
"Kenapa kau memarahi mereka? Mereka hanya karyawan biasa, aku yakin semua bawahan akan tertarik dengan kehidupan pribadi bos-nya. Dan itu hal yang wajar!" Ucap kak Ibra sambil meraih koran di atas meja.
"Bagi kakak itu mungkin hal yang wajar, namun bagiku itu hal yang kurang ajar. Aku tidak suka siapa pun membicarakan kehidupan pribadi ku. Hanya alasan itu yang ku punya sampai aku tidak menggunakan nama belakang keluarga." Balasku sambil menatap wajah heran kak Ibra.
"Tadinya aku mencoba menahan amarahku, sayangnya kekesalan ku mulai meledak saat mereka mengatakan kakak akan menikah dengan wanita itu. Membayangkan itu saja sekujur tubuhku mulai merinding." Sambung ku lagi sambil duduk di sofa depan kak Ibra.
Kebencian dan Amarah?
Aku rasa hanya dua kata itu yang saat ini masih memenuhi rongga dadaku. Aku sangat menyayangi kakak, dan aku benci pada orang yang menyakitinya.
"Jangan terlalu keras pada dirimu dan orang lain, semua orang mengenalmu sebagai sosok yang ramah, sopan, baik hati, humoris dan entah apa lagi namanya. Tetaplah seperti itu!"
"Lihat-lah siapa yang menasihati siapa? Seharusnya aku yang mengatakan kata-kata itu pada kakak, dan bukan sebaliknya." Balasku sambil menatap kak Ibra dengan tatapan heran.
Tok.Tok.Tok.
Sepuluh menit menunggu akhirnya aku mendengar pintu kantor ku di ketuk dari luar. Itu artinya pesananku telah datang.
"Masuk!"
"Selamat siang bos, menu makan siang seperti yang bos minta sudah siap. Apa saya harus menyajikannya sekarang?"
"Tidak. Tidak perlu repot, aku sendiri yang akan melakukannya. Terima kasih." Ujarku sambil menyodorkan tiga lembar uang seratusan pada pelayan wanita yang kumarahi tadi.
"Saya tidak bisa menerimanya, bos sudah memberikan lebih dari cukup."
"Tidak apa-apa, terima saja. Adik ku itu justru akan memarahimu jika kau tidak menerima saat dia memberikannya. Itu bukan sedekah, itu bentuk penghormatannya karena kau melakukan hal yang tidak bisa dia lakukan."
Mendengar ucapan kak Ibra pelayan muda itu langsung mengambil uang yang ada di tangan ku. Dia tersenyum, entah dia bahagia atau tidak aku tidak bisa menebaknya. Atau mungkin saja dia sedang pura-pura tersenyum seperti yang sering ku lakukan. Apa pun itu aku tidak terlalu memperdulikannya, yang ku perdulukan hanya membuat orang-orang terdekatku merasa bahagia. Itu saja.
__ADS_1
"Dia tidak berpura-pura tersenyum di dekat mu. Dia tulus melakukan itu karena dia merasa bersyukur memiliki atasan sepertimu. Kau tidak boleh menganggap semua orang berpura-pura hanya karena kau sering melakukannya, itu jelas-jelas berbeda."
"Apa kakak sedang meledekku? Kapan aku mengatakan itu?"
"Robin... Aku kakak mu jadi aku lebih mengenalmu. Kau memang tidak mengatakannya tapi wajahmu menjelaskan segalanya."
"Baiklah. Aku mengalah, sekarang ayo kita makan siang. Aku sangat lapar." Celetukku sambil meletakkan satu per satu piring di atas meja makan.
Tidak ada komentar apa-apa dari kak Ibra, dia hanya tersenyum tipis sambil meletakkan koran yang ada di tangannya di atas sofa.
Untuk sesaat kami berdua tak berucap sepatah kata pun, menikmati makan siang ini dengan tenang dan melupakan semua masalah yang memberatkan jiwa. Sungguh, menu makan siang ini terasa memanjakan lidahku, tidak ada komentar lain selain ucapan luar biasa.
...***...
Dua puluh lima menit berlalu sejak aku selesai menikmati santapan siangku. Sekarang aku sedang memeriksa pemasukan bulan lalu dan pengeluaran bulan ini. Terdapat banyak perbedaan. Namun satu yang pasti, setiap harinya lebih dari seribu porsi makanan terjual sejak pagi hingga malam. Aku merasa bahagia karena usaha ku tidak sia-sia dalam mengembangkan bisnis kuliner. Restoran yang ku buka dengan usaha dan kerja keras berkembang sangat cepat sampai-sampai aku butuh pelayan baru.
"Sekarang restorant yang kau dirikan dengan kerja kerasmu semakin berkembang pesat, kau akan membuka cabang di Bandung, Bekasi dan Surabaya, sebaiknya kau keluar saja dari pekerjaan mu.
"Aku rasa kakak benar, sayangnya aku tidak bisa melakukan itu. Sawn sangat baik, dia bukan sekedar sahabat bagiku, kakak juga tahukan aku sangat menghormatinya di banding siapa pun, termasuk kakak di dalamnya."
