Menyulut Gairah Suamiku

Menyulut Gairah Suamiku
Bab 10


__ADS_3

Beberapa hari setelahnya, mama Evelin meminta Excell dan Leni menginap dirumahnya yang tentu saja dituruti oleh pengantin baru itu.


Selama disana, pengantin baru itu berusaha dengan baik untuk terlihat seperti pasangan bahagia.


Seperti pagi ini, saat Excell bersiap hendak berangkat bekerja dan Leni membantu memasangkan dasinya. Excell terdiam melihat wajah cantik istrinya yang sedang fokus pada dasinya.


"Udah !" Leni tersenyum puas melihat dasi itu telah terpasang sempurna.


Excell meraih dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu kredit kemudian disodorkan pada Leni.


"Ini nafkahku untukmu sebagai suami !"


Mendengar itu Leni tertawa membuat Excell mengerutkan dahi.


"Bahasamu kak, formal sekali !" Kata Leni masih disertai tawa membuat Excell menaikkan satu alisnya menatap tajam istrinya.


Leni yang sadar akan tatapan suaminya segera meraih kartu kredit itu.


"Terima kasih suamiku yang tampan dan kaya !" Leni terpingkal-pingkal hingga duduk di lantai


Mendengar itu Excell menghembuskan nafas kasar, dia biarkan Leni puas tertawa disana.


"Eh maaf.. maaf !"


"Kamu bisa beli apapun yang kamu mau dan yang kamu butuh. Meski hubungan kita palsu tapi aku akan tetap kasih kamu nafkah jadi silahkan gunakan kartu itu sesukamu !" Jelas Excell membuat Leni menatapnya penuh makna.


"Terima kasih !" Leni menampakkan senyum manisnya.


"Ya udah yuk, ayo sarapan !" Leni menggandeng lengan Excell dan bersama menuruni tangga menuju meja makan.


Rupanya papa Rio dan mama Evelin sudah berada disana dan melihat pengantin baru itu bergabung membuat mereka tersenyum bahagia.


Dengan cekatan Leni mengambilkan sarapan untuk suaminya.


"Bagaimana kuliahmu Len ?" Tanya mama Evelyn.


"Aku sekarang sedang nyusun skripsi ma, jadi sebentar lagi selesai !"


"Oh begitu !"


Mereka larut dalam obrolan ringan hingga sarapan selesai.


Excell menggandeng tangan Leni menuju teras, sebelum memasuki mobil, Leni mencium tangan suaminya dan Excell membalas dengan mencium kening istrinya, pemandangan yang membuat orang tua mereka bahagia karena berpikir jika perjodohan ini berhasil.


*****


Excell sedang berada di sebuah restoran dan menempati ruangan VIP yang sekarang ia pakai untuk membahas masalah kerjasama dengan perusahaan lain sekaligus makan siang.


"Semoga kerjasama kita kedepannya berlangsung dengan baik !" Ucap Hendri, kolega bisnis Excell.


"Saya berharap hal yang sama, semoga nantinya ini menguntungkan semua pihak !" Ucap Excell.


Keduanya melangkah keluar diiringi obrolan ringan namun saat hampir mencapai pintu keluar Excell terdiam, matanya menatap tajam pada 1 titik. Sudut sana ia melihat Tasya sedang makan siang bersama seorang pria dan hal yang membuat darah Excell mendidih saat pria itu mencium tangan Tasya apalagi respon gadis itu malah tersenyum malu-malu dan tampak berseri.


"Tuan Excell, anda baik-baik saja ?" Tanya pak Hendri saat melihat Excell tiba-tiba terdiam dengan emosi tertahan.


Tampaknya Tasya mendengar ucapan itu dan sontak menoleh. Terlihat jelas gadis itu kaget melihat Excell menatap nyalang padanya membuatnya seketika salah tingkah.


Saat Tasya terlihat ingin menghampiri, Excell segera angkat kaki dari sana setelah berpamitan dengan tuan Hendri, tidak dipedulikannya Tasya yang terus memanggilnya. Dengan cepat Excell memasuki mobilnya sebelum Tasya menggapai benda itu dan mengetuk kaca mobil. Excell benar-benar marah dan tak menyangka Tasya akan melakukan itu sebelum hubungan mereka berakhir.


