
Tatapan kak Ibra menjelaskan segalanya, aku yakin dia masih belum percaya sepenuhnya antara diriku dan kucing liar itu tidak memiliki hubungan khusus apa pun.
Entah apa yang di pikirkan otak kecilnya sampai dia bisa mengambil kesimpulan seperti itu. Aku sengaja menyebut wanita aneh itu dengan sebutan kucing liar agar dia tidak perlu menanyakan apa pun. Ternyata semuanya hanya omong-kosong saja, kak Ibra malah semakin curiga padaku. Dan menurutku, aku tidak perlu menjelaskan apa pun padanya karena aku tahu semuanya ini benar-benar tidak penting.
"Apa kau mengantar kucing liar itu dengan selamat?" Kak Ibra bertanya sambil duduk di kursi kebesarannya. Tatapan matanya seolah menjelaskan kalau ia bahagia melihatku terlibat dengan seorang wanita untuk pertama kalinya setelah beberapa waktu lamanya.
"Jangan asal menebak! Kakak tahu kan tebakan itu tidak benar.
Jangan perdulikan aku! Cari saja kakak ipar untuk ku, dengan begitu Mama tidak perlu lagi mengkhawatirkan kapan dia akan memiliki cucu." Aku balas menatap kak Ibra dengan tatapan penuh selidik.
Hahahahaha!
Dasar aneh! Aku bertanya serius dia malas membalasku dengan tawa renyahnya. Aku berharap ia tersedak salivanya. Aku menggerutu sambil menatap wajah kak Ibra yang masih di penuhi kebahagiaan. Aku tidak tahu? Apa dia benar-benar bahagia? Atau justru hanya pura-pura? Aku benar-benar tidak bisa menebaknya. Yang ku tahu, hidup kak Ibra jauh lebih menegangkan dari pada menaiki Roller Coster.
"Mama meminta kakak untuk segera pulang! Sepekan? Itu waktu yang cukup lama untuk kakak, dan ini sudah cukup." Ucapku menegaskan sambil berpindah dan duduk di sofa. Kak Ibra tampak berpikir sejenak. Jika menyangkut tentang Mama, aku yakin kak Ibra akan menuruti keinginannya. Karena baginya keinginan Mama adalah perintah mutlak yang tidak akan pernah bisa dia bantah, dia memang anak penurut. Jika di bandingkan denganku dia memiliki semua kewalitas yang harus di banggakan.
"Bin... Kau tahu kan kakak tidak bisa pulang kerumah. Mama terlalu cengeng jika berada di dekatku. Setiap hal yang ku lakukan, aku takut akan membuatnya kecewa." Kak Ibra berusaha membela diri.
Bin? Panggilan itu selalu keluar dari lisannya jika dia merasa putus asa. Entah apa yang membuatnya sangat tertekan sampai ia tidak bisa mengatakan apa pun di depanku. Haruskah aku bertanya padanya? Aku yakin dia tidak akan mengatakan apa pun. Aku yakin lebih mudah menggerakkan batu dari pada hati kak Ibra, dan hal itu selalu membuatku perustasi karenanya. Aku berdiri diantara Mama dan kak Ibra, dan hal ini semakin membuatku bingung. Aku bingung cara mendamaikan mereka. Entah siapa gadis tidak tahu malu yang sudah mematahkan hatinya, jika aku bertemu dengannya rasanya aku ingin menamparnya.
Terkadang Mama bersikap kekanak-kanakan dan hal itu membuat kak Ibra sedih, entah berapa puluh gadis yang sudah kak Ibra tolak, dan entah berapa puluh gadis lagi yang ada dalam list Mama kami untuk menjodohkannya. Usia yang matang belum tentu membuat seseorang memutuskan untuk segera mengakhiri masa lajangnya, dan hal yang lebih penting dari pada sekedar kencan adalah menemukan pasangan yang bisa membuat nyaman, aku yakin kak Ibra belum menemukan wanita yang bisa membuatnya nyaman.
Entah dimana wanita langka itu berada, aku berharap ia segera muncul di depan kakak lelakiku yang sangat pemilih ini.
"Katakan pada Mama, pekerjaan kakak belum selesai. Kakak akan segera pulang."
"Segera pulang? Segera itu kapan? Sepekan?Dua pekan? Atau justru sebulan?"
