Menyatu Dalam Cinta

Menyatu Dalam Cinta
Bertemu lagi (Lulu&Robin)


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul 08:30. Entah kenapa aku malas sekali keluar rumah, mungkin ini efek demam yang ku alami sejak semalam.


Semalam aku benar-benar tidak bisa tidur, entah kenapa memori ku seolah hanya berputar pada masa lalu.


Hhhmmmmm!


Aku mulai menghela nafas kasar, dada ku berdebar cukup kencang. Aku merasa seperti meninggalkan hal penting di suatu tempat, dan sayangnya aku tidak tahu di mana aku ninggalkannya. Perasaan kesal itu kini memenuhi rongga dada ku. Aku tidak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan hati dan pikiran ku.


"Apa kau mengingat masa lalu?" Nissa bertanya sambil memegang pundak ku. Tatapan matanya seolah mendesak ku untuk menjawab setiap resahnya.


"Ti-tidak." Balas ku singkat sambil mengalihkan pandangan dari netra tajam Nissa.


"Hahaha... Kau pembohong amatiran."


Mendengar ucapan Nissa yang di barengi gelak tawa membuat ku menatapnya dengan tatapan heran. Rasanya aku ingin menyumpal mulutnya dengan kue yang ada di depan ku, sayangnya aku tidak bisa melakukan itu karena aku sangat menyukai Nissa.


Eiiitttss... Tunggu dulu, tentunya aku lebih menyukai putra tampan ku di banding Nissa.


"Ku lihat wajah mu terlihat kesal. Apa Husain membuat mu kesal?"


"Lais. Kau ingat gadis itu, kan? Pak Ibra memintanya membuat kopi seperti tempo hari, berkali-kali membuatnya, pak Ibra terus saja memintanya membuat kopi baru, karena dia menginginkan rasa yang sama.


Lais bilang dia prustasi dengan pria tampan itu. Dia meminta ku ke kantor dan mengajarinya. Bukankah ini sangat menyebalkan?"


"Aku tahu itu sangat menyebalkan, kau pasti kesal karena tingkah Lais. Tapi, menurut ku, kau harus membantunya. Bagaimana jika Lais di pecat. Kau tahu kan Lais menghidupi ibu dan dua adiknya di kampung."


Mendengar ucapan Nissa membuat ku tersadar, kita hanya makhluk lemah yang tidak bisa hidup sendiri, terkadang membutuhkan bantuan dari orang lain walau sebenarnya merasa berat memintanya.


...***...


Huuuuuhhhhhhhh!


Aku membuang nafas kasar, aku merasa lega. Aku merasa seperti burung yang baru saja lepas dari sangkarnya, untuk pertama kalinya setelah sepekan berlalu aku bisa menghirup udara segar.


"Bagaimana keadaan Husain ku? Apa Nissa mengurusnya dengan baik? Bagaimana jika anak manis itu tidak mau makan seperti semalam?" Entah kenapa aku mulai bicara sendiri, tiga pemilik pasang mata yang mendengar ucapan ku terlihat heran.


Tentu saja aku tidak perduli dengan hal itu, apa pun yang di pikirkan orang tentang ku, bagiku itu tidak penting. Yang penting adalah apa yang ku rasakan dan apa yang ku pikirkan. Selama aku tidak melukai mereka dan mengambil hak mereka maka itu bukanlah masalah besar.


"Maaffff... Hay anda."


Aku memanggil seorang pria bertubuh jangkung sambil melambaikan tangan padanya.


"Hay anda..." Aku kembali memanggilnya dengan suara sedikit keras, kali ini ia menghentikan langkah kakinya dan berbalik kearah ku.


Glekkkkkkk!


Aku menelan saliva begitu menatap pria rupawan yang berdiri di depan ku. Beberapa pasang mata kembali menatap ku dengan tatapan tajam. Maklum saja saat ini kami berada di Lobi.


"Nona memanggil ku?" Pria itu bertanya sambil menatap ku dengan tatapan heran.


Untuk sesaat aku terdiam, netra teduh pria yang berdiri di depan ku itu terasa menusuk jantung ku, pesonanya sangat kuat, aku bahkan sampai gugup berada di depannya.


