul rambut halus.


"Love you mas."


"Love you too."


***


Yuhuuu


Up pagi yaaaaa


Insyaallah up lagi nanti


Thank you readers ku

__ADS_1


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2