"Kakak tidak tahu."
"Jika kakak saja tidak tahu, lalu siapa yang tahu? Bagaimana jika Mama mencecarku dengan segala tanyanya? Menghadapi Mama sama saja dengan menghadapi bos besar yang tidak akan pernah mau mengalah pada bawahannya.
Kakak bisa pulang dan selesaikan segalanya. Jika Mama tidak bisa lunak, kakak bisa minta bantuan Papa. Hanya itu saran yang bisa ku berikan." Ucapku sambil beranjak bangun dari sofa kantor kak Ibra.
__ADS_1
"Kau mau kemana?" Kak Ibra bertanya sambil ikut bangun dari kursi kebesarannya.
"Aku mau mencari udara segar. Semuanya terasa membosankan!" Ucapku pelan tanpa mengalihkan pandangan dari wajah rupawan kak Ibra.
Saudara lelakiku itu terlihat menghela nafas kasar, aku yakin dia juga merasakan bosan. Sayangnya aku tidak bisa mengajaknya kerestorant, aku tahu dia akan bosan disana, apa lagi jika wanita-wanita centil yang sengaja datang kerestorant hanya untuk melihatku menatapnya. Dia pasti akan memutuskan untuk tidak menginjakkan kaki lagi di tempat usahaku itu. Biarkan kak Ibra memikirkan solusi apa yang akan dia berikan di depan Mama, sementara aku? Aku akan tetap mengembangkan usahaku di bidang kuliner tanpa perlu terikat dengan usaha keluarga. Untunglah usahaku tidak terlalu merepotkan sehingga aku bisa membantu Sawn dalam menjalankan perusahaannya.
Kak Ibra pernah bertanya kenapa aku lebih memilih bekerja dengan Sawn Praja Dinata ketimbang dengan dirinya? Tidak ada balasan dariku selain mengatakan aku merasa nyaman di dekat sahabatku itu.
...***...
Sementara itu di tempat berbeda, seorang bocah manis sedang duduk di lantai sambil memakan telur rebus. Wajah bahagianya menjelaskan segalanya.
"Mommy... Husain mau lagi!"
"Sayangnya Mommy... Kau sudah makan tiga telur rebus, nak. Sekarang waktunya makan, kemudian sholat, setelah itu tidur siang." Ucapku sambil menatap wajah putra tersayangku. Tidak ada balas darinya, Husain menyebikkan bibir tipisnya kemudian membuka mulutnya secara suka rela.
"Mommy.... Kapan Tante Nisa pulang? Tante Nisa bilang dia akan membelikan Husain Es Cream. Tante Nisa sudah telat."
"Horeeee...." Ucap Husain sambil menggerak-gerakkan kedua jemarinya. Anak manis itu sangat antusias. Entah dimana Nisa berada, biasanya dia sudah pulang.
"Mommy... Apa boleh Husain memanggil paman yang tadi dengan sebutan Daddy?
Ibu kepala sekolah bilang dia Daddy Husain. Jika itu benar, Husain akan merasakan bahagia luar biasa." Putra tampanku bertanya sambil menatapku dengan tatapan penuh pengharapan.
"Husain... Dengar, nak! Kau tidak boleh memanggil sembarang orang dengan panggilan Daddy. Dia bukan Daddy mu. Orang itu tidak akan memaafkanmu jika kau sampai memanggilnya dengan panggilan Daddy. Melihat wajahnya saja Mommy tidak yakin kalau dia orang baik-baik." Aku mencoba menyakinkan Husain agar tidak terlibat dengan orang yang tidak ia kenal. Putra tampanku hanya bisa mengangguk pelan, aku tahu ia tidak bahagia mendengar ucapanku. Apalah dayaku, dia harus bisa mandiri tanpa perlu memikirkan laki-laki tidak berguna yang telah menelantarkannya. Selama ini kami baik-baik saja hanya dengan hidup Bertiga saja, dan aku tidak butuh siapa pun lagi dalam hidup ini.
...***...
Maafkan Aku Andriana, aku lupa membawa alat make up mu. Aku meninggalkannya di Pantry. Aku benar-benar bodoh, kenapa aku bisa melupakan itu? Ucap Nisa setengah jam yang lalu, ia marah pada dirinya sendiri karena tidak mengingat pesanku.
