
Netraku membulat sempurna. Sungguh, aku tidak pernah menyangka akan kembali bertemu dengannya. Kenapa dia bisa berdiri bersama Mama? Apa mereka saling mengenal? Bagaimana bisa? Aku pasti sedang bermimpi, tidak mungkin kucing liar itu mengenal Mama. Jika dia bukan kucing liar itu, lalu dia siapa? Hantu? Ini bahkan lebih tidak mungkin lagi. Begitu banyak pertanyaan yang memenuhi rongga dadaku, sayangnya ucapanku hanya terkatup di bibir.
Dan lebih anehnya lagi, bibirku terasa terkunci di depan Mama. Apa kucing liar itu membacakan mantranya? Ini lebih mustahil lagi. Dia bahkan tidak mengetahui namaku.
"Anda anda disini? Ja-jadi kalian putra Nyonya Natali?" Kucing liar itu bertanya sambil menunjuk kearahku dan kak Ibra. Mama yang melihat tingkahnya terlihat heran.
"Jadi kalian saling mengenal? Baguslah. Mama suka itu." Ucap Mama sambil memamerkan senyuman bahagianya. Entah apa yang membuat Mama sebahagia itu, ku tebak beliau pasti belum lama ini mengenal gadis aneh yang berdiri di depanku. Uuppsss... Bukan gadis, tapi wanita dengan satu anak.
"Iya, beliau Mama kami." Balas ku singkat.
Sementara kak Ibra? Dia hanya bisa tersenyum bahagia. Entah apa yang membuatnya terlihat bahagia. Tidak mungkin kucing liar yang berdiri di depan kami ini menjadi sumber bahagianya, karena aku tahu masa lalunya masih menari-nari di memori otaknya, dan hal itu mencegahnya untuk mendekati gadis manapun yang ada di dunia ini.
"Nona Lulu. Waw... Aku bisa bertemu dengan anda disini, ini benar-benar kejutan. Apa dia adik anda? Hay, dek. Apa kabar?" Kak Ibra bertanya sambil menangkup wajah tampan bocah yang berdiri di samping kucing liar itu.
"Kak, kalau bertanya di pikir dulu. Dia bukan adiknya, dia itu putranya." Celotehku sambil menatap Kak Ibra.
Wajah Kak Ibra memamerkan beribu-ribu kekecewaan.
Glekkkkkk!
Aku hanya bisa menelan saliva menatap wajah kecewa Kak Ibra. Apa dia benar-benar tertarik dengan kucing liar itu? Entahlah, aku sendiri tidak bisa menebak hanya dari ekspresi wajah kusutnya. Ku akui, kucing liar itu memang sangat manis. Dia memiliki kecantikan gadis Asia pada umumnya. Jika kak Ibra tertarik padanya, aku pasti akan menentangnya. Pantang bagi ku dan kak Ibra mendekati wanita yang sudah memiliki suami, dan itu merupakan Aib bagi keluarga besar Atmajaya.
"Husain lapar Mommy, kapan kita bisa makan?"
Mendengar ucapan bocah manis itu kami bertiga tersenyum sambil menatap wajahnya.
"Baiklah, nak. Kau bisa makan sepuasnya. Om tampan akan mentraktirmu sampai kenyang." Ucapku sambil memegang lengan bocah manis itu. Aku mengendongnya tanpa berpikir bajuku akan kusut. Sungguh, aku tidak pernah sedekat ini dengan anak manapun. Tapi dengannya, aku merasa seolah ada magnet yang menarik ku. Dia sangat manis, dia juga terlihat cerdas. Bahkan wajah cantik ibunya, maksudku wajah cantik kucing liar itu bagai candu yang menenangkan jiwa.
Robin... Apa yang kau pikirkan? Apa kau mengaguminya? Secepat itu? Bagaimana bisa?Kau pasti sudah kehilangan akal sehatmu! Aku bergumam di dalam hati sambil berjalan memasuki sebuah Restorant yang ada di lantai tiga. Di belakangku berjalan Mama, kak Ibra dan wanita itu. Wanita yang belum pernah ku sebut namanya walau ini menjadi pertemuan kami yang kesekian kalinya.
...***...
Restorannya sore ini terlihat ramai, untunglah masih tersisa satu meja kosong sehingga kami bisa duduk dengan tenang.
Di meja sudah tersedia makanan yang kami pesan. Berbagai macam olahan laut. Dimuai dari udang, cumi, ikan, bahkan ada juga daging asam manis.
