Menyatu Dalam Cinta

Menyatu Dalam Cinta
Aku Merindukannya.


__ADS_3

"Terima kasih karena pak Robin sudah bersedia mengantar ku pulang dengan ASM!" Ucapku begitu aku sampai di depan kontrakan yang ku tinggali sejak dua tahun terakhir.


"ASM? Apa itu?"


"A, aman. S, selamat. Dan M, menyenangkan." Balas ku sambil tersenyum simpul.


"Haha... Nona Lulu bisa saja. Aku tidak pernah menyangka kalau anda orang yang sangat menyenangkan."


"Pak Robin tidak perlu menyanjungku seperti itu. Yang jelas aku jauh lebih baik dari ucapan yang anda lontarkan." Balasku lagi menyanjung diri sendiri.


Aku tidak tahu apa yang di pikirkan pemuda rupawan yang masih duduk di kursi kemudinya itu. Dua menit yang lalu dia tertawa lepas mendengar ucapanku, dan sekarang? Sekarang dia merunduk berusaha menyembunyikan senyuman indahnya.


Aku tidak berani menatap netra teduhnya, karena aku takut aku akan tergoda oleh pesona indahnya. Sangat mudah bagi Iblis menjerumuskan manusia dalam kenistaan Zina. Dan aku? Aku tidak seburuk itu sampai harus merelakan harga diriku sebagai seorang wanita.


"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena anda sudah berkenan mengantar saya pulang." Ucapku lagi, kali ini dengan kepala yang merunduk sempurna.


"Apa aku bisa meminta sesuatu darimu?Anggap saja kita teman lama yang baru saja bertemu. Hanya dengan anggapan ini kau tidak akan merasa sungkan padaku."


"Baiklah jika itu yang anda inginkan. Robin atau mas Robin? Kau ingin aku memamanggil mu seperti apa?"


"Mas Robin terdengar cukup baik. Tapi, jika kau tidak suka memanggilku dengan sebutan itu, Robin sudah cukup."


"Kita sepakati, aku akan memanggilmu Mas Robin. Bagiku semua ini terasa sangat aneh dan terkesan terburu-buru. Tapi tidak apa-apa."


"Sejak tadi aku terus saja bicara dengan nada santai denganmu. Apa kau tidak marah?"


"Tidak apa-apa." Balasku lagi sambil memperbaiki Husain yang ada dalam gendonganku.


"Hari ini kau sudah menghiburku. Maksudku, ucapan yang kau lontarkan tadi membuatku merasa yakin kalau Papa dan kak Ibra akan segera membaik seperti sebelumnya.


Untuk itu, aku mengundang mu datang ke-restorant milikku. Kau boleh memakan apa pun yang kau inginkan, semuanya gratissss!"

__ADS_1


"Waw... Itu menakjubkan." Ujarku penuh semangat, kali ini sambil menatap netra teduh Robin Atmajaya.


"Aku harus masuk. Sekali lagi ku ucapkan, terima kasih." Sambungku lagi.


Sedetik kemudian aku berjalan meninggalkan pria rupawan itu. Sekali pun aku tidak menoleh kebelakang, aku tahu pemilik mobil rupawan itu tidak kunjung pergi sampai tubuhku menghilang di balik kokoh dinding bangunan.


...***...


Huhhhhh!


Aku membuang nafas kasar. Akhirnya aku sampai juga di rumah berlantai dua yang ku beli dari hasil kerja keras ku sendiri.


Atmajaya!


Saat aku menyebut nama itu, semua orang mulai menghormatiku. Nama itu benar-benar memiliki pengaruh kuat dalam dunia bisnis. Maklum saja, Papa sudah berkecimpung dalam manis dan pahitnya dunia bisnis sejak beliau berusia remaja.


Aku tidak ingin semua orang mengenalku karena latar belakang keluarga, karena itulah aku jarang sekali menggunakan nama belakangku ketika mengurus semua hal yang berkaitan dengan usaha kuliner yang kubangun dengan dana pinjaman dari Sawn Praja Dinata, pengusaha besar sekaligus sahabat baikku. Di kartu nama sekalipun, aku hanya menggunakan nama singkat ku 'Robin'


Aahhh iya, besok tidak bisa! Aku harus kerumah sakit dan mengunjungi wanita itu sebelum kak Ibra tahu dia ada disini. Syukurlah kak Ibra tidak suka menonton televisi yang ada di kantornya.


Aku heran kenapa acara gosip di tayangkan di televisi, ucapan orang-orang itu tak ada bedanya dengan minyak panas yang setiap saat menggoreng berita receh kemudian berkembang menjadi api." Celotehku sambil membuka satu per satu kancing kemeja ku.


Aku meletakkan baju kotor di keranjang, setelah itu aku masuk kekamar mandi. Membersihkan diri agar bisa menghadap sang pencipta yang memberi hidup berharga ini, melaksanakan Sholat sebagai bentuk rasa syukur pada Ilahi, rasa syukur karena di beri anugrah hidup seindah ini.


Tak butuh waktu lama, sepuluh menit ku berakhir dengan aktivitas menghadapkan diri pada dia sang maha pemberi kehidupan, Allah.


