
Hari ini aku berdiri di depan gerbang sekolah bercat keemasan. Netra hitamku menatap tajam kearah jalan raya, berharap Raja dan Ratu di hatiku itu akan segera datang. Dua jam berlalu namun tak ada yang mencariku, aku mulai menghela nafas kasar, mencoba mengekspresikan kekhawatiranku.
"Apa Om dan Tante sudah datang?" Seseorang bertanya sambil menepuk pundakku dari belakang.
"Aku yakin Raja dan Ratumu sedang terjebak dalam kemacetan panjang!" Sambungnya lagi, kali ini ia berucap sambil tersenyum.
Aku harus yakin? Bagaimana bisa? Tidak biasanya mereka terlambat tanpa memberi kabar! Rasanya aku ingin menangis. Tapi, menangis pun tidak akan ada gunanya. Lagi pula aku bukan gadis cengeng yang akan menangis di sudut sekolah sendirian. Alih-alih menangis aku malah ingin meminjam motor Nissa dan mencari keberadaan Raja dan Ratuku itu! Aku bergumam sendiri sambil merapikan anak rambutku yang sejak tadi di terbangkan angin.
"Lu. Sampai kapan kau akan berdiri disini? Aku yakin Om dan Tante tidak akan datang dengan segera! Percuma kau berdiri disini, lihatlah kulit wajahnya. Wajahmu terlihat memerah seperti udang rebus karena kau berdiri di tempat sepanas ini! Apa pak Halil tidak memintamu menunggu di postnya? Lihat saja nanti, aku pasti akan memarahinya!" Gerutu Nissa sambil meremas jemari lentiknya.
Nissa! Namanya Nissa, dia sahabat satu-satunya yang paling dekat dan akrab denganku.
Yaaaaa... Aku memiliki bayak teman, diantara semuanya hanya Nissa yang paling dekat. Anak pekerja keras itu tidak bisa jauh dariku walau untuk sesaat, dia bahkan sampai membuat alasan pada pengurus panti agar bisa menginap dirumahku. Saat ini persahabatan kami sudah berusia tiga tahun. Tepatnya, semua kisah ini bermula sejak kami masuk di sokolah yang sama. Bahkan teman-teman yang lain sampai menjuluki kami permen karet. Tahu kenapa? Itu semua karena Nissa, Nissa selalu mengikuti kemanapun aku pergi tanpa bisa berpisah denganku. Begitulah persahabatan kami bermula, dan aku pun sangat menyayanginya. Kami layaknya saudara kandung walau berasal dari rahim berbeda, apa aku beruntung memiliki Nissa disisi ku? Tentu saja jawabannya, iya. Kami sama-sama saling menyanyangi dan tidak ada yang lebih baik dari itu semua.
"Lu... Ayo kita masuk! Kalo Tante Rani dan Om Angga tahu kau berdiri di depan gerbang sekolah sambil membawa buket bunga dengan tampang layaknya anak yatim, apa kau pikir mereka akan senang? Sebentar lagi kau pasti akan menjadi santapan hangat bagi Elisa dan gangnya!" Nissa bicara sambil sesekali memoyongkan bibirnya. Maklum saja, di bandingkan dengan diriku Nissa jauh lebih mengkhawatirkanku. Inilah yang di katakan sahabat rasa saudara.
"Aku tidak pernah takut pada si centil Elisa, kau saja yang selalu takut padanya. Semakin kau takut padanya semakin dia senang untuk mengganggumu. Terkadang aku berpikir apa kau sahabatku atau sahabatnya? Akhir-akhir ini kau selalu saja memihaknya." Ucapku sambil membelakangi Nissa, aku sengaja bicara seperti itu agar anak baperan itu segera masuk dan tidak perlu menemaniku di cuaca yang panas ini.
Namanya juga Nissa, sekuat apa pun aku mengusirnya sekuat itu juga dia akan bertahan, dia benar-benar seperti rumput liar, semakin dia di injak semakin dia akan bertahan.
__ADS_1
Eeiiiittttt! Tunggu dulu, aku bukan sahabat sekejam itu, tidak mungkin aku menginjaknya atau mengusirnya. Aku hanya memberikan perumpamaan kalau Nissa ku itu orang yang sangat kuat, dia seperti payung yang akan melindungiku dari hujan dan panas.
"Lima menit! Aku janji lima menit lagi, kalau Mama dan Papa tidak datang dalam waktu lima menit kita akan masuk kedalam, bagaimana? Apa kau setuju?" Aku menyenggol tubuh kerempeng Nissa sambil tersenyum tipis. Tidak ada balasan dari sahabatku itu selain anggukan kecil. Inilah yang ku suka dari Nissa, tidak terlalu sulit untuk membujuknya, dan aku pun sangat mencintai sahabatku itu, cinta karena Allah.
...***...
Huhhhhhh!
Benar saja, lima menit sudah berlalu namun Mama dan Papa tidak juga kunjung datang. Padahal sebelumnya mereka bilang mereka sudah berangkat dan akan segera sampai.
Raja dan Ratu! Begitulah aku memanggil Mama dan Papa. Setiap anak di perintahkan untuk berbakti pada orang tuanya. Semampuku, aku melakukan tugasku sebagai putri yang selalu siap membuat orang tua ku bahagia.
