
Seorang gadis aneh melompat kedepan mobilku sambil memamerkan wajah sedihnya. dia benar-benar sedih atau hanya berpura-pura sedih? Entah-lah, aku sendiri tidak bisa menebak jalan pikirannya. Aku juga tidak bisa menebak hanya dari wajah datarnya. Awalnya aku berpikir dia hanya berpura-pura agar mendapat uang ganti rugi. Tapi... Itu tidak mungkin, melihat rok putih yang ia gunakan sepertinya ia masih waras, rok putih itu terkena bercak darah. Aku yakin ini memang murni kesalah pahaman.
"Hay nona... Kemana kau akan membawaku pergi? Aku juga punya pekerjaan. Kau benar-benar membuang-buang waktuku!" Ucapku sambil menatapnya dengan tatapan tajam. Orang yang kuajak bicara sibuk dalam pikiran anehnya. Tak ada sahutan darinya selain menampakkan wajah khawatir.
Aku rasa aku yang tidak waras karena bicara pada wanita seaneh dirinya. Apa dia kehilangan akalnya saat aku menabraknya? Entahlah, aku sendiri bingung dengan semua ini. Aku benar-benar terjebak di tempat yang salah. Aku bergumam sendiri sambil menyetir. Aku tidak sadar kalo aku berhenti di depan sekolah dasar.
Bukan rumah sakit, tapi sekolah dasar? Ini benar-benar membingungkan.
Wanita aneh itu berjalan sambil menyeret kakinya. Yaaaa... Aku ingat, dia bilang kakinya terkilir. Aku rasa dia tidak berbohong. Pelan aku mengikuti langkah kakinya, aku khawatir dia berada dalam masalah.
Bukankah ini aneh? Apa perduliku? Kenapa aku harus mengkhawatirkan orang asing yang bahkan tidak ku tahu namanya.
Robin... Kau melakukan hal yang benar! Jika wanita aneh itu mendapat masalah kau yang akan disalahkan. Lihat saja dari jauh, dan jangan hiraukan tingkah konyolnya. Anggap saja kau sedang menolong kucing liar yang sedang tersesat. Aku bergumam sendiri sambil menatap tubuh kecil itu masuk kedalam ruang kepala sekolah.
"Bu... Ada apa dengan putraku? Apa dia membuat masalah lagi? Kali ini apa yang dia lakukan?"
Putra? Wanita aneh itu punya putra? Hahh... Sudahlah, apa perduliku. Aku berdiri mematung di depan pintu sambil melipat kedua lengan di depan dada.
"Tidak ada yang terjadi pada Husain. Dia hanya terjatuh saat jam olah raga. Sebelum menyelesaikan ucapan kami, bu Lulu sudah menutup panggilan. Kami minta maaf karena membuat bu Lulu merasa khawatir." Ucap kepala sekolah bertubuh gembul itu. Kaca matanya sampai menyentuh ujung hidungnya. Namun ia tidak merasakan risih sedikitpun.
Hanya dengan melihat kedua wanita itu membuatku menggelengkan kepala. Dan yang lebih membuatku kesal, aku harus menunggu sampai urusan kucing liar itu selesai. Aku hanya bisa menghela nafas kasar. Oh iya, satu hal yang bisa kulakukan di saat seperti ini, menggerutu.
"Bu kepala sekolah, dimana Husain?"
"Nak Husain ada di..." Ucapan kepala sekolah itu tertahan di tenggorokannya begitu melihat seorang bocah berparas rupawan memasuki kantornya bersama dengan wanita berpakaian olahraga.
"Mama Husain, anda sudah datang? Sejak tadi Husain bersikap rewel, tidak tahu ada apa dengannya. Biasanya dia tidak pernah bersikap seperti ini. Kami mohon maaf karena membuat anda khawatir." Ucap guru yang menggunakan pakaian olah raga itu.
"Mommy... Kenapa Mommy baru datang sekarang? Husain rindu Mommy!" Ucap bocah berwajah manis itu.
__ADS_1
"Apa dia Papanya nak Husain? Salam pak! Anda beruntung memiliki putra seperti nak Husain. Dia anak yang cerdas." Ucap kepala sekolah itu asal. Rasanya aku ingin marah mendengar ucapannya, berani sekali dia menebak anak kucing liar itu sebagai putraku.
Aku memang kesal, bukan berarti aku harus bertindak kasar. Entah dari mana datangnya kekuatan ku, kekuatan untuk berpura-pura tersenyum
"Beliau bukan papanya, Husai. Beliau hanya orang asing. Saya memintanya agar mengantar saya kesekolah." Ucap wanita itu menjelaskan.
"Saya mohon maaf karena membuat Bu guru dan Bu kepala sekolah repot. Melihat kondisi Husain. Sepertinya dia tidak akan bisa masuk sekolah dalam dua atau tiga hari kedepan." Ucap kucing liar itu sambil menangkupkan tangan di depan dada.
Kucing liar? Aku benar-benar aneh! Bisa-bisanya aku memanggil wanita yang baru ku lihat dengan sebutan kucing liar! Tentu saja aku mengatakan 'wanita yang baru kulihat' karena itu memang benar adanya, aku bertemu dengannya empat jam yang lalu, aku bahkan tidak tahu namanya!
Uupppss... Maaf, aku hampir saja berbohong. Aku tahu namanya, karena tadi samar-sama wanita dengan baju olahraga itu memanggilnya Lulu, jadi kucing liar itu bernama Lulu! Lulu Marsyafela, atau Lulu Nadyatama. Entahlah, siapa pun namanya, aku berharap aku tidak akan pernah menemuinya lagi. Titik. Ucapku lirih panjang kali lebar. Untuk pertama kalinya aku terlibat dalam kekacauan sekonyol ini. Jika Mama dan Papa tahu habislah diriku.
