
Tiga bulan telah berlalu sejak peristiwa memilukan itu. Namun, rasanya itu terjadi seperti kemarin sore. Terkadang aku menangis menyesali takdir memilukan ini. Tidak ada siapa pun di rumah dan hal itu semakin membuat ku merasakan kesedihan mendalam. Jika aku sedih pada siapa aku akan bergantung? Jika aku sakit pada siapa aku akan bersikap manja? Dan jika aku merasa lapar pada siapa aku akan merengek minta di suapi?
Dunia ku sudah berakhir sejak jantung Mama dan Papa berhenti berdetak. Kenapa bukan aku saja yang tiada? Kenapa harus Mama dan Papa? Apa salah dan dosa ku sehingga ujian ini memasuki hidup ceria ku?
Pikiran-pikiran aneh terus saja memenuhi otakku, bahkan tak jarang aku menyalahkan diriku sendiri. Seandainya hari itu bukan hari kelulusanku maka Mama dan papa pasti masih bersamaku saat ini. Seandainya! Andai saja! Kenapa aku harus berandai-andai? Padahal itu bukan gayaku. Aku mulai menyadari, keadaan bisa membuat kita menjadi sosok tangguh, dan keadaan pula yang bisa membuat kita menjadi tak berdaya.
Apa aku setakberdaya itu sampai-sampai bernafas pun terasa sesak? Bahkan kondisi rumah ku terlihat seperti kapal pecah, aku masih terlalu lemah untuk bisa mengurus diriku sendiri, lalu bagaimana bisa aku memperdulikan hal yag lain? Saat ini aku masih berdiri di titik dimana semuanya berakhir, dan sekarang aku tidak bisa bangkit dari rasa sakit yang ku alami.
Tuhan... Aku percaya Padamu melebihi apa pun yang ada di bumi ini. Engkau tidak akan menguji hambamu melebihi batas kesanggupannya, aku bersimpuh di depanmu dengan kondisi terburuk ku, bantu aku untuk bangkit dari rasa sakit ini. Jika terus seperti ini aku pun akan tiada dalam duka. Celoteh ku dalam hati sambil menghapus sudut mata dengan punggung tangan kanan ku.
Troettttttt!
Suara pintu yang terbuka membuat ku langsung menghela nafas kasar. Aku yakin itu Nissa, hanya dia yang selalu menemuiku di sela-sela kesibukannya membantu ibu panti.
"Ada apa dengan mu? Apa kau ingin tiada? Kenapa kau menyiksa diri sendiri dengan hidup seperti ini? Kau bahkan tidak menyalakan lampu, dan apa ini?" Nissa bertanya sambil mengibaskan kain penutup kepala ku.
Tidak ada balasan dariku, aku hanya bisa diam sambil merunduk. Mendengar ocehan Nissa membuat dunia ku sedikit berwarna, sayangnya aku tidak bisa meladeninya karena aku masih sibuk mengumpulkan sisa-sisa tenagaku agar aku bisa bertahan.
"Aku meninggalkan mu kurang dari dua jam, lihat kondisimu? Kau tampak seperti sosok aneh yang tidak ku kenal. Kenapa kau berubah sejauh ini? Dimana Lulu andriana yang penuh semangat dan cerdas? Kau tidak hanya menyakiti dirimu sendiri, kau juga menyakiti ku dengan hidup seperti ini. Hiks.Hiks.Hiks."
Dadaku semakin sesak, mendengar isakan Nissa membuatku ingin meronta. Aku juga ingin kembali ceria, aku juga ingin kembali menjadi sosok yang bisa di banggakan Mama dan Papa. Apa yang harus ku lakukan? Aku tidak bisa memaksakan diriku untuk bahagia, bagi orang lain mungkin tersenyum itu sangat mudah, tapi bagiku? Dalam kondisi ini, bisa bernafas saja aku merasa lega, entah kemana senyum ku menghilang, aku berharap yang Kuasa akan mengembalikannya sehingga aku bisa hidup normal lagi, hidup seperti tidak terjadi apa-apa.
"Aku juga ingin hidup Nis, tapi rasanya..." Ucapan ku tertahan di tenggorokan. Aku menatap wajah sedih Nissa sambil berderai air mata. Pelan aku kembali menghapus sudut mata dengan punggung tanganku.
"Rasanya apa, Lu..? Aku tahu rasa sakit yang kau alami. Aku bahkan lebih dulu merasakan rasa sakit itu. Kau sangat beruntung yang Kuasa memberikanmu kenangan bahagia bersama Om dan Tante. Sementara aku?"