Akankah bos yang selalu di elu-elukan Lais setampan pria ini? Aahhhh... Tidak mungkin. Aku yakin pria ini pasti lebih tampan di bandingkan dengan bos yang tidak pernah ku lihat wajahnya itu. Lulu Andriana apa yang kau pikirkan? Apa kau tidak waras? Aku bergumam di dalam hati sambil menyodorkan dompet kulit berwarna coklat.

__ADS_1


"Ahhhh iya, maafff." Ucap ku pelan setelah aku kebali ke akal sehat ku.


"Tadi... Ketika anda keluar dari mobil saya menemukan dompet ini. Saya berusaha memanggil anda, sayangnya anda tidak mendengar." Sambungku sambil menatap wajah tampannya.


"Benarkah? Maafkan saya, tadi saya terburu-buru jadi saya tidak bisa mendengar ucapan anda." Balas pria itu sambil tersenyum.


Sungguh, aku tidak berbohong. Senyumnya lebih manis dari martabak manis mana pun yang pernah ku coba. Wajahnya bersinar, dan tubuhnya tegap. Aku jarang menonton acara televisi. Jadi bisa ku katakan, dia pria tertampan yang pernah ku lihat selain pria menyebalkan yang pernah menabrak ku tempo hari.


"Tidak apa-apa." Ucap ku sambil tersenyum tipis.


Eitttts... Jangan salah paham. Aku tersenyum bukan untuk menarik perhatiannya, sebagai seorang muslimah pantang bagi ku memamerkan wajah masam, entah aku senang atau sedih aku akan tetap berbuat baik semampu yang ku bisa, dan salah satunya bersikap ramah pada siapa pun tanpa pandang bulu selama orang itu tidak berbuat kurang ajar.


"Apa Nona bekerja disini?"


"Tidak." Balas ku singkat.


"Saya datang bertemu teman." Sambung ku lagi.


"Siapa nama nona?"


"Lulu. Lulu Andriana." Balas ku lagi.


"Senang bertemu nona Lulu, nama saya..."


Pria rupawan itu belum sempat menyelesaikan ucapannya namun ponsel ku mulai berdering, aku yakin seribu persen ini pasti dari Lais, gadis itu selalu saja mengganggu ku dengan alasan kopi.


Netra ku membulat, tebakan ku salah. Bukan Lais melainkan Nissa. Melihat netra ku membulat pria rupawan itu malah tersenyum sambil menutup mulut dengan tangan kanannya.


"Maaf. Saya harus pergi." Ucap ku sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada. Tidak ada balasan dari pria rupawan itu selain anggukan kecil. Aku berlalu dari hadapannya setelah membungkukkan badan.


...***...


"Kakak sudah datang?"


"Iya... Aku baru saja sampai. Dimana sahabat kalian? Maksud ku Lais." Aku bertanya sambil menyodorkan air mineral yang ku ambil dari dalam kulkas.


"Dia sedang membersihkan lantai tiga." Balas kedua Ob itu berbarengan.


"Katakan padanya, aku harus pergi. Putra ku membutuhkan ku disekolah."


Baru saja aku akan pergi, Lais tiba-tiba muncul dari balik daun pintu. Wajahnya terlihat pucat.


"Apa kau baik-baik saja? Jika kau sakit kenapa tidak meminta cuti saja. Libur sehari tidak akan membuat mu jadi miskin." Karena kesal aku bahkan sampai memarahi Lais.


Aku menganggapnya seperti adik ku sendiri, mungkin hanya alasan itu yang ku punya karena itu aku berani memarahinya.


"Kak... Lais mau minta tolong. Tolong buatkan dua cangkir kopi untuk pak Ibra, dan antarkan keruangan beliau, Lais janji ini yang pertama dan terakhir."


Tidak ada yang bisa ku lakukan selain mengikuti keinginan Lais, memaksakan kehendak kemudian menolaknya sama saja dengan aku bersikap kejam pada gadis malang itu.


"Iya, baiklah. Kau pulang saja. Aku juga akan segera pulang. Nissa meminta ku kesekolah."