"Apa dramanya masih lama? Jika kau masih lama, apa aku boleh pergi? Ada banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan. Aku sibuk." Ucapku dengan nada suara santai.
"Bu Lulu harus segera pulang. Sepertinya Papa Husain terburu-buru." Sambung wanita dengan baju olah raga itu.
Mendengar ucapannya aku hanya bisa menelan kekesalan ku. Papa Husain? Bagaimana aku bisa menjadi Papa dari bocah itu? Marah-marah pun tak ada gunanya. Yang bisa kulakukan hanya tersenyum, senyum yang coba ku paksakan.
Entah dimana aku terjebak? Kenapa aku bisa larut dalam kekonyolan ini? Dimana suaminya? Kenapa dua wanita paruh baya itu menyebutku suami kucing liar ini? ini benar-benar menyebalkan. Aku bergumam sambil berjalan pelan di belakang pasangan ibu dan anak itu.
Butuh waktu tiga jam mengantar mereka menuju tempat tinggal kumuhnya. Tempatnya memang terlihat kumuh, dia tinggal di area padat penduduk. Jika itu aku, aku pasti tidak akan bisa bernafas dengan tenang. Entah seberat apa kehidupanya sampai ia terus-menerus menghela nafas kasar. Bagaimana pun juga, itu tetap bukan urusanku. Aku benar-benar berharap ini adalah pertemuan terakhir kami.
...***...
Akhirnya aku bisa bernafas dengan lega, setelah mengantar kucing liar itu aku kembali ke-kantor, kantor penyiaran berita yang di kepalai kakak lelakiku. Pelan aku berjalan menyusuri lorong, tak butuh waktu lama sampai di kantornya.
"Pak Robin, bapak disini?" Alisya, sekretaris kakak bertanya sambil merunduk memberi hormat. Wajah cantik itu mengukir senyuman.
"Iya, aku disini! Apa kakak ada di kantornya?"
__ADS_1
"Bos tidak ada di kantor. Beliau sedang menemui produser berita pagi di ruang rapat. Jika bapak mau, saya bisa memanggil bos!" Ucap Alisya ramah.
"Tidak. Tidak. Jangan ganggu kakak. Aku akan menunggu di kantornya saja." Ucapku pelan kemudian masuk kedalam kantor seukuran apartemen milik kakak lelaki yang sangat kusayangi itu.
Keperibadian kami jauh berbeda, aku sedikit nakal. Sementara kak Ibra, dia cukup tertutup. dulu dia tidak seperti itu, entah masalah apa yang mengubah sikapnya sampai ia sendiri lupa untuk bahagia. Aku hanya tahu kalau dia pecinta kopi.
Aku merasa bosan di kantor sebesar ini tanpa ada yang menemani, ukuran kantorku hanya setengah dari kantor kak Ibra. Meskipun demikian aku sangat mencintai pekerjaanku.
Cekrekkkk!
Suara pintu di buka dari luar membuat ku menatap tajam kearah Daun pintu. Berharap kak Ibra lah yang datang. Rasanya sangat membosankan duduk sendiri di tempat seluas ini, sendiri dengan perasaan kosong.
"Kapan kau datang? Melihat wajahmu, sepertinya kau sedang kesal. Apa ada yang mengganggumu?" Kak Ibra bertanya begitu dia masuk kekantornya. Senyum menawan khas miliknya memenuhi indra penglihatanku. Dia sangat tampan, gadis manapun yang melihatnya pasti akan mudah jatuh cinta hanya dalam pandangan pertama, aku yakin itu.
"Yah... Kakak benar! Aku bertemu dengan kucing liar dalam perjalanan kemari. Aku terjebak dengan kucing liar itu selama beberapa waktu, dan hal itu mempengaruhi emosiku." Ucapku mencoba menjelaskan.
Mendengar ucapanku Kak Ibra hanya bisa mengerutkan dahi, ia terlihat bingung. Namun sedetik kemudian ia mulai tersenyum, entah apa yang dipikirkan otak kecilnya sampai ia terlihat kegirangan.
Tanpa berpikir panjang aku langsung berjalan dan duduk di bangku bagian pojok kantor kak Ibra, kantor yang sengaja ia sulap bagian belakang layaknya kafe hanya untuk menghilangkan kebosanannya. Maklum saja, kak Ibra lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor dari pada dirumah.
"Apa kau bercanda? Katakan padaku, secantik apa kucing liar itu?" Kak Ibra bertanya sambil menepuk bahuku, tak ada yang bisa kulakukan selain tersenyum. Senyum yang coba ku paksakan agar terlihat sealami mungkin.
"Jika kucing liar itu tidak cantik, tidak mungkin adikku yang tampan ini tersenyum selebar itu." Kak Ibra kembali menepuk bahuku, wajahnya terlihat menunjukan dukungan seratus persen penuh. Ini benar-benar omong kosong.
"Jika kalian bersama, maksudku bersama dengan kucing liar itu, aku orang yang paling bahagia. Dan putra kalian pasti akan setampan dirimu." Ucap kak Ibra lagi.
Putra? Tampan? Dukungan seratus persen? Semuanya hanya omong kosong. Aku bahkan tidak bisa mengatakan kalau kucing liar itu sudah menikah dan punya seorang putra. Dan menyebalkannya, aku tidak bisa mengatakan pada kak Ibra kalau aku melukai kucing liar itu dengan mobil yang ku beli sebulan yang lalu.
__ADS_1
...***...