Nissa menatapku dengan tatapan menyakitkan, netra yang biasanya selalu bersinar kini di penuhi air mata.
"Aku tidak tahu bagaimana rupa wajah orang tuaku, aku di letakkan di depan panti dengan kondisi mengenaskan. Lebih menyakitkannya lagi, aku tidak bisa memaki orang tua kejam itu.
Aku berharap mereka sudah tiada sehingga Om dan Tante bisa bertanya pada mereka kenapa mereka sampai menelantarkan ku. Apa salah ku jika aku di lahirkan kedunia ini? Aku justru bahagia, kau, Om dan Tante selalu ada disisi ku. Kalian tidak pernah membiarkan ku kekurangan sedikit pun. Jika kau berada dalam kondisi seburuk ini apa yang akan ku katakan Pada Om dan Tante? Dan jika kau berada dalam kondisi seburuk ini kau pikir aku tidak bersedih? Aku merasa seolah aku akan tiada melihat kondisi buruk mu!"
Tiada?
Jiwaku langsung meronta, aku menutup mulut Nissa dengan telapak tangan kananku, aku masih bergetar mendengar satu kata itu. Aku memeluk tubuh bergetar Nissa sambil berurai air mata. Aku tidak bisa menenangkannya hanya dengan kata-kata, karena aku tahu itu tidak akan berguna. Pelan aku menepuk pundak Nissa, tubuh rampingnya masih bergetar dalam pelukan ku.
"Jangan pernah katakan itu lagi! Jika kau berani mengatakannya aku janji aku pasti akan meninggalkan mu. Kau tahu kan aku tidak pernah berbohong, setiap ucapan ku adalah kebenaran." Ucap ku sambil melepas pelukan ku dari tubuh Nissa, aku menghapus air matanya dengan kedua tanganku.
__ADS_1
Aku tersenyum sambil menepuk lengan Nissa. Berharap senyuman ku akan menghapus kesedihannya.
"Baiklah, aku janji aku tidak akan pernah mengatakan itu lagi. Tapi sekarang kau harus ikut bersama ku?"
"Ikut bersama mu? Kemana? Aku tidak bisa tinggal di panti!"
Pletakkkk!
Nissa menyentil jidat ku, cukup keras. Aku menatapnya dengan tatapan tajam, yang membuat ku kesal, aku meringis kesakitan dan dia malah tertawa penuh kemenangan.
"Itu balasan karena kau membuat ku kesusahan." Ujar Nissa sambil berlari. Ia mengelit seperti atlet balap lari. Dan tentu saja aku mengejarnya, aku ingin membalasnya dengan balasan yang sama.
...***...
"Niss... Apa kau mendengar suara aneh?"
Bukannya menjawab pertanyaan ku, Nissa malah semakin menarik lengan ku.
"Cepat, Lu... Hujannya semakin deras." Gerutu Nissa sambil mempercepat langkah kakinya.
Glekkkkk!
Aku menelan saliva sambil berdiri mematung, menatap satu titik tanpa mengedipkan mata. Hujan yang semakin deras tak lagi ku perdulikan. Aku terlalu terkejut, aku bahkan tidak bisa berucap sepatah kata pun.
"Ckckck... Lulu Andriana, ada apa dengan mu? Aku meminta mu mempercepat langkah kakimu, kau malah berdiam diri disini!" Gerutu Nissa sambil memayungi kepala dengan tas tangannya.
"Nis... Ada bayi di sebelah sana! Aku yakin aku mendengar suaranya! Aku akan melihatnya." Balas ku tanpa memperdulikan kekesalan Nissa.
"Hay nyonya, apa kau sedang bermimpi? Apa kau tidak waras? Orang bodoh mana yang akan meletakkan bayinya di tengah hujan begini.
Ayo, kita harus pergi! Kita harus segera tiba di panti. Jika kita berada disini lebih lama lagi, jangan salahkan aku jika besok kau sampai sakit." Ujar Nissa sambil memegang lengan ku.
"Tunggu sebentar, aku harus melihatnya. Kau berteduh saja." Balas ku lagi tanpa menghiraukan kekesalan Nissa.
Dada ku berdebar sangat kencang, sekujur tubuh ku menggigil karena kedinginan, namun hal itu tidak membuat ku merasakan sakit. Aku merasakan sakit di hati ku saat netra teduh ku menatap keranjang yang dari dalamnya terdengar suara tangisan bayi.
"Lu... Ada apppp." Ucapan Nissa tertahan di tenggorokannya begitu ia melihat apa yang kulihat.
