
Pagi ini di meja makan keluarga Giandra rame dua bocah yang asyik menikmati omurice atau nasi omelette ala Jepang. Ghani sangat menyukai omurice jadi pagi tadi Dara membuat empat omurice di meja makan.
Abi sendiri sekarang jadi mengikuti selera putranya yang lebih menyukai masakan Jepang dan Korea meskipun Ghani tidak menolak masakan Indonesia asal mommynya yang membuat.
"Sudah selesai bikin prakaryanya?" tanya Dara kepada duo G.
"Sudah mommy. Gozali pintar membuat bangau" puji Ghani.
"Tapi G juga sudah bisa bikin kok semalam" timpal Gozali.
"Pantas di kamar Rhea banyak origami bangau" komentar Abi.
"Ohya G, nanti Oom Edward, Tante Yuna, Oom Stephen, Tante Diana, Nadya dan Neil mau main kesini lho" ucap Dara.
"Abang D nggak ikut kan mom?" wajah Ghani langsung masam mengingat Duncan selalu bilang akan membawa Rhea pergi kalau sudah besar.
"Abang D kan sekolah asrama di Inggris jadi nggak ikut" sahut Abi.
"Bagus lah! G suka sebal sama bang D."
"Abang D itu siapa Bu?" tanya Gozali bingung.
"Abang Duncan namanya, anaknya Oom Edward dan Tante Yuna. Kalau ketemu G suka ribut itu berdua" jawab Dara sambil tersenyum.
"Nanti aku ceritakan!" sahut Ghani sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya.
"Mom. Mau lagi" ucap Rhea yang sedang disuap Dara omurice.
"Enak sayang?" tanya Dara.
"Enak mom. Nanti adek main piano lagi, boleh?" tanya Rhea.
"Boleh. Nanti sekalian diajari mommy ya." Rhea mengangguk.
"Aku sih nggak heran Edward ngotot semalam lha wong Rhea cantik begini" kekeh Abi yang bangga dengan putrinya.
"Ih Daddy narsisnya" kekeh Dara.
Gozali hanya memandang batita cantik itu dengan perasaan yang berusaha disembunyikan.
Rhea memang cantik.
***
Usai sarapan, sesuai dengan janji Dara, kali ini Rhea bermain piano yang diajarkan pelan-pelan oleh ibunya. Berbeda dengan Ghani, Rhea sangat antusias dengan piano sejak usia 1,5 tahun. Sering melihat Dara bermain, membuat Rhea semangat ikut memainkan tuts piano.
Kini Rhea belajar bermain 'Little Sunshine' sebuah lagu anak-anak sederhana karena Rhea sangat suka lagu itu. Dara mengajari Rhea dengan telaten dengan sesekali dibantu Abi yang mulai mau bermain piano.
Ghani mengajak Gozali ke halaman belakang sembari membawa pekerjaan rumahnya yang belum selesai dibuat karena mereka semalam sibuk membuat origami.
"G, memang ada apa dengan Abang Duncan?" tanya Gozali penasaran.
"Abang D itu bilang sama aku kalau sudah besar nanti mau mengambil dik Rhea buat jadi istrinya" cebik Ghani.
"Hah? Rhea kan masih kecil G!" seru Gozali.
"Kan aku sudah bilang kalau sudah besar! Cuman bang D sudah klaim sejak dek Rhea bayi!"
__ADS_1
Gozali terdiam. Dia melihat bagaimana Rhea sejak bayi karena dia dan Ghani sudah bersahabat sejak di TPQ dua tahun lalu.
Besarnya pasti jadi gadis yang cantik.
"Kamu kenapa Goz?" tanya Ghani melihat temannya melamun.
"Nggak, heran aja sama abangmu masih kecil sudah pengen punya Rhea" kekehnya.
"Bang D udah SD, dia tiga atau empat tahun diatas ku" sahut Ghani.
"Oh, kirain sebaya dengan kita" ucap Gozali.
"No, dia lebih tua."
Tak lama mereka mengerjakan tugas sekolah, terdengar suara ramai-ramai didepan. Duo G pun masuk ke dalam rumah.
"Dek Ghaniiii" seru Nadya heboh.
"Mbak Nadya" seru Ghani yang selalu senang bertemu kakak perempuannya yang satu ini. Nadya dan Neil sekarang sudah kelas 1 SMP atau kelas VII.
