
Tok.Tok.Tok.
Suara ketukan yang bersumber dari daun pintu memecah keheningan dan konsentrasi sosok rupawan itu. Ia memijat kepala dengan tangan kanannya sambil bersandar di kursi kebesarannya.
"Masuk!" Ucapnya dengan suara pelan nyaris tak terdengar. Dia masih memijat kepalanya ketika seseorang datang sambil menenteng nampan kopi yang masih mengepulkan uap panas.
Pelan, netra indahnya mulai terbuka sambil menatap wajah wanita muda yang membawakan kopi. Jujur, ia merasa bersemangat hanya dengan mencium aroma kopi yang menguar dari tangan wanita yang berdiri tegap di depannya. Tentu saja wanita itu masih berdiri karena ia belum memberikan perintahnya.
"Letakkan kopinya di meja dekat sofa." Perintah pria rupawan itu sambil menunjuk kearah meja yang tidak terlalu jauh dari meja kerjanya.
"Baik tuan."
Tanpa berpikir panjang, pria rupawan itu langsung berjalan menuju sofa kemudian menikmati kopi panasnya. Wajah tampan itu mengukir senyuman, senyuman yang jarang ia tunjukan di depan para karyawan. Sungguh, kopi yang ia nikmati kali ini membelai hidung dan lidahnya. Ia bahkan tidak bisa memberikan nilai dari kenikmatan yang ada di tangannya.
"Ambil uang ini dan nikmati makan siang mu! Terima kasih untuk kopinya. Ini sangat nikmat.
Mulai hari ini kamu yang bertugas membuatkan kopi untukku. Tetap seperti ini, maksudku rasanya tetap seperti ini, jangan sampai berubah. Tidak manis dan juga tidak pahit, ini benar-benar seleraku!" Ucap pria itu pada wanita muda yang berdiri di depannya. Ia benar-benar tidak bisa melihat wanita yang berdiri di depannya sedang gemetar karena bahagia melihat wajah tampannya.
"Kamu boleh pergi." Sambung pria itu lagi.
Setidaknya, di hari yang membosankan ini aku masih bisa menikmati kopi kesukaanku. Kau benar- benar beruntung Ibra. Gumam Ibra sambil tersenyum bahagia.
Sedetik kemudian tinggal ia sendiri di kantornya, walau sendirian ia benar-benar tidak merasa sedih, karena ia tahu bukan sendiri yang menyedihkan, yang menyedihkan itu ketika kamu memiliki orang yang sangat mencintaimu dan kamu pun sangat mencintainya namun kamu lebih memilih meninggalkannya karena alasan yang tidak sepadan dengannya.
Apa kabar masa laluku? Apa kamu baik-baik saja? Aku disini baik-baik saja, ada kalanya aku menderita karena mengenang masa lalu. Bukan karena aku yang bodoh, hanya saja luka yang kau tinggalkan masih belum sembuh sepenuhnya.
Beginilah caraku membalasmu, menjadikan diriku lebih sukses dari siapa pun. Dan bekerja lebih keras di banding siapa pun. Aku ingin bersinar seperti rembulan, sehingga ketika kamu kembali kamu akan merasa silau oleh cahayaku.
Aku ingin kamu menyesal. Menyesal karena lebih memilih karir tidak berguna di banding diriku yang akan berada disisimu dan membahagiakanmu sampai titik akhir kehidupanku. Ibra bergumam sendiri sambil menatap mobil yang melintas di jalan raya. Mobil-mobil itu terlihat seperti semut yang sedang berjalan dari gedung berlantai dua puluh lima kantornya.
...***...
__ADS_1
Aku sampai di rumah tepat pukul 15.00. Baru saja menginjakkan kaki di depan pintu, netraku langsung menatap tajam kearah dua orang kesayanganku. Mereka terlihat bahagia tanpaku, bahkan suara tawa renyah putra manisku memenuhi indra pendengaranku.
"Tante... Tante tidak boleh memakan ini! Ini khusus untuk Mommy."
"Apa hanya Mommy mu yang berharga? Tante juga berharga! Lagi pula, pizza yang kau simpan seperti Mutiara itu Tante yang beli. Jika Tante memakannya sedikit saja, Mommy mu tidak akan tahu." Nissa merayu putra manisku sambil menunjukan wajah imutnya, sekeras apa pun usahanya putra kesayangan ku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyetuh hal yang sudah ia simpan untuk ku, termasuk Nissa.
Aku masih berdiri mematung di depan pintu, menyaksikap pembicaraan hangat kedua orang yang paling berharga dalam hidupku itu. Aku sendiri tidak tahu kenapa mereka tidak menyadari keberadaanku, apa mereka terlalu larut dalam canda dan tawa sampai tidak mendengar ku membuka pintu? Entahlah, aku sendiri tidak tahu itu.
Tadinya aku ingin mengucapkan Salam, entah kenapa lisanku seolah terkunci rapat. Aku tidak ingin mengganggu pembicaraan putra tampanku dengan sahabat baikku, melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Nissa dan Husain membuatku meneteskan air mata, ucapanku terkatup di bibir.
"Mommy!" Satu ucapan Husain berhasil membuyarkan lamunanku. Bibir tipisku mengukir senyuman.
"Mommy sudah pulang? Sejak kapan? Apa Mommy tahu, Tante Nissa sangat nakal." Lapor Husain sambil menyebikkan bibir tipisnya. Ia melipat kedua lengan kecilnya di depan dada. Entah dari mana dia belajar seperti itu, netra hitamnya menatap wajah tak berdosa ku.
