
Matahari baru saja menampakkan sinarnya, namun aku seorang gadis sederhana harus berlari menuju ruang siaran sambil memegang erat roti isi yang ku beli pagi ini di kafe langganan. Nafasku mulai terengah-engah namun aku tidak menghiraukan itu karena aku harus sampai di ruang siaran berita pagi ini.
Lulu. Ada apa dengan hidupmu? Kenapa kau selalu saja seperti ini, tak bisakah kau hidup normal seperti orang lain pada umumnya? Aku menggerutu sambil mempercepat langkah kakiku.
"Dua puluh menit, aku yakin aku bisa menyelesaikan segalanya tepat waktu." Ucapku sambil menenteng tas yang hampir terjatuh.
Huhh! Huhh! Huuhh!
Suara deru nafasku mengalahkan suara deringan ponsel yang bersumber dari tas yang ku tenteng dengan tangan kiriku.
"Lu! Ada apa dengan mu? Apa kau lari lagi?"
Tidak ada jawaban dariku selain anggukan kepala kecil. Anisa, sahabat baikku bertanya sambil menggelengkan kepala. Gadis aneh itu menyebikkan bibirnya sambil menyodorkan air mineral yang sudah ia buka tutupnya.
"Seharusnya kau mengikuti instruksiku. Bagaimana jika bu Naya memecatmu dengan alasan kau selalu terlambat."
"Jangan khawatir, aku tidak terlambat. Aku masih punya waktu sepuluh menit." Ucapku sambil merapikan kain penutup kepalaku.
"Apa kau tidak kepanasan? Untuk apa kau memutuskan memakai kain penutup kepala jika kain ini tidak bisa memberikan kemudahan bagi hidup kerasmu? Jika itu aku, aku pasti akan melepasnya tanpa berpikir panjang." Ucap Anisa sambil mengibaskan kain penutup kepalaku.
Tepatnya, tujuh tahun yang lalu aku memutuskan untuk berhijrah. Maksudku, aku memutuskan untuk memakai kain penutup kepala. Bukan karena paksaan siapa-siapa, ini murni dari diriku sendiri. Tak perlu perdulikan ucapan siapa pun setelah memantapkan hati untuk menjalani semuanya. Bahkan Anisa selalu menanyakan pertanyaan yang sama, kenapa kau memutuskan begini? Kenapa kau memutuskan begitu?
"Bukankah ini terlalu terburu-buru? Kau belum menikah! Bagaimana jika suamimu menolak wanita yang menggunakan kain penutup kepala?" Nisa bertanya sambil menepuk bahuku.
"Nis... Cinta itu mengubah seseorang menjadi lebih baik. Jika cinta yang datang padaku mencoba mengubahku dengan cara yang ia paksakan, maka demi Allah ku katakan. Aku tidak akan menerimanya, dan aku pasti akan meninggalkannya di belakang." Balas ku pada Nisa yang selalu mengkhawatirkan masa depanku. Karena menurutnya, aku menggunakan jilbab tidak sesuai dengan gaya hidup moderen-nya.
"Ya sudah. Terserah kau saja." Nisa menggantung kalimatnya sambil menggelengkan kepala.
Tidak ada balasan dariku selain anggukan kepala, sedetik kemudian aku berjalan menuju ruang make up. Sudah ada Nona Elisa disana, dia pasti menunggu ku untuk memoles wajah cantiknya.
Di ruang make up, nona Elisa menungguku sambil memainkan ponselnya. Wajah cantik itu terlihat kesal. Apa dia kesal padaku? Entahlah, aku tidak tahu itu! Jika di pikir-pikir, untuk apa dia kesal, aku datang tepat waktu. Masih tersisa lima menit lagi dari waktu luangku.
"Selamat pagi nona!" Aku menyapanya sambil tersenyum, orang yang kusapa malah bersikap acuh. Rasanya aku ingin menyentil jidatnya. Bagaimana bisa orang di depanku ini bersikap arogan seperti itu.
"Lulu... Apa kau selalu seperti ini? Apa kau tidak melihat waktu? Untuk apa kau menggunakan arlogi jika kau tidak bisa tepat waktu? Dasar payah." Ucap Elisa sambil mengerutkan dahinya.
