
"Saya bersimpati pada anda, sayangnya saya tidak bisa melakukan apa-apa.
Kita tidak terikat dalam hubungan kekeluargaan atau pun pertemanan, kita bertemu hanya beberapa kali tanpa kesengajaan, aku tidak bisa menyebut itu sebagai takdir. Walau demikian aku tetap akan mengatakan-nya, setiap orang di uji dengan ujian sesuai dengan batas kemampuannya.
Anda tidak perlu menyalahkan diri sendiri, anda juga tidak perlu mengingat hal yang akan membuat hati anda sakit. Jika ada kata yang melukai hati, menunduklah dan biarkan ia melewatimu, jangan di masukkan kedalam hati agar hatimu tidak lelah." Ucapku sambil menatap wajah pak Ibra untuk sekian detik.
Setelah itu aku bangun dari bangku taman, berdiri di depannya sambil mengukir senyuman.
"Aku harus pergi, putra ku pasti sedang menunggu!" Sambung ku lagi. Aku menangkupkan kedua tangan di depan dada, setelah itu mulai berjalan perlahan. Entah apa yang dia pikirkan, pak Ibra berdiri dan menyusul ku dan berjalan perlahan.
"Nona Lulu, terima kasih untuk hari ini."
Aku mengerutkan dahi sambil menghentikan langkah kaki ku. Ini untuk kelima belas kalinya pak Ibra mengucapkan terima kasih padaku.
"Sudah ku katakan, itu tidak perlu. Lagi pula anda sudah mengatakannya sejak tadi." Ujarku sambil melipat lengan di depan dada.
"Tidak apa-apa, nona Lulu pantas mendapatkannya.
Hari ini nona Lulu menjadi calon istri ku untuk sekian menit saja, membela ku di depan wanita itu tanpa rasa takut. Nona Lulu juga berhasil menenangkan hati ku yang sedang terluka dengan kata-kata indah anda."
Aku hanya bisa tersenyum sambil merunduk, begitu banyak kata-kata sanjungan yang sudah ku dengar dari sosok rupawan yang saat ini berdiri di depanku.
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari lisan ku, aku menatap pak Ibra untuk sekian detik saja, setelah itu aku kembali berjalan sambil melambaikan tangan, seolah pertemuan ini akan menjadi pertemuan terakhir kami. Jauh di dalam lubuk hati terdalam ku, aku berharap ini akan menjadi pertemuan terakhir kami, aku tidak ingin terlibat dalam permasalahan yang rumit, dan kerumitan ini membuatku merasakan ketegangan.
Bukannya melupakan kejadian tadi, aku malah memikirkan wanita itu, aku yakin dia pasti masih bersedih, ucapan ku dan ucapan pak Ibra berhasil membuatnya tak berkutik. Apa pun itu aku berharap semuanya akan baik-baik saja untuk wanita itu dan pak Ibra.
...***...
Lima menit kemudian aku berdiri di depan pintu ruang inap Husain, dada ku berdebar sangat kencang. Pembicaraan lima menit lalu dengan pak Ibra masih terngiang di telingaku.
"Mommy sudah kembali? Mommy dari mana saja? Husain tidak suka apa pun tanpa Mommy!" Celoteh Husain begitu aku membuka pintu. Wajah sedihnya terpampang dengan jelas di netra teduh ku.
"Maafkan Mommy sayang. Tadi Mommy pergi ke apotik, setelah itu tanpa sengaja Mommy bertemu dengan teman lama. Kami terlibat percakapan singkat.
Mommy janji, mulai hari ini Mommy tidak akan pergi kemanapun tanpa memberitahukan Husain, apa kau suka?" Aku berucap sambil menjewer kedua telinga.
"Iya, baiklah." Balas Husain sambil tersenyum dan menurunkan kedua tanganku yang masih menempel di telinga.
"Kau bilang kau akan menghukum Mommy mu jika dia kembali, Tante Nissa tidak pernah tahu kalau kau hanya mengucapkan omong-kosong." Celoteh Nissa begitu kepalanya menyembul dari balik daun pintu kamar mandi.
"Putra ku tidak akan bisa menghukum Mommy-nya karena dia sangat menyayangi ku. Iya kan, nak?" Aku bertanya sambil menangkup wajah tampan Husain, sedetik kemudian aku mulai melayangkan kecupan di kening kecilnya.
__ADS_1
"Hahh... Kalian ibu dan anak sama saja, jika kalian seperti ini lalu aku harus berada di mana?" Celoteh Nissa lagi sambil memonyongkan bibir tipisnya.
Nissa berjalan mendekatiku, setelah itu kami bertiga saling rangkul dalam bahagia.
"Aku melihat mu bersama pak Ibra, apa yang kau lakukan bersamanya?" Nissa berbisik di telingaku tanpa menghiraukan Husain.
Glekkkkk!
Aku hanya bisa menelan saliva, mendengar pertanyaan Nissa membuatku langsung mengelus dada. Akhirnya kebiasaan lamanya kumat lagi, kebiasaannya yang selalu ingin tahu urusan orang lain.
"A-aku tidak bersama-nya!" Ucap ku gugup sambil memalingkan wajah dari tatapan tajam Nissa.
"Aku tahu kau bersamanya, jadi jangan coba-coba membohongi ku. Jika kau nekat melakukan itu, kau tidak akan bisa menghindari ku." Ucap Nissa lagi, kali ini dia memegang lengan ku.
"Aaaaaaa!" Aku berpura-pura menutup telingaku sambil berjalan cepat kearah kamar mandi. Putra manis ku hanya bisa menatap dengan tatapan heran melihat tingkah kekanak-kanankan Mommy-nya.