"Nak, makan apa pun yang kau inginkan. Kau tidak perlu ragu, semua yang ada di atas meja ini milikmu." Ucapku sambil memegang pundak kecil Husain. Hanya dalam beberapa menit saja aku sudah terikat dengan bocah manis itu, bagaimana ini bisa terjadi?
__ADS_1
Robin. Kau pasti sudah tidak waras. Jika Sawn tahu kau tergoda oleh istri orang lain, aku yakin dia pasti akan melayangkan tinjunya di wajah tampanmu. Aku bergumam di dalam hati sambil menggaruk kepala ku yang tidak gatal. Ku perhatikan wajah semua orang, semua orang terlihat baik-baik saja kecuali aku.
"Lulu, senang bertemu denganmu. Lebih-lebih putramu. Dia sangat manis, lebih manis dari madu." Sanjung Mama sok akrab.
"Terima kasih Nyonya." Balas kucing liar itu tanpa melepas senyuman dari wajah cantiknya.
Eittttsss! Tunggu dulu, sepertinya aku harus berhenti memanggilnya kucing liar. Dia terlalu cantik dan tidak pantas mendapatkan panggilan itu. Baiklah, mulai saat ini aku akan memanggil namanya. Lulu. Lulu Andriana. Nama yang cukup bagus, terdengar sederhana tapi tetap saja dia ataupun namanya benar-benar sangat anggun.
"Robin, berikan tisu itu pada nona Lulu." Ucap Mama sambil menunjuk tisu yang ada di depanku.
"Apa Tante bisa memanggil namamu saja?" Kali ini Mama bertanya sambil memegang jemari Lulu Andriana, tidak ada balasan untuk Mama selain anggukan kepala. Maklum saja, Mama bertanya di saat yang tidak tepat. Bagaimana beliau bisa mendapatkan jawaban sementara yang beliau tanya masih sibuk mengunyah sisa makanan yang ada di mulutnya.
"Boleh Tante. Tante bisa bisa memanggilku senyaman yang tante inginkan."
"Apa kau ingin lagi?" Kali ini kak Ibra yang membuka suara, dia bertanya pada bocah manis yang duduk di sisi kanannya.
"Tidak. Terima kasih. Husain sangat kenyang."
Mendengar ucapan santai bocah manis itu membuatku merasa terhibur, jika aku tidak ada di meja makan aku pasti akan tertawa lepas. Untuk pertama kalinya aku, Robin Atmajaya menyukai anak-anak. Apa aku menyukai bocah manis itu karena dia putra dari kucing liar yang ada di depanku? Entah-lah aku sendiri tidak tahu itu.
"Tentu saja sayang. Mama sangat bersyukur karena kau bisa meluangkan waktumu untuk Mama. Pulanglah sekali-sekali.
Apa kau tidak merindukan rumah? Apa kau tidak ingin bertemu dengan Papamu? Sapalah beliau. Kau tahu kan, Papamu tidak akan menyerah. Jadi kita lah yang harus bersikap lunak padanya." Ucap Mama sambil memegang jemari kak Ibra.
Tidak ada balaaan dari Kak Ibra, ia hanya bisa terdiam sambil menatap wajah penuh pengharapan Mama.
Sementara aku? Tidak ada yang bisa ku katakan untuk menghibur Mama dan kak Ibra. Ini memang masalah. Masalah yang cukup sensitif. Papa pria berprinsif dan keras. Sementara kak Ibra? Dia pria yang cukup unik. Dia tidak akan bicara pada orang yang membencinya, termasuk Papa. Kekacauan yang terjadi delapan tahun silam masih saja menjadi duri yang menghalangi kebahagiaan keluarga Atmajaya. Entah kapan kekoyolan ini akan berakhir sehingga tawa baru akan menghiasa wajah kami.
Si payah, maksud ku kak Ibra, sejak peristiwa konyol itu dia tidak pernah bersikap lunak pada siapa pun, termasuk dirinya sendiri. Hal yang paling kutakuti, jika ada karyawan yang melakukan kesalahan, maka kak Ibra akan bersikap seperti diktator kejam.
Apa gunanya harta dan ketenaran jika hal itu tidak bisa membawa senyuman dalam hidup kak Ibra? Sering kali aku berusaha menjelaskan itu pada kak Ibra, namun sepertinya telinganya telah tersumpal dengan semua luka lama sehingga tidak ada kata-kata yang bisa menembus lubuk hati terdalamnya.
"Sudahlah, Ma. Jangan memaksa kak Ibra. Biarkan dia pergi. Aku yakin Papa tidak akan keberatan dengan semua ini.
