Menyatu Dalam Cinta

Menyatu Dalam Cinta
Bahagia Itu Sederhana (Lulu Andriana)


__ADS_3

Aku masih berdiri sambil menatap sosok yang sangat ku hormati, entah sebesar apa duka yang menyelimuti lubuk hati terdalamnya sampai-sampai ia tidak bisa menggerakkan tubuh kekarnya. Sesekali aku bahkan sampai menghela nafas kasar hanya untuk mengekspresikan hatiku yang kesal melihat tingkah konyolnya.


Konyol?


Satu kata itu bahkan tidak pantas keluar dari lisan ku, jika di bandingkan dengan kak Ibra, aku seribu kali lebih konyol di bandingkan dengan dirinya.


Jika di pikir-pikir kami berdua memiliki permasalahan yang sama, sama-sama terjebak dalam rumitnya masa lalu. Masa lalu yang tidak bisa menerbitkan senyuman, karena di dalamnya ada begitu banyak kepahitan yang siap memaksa kami untuk meneteskan air mata.


Dari mana harus ku mulai kisah ini, dan bagaimana cara ku mengurai kesedihan yang ada di dalamnya? Aku benar-benar bingung, entah kemana perginya kecerdasanku di saat seperti ini. Aku bahkan tidak bisa memikirkan sebuah ide seperti yang biasa ku lakukan, ini benar-benar masalah besar.


Mmmmm!


Aku pura-pura berdeham untuk mencairkan suasana yang terasa sedikit tegang. Memang benar aku merasa tegang melihat tingkah kak Ibra.


"Apa kau sudah makan?" Aku mulai membuka suara diantara senyapnya udara.


"Iya."


"Iya sudah atau iya belum?" Aku kembali bertanya, kali ini dengan suara sedikit keras.


"Sudah."


Aku tersenyum simpul mendengar jawaban kak Ibra, aku tahu dia pembohong ulung. Sangat mudah membohongi Mama dan Papa namun tidak denganku. Dalam pendengaranku, 'Sudah' artinya 'Belum' dan dia sangat lapar.


"Baiklah, kakak bisa istirahat sebentar. Aku akan memasak untuk kita berdua. Setelah itu kita akan bicara.


Jangan coba-coba menyembunyikan apa pun dariku karena kakak tahu hidung ku ini sangat tajam, aku bisa mencium kalau ada yang tidak beres hanya dengan melihat ekspresi wajahmu." Celotehku sambil bangun dari sofa. Kak Ibra yang ku ajak bicara tidak memberikan respon apa pun. Walau demikian aku tahu dia sedang mendengarkan ucapanku.


Sedetik kemudian aku mulai berjalan menuju dapur. Bagiku, memasak itu hal biasa karena sejak bekerja bersama Sawn aku sudah memutuskan keluar dari rumah, menjalani hidupku tanpa menerima bantuan seperser pun dari Mama dan Papa.


"Apa yang harus ku masak? Tidak banyak yang bisa ku dapatkan di kulkas. Kau benar-benar payah, Robin. Kau bahkan lupa belanja." Ucapku begitu aku membuka pintu kulkas.


"Lima butir telur, paha ayam dan sedikit sayuran. Baiklah, aku akan mengolah mu menjadi makanan khas hotel bintang lima.


Kau harus membantuku, aku akan menjadikanmu umpan dan memancing kakak ku yang payah itu untuk bicara. Malam ini aku harus tahu bagaimana perasaannya terhadap wanita itu. Aku benar-benar kesal sampai di titik aku ingin melubangi kepala wanita itu dengan senapan." Celotehku sambil mengiris daun bawang.


Karena kesal gigi-gigi ku bergemeletuk, ada kekuatan yang begitu besar mengalir di dalam urat nadiku, ku namai itu amarah. Amarah yang membuncah. Aku ingin memaki, aku ingin melampiaskan amarah, aku juga ingin meninju wajah tidak tahu malu itu, tapi sayangnya aku tidak bisa melakukannya, bukan karena aku tidak bisa melakukannya. Hanya saja, jika aku sampai melakukan itu maka Kak Ibra lah yang paling terluka.