Memutuskan pulang karena moodnya hancur, Excell melajukan mobilnya menuju rumah orang tuanya. Memarkir mobilnya dengan selamat dihalaman rumah orang tuanya. Excell berteriak kencang didalam mobil menyalurkan amarahnya. Baru setelah perasaannya enak ia keluar dari mobil.


Suasana rumah yang sepi tak ia pedulikan dan dengan cepat menuju kamarnya. Melepas pakaiannya dengan cepat hingga menyisakan kolor dan melempar dengan kasar ke keranjang kotor.

__ADS_1


Hp-nya berdering menampilkan nama Tasya. Dengan emosi ia reject dan menonaktifkan benda itu kemudian melempar dengan kasar ke kasur.


Excell duduk bersandar di tempat tidur, memejamkan mata seraya memijat kepalanya berharap emosinya menguap dari sana hingga pintu kamar mandi terbuka membuatnya membuka mata.


*****


Setelah kepergian Excell ke kantor dan mertuanya pergi menghadiri sebuah acara membuat Leni berpikir untuk jalan-jalan mumpung ia baru diberi kartu sakti oleh suaminya.


Memutuskan pergi sendiri, Leni benar-benar menikmati waktu sendirinya, dengan meminjam mobil mertuanya, ia berkendara sambil menyetel lagu kesukaannya menuju mall. Ia Berbelanja kebutuhannya dengan nyaman.


Setelah mengisi perut, Leni memutuskan pulang. Saat ia melewati SMA-nya dulu, ia melihat penjual es cendol favoritnya dulu, Leni menepikan mobilnya dan turun untuk membeli es kesukaannya.


PROK


Baru setengah minuman itu pindah ke perutnya, sesuatu mengenai kepalanya membuatnya terdiam. Diraba rambutnya dan melihat tangannya, sebuah telur mengotori rambutnya bahkan menetes ke bajunya. Seketika bau amis memenuhi indera penciumannya


Segerombolan siswa-siswi berlarian mengejar seorang siswa lainnya yang sudah berlumur tepung sambil terus melempari tepung dan juga telur. Leni menggeram kesal dan segera pulang karena tak tahan dengan bau telur itu.


Leni bersyukur rumah mertuanya terlihat sepi, segera menuju kamar dan masuk ke kamar mandi, melepas semua pakaiannya dan langsung menuju shower, ia menggunakan banyak sampo dan sabun agar bau telur amis itu bisa bilang. Setelah itu ia kembali berendam dengan aroma terapi harum yang juga menenangkan perasaannya.


Cukup lama berendam, Leni memutuskan menyudahi acara mandinya.


Leni keluar kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya. Baru saja ia menutup pintu kamar mandi saat handuknya terlepas dari tubuhnya tapi dengan santainya ia meraih kembali dan memakainya. Ia tidak sadar seseorang baru saja membulatkan mata melihat pemandangan itu.


Leni berjalan menuju meja rias dan saat hendak meraih pengering rambutnya, handuknya terjatuh lagi membuatnya kesal. Dengan tubuh polosnya ia menuju lemari dan meraih tanktop pendek juga celana pendek kemudian memakainya.


Leni kembali ke meja rias dan mengeringkan rambutnya dengan pengering rambut.


Sedangkan Excell yang bersandar di kasur sudah terbakar melihat pemandangan itu. Dirinya yang emosi karena Tasya kini nyaris sesak nafas karena melihat pemandangan menggiurkan didepan mata. Excell mulai goyah, pertahanannya untuk tidak menyentuh Leni runtuh.


Perlahan Excell turun dari tempat tidur, melangkah menuju Leni yang masih fokus pada rambutnya. Leni terlihat sangat menggoda membuat Excell tidak bisa lagi menahan diri.


Excell yang mendekat terlihat oleh Leni di cermin membuat gadis itu kaget dan berbalik.


Namun Excell tidak menjawab, tatapan matanya membuat Leni merinding. Seolah cowok itu ingin mencabik-cabiknya tanpa sisa.


