
"Hayyyy....!" Elisa berteriak dengan nada suara tinggi. Saat ini semua mata menatapnya dengan tatapan tajam. Karena amarah gadis seanggun dirinya kini terlihat seperti singa kelaparan yang akan memakan mangsanya.
Untuk sesaat aku berpikir sambil melipat lengan di depan dada. Dari mana permusuhan ini berawal? Dan bagaimana bisa Elisa bersikap tidak wajar? Aku bahkan tidak bisa menemukan alasan yang tepat untuk menjelaskan kekacauan yang di timbulkan gadis angkuh itu.
"Apa kamu sudah selesai dengan semua kekonyolan ini? Apa aku bisa duduk dengan tenang? Jika kamu masih marah, kenapa kamu tidak mengajak gang tidak bergunamu itu berendam di kolam. Siapa tahu dengan melakukan itu otak mu akan mulai mendingin." Ucapku sambil menatap wajah Elisa dengan tatapan tajam, nada bicara ku santai saja. Tapi, aku yakin itu akan melukai harga dirinya.
Sesekali gadis angkuh itu harus di berikan pelajaran. Sebenarnya aku ingin menasihati Elisa dengan bahasa yang santun, sanyangnya aku tidak akan bisa melakukan itu karena gadis seangkuh Elisa tidak akan pernah mau mengalah pada sosok yang berada di bawah standarnya. Dan aku? Aku tidak punya pilihan selain bicara dengan gaya bicaranya.
"Aku tidak pernah membenci siapa pun sebesar kebencian ku padamu." Elisa kembali membuka suara diantara senyapnya udara. Matanya memerah karena menahan amarah.
"Aku juga sama. Aku membenci mu sebesar kabencianmu padaku. Jadi jangan mengatakan apa pun jika kau tidak ingin mendengar ucapan yang sama dari mulut orang lain. Setiap keburukan yang kau lakukan akan kembali kepadamu dengan balasan dua kali lipat, jika aku tidak membalasmu maka yang kuasa yang akan membalaskannya untukku." Aku memelototi Elisa sambil memutari wajah cantiknya dengan jari telunjuk ku.
Sebenarnya aku tidak pernah bermaksud untuk meladeni gadis kasar seperti dirinya dalam perdebatan tidak berguna ini, entah kenapa hari ini emosiku seperti tersulut begitu saja. Disaat hati ku gusar karena memikirkan Mama dan Papa yang tak kunjung datang, Elisa malah memanasi ku seperti api yang di siram dengan minyak tanah.
"O iya... Aku tahu, apa semua ini karena Anton? Jangan khawatir, aku tidak akan mengambilnya darimu. Lagi pula berhubungan dengan kalian berdua membuatku pusing saja." Celetuk ku lagi, baru saja aku berucap dengan ucapan lantang. Sosok tampan yang menjadi ketua osis itu muncul sambil menatap ku dengan tatapan yang mengandung kesedihan.
Aton? Namanya Anton, dia pria tertampan di sekolah kami. Setiap gadis menatapnya dengan tatapan takjub, tak terkecuali dengan diriku. Dia pria yang baik, dan juga sopan pada setiap orang. Tidak pernah memandang rendah pada simiskin, dan tidak bersikap berlebihan pada sikaya. Sejujurnya sejak berada di kelas sepuluh Aton berkali-kali mengungkapkan perasaan sukanya padaku. Namun begitulah diriku, aku lebih memilih menanggapinya dengan santai tanpa melibatkan perasaan apa pun. Menurutku, menjadikannya teman jauh lebih baik dari pada menjadi seorang kekasih.
"Kalian berdebat lagi? Apa kau yang memulainya Elisa? Aku yakin itu kau! Aku tahu sikapmu, dan semua itu membuat ku mulai gusar." Aton manatap ku dan Elisa secara bergantian, netra indahnya terlihat bersinar, membelai lembut lubuk hati terdalam ku. Siapa pun yang manatapnya pasti akan menganggap dia sosok sempurna tanpa kurang sedikitpun.
