Menyatu Dalam Cinta

Menyatu Dalam Cinta
Mengejutkan


__ADS_3

"Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku menyebut nama nona Lulu di tengah-tengah pembicaraan serius kita? Aku seratus persen masih waras dan sadar dengan apa yang ku katakan." Kak Ibra kembali membuka suara di antara senyapnya udara.


Mendengar penuturan kak Ibra aku hanya bisa menghela nafas kemudian membuangnya kasar dari bibir. Lantunan merdu murottal Al-Qur'an yang bersumber dari meja kerjaku berhasil memberikan ketenangan bagi jiwaku.


"Apa yang terjadi di rumah sakit?" Aku bertanya sambil menatap lekat wajah kak Ibra. Dia masih tersenyum seperti biasa, senyumannya berhasil meredakan rasa takut ku.


"Aldela ingin kembali padaku, dia bilang dia terlalu mencintaiku, dia juga bilang tidak sanggup berpisah dariku walau untuk sekejap saja.


Aku tidak tahu harus berkata apa. Di dalam hati ku, aku ingin mengutuknya. Syukurlah kehadiran Nona Lulu berhasil meredam amarah ku. Amarah yang hampir saja meluluh lantakkan jiwa ku."


"Kakak yakin Nona Lulu tidak berontak saat kakak membawanya kekamar Aldela?" Aku bertanya sambil meletakkan cangkir kopi di atas meja.


Sungguh aneh! Pikirku. Wajah kak Ibra menjelaskan segalanya. Terharu dan bahagia, setidaknya dua kata itu yang bisa ku artikan dari senyuman indahnya.


"Nona Lulu membelaku di depan Aldela, dia bahkan mengaku sebagai tunanganku. Tadinya aku berpikir aku akan mendapat tamparan keras karena sudah memegang tangannya secara paksa. Untung-lah itu tidak terjadi."


"Apa? Kakak serius Kakak memegang tangannya dan dia tidak berontak?"


"Tentu saja dia berontak. Kau lihat tanganku ini? Ini sangat perih bekas cakarannya. Aku tidak pernah berpikir di dunia ini ada wanita yang menolak pesona indah ku. Aku yakin jika itu wanita lain, mereka pasti tidak akan keberatan walau aku menciumnya."


Ucapan kak Ibra terdengar seperti lelucon di indra pendengaran ku, baru kali ini aku melihatnya bicara tanpa beban. Dan aku? Tidak ada tanggapan dariku selain tawa ku yang semakin pecah.


"Hahaha... Kakak benar-benar lucu."


"Bagaimana pendapat mu tentang Nona Lulu?"


"Pendapat? Pendapat apa?" Aku bertanya karena aku benar-benar tidak mengerti maksud kak Ibra.


"Maksud ku bagaimana kalau..."


"Stop! Melihat ekspresi yang kakak tunjukan sepertinya aku bisa menebak apa yang akan Kakak katakan selanjutnya, kakak tahukan itu tidak boleh terjadi?

__ADS_1


Kakak bisa mendekati wanita mana pun yang kakak inginkan, tapi tidak dengan wanita yang sudah bersuami. Mama orang yang baik, tapi jika menyangkut calon menantunya dia tidak akan melepaskan apa pun." Aku menasihati kak Ibra tanpa melepas pandangan ku dari netra teduhnya.


"Iya, aku memahami kegelisahan mu. Aku juga tidak berniat dan tidak akan melampaui batasan ku."


"Kakak tidak akan bisa berontak seperti yang sering ku lakukan. Dari pada merasa bersalah dan tidak sanggup menatap diri sendiri lebih baik akhiri semuanya sampai disini." Ujarku kembali mengingatkan.


"Aku paham maksud mu, hanya saja Nona Lulu itu terlalu cantik dan dia juga sangat menggemaskan.


Jika kau berusaha mengenalnya dengan baik, saat itu juga kau akan menemukan ada sisi berbeda yang tidak ada dalam diri wanita lain, dan hal itu hanya ada dalam dirinya, perkara itu sanggup membuatmu jatuh cinta pada detik selanjutnya." Celoteh kak Ibra sambil mengedipkan mata. Ia kembali meraih cangkir kopinya yang tersisa tinggal setengah.


Aku hanya bisa mengangguk pelan, antara percaya dan tidak.


Cinta? Jatuh cinta?


Aku rasa tidak mudah merasakan perasaan itu, entah kak Ibra yang sudah tidak waras atau aku yang terlanjur bodoh untuk bisa memahami perasaan indah itu. Kita lihat saja nanti.


...***...


"Tidak, Kak. Terima kasih!" Ucap ku cepat. Aku tidak bisa tinggal di kantor kak Ibra walau untuk semenit saja. Aku harus pergi ke kantor Sawn, ada hal penting yang harus ku selesaikan dengannya.