"Kak, kakak kenapa ?" Leni bertanya pelan melihat Excell berbeda dari biasanya.


Excell terus mendekat membuat Leni tanpa sadar mundur. Dengan cepat Excell meraih tangan Leni dan menarik Leni kearahnya. Dipeluknya tubuh istrinya dengan erat, wangi aroma sabun membuat hasratnya kian berkobar kencang dan tanpa sadar Excell memeluk erat sambil mencium dalam aroma tubuh Leni.


"Bisa aku minta hakku sekarang ?" Ucap Excell tiba-tiba.


Leni yang sejak tadi bingung dengan tingkah Excell dan kini mendengar ucapan suaminya tersenyum penuh arti, dibalasnya pelukan itu sama eratnya.


"Bisa kak, silahkan !" Sambut Leni.


Excell melepaskan pelukannya, ditatapnya sejenak wajah sang istri dan menangkup pipi Leni dengan kedua tangannya kemudian perlahan menariknya kemudian mengecup bibir itu cukup lama. Bisa Excell rasakan Leni gemetar saat merasakan itu.


Dilepasnya kecupannya dan ia kembali menatap wajah Leni yang sudah merona merah, ia meraih tengkuk Leni dan menciumnya kembali kali ini dengan lumayan lembut namun lama kelamaan terasa semakin menuntut membuat Leni terasa sulit bernapas.


Menyadari itu Excell melepas pagutannya sejenak membiarkan Leni meraup oksigen kemudian kembali memagutnya seraya menggiring gadis itu menuju tempat tidur dan kembali menciumnya.


Tangan Excell sudah masuk di balik tanktop Leni dan meraba lembut disana, kulit halus itu seperti bensin yang semakin mengobarkan api gairahnya. Tangan nakal Excell mulai hinggap di dada Leni, kembali meraba lembut gunung kenyal itu membuat tubuh Leni terasa gemetar, gadis itu memejamkan mata sambil menggigit bibirnya sendiri menahan geli yang mulai menguasainya.


Pikiran waras Excell sudah ia tendang hingga mental ke angkasa, yang ia inginkan sekarang menyalurkan hasratnya yang sudah cukup lama ia tahan demi seorang Tasya yang ia yakini ia cintai tapi malah membuatnya emosi.


Dinikmati kulit halus istrinya membuat semangat dalam dirinya berkobar, ciuman Excell turun ke leher, bermain disana sebentar hingga membuat Leni merintih kemudian ia menuju bagian dada, Excell terdiam sejenak menatap gunung kembar itu. Disentuhnya dengan pelan seraya memejamkan mata, detik berikutnya ia tenggelamkan wajahnya disana. Mulai menyesap lembut seraya memainkan yang lainnya membuat Leni menggenggam kuat bantalnya.


Setelah itu Excel menelusuri area perut, disana lembut sekali membuat excell semakin terlena. Tangannya berkelana kesana kemari menikmati sentuhan lembut yang membuatnya terbang melayang.


Excell kembali mencium bibir Leni, ********** habis. Ia tak tahan lagi, ia melepas semua kain terakhir yang melekat di tubuh mereka, kemudian memposisikan diri.


Ditatapnya pemandangan didepannya dengan lekat membuat Leni sangat malu.

__ADS_1


"Kak, jangan liatin seperti itu !"


Excell terdiam, ia maju untuk kembali mencium istrinya. Ditatapnya lekat wajah istrinya kemudian secara perlahan ia memasuki Leni.


Leni tersentak, ia menganga saat rasa sakit mulai menjalari tubuhnya, ingin sekali ia mendorong Excell keluar dari sana.


"Kak, sakit !" Keluhnya. Tangannya mulai mendorong tubuh Excell agar berhenti.


"Tahan, sedikit lagi masuk !" Excell meraih keduanya tangan Leni dan menahannya diatas kepala sementara ia fokus dibawah sana.


Semakin Excell masuk semakin sakit yang Leni rasakan membuat gadis itu terus merengek kesakitan dengan meremas kuat tangan Excell.