"Yaaa... Aku tahu itu. Itulah alasannya kenapa aku sangat iri pada pak Sawn Praja Dinata. Dia mendapatkan semua yang di inginkan oleh semua orang dengan sangat mudah, termasuk kasih sayang mu."
Aku tersenyum mendengar ucapan kak Ibra, ku akui apa yang di katakannya soal Sawn memang ada benarnya, Sawn mendapatkan segalanya dengan sangat mudah, istri yang cantik dan baik hati seperti nona sendirian Raina Salsadila, putra yang tampan dan menggemaskan, di tambah usahanya yang maju pesat. Kurasa semua kebahagiaan berkumpul mengitari kehidupannya saja. Lalu apa kabar dengan kehidupanku dan kehidupan kak Ibra? Kami berdua benar-benar di liputi oleh dilema, apa lagi dengan kehadiran mantan tunangan kak Ibra, tunangan yang membawa badai, tak tahu kapan kisah indah akan menghiasi kehidupan kami.
"Semalam Aldela menghubungi ku, dia menangis, dia memohon padaku agar menemuinya di rumah sakit." Ucap kak Ibra di antara senyapnya udara.
Hampir saja kopi yang ada di tanganku terjatuh karena aku sangat terkejut. Apa dia sedih? Atau justru bahagia? Aku benar-benar tidak bisa menebak dari raut wajah kak Ibra. Aku sendiri tidak tahu pikiranku, lalu bagaimana bisa aku menebak apa yang ada dalam pikirannya. Mendengar ucapan kak Ibra membuatku ingin mengelus dada. Aku juga tidak bisa berpura-pura tersenyum karena ini sangat menjengkelkan.
"Aldela? Apa yang kakak katakan padanya? Jangan bilang kakak akan kembali padanya? membayangkan itu saja membuat ku merasakan kesal luar biasa!" Ujarku sambil meletakkan kopi di atas meja depan kak Ibra.
__ADS_1
Aku tidak berbohong, aku benar-benar tidak menyukai wanita itu. Membayangkan kak Ibra kembali padanya membuatku ingin muntah. Apa aku terlalu jahat? Apa pun pendapat orang lain aku tidak perduli lagi.
"Apa kakak akan kembali padanya? Aku harap, tidak...!" Ujarku lagi, kali ini dengan suara tegas, aku terlalu takut membayangkan hal buruk itu.
"Hari ini aku ke rumah sakit, aku melihat kondisinya. Dia tetap cantik seperti biasa. Melihatnya terbaring di tempat tidur pasien membuatku sedih luar biasa.
Aku pikir aku sudah melupakan semua tentang dirinya, nyatanya itu tidak benar. Saat aku melihatnya dada ku berdebar sangat kencang, seolah jantungku akan loncat keluar. Aku ingin memeluknya, aku juga ingin menciumnya, untunglah itu tidak terjadi."
Aku terdiam, aku tidak tahu harus berkata apa. Pengakuan kak Ibra kali ini benar-benar sangat mengejutkan. Bagaimana bisa pria sesempurna dirinya masih menyimpan cinta untuk masa lalu yang meninggalkan banyak luka? Apakah rasa cintanya telah mengalahkan rasa sakitnya? Aku juga tidak tahu jawabannya, yang ku tahu semua ini tidak benar.
"Apa tanggapan kakak? Apa kakak benar-benar akan kembali padanya?" Aku kembali menayakan pertanyaan yang sama, aku menatap kak Ibra dengan tatapan curiga. Bukannya membalas pertanyaan ku dengan serius, dia malah tersenyum seperti orang tidak waras.
"Apa pertanyaanku terlalu lucu sampai kakak tersenyum seperti orang tidak waras?"
"Bukan seperti itu, hanya saja kakak merasa bahagia saat mengingat pristiwa di kamar Aldela."
"Aku masih tidak mengerti, apa kakak bisa menjelaskannya dengan bahasa yang bisa ku pahami?"
Kak Ibra yang tadinya tertawa cekikikan mulai terlihat sedikit serius. Ia menatapku dengan tatapan lega, aku bisa melihat dari matanya kalau luka yang di timbulkan Aldela tidak lagi mempengaruhi jiwanya. Dan aku sangat bersyukur untuk itu.
Pertanyaan yang memenuhi rongga dadaku saat ini, siapa yang berhasil mencabut duri dari dalam hatinya?
"Nona Lulu, Lulu Andriana!"
Glekkkkk!
Aku langsung menelan saliva mendengar penuturan kak Ibra. Kucing liar itu? Bagaimana bisa? Aku masih tidak percaya, tapi sayangnya kak Ibra masih duduk di depanku dan aku mendengar ucapannya dengan sangat jelas, tidak mungkin ia salah bicara.
Senyuman Kak ibra saat menyebut nama kucing liar itu terlihat sangat alami, apa yang sebenarnya dia pikirkan? Aku benar-benar penasaran, bagaimana akhir dari pengakuan kak Ibra, kita lihat saja nanti. Aku bergumam di dalam hati sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
__ADS_1
...***...
...***...