__ADS_1


Aku pikir, bertahun-tahun berpisah dari wanita itu akan membuatnya melupakan segalanya. Nyatanya aku salah, cinta pertama tidak mudah untuk di lupakan walau sebesar apa pun usaha yang di lakukan kak Ibra, dan buruknya aku juga sama dengannya. Sama-sama tidak bisa melupakan cinta pertama kami.


Sepuluh menit kemudian.


"Bangun. Makanannya sudah siap."


"Benarkah? Cepat sekali."


"Tentu saja cepat. Aku kan memasak bukan bertelur." Ucapku sambil meletakkan makanan di meja dekat sofa.


"Apa kau yakin kita akan makan disini? Bukankah kau benci melihat rumah mu berantakan?" Tanya kak Ibra sambil menyendok nasi dan meletakkannya di piring.


"Aku memang benci rumah ku berantakan, tapi aku lebih benci melihat kakak terlihat seperti katak yang terjebak dalam tempurung. Jangan bilang kakak masih mencintai wanita itu?" Selidikku sambil menatap kak Ibra dengan tatapan tajam.


Kak Ibra yang ku tatap bergeming, sedetik kemudian dia mulai menampakkan kejahilannya, kejahilan yang jarang dia tunjukkan.


Pletakkkk!


Dia melepar wajah tampanku dengan bantal kecil yang ada di sisi kanannya. Bukannya minta maaf dia malah terkekeh seperti orang tidak waras.


Cihhhhhh!


"Apa yang akan kakak lakukan jika wanita itu ingin kembali? Dia berani menelpon kakak, itu artinya dia belum melupakan perasaannya sepenuhnya pada kakak.


Jika itu aku? Aku tidak akan sudi melihat wajahnya. Dia tidak hanya mencampakkan kakak, dia juga mempermalukan kita semua." Aku mulai menggerutu setelah makanan yang ada di piring ku habis.


Masih dengan ekspresi wajah yang sama, kak Ibra tidak memberikan tanggapan apa-apa. Dan dari wajahnya aku bisa menebak kalau dia sedikit kesal, jauh di dalam lubuk hatinya dia juga masih menyimpan perasaan yang sama. Entah sebesar apa perasaan cinta yang ia miliki sampai membuatnya terlihat seperti pujangga yang terbakar oleh cinta.


"Kau tidak perlu menatapku seperti itu. Kau benar, aku memang masih mencintai wanita itu. Tapi, rasa cintaku tak sebesar dulu lagi.


Kau tidak perlu khawatir karena aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aku akan menemuinya besok, di rumah sakit. Aku akan mendengarkan penjelasan apa yang dia bawa bersama dengan kembalinya." Ucap kak Ibra setelah menelan makanan yang ada di mulutnya.


Aku rasa dia mengatakan hal yang benar dengan tidak menerima wanita itu kembali.


Wanita itu? Aku bahkan tidak suka menyebut namanya dengan lisanku, bagaimana bisa aku menerimanya sebagai kakak ipar jika aku sendiri sangat kesal padanya. Luka lama yang dia tinggalkan sangat membekas di hatiku. Bahkan hingga saat ini Mama dan Papa juga masih marah mengingat kejadian delapan tahun silam.


...***...

__ADS_1


Sementara itu di tempat berbeda, Nisa sedang memasukkan sayuran segar yang ia beli dari Swalayan kedalam kulkas. Jari lentiknya begitu lihai menyusun semua barang yang ia keluarkan dari plastik belanjaan.


"Lain kali jika kau pergi belanja, kau harus mengajak Lais bersamamu. Untuk apa belanja sebanyak itu jika ujung-ujungnya kerepotan sendiri." Ucapku sambil mematikan kompor.


