Menyatu Dalam Cinta

Menyatu Dalam Cinta
Rumah Sakit


__ADS_3

Aaaaaaaaaa!


Dadaku berdebar sangat kencang, seolah jantungku akan loncat keluar. Aku masih larut dalam doa panjangku saat Nisa berteriak dengan suara lantang.


Sungguh, aku sangat terkejut. Duniaku serasa runtuh. Entah apa yang membuat Nissa berteriak sekencang itu? Dan ini untuk pertama kalinya aku terburu-buru menyudahi doa ku. Tanpa berpikir panjang aku langsung loncat dari atas sajadahku, berlari menuju pintu dan menghampiri Nissa yang masih berada di ruang tengah.


"Ada apa? Kenapa kau berteriak....!" Aku menggerutu sambil mengepalkan kedua tanganku. Nissa yang ku tatap bergeming. Wajahnya di penuhi ketegangan, bukannya mengatakan sesuatu Nissa malah menunjuk kelantai, tubuhnya masih bergetar hebat dan matanya membulat.


Duarrrrrrr!


Bagai disambar petir di siang bolong, sekujur tubuhku terasa mati rasa. Bagaimana tidak? Tubuh putra kebanggaanku Husain, terbaring lemah di lantai dengan mulut yang mengeluarkan busa.


Aaaaaaaaa!


Aku berteriak dengan nada suara tinggi, sekujur tubuhku lemas, tidak ada lagi tenagaku yang tersisa. Mataku mulai meneteskan air mata.


"Pa-panggil taksi...!" Ucapku dengan nada suara pelan, nyaris tak terdengar.


"Aku bilang panggil taksiiiii." Kali ini aku berteriak dengan suara lantang. Nissa yang mendengar bentakanku hanya bisa mengangguk kemudian berlari menuju kekamarnya, mengambil ponsel kemudian menghubungi taksi.


Satu setengah jam kemudian aku, Nissa dan Husain sudah sampai di rumah sakit. Aku berdiri dengan tubuh yang masih bergetar di depan UGD, dadaku berdebar sangat kencang, aku khawatir aku akan pingsan.


"Lu... Minum air ini." Ucap Nissa sambil menyodorkan air botol yang sudah ia buka tutupnya. Bukannya mengambil air yang ada di tangan Nissa, aku malah memeluk Nissa sambil berderai air mata. Tangisku pecah, dadaku terasa sesak, karena terkejut aku bahkan tidak sempat menggati mukena yang gunakan saat Shalat Subuh tadi.


"Nis... Bagaimana hal buruk ini bisa menimpa putraku? Ada apa dengannya? Kenapa bukan aku saja yang sakit? Hiks.Hiks.Hiks." Aku takut. Sangat takut sampai tidak bisa menahan gejolak dihatiku.


"Aku takut Husain akan meninggalkanku. Aku tidak mau dia jauh dariku. Kehilangan Mama dan Papa masih menorehkan luka mendalam di hatiku, aku tidak mau kehilang Husainnnn! Hiks.Hiks." Mendengar ucapan menyayat hati yang keluar dari lisanku, Nissa menepuk pundakku pelan, mencoba menenangkan.


"Bodoh. Kau benar-benar bodoh. Siapa bilang Husain akan meninggalkan mu? Allah tidak akan mengambil senyuman dari wajahmu. Lihat saja nanti, Husain kita akan sembuh dan dia akan menghiasi rumah kita dengan tawanya." Ujar Nissa sambil berbisik di telingaku.

__ADS_1


Sungguh, mendengar ucapan menenangkan yang keluar dari lisan Nissa membuat ku merasakan ketenangan luar biasa. Sekarang aku sudah bisa mengontrol emosiku, emosi yang hampir menenggelamkan ku dalam duka mendalam.


"Keluarga Husain?"


Seorang dokter berjalan menghampiri ku dan Nissa dengan langkah santai. Dari wajahnya aku bisa melihat kalau dia sangat kelelahan. Entah berapa lama ia tidak tidur sampai wajah tampannya terlihat kusut, ku tebak usianya tidak jauh dariku, sekitar dua puluh delapan tahunan.


"Iya dok, saya ibunya." Ucapku cepat sambil berdiri tegap.


"Tolong ambil obat ini di apotik, setelah itu anda bisa menemui saya di kantor saya."


Tanpa mengatakan apa pun Nissa langsung mengambil selembar kertas yang di berikan dokter muda itu dari tanganku.


"Kau ikutlah dengan dokter ini, aku yang akan pergi keapotik." Ujar Nissa sambil menatapku dengan tatapan sendunya.


"Itu bagus. Mari, ikuti saya." Ucap dokter itu sambil berjalan meninggalkan ku dan Nissa.


Dua menit kemudian aku sudah berada di ruang dokter muda itu, kantornya cukup nyaman dan luas, ditata dengan rapi. Kantornya tampak seperti kantor milik pak Ibra, sebuah meja kerja terletak di ujung kiri dengan dua kursi yang ada di depannya. Tapi kali ini, aku duduk di sofa. Di atas meja dekat sofa terdapat empat toples yang terbuat dari kaca lengkap dengan makanan kecil yang ada di dalamnya. Kue kering dan permen, aku rasa itu isinya.


Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari lisanku, dalam hati aku berpikir untuk apa dokter ini memanggilku keruangannya? Apakah hanya untuk minum air? Jika dia sampai melakukan hal tidak pantas, aku berjanji aku akan mematahkan lengannya. Untuk sesaat netraku menatap kearah pintu, pintunya terbuka lebar. Itu artinya dia bisa menjaga martabat kami agar tidak terkena fitnah. Aku kembali merasakan ketenangan.


"Jangan berpikir buruk! Aku memberikan air ini agar anda bisa sedikit rileks."


Glekkkkkk!


Aku langsung menelan saliva, aku terciduk. Dokter muda itu membaca pikiranku seolah ada tulisan yang menjelaskan segalanya di wajahku. Untuk sesaat aku menatap wajah rupawan dokter muda itu, ia tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari ku.


"Maafkan aku. Aku hanya bercanda. Namaku dokter Mahesa, aku bekerja di rumah sakit ini sejak aku masih bergelar mahasiswa. Kenapa bisa, karena rumah sakit ini berada di bawah kendali keluargaku.


Aku mengasah kemampuanku di tempat ini dan belajar langsung di bawah kendali Papa. Aku hanya mengawasi cara kerja Papa, dan setelah lulus kuliah kedokteran aku mulai mengepakkan sayapku di dunia medis.

__ADS_1


Sejak semalam entah berapa banyak pasien yang sudah ku obati sampai aku kurang tidur, saat aku ingin pulang aku malah melihat wanita dengan tangisnya yang mulai pecah, dan hal itu mencegah langkahku untuk pulang. Anda beruntung putra anda langsung di tangani oleh dokter handal sepertiku. Hahaha."


Iya, aku beruntung, sangat beruntung. Gumamku di dalam hati sambil merunduk. Ternyata dokter yang duduk di depanku ini sangat ramah dan murah senyum, tidak akan sulit untuk bisa akrab dengannya, dan sebagai seorang muslimah aku harus membatasi pergaulanku dengan pria yang tidak halal bagiku.


"Mulut berbusa adalah gejala fisik yang di tunjukkan ketika seseorang kehilangan kemampuannya untuk menelan, hal ini kemudian menyebabkan air liur menumpuk di mulut atau paru-paru. Ketika orang tersebut bernafas, air liur akan bercampur dengan udara atau gas sehingga terbentuk busa.


Jadi anda tidak perlu mengkhawatirkan kondisi putra anda. Dia hanya sedikit tertekan, sore ini anda bisa membawanya pulang. Untuk sekarang, biarkan dia istirahat disini." Ucap dokter Mahesa panjang kali lebar.


Sungguh, rasa takutku seolah menguap keangkasa setelah mendengar penjelasan dokter Mahesa. Tadinya aku berpikir tidak akan bisa menelan apa pun. Tapi sekarang? Tanpa di minta aku malah membuka toples yang berisi permen. Mulut ku terasa pahit, karena itulah aku mengambil permen dokter Mahesa tanpa meminta izin darinya.


"Sepertinya nona...." Dokter Mahesa diam sesaat karena dia tidak tahu namaku.


"Lulu. Lulu Andriana. Itu namaku." Ucapku singkat.


"Nama yang bagus, secantik orangnya." Sanjung dokter Mahesa.


Aku bukan wanita berusia belasan tahun yang akan merasa berbunga-bunga saat pria tampan mulai menyanjungku. Justru saat ini aku mulai merasa risih, aku ingin menyudahi percakapan ini jika sudah tidak ada yang penting.


"Sepertinya, melihat kondisi Husain membuat nona Lulu sangat terkejut, anda bahkan tidak sempat menggati mukena anda dengan jilbab."


Sejak tadi aku bahkan tidak menyadarinya, mendengar ucapan dokter Mahesa membuat netraku membulat tak percaya. Aku tersenyum sambil memegang mukenaku, aku rasa semua ibu sama saja, dia akan melupakan segalanya saat dia melihat anak-anaknya terluka.


"Anda benar dokter, saya bahkan tidak sadar kalau saya datang dengan tampilan seperti ini. Melihat kondisi Husain membuat saya sangat panik, rasanya nyawa saya ada di ujung tanduk.


Karena anda mengatakan kondisi Husain baik-baik saja, semua kecemasan saya seolah menguap keangkasa. Saya ucapkan terima kasih." Ucapku tulus.


Aku bangun dari posisi duduk ku, melihatku bangun dokter Mahesa ikut bangun dari posisi duduknya, karena tidak ada yang penting aku harus menyudahi obrolan ini. Setelah berpamitan dan menangkupkan tangan di depan dada, aku langsung meninggalkan ruangan dokter Mahesa dengan kelegaan luar biasa.


Rumah sakit?

__ADS_1


Tempat ini terlalu menakutkan untukku, aku berharap tidak akan pernah lagi kembali ketempat ini. Kehilangan Mama dan Papa di tempat ini rasanya mengulang derita yang berusaha ku lupakan sekuat tenaga. Mau bagaimana lagi, terkadang aku pun harus datang ketempat ini walau dengan perasaan terpaksa.


...***...


__ADS_2