Dua menit kemudian.
"Ada apa dengan tante Nissa? Apa tante Nissa menyusahkan Mommy?"
Aku kembali menatap Nissa. Aku tahu dia tidak akan menyerah dengan mudah.
Tentu saja putra cerdasku tidak percaya itu, dia malah menatap Nissa dengan tatapan selidik.
...***...
Belasan kilo meter jaraknya dari rumah sakit, bekerja puluhan orang di restorant berlantai dua itu. Ada yang sedang mengepel, ada juga yang sedang membersihkan meja.
"Kau tahu, bos berencana akan menikah." Ucap salah satu karyawan wanita dengan penuh semangat.
"Benarkah? Ini masalah besar!"
"Kenapa bisa menjadi masalah besar? Bukankah kau harus bahagia?"
"Aku tahu aku harus bahagia. Masalahnya aku tidak akan bisa melihat pria tampan lagi selain pak Robin. Mengingat hal itu membuat ku sedikit sedih. Bukan hanya itu, kabarnya pak Robin akan menikah dengan dokter muda yang pernah datang ketempat ini. Dia sangat cantik dan aku sangat iri padanya."
Sejak menginjakkan kaki di Restorant siang ini aku hanya mendengar omong-kosong saja. Rasanya aku ingin marah, namun sebisanya aku berusaha menahan amarah ku agar tidak meledak. Entah apa yang ku harapkan sampai aku hanya bisa berdiri mematung.
"Dan lebih anehnya lagi, kekekasih kakaknya pak Robin kembali lagi, aku yakin mereka akan segera menikah."
Kali ini amarahku benar-benar tidak bisa di tahan lagi, bagaimana bisa mereka membicarakan kak Ibra dan wanita itu di depanku?
__ADS_1
Mmmmmm!
"Apa kalian sudah selesai dengan semua omong-kosong yang kalian lontarkan? Harus ku apakan kalian semua? Apa aku harus memecat kalian?" Aku bicara dengan nada santai, namun tatapan mataku menjelaskan betapa besar kemarahanku saat ini.
Dari raut wajah kelima karyawan itu, mereka terlihat gugup. Maklum saja, aku yang biasanya bersikap lunak dan yang selalu di kenal penyabar tiba-tiba bertingkah seperti singa yang akan menelan mereka hidup-hidup.
"Ada apa? Kenapa kalian terlihat takut? Apa Robin memarahi kalian? Katakan padaku, aku janji aku akan menarik telinganya untuk kalian." Ujar Kak Ibra begitu ia berdiri di samping kiriku.
"Tidak, kak. Aku hanya menjelaskan kalau hari ini kami akan kedatangan bintang iklan yang akan mempromosikan menu baru kami. Kakak tidak akan betah disini, tunggu saja di kantor, aku akan segera datang."
"Baiklah." Balas kak Ibra tanpa melepas senyuman dari wajah tampannya. Sedetik kemudian dia berjalan pelan sambil menaiki anak tangga.
"Ini pertama dan terakhir kalinya aku mendengar kalian bicara omong-kosong. Jangan pernah ulangi lagi. Kalian mengerti?" Kali ini aku bicara dengan nada tinggi, tanpa mendengar jawaban dari kelima wanita muda di depanku, aku langsung meninggalkan mereka dan berjalan menuju lantai dua tempat kak Ibra sedang menunggu. Aku menghentikan langkah kakiku dan berdiri di tangga.
"Bukankah aku sudah bilang bos sangat benci mendengar gosip. Harus ku apakan kalian berlima?" Bentak manager wanita yang baru saja datang dan berdiri di depan lima karyawan wanitanya.
Yang di marahi hanya bisa merunduk lemas.
"Ma-maaffffkan ka-mi, bu. Ka-mi janji tidak akan mengulanginya lagi." Ucap salah seorang karyawan wanita itu dengan nada suara pelan nyaris tak terdengar.
"Apa aku harus memecat kalian agar kalian bisa bergosip seharian, hah?"
Lagi-lagi aku hanya bisa mengelus dada mendengar bentakan demi bentakan yang keluar dari lisan manager bertubuh ramping itu. Aku tidak tahu manager muda yang ku pekerjakan ternyata lebih galak di bandingkan dengan ku. Aku hanya bisa mematung di tangga.
"Sudah-lah, kau tidak perlu menakutinya seperti itu. Aku yakin dia akan belajar dari kesalahannya."
"Pak Robin anda disini?"
Manager itu terlihat gugup, dia tidak tahu aku akan kembali lagi. Kali ini ku berdiri di sisi kanannya.
"Iyaaaa... Aku ada di sini. Apa ada yang salah? Apa aku tidak boleh berada di sini? Pertanyaan-mu benar-benar aneh!" Celoteh ku sambil menatap satu per satu wanita muda yang sudah bekerja di tempatku sejak restorant ini di buka.
"Bukan begitu, pak." Balas manager itu dengan wajah tertunduk.
"Kakak masih di kantor ku. Buatkan makan siang untuk kami berdua. Dan ingat, aku selalu mengawasi kalian semua. Jangan pernah bicara omong-kosong di tempat ini lagi.
Aku tidak suka itu, dan aku sangat benci pada orang yang membicarakan keburukan orang lain. Kalian di gaji untuk bekerja bukan untuk mengatakan hal yang tidak kalian tahu kebenarannya. Kalian paham?"
"Iya, pak. Kami paham, kami janji tidak akan melakukannya lagi." Sahut kelima karyawan wanita itu bersamaan, dari nada bicaranya aku yakin mereka sangat menyesal. Bagiku itu sudah cukup.
...***...
__ADS_1