Andriana? Nisa selalu memanggil nama belakangku jika dia merasa menyesal dan bersalah. Sebenarnya dia tidak perlu merasa menyesal atau merasa bersalah padaku, kami hidup seperti saudara dan tidak ada kata 'Maaf' ataupun 'Terima kasih' di antara kami berdua.
"Kak Lulu ada disini? Kapan kakak datang?" Pertanyaan itu keluar dari bibir Lais begitu ia masuk dengan wajah murungnya.
__ADS_1
"Baru saja!" Balasku singkat.
Lais duduk di dekatku sambil menghela nafas kasar. Antara kesal dan juga bosan. Aku rasa itu yang dia rasakan saat ini, aku tidak ingin membuatnya kesal dengan menanyakan apa pun. Karena itu aku membiarkan Lais larut dalam perasaannya sendiri.
"Kakak tahu? Aku sangat kesal."
Lais kembali membuka suara di antara senyapnya udara. Aku hanya bisa mendengar ucapan ketusnya tanpa bisa berkomentar apa-apa.
"Bos tampak sekaligus menyebalkan itu terus saja memintaku bolak balik hanya untuk membuatkannya kopi. Jika aku hamil aku pasti akan keguguran karena ulah menyebalkannya.
Tapi... Iya siiii... Lais tidak bisa pungkiri, Lais sangat bahagia pak Ibra meminta Lais terus menerus membuatkan beliau kopi, itu artinya Lais punya kesempatan untuk menatap wajah tampannya.
Oh Tuhan... Dengan apa kau ciptakan makhluk seindah pak Ibra...?" Lais tersenyum sambil menangkup wajahnya. Mendengar ucapan Lais nyaris membuatku memuntahkan semua yang ku makan tadi.
Entah Lais yang berlebihan atau aku yang tidak peka karena tidak pernah melihat tampang pak Ibra sampai aku tidak bisa memastikan Lais berbohong atau tidak. Meskipun demikian, aku berharap tidak akan pernah menginjakkan kaki lagi di tempat ini. Tempat yang sejatinya di kepalai oleh pria yang di sanjung-sanjung Lais sampai ia tidak merasa bosan membuat kopi berkali-kali.
"Apa dia setampan itu?" Aku bertanya sambil menatap mata Lais. Tidak ada jawaban darinya selain senyum merekah.
"Baiklah! Semoga cintamu terbalaskan." Sambungku pelan. Tanpa diminta aku langsung membuatkan kopi untuk Lais. Satu setengah sendok gula dan setengah sendok kopi.
Aku pernah mendengar tentang pecinta kopi, saking gemarnya terhadap kopi mereka bahkan bisa menemukan ketenangan tersendiri, aku rasa bos besar yang mengepalai tempat ini salah satunya, maksudku menjadikan kopi sebagai penenang kala kelelahan datang mendera jiwa.
"Kau bawa saja kopi ini. Aku yakin pak Ibra mu akan menyukainya. Jika dia tidak menyukainya kau bisa mengundurkan diri dengan segera." Ucapku sambil bersiap meninggalkan Lais yang masih sibuk dengan hanyalan konyolnya.
"Kak Lulu mau kemana?"
"Pulang!" Balasku pelan sambil melambaikan tangan pada Lais.
Lulu Andriana! Semua orang memanggilku Lulu, namun ada juga yang memanggilku Andriana. Itu nama yang di berikan mendiang orang tuaku. Aku pikir aku tidak akan bisa hidup tanpa kehadiran mereka disisiku, ternyata benar kata orang waktu adalah penyembuh terbaik, sekarang aku sudah sembuh dari luka ku. Luka masa lalu yang berhasil menguras semua energiku, air mata ataupun kesedihan sudah menjadi teman akrabku. Syukurlah berkat kehadiran putra manisku, Husain. Perlahan seyuman itu kembali hadir dalam hidup ku layaknya Matahari yang menyinari Bumi.
Kini aku sadar, yang pergi tidak akan bisa kembali namun Tuhan yang maha Kuasa tidak akan mengambil senyuman dari kita, selalu ada cara untuk bisa bahagia asal kita mau bersabar untuk setiap ujiannya, dan bersyukur untuk setiap nikmatnya.
...***...
__ADS_1