"Ton... Bukan aku yang memulainya. Kau dengar sendiri kan ucapannya, dia bilang dia pusing berhubungan dengan kita berdua. Jadi bukan salah ku kalau dia berkeliaran di dekat ku. Dia saja yang sirik dengan hubungan kita." Ucap Elisa sok mencari perhatian.
Hueeekkkkkk!
Sirik?
Rasanya aku ingin muntah mendengar ucapan Elisa! Sejak kapan aku bersikap sirik padanya? Aku bahkan tidak pernah memikirkan itu walau dalam mimpi sekali pun. Gadis manja ini mulai berulah di depan pujaannya dan hal itu semakin membuat ku kesal.
"Kau bisa melanjutkan pembicaraan serius mu dengan pujaan hati mu, aku tidak ingin terlibat di dalamnya, aku akan mengundurkan diri dari situasi menegangkan ini." Ucap ku sambil tersenyum. Senyum yang coba ku paksaan. Untuk sesaat aku menatap wajah tampan Anton, wajah tampan itu terlihat sedih. Aku tidak ingin larut dalam suasana aneh ini, apa lagi sampai tenggelam dalam mata indahnya. Tanpa berpikir panjang aku langsung berjalan meninggalkan kerumunan yang berada di dalam kelas dua belas.
Aku yakin Anton bisa menenangkan si angkuh Elisa. Karena aku sangat mengetahui gadis aneh itu selalu saja mencari perhatian padanya. Dan tentu saja aku tidak perduli dengan itu semua. Sekarang aku kembali memikirkannya, kenapa aku tidak meninggalkan Elisa sejak tadi saja. Jika aku meninggalkannya, hal konyol seperti perdebatan tidak berguna itu bisa di hindari. Ya sudahlahhhh, tok memikirkannya sekarang tidak akan berguna.
__ADS_1
...***...
Hhhhaaaaaaaaaa!
Saat ini aku berdiri di taman belakang sekolah, Aku berteriak sekuat yang bisa. Aku melakukan itu karena aku tahu tidak ada yang akan mendengar suara ku selain Nissa, lima belas menit berlalu namun aku masih saja kesal. Untuk sesaat aku terdiam, menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya kasar dari bibir.
"Apa kau sudah tenang? Aku henar-benar heran padamu, kenapa kau harus meladeni ulat keket itu? Ujung-ujungnya kau sendiri yang akan merasa bersalah. Biasanya kau selalu bersabar dengannya, lalu ada apa dengan hari ini? Kenapa kau sangat kesal, ku lihat wajahmu, kau tampak seperti akan menghajarnya." Nissa bertanya sambil memegang pundak ku. Tidak ada balasan dari ku selain tatapan penuh penyesalan.
"Kak Lulu, pak kepala sekolah memanggil kakak."
Kepala ku dan Nissa tertoleh kearah siswa perempuan yang memanggil namaku.
"Ada apa? Apa pak kepala sekolah mengatakan sesuatu?" Aku bertanya sambil mendekati adik kelas yang saat ini berdiri lima langkah dari ku.
"Tidak, kak. Beliau hanya bilang harus mencari kakak. Itu saja."
"Baiklah. Terima kasih." Balasku singkat, setelah itu aku memperbaiki seragamku yang terlihat kucel.
"Ayo, kita harus menemui kepala sekolah, aku akan menemanimu, aku juga akan mengawasimu." Sambung Nissa setelah siswi wanita itu pergi.
Entah kenapa dadaku terasa sesak. Ada apa ini? Dan anehnya kesedihan dan rasa kehilangan memenuhi rongga dadaku. Air mata yang seharusnya tidak keluar malah keluar tanpa ada sebab apa pun.
"Lu... Ada apa dengan mu?" Nisa kembali bertanya, ia menggoyang-goyangkan tubuh lemahku. Wajahnya terlihat khawatir lebih dari sebelumnya.
"A-aku tidak tahu, Nis! Entah kenapa hatiku merasakan sakit luar biasa. Aku takut terjadi hal yang buruk pada Mama dan Papa. Apa sekarang kita bisa pergi ke kantor kepala sekolah?"
