
Huhhhhhh!
Akhirnya aku bisa bernafas dengan lega, rasanya aku ingin mendendangkan lagu cinta. Apa lagi yang lebih baik dari ini? Allah mengambil semua beban yang memberatkan pundak ku hanya dalam hitungan detik. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang akan ku dustakan? Sungguh, jawabannya aku sangat bersyukur dan aku tidak akan pernah mendustakan nikmat yang sudah Allah berikan padaku.
Aku kehilangan hal yang paling berharga dalam hidupku yakni kedua orang tua yang sangat ku sayangi, tapi Allah menggantinya dengan ganti yang jauh lebih baik dari itu.
Kesabaran dan rasa syukur? Sekalipun aku tidak pernah melupakan itu. Saat sabar dan syukur memenuhi rongga dada, tidak ada duka yang akan mengalahkan ketaatan pada Allah yang maha menggenggam jiwa dan raga.
Mama dan Papa tidak meninggalkan harta yang berlimpah, tapi beliau mendidikku dengan didikan terbaiknya. Aku selalu berpikir, apa artinya harta berlimpah jika harta itu tidak mendatangkan Surga bagi pemiliknya, dan seburuk apa pun keadaanku, aku tidak akan mengeluh karena kurangnya harta.j Karena itulah aku selalu mendidik Husain sama seperti kedua orang tuaku mendidik ku, tentunya dengan didikan terbaik.
"Pak Ibra ada disini? Apa yang dia lakukan?" Ucapku lirih sambil berjalan pelan.
"Apa aku melakukan kesalahan? Tidak mungkin! Jika aku tidak melakukan kesalahan bagaimana bisa pak Ibra berjalan kearahku dengan kekesalan luar biasa? Wajahnya memerah seperti akan menelan ku hidup-hidup." Sambungku sambil berdiri mematung.
Tanpa berucap sepatah kata pak Ibra meraih lenganku, menggenggam erat jemariku sambil menarikku berjalan mengikuti langkah kakinya.
"Hay pak? Apa yang anda lakukan? Lepaskan tanganku! Jika anda tidak melepaskan tanganku, aku akan berteriak." Ucapku dengan nada kasar, yang ku ajak bicara bukan Ibra yang kukenal, tapi binatang buas yang bahkan mengabaikan ku sekuat apa pun aku berontak.
Prakkkkkk!
Aku memejamkan mata begitu pak Ibra melepaskan tangannya dari jemariku, suara bantingan pintu membuat dadaku berdebar sangat kencang. Rasanya aku ingin menampar sosok rupawan yang berdiri di depanku saat ini. Sekujur tubuh ku masih bergetar.
Pelan aku membuka netraku, aku mulai menatap pak Ibra dengan tatapan setajam belati, seolah aku ingin mengulitinya hidup-hidup. Aku marah karena dia menggenggam tanganku tanpa izin dariku. Aku juga marah karena dia memaksaku.
"Apa anda sudah tidak wa....!"
Ucapanku tertahan di tenggorokan begitu aku menyadari aku berada di kamar pasien. Pasiennya seorang gadis muda dengan kecantikan yang sulit di ungkapkan dengan kata-kata. Matanya besar, hidungnya mancung, rambutnya hitam sebahu, kulitnya putih mulus, aku tidak pernah melihat wanita lain secantik dirinya.
Aku mematung, aku terdiam, yang bisa ku lakukan hanya berdiri sambil merunduk. Aku yakin saat ini aku berada di tempat yang salah, aku bisa menebak dari raut wajah pak Ibra dan wanita cantik itu kalau mereka pasangan kekasih yang sedang terlibat masalah.
__ADS_1
Ya Allah... Aku dalam masalah besar! Haruskan aku pergi dari sini tanpa mengucapkan sepatah kata pun? Bagaimana jika pak Ibra tersinggung? Hidupku terlalu berat dan aku tidak ingin menambah musuh dalam kehidupan kerasku. Gumamku sambil menatap bergantian Pak Ibra dan wanita cantik yang duduk di tempat tidur pasien.
Netra wanita itu terlihat sembap.
"Maaf. Sepertinya aku berada di tempat yang salah. Kalian bisa bicara dan aku akan pergi." Celotehku sambil berjalan cepat kearah pintu. Baru saja aku akan bersiap keluar pak Ibra kembali menarik lenganku.
"Dia kekasihku. Aku akan segera menikah dengannya. Jangan ganggu aku dan jangan pernah menghubungi ku lagi. Entah kau hidup atau tiada itu sama sekali bukan urusanku."
Glekkkkkk!
Aku hanya bisa menelan saliva mendengar ucapan ketus pak Ibra. Aku heran, apa dia selalu bicara sekasar itu pada setiap wanita? Aku rasa aku benar-benar salah karena mengenalnya. Mulai saat ini aku harus membatasi diri dan menjauh dari kehidupannya.
"Ra... Kenapa kau sangat keras kepala! Ayo kita bicara dan selesaikan semuanya. Kau tidak perlu menarik sembarang wanita dan mengatakan dia kekasihmu.
Semua orang juga tahu tidak mungkin dia kekasihmu. Kau tidak mungkin meninggalkan ku hanya karena wanita dengan tampang kucel seperti dirinya."