"Sayang... Biarkan Tante Nissa memakan apa pun yang dia inginkan. Jika putra kebanggaan Mommy selalu sehat, itu sudah cukup untuk Mommy." Balasku pelan.
"Kau harus tahu, nak. Hal yang paling membuat Mommy bahagia adalah ketika Mommy melihatmu dan tante Nissa tersenyum. Jadi putra kebanggaan Mommy harus tetap bahagia. Kau mengerti, kan?" Sambungku lagi sambil mencubit pelan hidung Husain. Anak manis itu hanya bisa mengangguk sambil memegang jemariku.
...***...
01.00 Tengah malam.
Biasanya di jam seperti ini aku masih tertidur lelap dan akan bangun pukul 02.39 untuk Shalat Tahajjud. Entah kenapa malam ini aku tidak bisa memejamkan mata, seolah hal buruk sedang menanti di depanku. Hal yang sama sekali tidak ingin ku lalui walau dalam mimpi sekalipun. Ketakutanku akan kehilangan putra manisku jauh lebih besar dari pada hilangnya nyawa ini.
"Nak, kau harus tetap berada disisi Mommy. Menjauh darimu adalah hukuman terberat bagi Mommy. Mommy tidak ingin melewati hari-hari Mommy tanpa kehadiranmu disisi Mommy.
Mommy sangat, sangat menyayangimu lebih dari apa pun yang ada di dunia ini." Ucapku sambil mengelus puncak kepala Husain yang selalu tidur di sampingku.
Husain laksana mentari di musim dingin, hati ku terasa hangat hanya dengan melihat senyumnya. Seandainya aku mengikuti keinginan Nissa untuk meninggalkan Husain sendirian, aku yakin aku lah yang akan tiada, tiada dalam kesedihan! Tiada dalam duka! Atau tiada dalam penyesalan.
Ada apa dengan mu Lulu Andriana? Kenapa kau mengungkit masa lalu? Aku bergumam sendiri sambil menepuk pelan lengan putra tampanku.
__ADS_1
"Aku yakin Papanya pasti setampan ini! Putraku sangat tampan, setiap kali orang lain menyanjungnya aku selalu tersipu malu." Aku berucap sambil menatap setiap inchi wajah Husain. Semuanya terlihat seperti mahakarya indah tanpa celah.
Hidung bangir, dan netranya yang tampak bersinar menenangkan setiap mata yang menatapnya. Rambut lurus, Alis hitam dan gigi putih yang tersusun rapi laksana semut yang berjalan beriringan. Di tambah lesung Pipi yang menambah kesempurnaannya. Dan satu lagi, kulit Husain sangat putih, lebih putih dariku.
Kecantikan dan Ketampanan itu adalah Anugrah dari yang Kuasa, secantik apapun seseorang dan setampan apa pun seseorang semua itu tidak ada gunanya di hadapan Tuhan yang maha menggenggam Jiwa, karena sesungguhnya Tuhan tidak melihat itu, Tuhan melihat cantik dari hatimu. Karena itulah aku selalu mendidik Husain dengan cara terbaik yang ku bisa, membuatnya menjadi Putra yang penyabar, baik hati serta selalu bersyukur.
"Mommy... Kenapa Mommy tidak tidur?" Husain bertanya dengan suara khas bangun tidur, ia memeluk erat tubuh lelah ku, suaranya nyaris tak terdengar.
"Mommy baru saja bangun, nak. Tidurlah!"
"Husain tidak bisa tidur jika Mommy masih terjaga."
"Mommy berharap putra tampan Mommy akan selalu menjadi anak penurut dan baik hati." Aku tersenyum sambil mengecup singkat puncak kepala Husain.
"Apa Mommy sedang memikirkan sesuatu? Katakan pada Husain, Husain janji akan selalu menjadi putra kebanggaan Mommy."
Aku tersenyum sembari memperbaiki selimut yang menutupi setengah tubuh Husain. Lengan kecilnya semakin mengeratkan pelukannya. Sungguh, hatiku di penuhi oleh rasa syukur tak terhingga. Besar sangat kebahagiaan yang hadir memenuhi jiwa, berharap bahagia ini akan bertahan selamanya walau aku tahu tidak ada bahagia tanpa ada kesedihan di dalamnya.
Dred.Dred.Dret.
Getaran yang bersumber dari ponsel yang ku letakkan di atas nakas membunyarkan lamunanku. Aku takut Husain yang baru saja terlelap akan bangun lagi, entah orang payah mana yang berani mengganggu di tengah malam buta. Meskipun demikian perlahan aku meraih ponsel itu sambil menyebikkan bibir tipisku.
Kak Lulu sedang apa? Aku tahu kak Lulu pasti masih terjaga. Lais mau minta tolong, kak. Pak Ibra hanya mau minum kopi buatan kakak. Apa kakak bisa membantu Lais untuk membuatnya?
Ciihhhhh!
Aku berdecih sambil menatap ponsel dengan tatapan kesal. Disaat aku bingung akan bekerja apa, Lais malah meminta tolong agar aku mengajarkannya membuat kopi untuk seorang bos yang bahkan tidak pernah ku lihat wajah datarnya.
Omong-kosong. Aku bergumam sendiri sambil bersiap untuk tidur di samping putra kesanyanganku, Husain Arora.
...***...
__ADS_1