Tidak ada balasan dari Nisaa selain anggukan kepala saja. Semenit kemudian Nissa sudah pergi dan di antar oleh kedua rekannya sampai lantai dasar.

__ADS_1


Kini hanya aku yang tersisa, di tempat aneh ini tanpa ada siapa pun yang bisa ku ajak bicara.Tentu saja tempat ini menjadi aneh bagiku, sepekan yang lalu aku memutuskan berhenti dari pekerjaan ku. Dan sekarang? Gara-gara Lais aku harus terlibat lagi dengan tempat ini. Bukan sekedar terlibat, aku bahkan masuk kedalam ruangan Direktur Utama perusahaan ini.


Tok.Tok.Tok.


Aku mulai mengetuk pintu sambil menenteng nampan kopi.


"Masuk."


Samar-samar aku mendengar ucapan penguasa tempat ini, dan tanpa berpikir panjang aku langsung membuka pintu.


"Maaf pak, kopi nya." Ucap ku pelan sambil meletakkannya di atas meja dekat sofa.


"Iya. Tinggalkan saja disana."


"Baiklah pak, saya harus per..." Ucapan ku tertahan di tenggorokan ku, aku menatap pria yang duduk di depan ku itu dengan tatapan heran. Aku benar-benar terkejut.


Bukankah dia pria yang tadi? Pria yang ku berikan dompet? Sedang apa dia disini? Aahhhh tidak! Jangan bilang dia pria tampan yang sering di bicarakan Lais! Aku bergumam di dalam hati tanpa mengalihkan tatapan ku dari wajah indahnya. Wajah itu masih merunduk, larut dalam pekerjaan bernilai jutaan dolarnya.


Baru saja berbalik, langkah kaki ku terhenti saat mendengar ucapan pria penuh Wibawa itu.


"Tunggu. Biasanya aku memberikan tip, kau bisa mengambilnya dan nikmati makan siang mu." Ucap pria itu dengan nada santai.


Pelan aku membalikkan badan, dan...


Glekkkkkk!


Aku menelan saliva, tatapan kami saling mengunci. Aku yakin pria rupawan itu masih mengingat ku.



Pantas saja Lais selalu panas dingin saat berada di dekatnya, pria yang ia lirik seindah purnama. Aku kembali bergumam tanpa melepas pandangan dari netra indahnya.


"Hay... Nona Lulu, anda ada disini? Ini benar-benar kejutan!"


"Haha... Iya." Ucap ku pelan sambil pura-pura tertawa, tentunya bukan tawa dengan suara keras.


"Dimana wanita yang biasa mengantar kopi?"


"Ahhh iya... Dia kurang sehat, aku memintanya kerumah sakit." Balas ku sambil merunduk.


"Apa dia saudara nona Lulu? Kalian sepertinya sangat dekat!"


"Bapak benar. Kami sangat dekat, dia seperti adik ku sendiri. Jika tidak ada hal lain, saya permisi." Ucap ku sambil menangkupkan tangan di depan dada.


Baru saja bersiap akan keluar, netra ku kembali membulat. Menatap sosok yang baru saja masuk, hampir saja aku menabrak dada bidangnya, syukurlah ia mundur dua langkah sehingga aku selamat darinya.


"Kau? Kau ada disini?" Aku bertanya sambil menatapnya dengan tatapan heran.


"Tentu saja, ini kandang kakak ku." Balas pria aneh itu sambil menghampiri pria yang ia sebut sebagai kakaknya.


"Nona lulu, kenalkan. Dia adik ku, Robin. Aahhh... Iya, aku sampai lupa memperkenalkan diri, nama ku Ibra."


Ibra... Namanya Ibra, dia pria yang cukup sopan. Berbeda dengan adiknya, adiknya sangat songong. Siapa tadi namanya? Ahhhh... Iya, namanya Robin. Kenapa aku bertemu dengannya? Semoga saja hari ku tidak kacau karenanya. Aku bergumam di dalam hati sambil menatap kedua pria rupawan itu, mereka tampak bahagia.

__ADS_1


...***...


__ADS_2