Di luar aku memang terlihat ramah, kuat, humoris, dan juga bijaksana. Tapi sebenarnya aku sangat rapuh, aku membutuhkan dukungan dan kekuatan, kemana lagi aku harus meminta pertolongan? Tentu saja aku harus kembali pada sang pemberi kehidupan, merintih di hadapannya dan mengeluhkan betapa beratnya beban di pundakku, hanya dengan memohon pertolongan pada Rabb ku semuanya akan terasa ringan.


Sekarang aku mulai merasakan ketenangan. Tapi entah kenapa pikiranku terus saja berlari seputar kucing liar itu. Membayangkan wajahnya membawa kebahagian tersendiri dalam hidup ku. Aku tersenyum, aku terpesona, aku tertawa, aku juga terbius oleh pesona indahnya.


Ada apa ini? Apa aku jatuh cinta lagi? Tidak. Ini pasti tidak benar! Gumamku dalam hati sambil mengetuk kepalaku dengan tangan kananku.

__ADS_1


"Dasar bodoh, apa kau ingin tiada? Bagaimana bisa kau tertarik pada wanita yang sudah menikah?" Celotehku mencaci diri sendiri.


"Kau tidak boleh melakukan hal konyol ini. Bangun Robin! Bangun dari kebodohanmu." Celotehku lagi sambil berjalan menuju pintu, berjalan pelan kemudian menuruni anak tangga sambil berpegangan tangan di tiap sisinya.


Sekarang aku baru menyadari, ternyata rumah yang ku tinggali ini sangat sunyi, biasanya aku tidak perduli dengan kesunyian ini. Tapi sekarang? Aku merasa seperti tinggal di hutan. Sepi, sendiri dan tak bisa berbagi.


Untuk sesaat pikiran kotorku menembus ruang dan waktu. Aku membayangkan, saat ini aku sedang memeluk kucing liar itu, kemudian putranya berlari di ruang tengah rumahku. Kami bertiga sama-sama tersenyum karena bahagia. Seandainya hal itu benar-benar terjadi. Aku pasti orang yag paling bahagia di dunia.


"Ooohhh tidak, apa yang sedang ku pikirkan. Dasar bodoh." Ucapku mencela diri sambil menepuk wajah tidak tahu maluku.


Baru saja aku akan berjalan kearah dapur, netraku membulat sempurna, aku terkejut, sosok yang seharusnya tidak perlu berada di rumahku justru sedang tertidur di sofa. Melihat caranya tertidur dan bagaimana dia menutup wajah dengan tangannya aku yakin masalah besar sedang memenuhi rongga dadanya.


"Jangan bilang... Ahhhhh!" Aku mempercepat langkah kakiku dan berjalan kearah ruang tengah.


"Apa ada masalah?" Aku bertanya begitu aku berada disisi kanan kak Ibra.


"Tidak ada!" Balas kak Ibra singkat tanpa membuka matanya.


Bahkan kucing ku yang duduk di sofa dekat kakinya saja tahu kalau dia sedang tidak baik-baik saja. Beraninya dia berbohong di depanku dengan nada suara meyakinkan.


"Bangunlah. Jika kakak tidak bangun aku akan mengusirmu dari rumahku." Ucapku dengan suara berat. Sebenarnya aku ingin tersenyum saat mengatakan itu, namun nuraniku mencegahku agar tidak melakukan hal bodoh saat saudara yang sangat ku sayangi itu terjebak dalam masalah, masalah hati.


"Kenapa kau menggangguku. Aku sedang tidak ingin bercanda." Balas kak Ibra sambil bangun dari posisi terlentangnya, ia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Semangat yang biasanya berkobar di wajah kak Ibra terlihat padam oleh emosinya.


"Tadinya aku sedang istirahat di Apartment, tiba-tiba saja seseorang memanggilku setelah sekian lama. Dia menangis sambil mengatakan kalau dia sangat merindukanku.


Mendengar ucapan emosionalnya membuatku ingin lari padanya, aku ingin memeluknya, aku juga sangat merindukannya. Seketika aku teringat masa lalu, mengingat hal itu membuat amarahku membuncah. Saat itu juga ku putuskan lebih baik aku menjauhinya dari pada harus dekat dengan wanita itu lagi." Ungkap kak Ibra masih dengan mata yang masih tertutup.


Kak Ibra tidak berani menatap netraku karena itu ia bicara tanpa membuka netra teduhnya. Aku sendiri bingung, aku tidak tahu bagaimana cara menghibur hatinya yang sedang terluka. Seandainya kucing liar itu maksudku Lulu Andriana ada bersamaku saat ini, ucapan menenangkan yang keluar dari lisannya pasti bisa menenangkan setiap jiwa yang sedang terluka.


Aku merindukannya. Dan aku juga tidak tahu bagaimana bisa aku merindukan wanita yang sudah menikah dengan satu putra. Maafkan aku Tuhan karena aku melakukan kesalahan besar. Gumamku di dalam hati tanpa mengalihkan tatapan dari wajah menyedihkan kak Ibra.

__ADS_1


...***...


__ADS_2