
"Baiklah. Anda bisa melanjutkan percakapan anda, saya permisi keluar." Ucap ku sambil menatap bergantian kedua pria rupawan yang berdiri di depan ku. Sedetik kemudian aku mulai merunduk memberi hormat dan bersiap untuk pergi.
"Robin, apa kau mengenal Nona Lulu?"
Ketika aku bersiap membuka pintu, samar-samar aku mendengar suara Ibra bertanya pada pria yang tadi ku ketahui sebagai adiknya, entah masalah apa lagi ini.
"Kakak, dia kucing liar itu! Kakak masih ingat apa yang ku ceritakan beberapa hari yang lalu, dia lah orangnya."
Wahhh... Inilah alasnnya kenapa aku tidak bisa menahan amarah ku, pria songong itu bilang aku kucing liar, rasanya aku ingin melayangkan tinju di wajah tak berdosanya. Aku bergumam di dalam hati sambil menatapnya dengan tatapan tajam.
"Jika aku kucing liar, maka anda buaya darat. Omong kosong." Celotehku dengan muka masam, aku menangkupkan kedua tangan di depan dada tanpa menatap kedua pria rupawan itu. Percaya atau tidak aku benar-benar tidak ingin berada di tengah-tengan pria aneh itu. Satunya baik, dan satunya lagi bisa menyebabkan serangan jantung.
"Nona Lulu tolong maafkan adik saya. Dia memang seperti itu. Percaya padaku dia bukan pria yang jahat." Ibra menjelaskan sambil menangku kedua tangannya di depan dada.
Ini sungguh aneh, orang lain yang bersalah kenapa dia repot-repot meminta maaf. Aku kebali bergumam sambil pura-pura tersenyum.
"Baiklah. Karena anda yang memintanya maka akan saya maafkan. Semoga kita tidak pernah bertemu lagi. Assalamu'alaikum." Ucapku dengan nada santai. Kedua pria rupawan itu hanya bisa menatapku dengan tatapan heran. Kali ini aku nenar-benar pergi. Aku tidak perduli lagi jima merwka membicarakanku di belakangku.
...***...
Butuh waktu tiga jam untuk sampai di sekolah Husain, biasanya aku hanya membutuhkan waktu satu jam saja. Entah kenapa hari ini aku terjebak dalam kemacetan panjang. Aku benci kemacetan, walau demikian tidak ada hal yang bisa ku lakukan selain bersabar.
"Kasihan sekali pengemudi sedan itu mbak, menurut kabar yang saya dengar dia baru saja pulang dari luar negri dan akan menemui kekasihnya. Na'as tak bisa dihindari, seorang pengemudi mabuk menghantam mobilnya dari belakang. Untungnya dia menggunakan sabuk pengaman, lukanya cukup serius, tapi untungnya dia bisa di selamatkan. Dia juga sudah mendapatkan penanganan khusus dari pihak rumah sakit terbaik di kota ini." Sopir taksi yang ku tumpangi itu memulai kisah panjang kali lebarnya tanpa ku minta.
"Kabarnya dia adalah seorang aktris terkenal. Saya jadi penasaran dengan kondisinya. Saya merasa kasihan pada kekasihnya. Kalau saya jadi kekasihnya saya yakin saya pasti tidak bisa tidur karena khawatir." Sambung sopir taksi itu lagi, aku sedang pusing tapi dia terus saja mengoceh. Hal yang bisa ku lakukan hanya menjadi pendengar yang baik walau sebenarnya aku tidak tertarik dengan apa yang dia bicarakan.
Huhhhhhh!
Aku mulai membuang nafas lega begitu aku turun dari taksi itu. Aku benar-benar tidak suka bergosip, karena itulah aku merasa kurang nyaman saat sopir taksi itu mulai membicarakan orang yang tidak ku kenal. Aku tidak bisa bicara kasar apa lagi sampai memakinya, saat aku tidak suka dengan topik yang ku dengar aku hanya bisa diam sambil meruduk seolah aku baik-baik saja.