Apa mereka terjebak dalam kemacetan panjang? Atau mereka singgah di suatu tempat untuk menyiapkan kejutan kelulusanku? Atau bisa jadi Mama dan Papa terlibat dalam masalah rumit? OhhhTuhan, lindungilah Raja dan Ratuku. Mereka laksana mentari yang selalu menyinari kehidupanku, jangan tempatkan mentariku dalam kegelapan karena aku tidak akan pernah tahu kapan kegelapan itu akan menjauh dari hidupku. Aku bergumam dalam hati sambil mengusap keringat yang mulai menetes dari keningku.
Bukankah kau sudah janji kita akan masuk kedalam setelah lima menit? Lututku sangat sakit!" Ucap Nissa sambil menepuk-nepuk lututnya. Ia menarik lenganku tanpa memperdulikan wajahku yang saat ini masih tertoleh kearah jalan raya.
"Mama dan Papanya non Lulu belum datang yaaa? Biasanya mereka selalu datang tepat waktu." Pak Halil, petugas kebersihan yang selalu bersikap ramah itu terlihat heran. Wajahnya seolah mengabarkan kalau ada yang salah dengan kondisi ini.
Dan aku? Aku berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan diriku kalau semuanya akan baik-baik saja.
__ADS_1
Sementara itu di dalam kelas sudah ada Elisa dan gangnya, gadis nakal itu selalu saja mencari gara-gara dengan anak-anak lain hanya karena satu alasan yang ia punya, yakni dia anak penguasa di sekolah tempat kami menimba ilmu. Tepatnya Elisa adalah putri dari pemilik yayasan.
Kita tidak bisa memilih dari rahim siapa kita di lahirkan, tapi kita bisa memilih dan memutuskan menjadi pribadi yang baik atau buruk. Dan sudah sepatutnya kita bersikap baik walau kita terlahir dengan sendok emas di tangan. Sejatinya nilai seorang manusia akan terlihat jika dia memanusiakan manusia. Sebaliknya, dia lebih buruk dari hewan jika kekuasaan membuatnya buta dan tuli dari kodranya untuk menebar kebaikan.
"Cailahhhh... Ratu kita sudah datang, lihat wajahnya? Wajah itu terlihat seperti pantat ayam. Buruk dan kucel. Tidak level!" Celetuk Elisa sambil mengibaskan rambutnya di depan wajahku begitu aku dan Nissa berdiri di depan pintu kelas. Bau parfum yang menguar dari tubuhnya membuatku menutup hidung. Entah berapa banyak yang dia gunakan sampai-sampai aku merasa pusing mencium aroma tubuhnya.
"Kenapa kau menutup hidung? Apa kau pikir aku sampah? Apa kau beranggapan aku sangat busuk? Menatap wajahmu benar-benar membuat darahku semakin mendidih!"
Hhhhuuuuhhhhhhhhh!
Aku membuang nafas kasar, rasanya sangat menyebalkan jika harus meladeni si payah Elisa saat aku sendiri merasa khawatir pada Mama dan Papa.
"Apa kau tidak mendengarku? Aku sedang bicara padamu?" Elisa berteriak dengan suara tinggi, dia mencengkram lenganku keras. Sangat keras sampai aku bisa merasakan perihnya. Pelan aku menarik nafas dalam kemudian membuangnya kasar dari bibir. Aku berusaha menahan amarah agar tidak memakinya. Kenapa si payah Elisa membangunkan singa yang sedang tidur?
"Lepaskan tanganmu dariku! Aku bukan orang yang mudah kau tindas dengan sikap kasarmu. Kau benar-benar gadis tidak tahu malu, jika aku mengabaikanmu itu artinya aku tidak suka berada di dekatmu, aku tidak suka terlibat denganmu dan aku tidak suka menatap wajah penuh amarahmu. Biarkan aku sendiri tuan putri, setidaknya hanya untuk hari ini." Aku menagkup kedua tangan di depan dada sambil menatap Elisa dengan tatapan tajam.
Wajah cantik itu menggambarkan kebencian. Entah hal buruk apa yang sudah ku lakukan sampai anak itu marah padaku? Seingatku, aku tidak pernah mengusik kehidupan damainya. Lalu untuk apa dia mengusik kehidupanku? Aku hanya ingin belajar dan bersenang-senang dengan orang-orang yang menyayangiku, bukan menghabiskan hariku dalam kebencian.
Entah kenapa hari ini hatiku merasakan luka. Luka yang aku sendiri tidak tahu dari mana asalnya. Dan untuk pertama kalinya aku memperlihatkan sifat pemarahku di depan kelas. Karena itulah aku meminta Elisa tidak mengusikku, aku tidak ingin menyakiti siapa pun dengan ucapan dan tindakanku.
__ADS_1
Ma... Pa... Kalian ada dimana? Cepatlah datang. Setengah jam lagi acara kelulusan akan segera dimulai. Aku bergumam sendiri sambil menatap wajah teman sekelasku secara bergantian, wajah-wajah itu terlihat heran, numun sedetik kemudian mereka mulai tersenyum bangga karena aku sudah memberikan pelajaran pada Elisa si gadis manja dan buruk perangainya.
...***...