Nadya dan Ghani saling berpelukan, dan di belakang Nadya ada Neil yang langsung memeluk Ghani usai mengurai pelukan dari kakak perempuannya. Si kembar itu memang sayang sama Ghani dan Rhea.
"Siapa itu G?" tanya Nadya ketika melihat Gozali.
"Ini sahabatku mbak, namanya Gozali. Goz, ini kedua kakak kembarku, mbak Nadya dan mas Neil."
Gozali menyalami si kembar.
"Kamu manis deh Goz" komentar Nadya yang membuat Gozali hanya tersenyum kikuk.
"Nad, jangan gitulah. Kamu tuh suka banget godain anak kecil" tegur Neil.
"Mas Ghani, Gozali. Ayo Salim dulu" ajak Dara.
Ghani dan Gozali pun berjalan menuju Oom Edward, Tante Yuna, Oom Stephen dan Tante Diana. Kedua bocah itu mencium punggung tangan kanan semua orang tua disana.
"Ini yang namanya Gozali?" tanya Diana sambil melirik Dara dan Edward.
"Iya Bu" jawab Gozali tenang.
"Lho kok 'Bu'? Panggil Oom dan Tante saja seperti G manggil kita-kita" kekeh Diana.
Yuna menatap Edward sembari nyengir lebar.
Duncan mendapatkan saingan berat ini.
Edward hanya menatap istrinya dengan masam.
Gawat ini!
***
Keempat anak-anak itu berada di halaman belakang sedangkan Rhea asyik menempel Abi sembari melihat orang-orang yang berada di ruang tengah. Matanya mulai sayu karena ngantuk dan rasa nyaman dipeluk oleh ayahnya.
"Sudah lihat yang namanya Gozali?" ledek Abi.
"Sial! Dia juga punya fisik bagus!" umpat Edward.
"Sainganmu bertambah bro" timpal Stephen sembari tertawa.
__ADS_1
"Jalan masih panjang, little bro" cengir Edward tetap ngeyel mode on.
"Haaaiissshhhh! Untung aku sabar, kalau nggak mukamu dah bengep deh Ed!" omel Abi.
"Daddy, dek Rhea ngantuk" bisik putrinya.
"Daddy gendong ke kamar ya, Boboks disana" bujuk Abi. Rhea pun mengangguk sambil mengucek matanya tanda sudah ngantuk. Rambut panjangnya mulai berantakan.
"Aku bawa Rhea dulu ke kamarnya" pamit Abi kepada kedua sahabatnya.
"Kita ke tempat istri-istri saja lah" sahut Stephen sembari berdiri menuju sofa dekat dapur.
Dara yang melihat Abi menggendong Rhea bertanya kepada suaminya.
"Ngantuk ya Rhea mas?"
"Hu um. Aku bawa ke atas dulu ya biar Boboks disana. Nanti kalau sudah biar Mini menemani dia" jawab Abi pelan takut membangunkan putrinya yang mulai tidur.
***
Edward berjalan menuju teras sembari menelpon seseorang disana.
"Dad ada di rumah Rhea" ucapnya yang ternyata Duncan yang ditelponnya.
"Really?"
"Dad rasa Rhea akan jadi pianis nantinya mengingat tadi Tante Dara cerita kalau anak cantik itu sangat berminat dengan piano."
"Apa tambah cantik Dad?" tanya Duncan penasaran. Karena dia masuk asrama, jadinya tidak bisa seenaknya main pergi ke Jakarta mengikuti kedua orangtuanya.
"Dad kirimkan fotonya yang tadi diambil diam-diam."
Duncan membuka foyo yang dikirimkan oleh ayahnya.
"She's so cute!" ucapnya.
"Ohya D, ada sainganmu disini." Edward mulai usil mengompori anak tunggalnya.
"Hah? Siapa Dad?" tanya Duncan kepo.
"Sahabat G. Anak orang biasa tapi Dad bisa melihat dia punya aura bagus dan dewasa."
"Dad, apakah dad sedang memuji anak orang lain?" nada suara Duncan mulai tidak enak.
"Dad hanya mengatakan apa adanya. Jadi jalanmu mendapatkan Rhea semakin sulit" kekeh Edward.
Sial !
***
Yuhuuu
Up malam dulu Yaaaa
Besok lanjut maning
Thank you for reading
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️