Payah? Kau bilang aku payah? Kau jauh lebih payah! Jika saja aku tidak butuh uang aku pasti akan meninggalkan wanita kasar sepertimu. Gumamku sambil pura-pura tersenyum.
__ADS_1
"Nona, saya berusaha datang tepat waktu. Lagi pula saya tidak terlambat. Masih tersisa lima menit lagi." Balasku dengan nada suara pelan.
"Apa kau menentangku? Apa kau sudah bosan bekerja denganku? Melihat wajahmu membuatku kesal." Wanita kasar itu bicara dengan nada tinggi.
Dia bilang dia kesal melihat wajahku? Dasar wanita aneh. Aku hanya bisa menggerutu, sementara kedua tanganku sibuk merapikan alat-alat make up.
"Apa kau tidak akan mendandaniku? Kenapa kau diam seperti pecundang!"
Wah... Aku benar-benar kesal. Tadi payah dan sekarang pecundang. Inilah sebabnya aku tidak bisa menahan emosiku. Aku kembali menggerutu sambil membuang nafas kasar.
"Apa kau pikir kau hebat? Apa kau pikir kau luar biasa? Wanita pemarah sepertimu seharusnya di letakkan di Musium agar setiap kali kau membuka mulutmu kau tidak akan menyakiti hati orang yang mendengar ucapanmu. Pecundang? Payah? Omong kosong." Ucapku dengan nada suara tinggi. Sekali-sekali aku harus bicara kasar padanya, setidaknya ia tidak akan berani menindas siapa pun lagi.
"Apa, Musium? Apa kau tidak suka lagi dengan pekerjaanmu? Kau di pecat." Balas Elisa, matanya menyala.
"Persetan dengan pekerjaan! Dari pada mendengar omelanmu setiap hari, lebih baik aku mengundurkan diri.
Ingat, kau tidak memecatku! Tapi aku yang mengundurkan diri. Dasar menyebalkan." Balasku lagi, kali ini aku menyebikkan bibir, sedetik kemudian aku meninggalkan Elisa tanpa menghiraukan kemarahan wanita sok cantik itu.
Aaaaaaaaaa...
Elisa terus berteriak, apa perduliku? Dia hanya wanita kasar yang seharusnya tidak perlu berada di sekitarku. Karena kehadirannya, hidupku jadi semakin berat, mendengar omelannya membuat telingaku terasa panas. Dan ini tidak terjadi sekali atau dua kali saja, tapi setiap hari selama lima bulan terakhir.
"Aku tidak bisa membiarkan penyihir sok cantik itu selalu bertindak kasar padaku. Kau tahu kan? Ucapannya sangat beracun.
Setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu saja membuatku kesal. Dan hari ini batas kesabaranku sudah terkikis habis. Di Televisi dia selalu bersikap anggun, padahal nyatanya dia sangat buruk." Ucapku membela diri.
Lulu Andriana. Kau melakukan hal yang benar! Kau melakukan hal yang benar dengan memberikan wanita kasar itu pelajaran! Aku bergumam dalam hati untuk menghibur diri. Entah keputusan ini benar atau tidak, aku hanya bisa pasrah dan berdoa agar semuanya baik-baik saja.
"Apa rencanamu tentang Hus..." Ucapan Nisa tertahan di tenggorokannya saat aku menutup bibirnya dengan telapak tangan kananku. Ponselku berdering, melihat nama yang tertera di ponsel membuatku merasa was-was.
Sssssss! Ucapku mengingatkan Nisa memudian pelan menurunkan tangan ku dari bibirnya.
"Assalamu'alaikum bu..." Sapa pemilik suara disebrang sana, suaranya terdengar khawatir. Dan aku bisa merasakan itu.
Apa bocah itu membuat masalah? Semoga saja tidak. Dadaku berdebar, kencang. Rasanya jantungku akan lompat keluar. Aku berusaha memperbaiki posisi dudukku sambil mendengar ucapan apa yang akan dilontarkan pemilik suara di sebrang sana.
"Ibu harus datang kesekolah. Husain pingsan." Sambung pemilik suara itu.