"Akhirnya aku turun juga dari taksi itu." Celetuk ku sambil memperbaiki kain penutup kepalaku yang terlihat sedikit kusut di bagian depannya.
"Selamat siang Mommy Husain. Anda sudah datang?" Seorang penjaga bertubuh kekar menyapa ku sambil tersenyum ramah, kumis tebalnya terlihat menutupi gigi bagian atasnya.
"Selamat siang, Mang. Saya mau menjemput Husain." Balas ku sambil melipat kedua lengan di depan dada.
"Nak Husain ada di kelasnya, tadi Mamang memintanya menunggu di pos depan, anak manis itu bilang Mommy-nya akan segera datang dan dia tidak ingin keluar dari kelasnya."
"Baiklah, Mang. Saya permisi dulu. Assalamu'alaikum." Ucap ku sambil tersenyum. Setelah itu aku meninggalkan penjaga separuh baya itu. Dia sangat mengenal ku karena aku sering bertemu dengannya saat menjemput Husain. Tak jarang, aku bahkan sering membawakan makanan dari rumah untuknya.
__ADS_1
"Mommy..." Husain berlari kearah ku sambil melambaikan tangan. Bocah manis itu terlihat sangat bahagia padahal kami berpisah tak lebih dari tujuh jam saja.
"Kenapa Mommy lama sekali? Husain pikir Mommy lupa menjemput Husain."
"Husain putra kebanggaan Mommy. Bagaimana Mommy bisa melupakan anak kesanyangan Mommy? Sekarang, ayo kita pulang!" Aku mensejajarkan tinggi dengan putra kebanggaan ku. Sedetik kemudian aku mulai memeluknya dengan pelukan kerinduan. Sejujurnya aku sangat merindukan Husain. Aku juga tidak bisa jauh dengannya walau hanya untuk sedetik saja, aku bisa melepas Husain saat aku berangkat kerja dan saat ia berangkat kesekolah, lebih dari itu aku tidak ingin berpisah dengannya.
"Ayo kita pulang!" Ucap ku lagi sambil menangkup wajah tampan Husain.
"Mommy... Husain tidak ingin pulang. Husain ingin jalan-jalan? Husain bosan dirumah."
"Jalan-jalan? Sejak kapan putra Mommy bosan di rumah? Biasanya dia ingin pulang lebih awal. Ada apa dengan hari ini?"
"Tidak ada. Husain hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan Mommy. Itu saja."
"Baiklah. Karena putra Raja yang menginginkannya maka tidak ada jalan untuk Mommy selain mengikuti keinginannya." Ucap ku santai sambil mencubit hidung bangir Husain yang saat ini menatap ku dengan tatapan bahagia.
"Horeeeee!"
Husain berteriak antusias sampai membuat dua pria yang menjaga pos satpam tertawa lepas. Aku yang di tatap hanya bisa menggigit bibir melihat antusias putra kebanggaan ku.
...***...
"Mommy... Husain mau makan disana!"
"Apa kau tidak mau bermain lagi?" Aku bertanya dengan suara pelan. Peluh yang menetes dari puncak kepala Husain menjelaskan semuanya.
"Tidak Mommy, Husain lelah. Husain lapar. Setelah makan kita akan pulang." Balas Husain dengan wajah yang di penuhi senyuman.
"Baiklah. Ayo kita pergi." Balasku pelan. Mendengar ucapan singkatku Husain berlari kegirangan.
"Husain... pelan-pelan, nak. Jika kau jatuh bagaimana?"
Aku mengejar Husain yang terus saja berlari, anak manis itu tidak mendengarkan ucapan ku. Melihat sikap aktipnya membuatku menghela nafas kasar. Aku tidak marah ataupun kesal, aku hanya takut dia terluka karena tempat ini sangat ramai. Bagaimana jika dia menabrak orang saat sedang berlari.
Glekkkkk!