__ADS_1
"Bayi? Bayi siapa ini? Orang kurang ajar mana yang tega meninggalkan anaknya di hujan sederas ini?" Nissa menggerutu sambil menatap ku yang saat ini menggendong bayi laki-laki itu.
"Bagus kita yang menemukannya. Jika telat sedikit saja aku yakin anak manis ini akan tiada karena kedinginan. Kita harus membawanya dan menyerahkan anak ini pada ibu panti." Ucap Nissa lagi.
"Tidak, Nis. Aku tidak akan menyerahkan anak ini pada ibu panti."
"Apa maksud mu dengan tidak menyerahkan anak ini pada ibu panti?"
"Iya... Apa yang kau dengar itu benar. Aku tidak akan menyerahkan anak ini pada ibu panti. Aku akan merawatnya sendiri, dia adalah putraku."
"Lulu Andriana! Apa kau sudah tidak waras? Ap-apa maksudmu? Merawat anak ini? Apa kau kehilangan akal." Nissa bicara dengan nada tinggi. Aku bisa melihat dari wajahnya kalau dia sangat kesal dengan keputusan yang ku ambil.
"Tidak, Nis. Aku baik-baik saja."
"Tidak. Kau tidak baik-baik saja. Kau ingin merawat ini? Kau ingin menjadi ibu tunggal? Kita baru saja lulus sekolah menengah atas dan kau bilang kau ingin jadi ibu tunggal? Apa kau pikir Mama dan Papa mu di Surga akan setuju dengan keputusan ini? Rawat dirimu sendiri, baru kau rawat orang lain. Apa kau ingat kapan terakhir kali kau makan? Kau pasti tidak ingat, kan? Dan sekarang kau ingin merawat anak orang lain? Omong-kosong."
Karena kesal Nissa bahkan berdiri sambil membelakangi ku.
"Nis... Lihatlah anak ini! Bukankah dia sangat manis? Aku tidak bisa membiarkannya sendiri disini atau meninggalkannya di pati.
Tiga bulan telah berlalu sejak kepergian Mama dan Papa, aku berpikir kami memiliki nasib yang sama. Tidak punya orang tua dan tidak mempunya pegangan. Dan sekarang aku ingin kami saling menguatkan.
Aku akan memegang tangan anak manis ini dan menjadi kekuatan untuknya. Aku akan menjadi Ibunya, merawatnya dalam suka dan duka. Mulai hari ini dia adalah putraku." Ucap ku menegaskan sambil menatap wajah kesal Nissa. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa menghela nafas kasar. Aku tahu dia tidak setuju dengan keputusan sepihak ku.
"Lulu... Kau membuat ku kecewa. Kau tidak hanya membuat keputusan untuk merawat anak ini, kau juga memutuskan memakai kain penutup kepala. Aku tidak tahu dengan jalan pikiranmu. Aku berharap kau masih waras setelah semua yang terjadi kali ini." Nissa berucap sambil menatap ku dengan tatapan tajam. Aku bisa mengetahui dari sorot matanya kalau dia benar-benar kesal pada ku.
Di saat kondisi hatinya seperti itu, tidak ada yang bisa ku lakukan selain menunggunya untuk baik kembali. Bukannya aku tidak waras, aku hanya berpikir inilah yang terbaik.
Aku memutuskan memakai kain penutup kepala bukan karena menganggap diriku lebih baik dari yang lain. Aku melakukannya untuk ketenangan jiwa ku dan sebagai bentuk ketaatan ku pada yang Kuasa, aku berharap dengan keputusan ini jiwa Mama dan Papa merasa tenang. Bisa ku katakan aku sedang berhijrah langkah demi langkah.
Ku akui aku masih labil karena aku hanya remaja belasan tahun yang tidak tahu apa-apa. Namun aku juga tahu bahwa Allah lebih suka pada anak muda yang taat.
Tanpa menghiraukan kemarahan Nissa lagi, aku mendekap bocah manis yang saat ini ada dalam gendonganku. Aku yakin Allah akan memudahkan semua urusanku.
"Sayang... Mulai hari ini kau adalah putraku. Aku adalah Mommy mu. Mommy memberi mu nama Husain, putra yang akan menjadi penyejuk hati dan pandangan Mommy." Air mata ku menetes deras, entah dari mana datangnya keberanian ku dan memutuskan menjadi ibu tunggal. Apa pun itu, ku serahkan segala urusan ku pada Tuhan yang maha pengasih dan penyayang, Allah.
...***...
__ADS_1