"Aku akan kembali ke kantor. Aku juga sudah mengabari Sawn. Aku yakin dia pasti sedang menungguku." Celotehku tanpa mengalihkan pandangan dari kak Ibra.


"Baiklah jika itu mau mu, aku tidak bisa memaksa. Sekali lagi ku ucapkan, terima kasih untuk jamuan makan siang hari ini."


Kak Ibra menepuk pundakku sambil tersenyum, aku memeluknya kemudian beranjak pergi meninggalkan kantornya.


Bagaimana keadaan papa hari ini? Mama Bilang kondisinya tiba-tiba memburuk! Aku akan pulang setelah urusan ku di kantor Sawn selesai. Aku bergumam di dalam hati sambil melangkahkah kaki keluar dari lorong ruang siaran.


"Apa? Mustahil?"


Langkah kakiku terhenti di depan sebuah ruang kecil yang bertuliskan Pantry. Entah tema apa yang menjadi pembahasan orang yang ada di dalam Pantry sore ini, suaranya terdengar menggelegar di indra pendengaranku.

__ADS_1


Rasanya aku ingin tertawa lepas, menertawakan diriku sendiri yang bertingkah seperti anak kecil. Bukannya pergi aku malah berdiri di depan pintu sambil menatap kedua wanita yang sedang duduk lesu di sofa, mendengarkan percakapan mereka tanpa mengeluarkan suara sekecil apa pun agar mereka tidak curiga.


"Aku tidak percaya ini! Aku mengenal Kak Lulu dan Kak Nissa lebih dari lima tahun, dan kak Nissa baru mengatakannya sekarang? Bagaimana jika hari ini kak Nissa tidak keceplosan? Lalu kapan kakak akan cerita kalau Husain bukan putra kandung kak Lulu? Hahhh!" Gadis bertubuh krempeng itu bicara dengan nada tinggi.


"Ssssstttt. Kecilkan suaramu! Bagaimana jika ada yang mendengar ucapanmu? Ini lah alasannya kenapa aku tidak suka membagi hal yang bersifat rahasia dengan mu, kau selalu saja bicara seperti kereta api tanpa henti." Balas wanita berambut pirang itu.


"Kak Nissa, aku terlalu terkejut. Kasihan sekali kak Lulu, semua orang mencelanya karena dia seorang ibu tunggal. Tidak ada yang ingin bertanya dan mencari kebenaran tentang Husain."


Glekkkkkk!


Aku menelan saliva, sekujur tubuhku bergetar mendengar pembicaraan kedua gadis yang berjarak sekitar sepuluh langkah dari ku itu.


Entah kenapa wajah kucing liar itu menari-nari di benakku, seolah dia datang sambil tersenyum lebar. Matanya bersinar layaknya mentari, melihat wajahnya saja aku merasakan kehangatan.


Tanpa terasa air mata ku mulai menetes, aku ingin berlari ke arah kucing liar itu dan memberikannya pelukan hangat. Mengatakan padanya kalau aku sangat bangga padanya.


"Bagaimana reaksi Husain saat mengetahui Mommy-nya di hina oleh ibu-ibu penggosip itu? Aku yakin anak malang itu pasti menangis!"


"Jangan tanyakan itu Lais, jika saja kau ada di sana saat Husain membela Mommy-nya, kau akan menangis karena takjub pada anak manis itu. Aku bahkan menyesalkan nasib ku, seandainya Husain adalah putra ku.


Aku Rasa aku tahu kenapa Allah lebih memilih Lulu menjadi ibu Husain di bandingkan dengan ku. Itu karena Allah tahu Lulu jauh lebih baik dariku. Gadis aneh itu sangat penyayang, dia juga sangat sabar, dia lebih bijaksana dari siapa pun yang pernah ku kenal. Lebih dari itu dia sangat mencintai Husain, dia memutuskan untuk tidak membiarkan anak manis itu mengetahui tentang asal usulnya."


Dag.Dig.Dug.


Jantung ku masih berdebar kencang setelah mendengar penuturan kedua wanita itu. Aku terkejut, sangat terkejut sampai bernafas pun terasa sesak. Bagaimana bisa seorang gadis lemah memutuskan memelihara anak orang lain, anak yang ia sendiri tidak tahu asal usulnya?


Dua kata untuk kucing liar itu, luar biasa.


Seperti orang tidak waras aku bahkan sampai mencubit pipi ku, aku masih tidak percaya dengan apa yang sudah ku dengar dan ku lihat. Sungguh, ini benar-benar mengejutkan.


...***...

__ADS_1


__ADS_2