Ya ampun, darahku terasa mendidih. Bagaimana bisa wanita seanggun wanita yang duduk di tempat tidur pasien itu bicara omong kosong tentang wanita lain. Rasanya aku ingin membalasnya. Namun jauh di lubuk hatiku, aku berusaha menahan diri agar amarahku tidak meledak.
Jangan pernah ucapkan omong-kosong lagi di depanku. Kami saling mencintai, dan aku tidak perduli dengan masa lalunya bersamamu." Celotehku panjang kali lebar. Entah apa yang ku pikirkan sampai aku berani membuka suara dan masuk kedalam permasalahan yang seharusnya tidak ku masuki.
"Kau sudah dengar apa yang di katakan wanita yang akan menjadi calon ibu dari anak-anak ku? Aku tidak perduli lagi dengan keberadaan mu, bahkan jika kita berpapasan, jangan pernah menegurku. Bagiku, kau sudah tidak ada lagi sangkut pautnya dalam kehidupanku."
Entah dari mana datangnya kesedihan yang tiba-tiba menyelimuti lubuk hati terdalamku. Sejujurnya aku sangat kasihan dengan wanita cantik itu. Ucapan pak Ibra terlalu menyayat hati, jika aku jadi dirinya aku pasti akan menangis sesegukan. Dia sangat kuat sampai tidak meneteskan air mata.
...***...
Setelah bicara kasar dengan wanita itu pak Ibra membawaku menuju taman bunga belakang rumah sakit, berjejer beberapa bangku taman dengan air mancur yang menjadi daya tarik. Ada banyak orang di taman karena saat ini memang masih agak pagi untuk menikmati udara segar.
Aku masih terdiam, aku bahkan tidak berani menatap wajah pak Ibra.
__ADS_1
"Aku harus kasar padanya. Jika aku tidak melakukan itu di pertemuan pertama kami, aku yakin wanita itu pasti akan selalu berusaha menemuiku disetiap kesempatan yang dia punya.
Aku tahu kau pasti berpikir aku pria dingin dan kejam. Sejujurnya, aku tidak punya pilihan lain selain bicara kasar.
Mama, Papa dan Robin. Mereka benar-benar terluka dengan sikap wanita itu, aku tidak tahu apa yang akan di lakukan Mama jika Mama tahu dia ada disini." Ucap Pak Ibra dengan kepala tertunduk.
Aku mencium aroma kemarahan dalam setiap hurup yang ia rangkai menjadi kata-kata. Setiap ucapan yang keluar dari lisannya terdengar sangat menyakitkan di indra pendengaranku. Aku sendiri tidak bisa memberikan ucapan semangat atau mencoba berusaha menenangkannya karena aku tidak tahu sumber masalahnya. Bahkan jika aku tahu sekalipun aku tidak akan terlibat dalam hubungan rumitnya.
Saat aku menyadarinya, aku mulai menghela nafas kasar. Jika di pikir-pikir aku sudah masuk dalam masalah rumit ini. Bagaimana jika wanita cantik itu menggangguku karena berpikir aku kekasih pak Ibra? Aku dalam masalah besar.
"Delapan tahun yang lalu, hidupku terasa damai, aku merasa bahagia dan aku selalu bersyukur pada yang Kuasa. Aku selalu berpikir tidak ada orang lain yang lebih bahagia di banding diriku.
Aku selalu menyombongkan itu saat bertemu dengan teman-temanku. Kekasihku begini, kekasihku begitu, dia begini, dia begitu, hari-hariku hanya di penuhi kebahagiaan. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk melamar wanita itu, dia menerima lamaranku, dan dia setuju menikah denganku.
Mama sangat menyukainya, begitu juga dengan Papa. Singkat cerita, acara yang ku nanti-nanti datang juga. Meresmikan hubungan kami di depan penghulu dan semua keluarga menjadi saksi kami berdua.
Malang tak bisa di hindari, saat semua orang hadir di Aula tempat pernikahan kami, wanita itu dengan kurang ajarnya melarikan diri di hari pernikahan kami. Dia membuatku dan keluargaku menjadi lelucon di hadapan semua orang.
Papa bahkan tidak berani keluar kantor karena beliau sangat malu di depan rekan bisnisnya. Semua orang bicara buruk tentang diriku yang di tinggal pergi oleh mempelai wanitanya.
Aku berubah menjadi sosok pendiam, aku juga menjadi sosok tertutup pada semua orang. Sejak Papa tidak ingin kekantor, aku memutuskan mengambil alih perusahaan media yang beliau kembangkan dengan usaha dan kerja kerasnya.
Sejujurnya aku tidak sanggup menatap wajah Mama dan Papa karena itu aku memutuskan meninggalkan rumah dan lebih memilih tinggal di apartemen."
"Pak Ibra, apa anda baik-baik saja?" Aku bertanya dengan nada suara pelan, pria rupawan yang duduk di sampingku itu hanya bisa merunduk menahan duka masa lalunya.
Aku tidak tahu bagaimana rasanya di tinggal oleh pasangan pengantin saat semua persiapan pernikahan telah rampung seutuhnya. Dan aku juga tidak tahu harus menghiburnya dengan kata-kata apa, rasanya semua ucapan manis tidak akan mempan untuk menghibur hatinya yang sedang terluka.
Inilah alasannya Islam melarang pacaran, selalu saja ada duka yang tertinggal.
__ADS_1
...***...