Sumpah demi apapun, sakit yang Leni rasakan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, yang ia inginkan sekarang adalah menendang tubuh Excell agar lelaki itu berhenti menyakitinya.


Hingga Excell tak sabar dan sekali hentakan dengan cukup keras maka miliknya telah terbenam sempurna dibawah sana membuat Leni melotot tersentak saat rasa sakit itu semakin terasa berlipat membuat air matanya luruh seketika.


"Kak sakit.. sakit sekali !" rengeknya. Air matanya tidak berhenti mengalir.


Menyadari itu Excell terdiam sejenak seraya mengelus lembut dahi hingga rambut istrinya berusaha membuat agar Leni rileks, ia pun kembali mencium Leni, dengan penuh kelembutan hingga ia merasa tubuh Leni tak lagi gemetar.


"Tahan sebentar aja !" Bujuknya.


Perlahan Excell mulai bergerak lembut agar Leni tidak terlalu merasa sakit, pelan-pelan penuh perasaan hingga Leni yang terlihat mengernyit kesakitan mulai menerima maka Excell menambah temponya sedikit cepat, Leni mulai mengeluarkan suara desah, rasa sakit yang kini menyatu dengan rasa nikmat membuatnya terus memejamkan mata dengan tangan yang meremat lengan berotot suaminya.


Menyadari itu Excell mulai menambah temponya hingga suara desah dan rintih menggema dikamar itu. Tak jarang Leni memekik kaget saat Excell menggigit bahunya gemas.


Leni masih memejamkan mata sementara tangannya berkelana dipunggung dan perut sixpack suaminya. Merasakan sesuatu yang selama ini hanya bisa ia tatap.


Excell tertunduk memeluk erat tubuh istrinya seraya dengan semangat terus memompa dibawah sana. Memejamkan mata saat pertama kali merasakan surga dunia ini hingga ia begitu terlena.


Hingga saat Excell merasa ia akan keluar, dipeluknya lebih erat istrinya dengan menambah tempo lebih cepat dan akhirnya ia mendapatkan pelepasannya bersama sang istri.


Kedua tubuh itu masih saling memeluk erat seraya mengatur nafas masing-masing yang seperti habis lari maraton. Setelah itu, Excell berguling ke samping.


Matanya menatap lekat langit-langit kamarnya, ia seperti orang linglung saat mengingat yang baru saja terjadi. Tanpa menoleh lagi, Excell membelakangi istrinya. Sedangkan Leni yang melihat punggung kekar suaminya hanya bisa terdiam tak bisa bergerak.


Keduanya tertidur setelah siang pertama mereka, Leni membuka mata saat Maghrib hampir datang. Ia meringis merasakan perih di area intinya saat bangun.


Excell membuka mata saat pintu kamar mandi tertutup, ia bangun dan menatap sendu pintu kamar mandi apalagi saat melihat bercak darah di kasur membuatnya merasa bersalah hanya karena emosi ia tega merusak masa depan Leni.


*****


Setelah sholat Maghrib, Excell melarang Leni untuk keluar dari kamar, menyadari kondisi sang istri maka Excell membawa ke kamar makan malam mereka.


"Maaf !" Ucap Excell setelah menghabiskan makanannya.


"Maaf untuk ?"


"Maaf karena sudah melanggar janji buat gak menyentuh kamu !"


Leni tertegun.


"Kenapa mesti minta maaf ?"


Excell mengerutkan kening menatap Leni yang tampak biasa aja. Pria itu sampai tidak tahu harus berkata apa.


"Kita suami istri, jadi tidak masalah. Lagipula itu hak kakak kan. Kecuali kita belum menikah baru kakak bisa minta maaf. Aku sih gak masalah toh yang nyentuh aku suamiku sendiri jadi gak perlu merasa bersalah !" Jelas Leni membuat Excell terdiam.


"Tapi... !" Kalimat Excell terhenti, ia tidak harus berkata apa.


"Kalau begitu aku ke ruang kerja dulu !" Excell beranjak keluar kamar dengan membawa piring kotor.


'Ini baru permulaan kak, aku akan memilikimu sepenuhnya !' Batin Leni saat Excell tak lagi terlihat.

__ADS_1


__ADS_2