__ADS_1
Duarrrrrr!
Bagai disambar petir disiang bolong, aku terkejut luar biasa. Bagaimana anak itu bisa pingsan? Pertanyaan itu memenuhi rongga dadaku. Dan tanpa berpikir panjang aku langsung lari meninggalkan Nisa yang terlihat khawatir melihat wajah takutku.
...***...
Aku berlari seperti orang tidak waras demi meninggalkan gedung berlantai empat puluh lima itu secepat yang ku bisa, aku benar-benar tidak bisa menahan air mataku, tatapanku kosong karena fokusku hanya satu, sampai disekolah.
Brukkkkk!
Baru saja keluar dari halaman gedung mewah itu, sebuah mobil yang tidak kusadari kedatangannya menabrakku hingga tersunggur membentur lantai.
Aaaahhhhh!
Aku berusaha menahan nyeri yang bersumber dari lututku. Sepertinya kakiku terkilir, aku bahkan tidak bisa berdiri. Pemilik mobil tidak berguna itu keluar sambil memamerkan wajah datarnya. Entah ia merasa bersalah atau tidak, aku benar-benar tidak bisa membaca pikirannya. Dia berusaha membantuku sambil menyodorkan tangannya, aku menolak itu sambil berusaha bangun sendiri.
"Apa kau tidak punya mata? Kenapa kau seceroboh ini? Entah mimpi buruk apa yang kubawa sampai bertemu pengemudi ugal-ugalan sepertimu." Ujar ku tanpa melepas pandangan dari wajah tampannya.
"Hay nona... Berani sekali kau menyalahkanku? Bukankah kau sengaja melompat kedepan mobil ku hanya untuk mendapat perhatian dan ganti rugi?"
Wahhhh... Dadaku benar-benar panas. Entah darimana makhluk aneh ini muncul dan membuat ku kesal. Apa dia tidak punya pikiran? berani sekali dia menuduhku sembarangan. Aku menatap wajah tampannya dengan tatapan tajam.
"Hai tuan... Jangan asal bicara seolah kau mengenalku. Mendengar omong kosong yang keluar dari bibir mu membuatku ingin muntah." Ucapku masih dengan kekesalan luar biasa.
Tanpa berpikir panjang aku langsung masuk kedalam mobilnya. Wajah herannya seolah ingin mengulitiku, ia mengangkat tangannya mencoba menakutiku. Sayangnya pria aneh itu berhadapan dengan orang yang salah, aku tidak takut pada siapa pun.
"Apa yang kau lakukan disana? kau melukai ku dan sekarang kau harus bertanggung jawab. Antarkan aku ketempat tujuanku." Ucapku tanpa ragu-ragu.
Aissssttt!
Pria aneh itu terlihat berteriak. Gara-gara dia aku kehilangan taksi yang seharusnya ku naiki. Maka tidak ada salahnya untuk memaksanya mengantarku menuju sekolah. Aku tahu aku salah karena memaksanya, mau bagaimana lagi aku tidak punya pilihan lain.
Lulu Andriana... Apa yang kau lakukan? Kau malah duduk di dalam mobil pria asing! Bagaimana jika ini menjadi masalah di kemudian hari? Apa kau tidak takut? Lihatlah wajah datarnya! Dia terlihat sangat marah, tatapan matanya seolah ingin mengulitimu.
Oh Tuhan... Inikah rasanya berada dalam ketegangan? Sekujur tubuh ku terasa bergetar. Bahkan rasa sakit karena tertabrak tadi tidaklah seberapa di banding gejolak yang memenuhi rongga dadaku! Ucapku panjang kali lebar namun dengan suara pelan
Pria asing yang duduk di sebelahku menyetir tanpa bertanya apa pun. Untuk sesaat ia menatap lututku, rok putih yang kugunakan terlihat robek di bagian lutut dan memperlihatkan bercak darah. Pria tampan itu terdengar menghela nafas. Sepertinya, ia merasa bersalah. Aku tidak perduli perasaannya karena yang kuperdulikan hanya ingin sampai disekolah secepat yang kubisa.
__ADS_1
...***...