Aku menelan saliva sambil berdiri lemas. Apa yang ku takutkan akhirnya terjadi. Husain benar-benar menabrak orang dan dia tersungkur kelantai. Semua mata menatapnya dengan tatapan heran, seolah tontonan ini membuat mereka ingin tertawa lepas. Tanpa berpikir panjang aku segera berlari mendekati Husan sambil menenteng mainan yang Husain beli sepuluh menit yang lalu.
"Apa kau terluka, nak? Bukankah Mommy sudah memperingatkanmu untuk tidak berlari di tengah kerumunan." Aku membangunkan Husain dari lantai kemudian merapikan bajunya yang terlihat kusut. Tidak ada balasan dari putraku selain tatapan herannya, dia memelukku sambil berbisik.
__ADS_1
"Mommy tidak perlu takut. Husain baik-baik saja, Husain juga tidak terluka. Husain janji Husain tidak akan membuat Mommy khawatir lagi." Ucap Putra berhargaku, kali ini ia menjewer telinganya sendiri.
"Baiklah, Mommy memaafkan mu. Kau harus minta maaf pada orang yang kau tabrak." Celotehku sambil memegang lengan Husain dan berjalan mendekati wanita separuh baya itu.
"Nyonya, maafkan saya. Saya yang salah karena tidak berhati-hati." Husain mulai membuka suara sambil menangkupkan tangan kecilnya di depan dada
"Tidak apa-apa nak. Oma tidak terluka. Lain kali kau harus berhati-hati. Dan sebagai hukuman, kau harus menemani Oma makan. Apa kau bersedia?"
Wanita separuh baya yang berdiri di depanku menangkup wajah Husain sambil tersenyum penuh pengharapan. Husain yang di tanya terlihat berpikir.
"Baiklah. Tapi... Mommy Husain harus ikut bersama kita." Celetuk Husain sambil melipat lengan kecilnya di depan dada.
Wanita separuh baya yang melihat tingkah Husain hanya bisa tertawa lepas. Aku sendiri heran, kenapa mereka bisa akrab secepat itu padahal kami tidak saling mengenal? Walau bagaimanapun aku merasa bahagia untuk yang terjadi siang ini. Tidak perlu ada perdebatan, jika damai saja lebih indah.
Aku heran, kenapa orang lain mudah tersulut emosi. Emosi itu seperti api yang membakar segala yang ada di hadapan kita, dan emosi itu datangnya dari Iblis yang durjana. Bentengi diri dengan Iman dan takwa agar hidup jadi damai sentosa.
"Tunggu sebentar, nak. Kita akan pergi setelah putraku datang, apa tidak apa-apa?"
"Sesuai keinginan Nyonya." Ucap ku sambil tersenyum tipis pada orang yang bahkan belum ku kenal.
"Kau sangat cantik. Pantas saja putra kecilmu sangat tampan. Seandainya ibu punya cucu setampan dan semenggemaskan putramu." Sanjung Ibu itu sambil menangkup wajah tampan Husain.
Untuk sesaat aku tersenyum sambil menatap layar ponsel yang ada dalam genggaman ku, disana terpampang wajah indah putraku. Siapa pun yang mengenalnya, mereka akan mudah menerima Husain dalam kehidupan mereka, karena begitulah aku membesarkannya, penuh cinta dan ramah pada semua orang.
"Itu putra ibu." Ucap wanita separuh baya itu sambil menunjuk kearah dua pemuda yang saling berjalan beriringan, netraku membulat menatap dua pria tampan itu. Apa aku salah orang? Tapi tidak mungkin. Dia jelas-jelas berdiri di depanku.
Kenapa aku harus bertemu denganya lagi? Apa ini nasib buruk, ataukah takdir? Kita lihat saja nanti, apa pun yang terjadi semoga aku tidak akan menderita karenanya.
...***...
Karya ini lumayan lambat up-nya, kalau mau baca karya Author yang episod ya uda banyak kalian bisa mampir di....
1. Mencintai Bodyguard Saleha
2. Fazila Titipan Dari Surga
❤Thank you uda mampir❤😊
__ADS_1