"Iya, ayo!" Balas Nissa, kali ini dia berjalan sambil memegang lenganku.
Lima menit kemudian aku dan Nissa sudah berdiri di depan kepala sekolah. Wajah sedih kepala sekolah dan wali kelas ku seolah menjelaskan telah terjadi hal buruk, hal buruk yang ku yakini akan mengoyak jiwa dan ragaku.
"Lulu Andriana, kamu tahu kan kalau kamu adalah siswi kebanggaan sekolah ini?"
__ADS_1
Mendengar pertanyaan tidak penting dari kepala sekolah membuatku menghela nafas kasar. Tanpa beliau mengatakannya semua orang juga tahu itu. Tidak ada ucapan balasan dari ku selain anggukan kepala kecil.
"Bapak tahu hari ini hari yang paling di tunggu-tunggu oleh setiap orang tua murid, melihat anak mereka lulus dengan nilai membanggakan. Sama seperti orang tuamu yang ingin melihat mu.
Tapi sayangnya.... Saatttttt menuju kemari orang tuamu mengalami kecelakaannnn! Sekarang mereka ada di rumah sakitttttt!"
Duarrrrrrr!
Bagai di sambar petir di siang bolong, sekujur tubuhku lemas karena tak bertenaga. Hampir saja aku jatuh, untungnya Nissa segera meraih tubuh lemahku sehingga aku tidak tersungkur.
Dua sosok yang sangat ku hormati itu, pak kepala sekolah dan pak wali kelas terlihat khawatir. Bahkan Nissa yang saat ini menahan tubuhku tak berhenti meneteskan air mata.
"Dimana kedua orang tua ku, pakkkk!" Aku bertanya dengan sisa-sisa tenaga yang ku punya.
"Mereka ada di rumah sakit, dekat sokalah ini." Balas pak wali kelas sambil duduk dan menggenggam jemariku.
Tidak ada lagi yang bisa ku katakan saat ini, hatiku merasa terluka. Aku berlari meninggalkan ruang kepala sekolah tanpa izin yang kemudian di susul oleh Nissa. Dua pasang mata pemilik pria baruh baya itu melotot, mereka khawatir namun tidak bisa melakukan apa-apa.
...***...
Aku berdiri di depan UGD sambil menangis, netraku menatap tajam kearah semua sisi, sayangnya aku tidak bisa menemukan sosok yang sejak tadi dirindukan netra teduhku.
Hiks.Hiks.Hiks.
Aku masih terisak ketika dua orang perawat mendorong dua sosok yang sejak tadi ku cari dengan sekuat tenaga. Nyawa ku rasanya berada di tenggorokan ku, sekujur tubuhku terasa mati rasa. Dia kah kedua orang tua yang tadi pagi ku cium punggung tangannya dengan penuh kasih sayang dan cinta?
"Lu... Sabar yaaaa!" Nissa membuka suara hanya untuk menenangkan ku, dia tahu ucapannya tidak akan berdampak apa-apa namun ia tetap mengatakannya.
"Apa adek keluarga korban?" Mendengar pertanyaan perawat itu aku hanya bisa mengangguk pelan.
"Orang tua adek mengalamai tabrak lari. Dan buruknya, orang tua adek meninggal dilokasi kecelakaan. Kami tidak bisa melakukan apa pun untuk mereka, apa adek punya keluarga yang bisa mengurus jenazah mereka?" Sambung perawat itu lagi, mendengar ucapannya aku hanya bisa menggelengkan kepala tak bertenaga.
__ADS_1
"Aku akan membawa orang tua ku suster, aku akan memakamkan mereka dengan layak." Balas ku dengan suara nyaris tak terdengar. Aku menangis dalam pelukan Nissa, besarnya duka yang ku rasakan kali ini tidak bisa di bandingkan dengan apa pun yang ada di dunia ini. Untuk pertama kalinya aku merasakan musibah sebesar ini, musibah yang nyaris membuat ku berada di titik aku pikir aku akan gila karenanya.
...***...