Nisa yang ku ajak bicara tak menggubris ucapanku, aku tahu ia mendengar ku tapi dia memilih untuk tidak menanggapinya. Rasanya aku ingin menyentil jidatnya karena kesal.


"Aku marah padamu! Apa kau tahu itu?" Celetuk Nisa begitu ia menutup pintu kulkas.


"Marah? Kenapa? Apa salahku?"


"Lulu... Sejak kapan kau bertanya seperti itu? Tentu saja salahmu sangat banyak. Aku bahkan tidak bisa menghitung jumlahnya."


"Nissa... Sejak kapan kau mulai menghitung kesalahanku? Jika kau tidak bisa menghitungnya itu artinya kau tahu aku benar, dan kau yang salah." Balasku sambil menyebikkan bibir kearah Nisa yang saat ini berdiri mematung di depan kulkas.


"Lu, aku serius. Saat ini aku tidak bercanda! Sekarang Husain sudah besar, sudah waktunya kau menikah.


Bagaimana jika Husain bertanya tentang ayahnya? Sampai tujuh kali puasa dan tujuh kali lebaran kau tidak akan bisa menjawab pertanyaannya. Kapan kau akan katakan padanya kalau dia bukan putra kandungmu?


Dan inilah yang sangat ku takutkan. Aku takut pria yang mendekatimu akan menghindarimu karena kau seorang ibu tunggal. Aku tahu Husain tidak lahir dari rahimmu, tapi pria yang mendekatimu tetap saja tidak akan menerima itu." Ujar Nisa sambil merunduk.


Aku tidak pernah tahu kalau Nisa memiliki pikiran seperti itu tentang Husain ku dan pikiran tentang rumitnya masa depan yang ada di depanku.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan masa depanku karena Allah sudah menjamin segalanya.


Husain adalah putraku, dan sampai kapan pun akan tetap seperti itu. Jika ada pemuda baik yang datang dalam kehidupanku tapi mempermasalahkan keberadaan Husain, aku akan terima kehadirannya hanya sebagai tamu, singgah sebentar kemudian pergi.


Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan meninggalkan putra berhargaku hanya karena kehadiran seorang pria. Bukankah tidak ada yang mengenalku melebihi dirimu?" Aku bertanya pada Nisa dengan tatapan sendu, hampir saja air mataku menetes namun dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk menahannya.


"Hidupku hanya untuk putraku! Kebahagiaan ku ada dalam tawanya, dan sedih ku saat jauh darinya. Jangan pernah membicarakan masalah ini lagi. Aku takut Husain akan mengetahuinya dan dia merasa sedih." Pintaku pada Nissa sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada.


Hhhhmmmm!


Tidak ada balasan dari lisan Nissa selain helaan nafas saja. Aku bisa melihat dari wajahnya kalau dia merasa sedih dengan semua yang terjadi. Aku sendiri tidak tahu bagaimana cara menyakinkan Nissa, bertahun-tahun berlalu namun tanggapannya masih saja sama, tidak ada hal yang lebih menyedihkan dari ini.


"Baiklah. Aku tidak akan pernah mengatakannya lagi. Satu hal yang harus kau tahu, aku sangat menyayangi Husain melebihi dirimu. Dia adalah keponakan berhargaku.


Aku juga berjanji padamu, jika ada pria yang datang ingin meminangmu tapi dia menolak Husain kita, aku akan bertindak layaknya seorang ibu mertua, aku akan menghina pria itu, atau bisa saja aku akan mematahkan lengannya. Apa kau puas...?" Ujar Nisa sambil menggenggam erat jemariku.

__ADS_1


Air mataku langsung menetes mendengar ucapan meyakinkan Nissa. Aku bahagia, sangat bahagia. Sekarang aku baru menyadari ternyata bahagia itu sederhana, dan itu bersumber dari hati dan pikiran.


...***...


__ADS_2