Pekan depan kita akan kumpul keluarga. Kita akan bahas segalanya saat waktu itu tiba. Jadi sekarang, biarkan kakak pergi. Aku juga akan pergi." Celotehku berusaha menengahi. Aku tahu Mama tipe orang yang konsisten dengan pendiriannya, aku takut akan terjadi perdebatan diantara dirinya dan kak Ibra walau kemungkinannya hanya satu persen saja, setidaknya aku sudah berusaha menengahi agar perdebatan yang tidak seharusnya terjadi tidak akan terjadi.
"Baiklah. Mama memberi mu izin untuk pergi, tapi kau harus ingat, Mama tidak akan membiarkanmu sendiri lagi. Sudah cukup Mama melihat sikap berontakmu." Ucap Mama sambil menatap wajah sendu kak Ibra dengan tatapan setajam belati.
__ADS_1
Kucing liar. Maksudku, nona Lulu, dia hanya bisa diam, mungkinkah dia sengaja menyibukkan diri dengan menguyah sisa makanan yang ada di piringnya, aku tahu dari tingkahnya kalau dia tidak ingin terlibat dengan kemarahan Mama, dan sikap berontak kak Ibra.
"Baiklah." Ucap kak Ibra pasrah, ia mencium kening Mama kemudian berlalu bagai angin. Ia bahkan lupa pamitan pada bocah manis yang ia ladeni bagai raja.
...***...
"Apa kau ingin bertanya? Tanya kan apa pun yang kau inginkan. Walau kita tidak dekat, Insya Allah aku akan berusaha menjawab pertanyaanmu tanpa amarah."
Glekkkk!
Aku langsung menelan saliva mendengar celotehan pria tampan yang duduk di sebelah ku. Dia memintaku bertanya padanya, apa yang harus ku tanyakan? Aku bahkan tidak tertarik dengan urusan keluarganya.
"Yaya... Aku tahu kau tidak tertarik dengan urusan keluargaku. Setidaknya kau tidak perlu bersikap pura-pura sibuk mendengar ucapan Mama tadi." Sambungnya lagi.
Apa dia hantu? Kenapa dia bisa membaca jalan pikiranku? Aku benar-benar tidak percaya ini. Ucapku lirih dalam hati. Aku bahkan tidak berani menatap wajahnya, lalu bagaimana bisa aku bertanya pada zona yang tidak seharusnya ku masuki.
"Aku bukan hantu. Dan aku bisa membaca pikiranmu. Jadi jangan pura-pura sok kalem di depanku."
Glekkkkk!
Lagi-lagi aku hanya bisa menelan saliva mendengar ucapannya. Bagaimana bisa orang aneh ini membaca pikiranku sementara dia bersikap sok jutek di hadapanku.
"Kak Ibra pria yang baik. Sejak delapan tahun yang lalu dia mulai bertingkah dingin, hubungannya dengan Papa menjadi buruk. Aku berharap pertemuan kali ini akan membawa warna baru dalam hubungannya, sehingga tidak ada lagi luka dan air mata."
Hhhmmm!
Aku menghela nafas kasar sambil memperbaiki posisi Husain yang saat ini terlelap dalam pangkuanku. Anak manis itu tumbuh dengan cepat namun ia benar-benar sangat sensitif. Saat tidur dia tidak ingin jauh dariku.
"Tuan tidak perlu khawatir. Semuanya pasti akan membaik. Dalam keluarga, berbeda pendapat itu hal biasa. Cepat atau lambat hubungan pak Ibra dengan Papa anda pasti akan kembali seperti semula. Hubungan yang di dasari kasih sayang dan cinta tidak akan mudah berakhir walau seberat apa pun masalah yang datang mendera." Celotehku sambil menatap wajah rupawan yang saat ini duduk di kursi kemudi.
Aku tidak akrab dengannya, tapi lihatlah dirinya! Ia menceritakan masalahnya tanpa keraguan sedikit pun. Walau aku tidak menyukainya, dengan jelas kukatakan aku sangat menghormatinya. Menghormati sikap keperduliannya pada keluarganya.
Aku belajar menaruh hormat kepada orang yang menegakkan martabatnya dengan cara membuktikan dirinya sendiri, bukan dengan membangun fikiran negatif tentang orang lain.
Gumam ku di dalam hati sambil menatap wajah pria rupawan yang masih sibuk dengan pikiran sedihnya, sedetik kemudian aku mulai mengalihkan pandanganku sambil menatap ke-kedepan.
...***...
__ADS_1