Menyulut Gairah Suamiku

Menyulut Gairah Suamiku
Bab 2


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju mall, tangan Excell terus menggenggam erat tangan Tasya. Ia hanya melepasnya sekejap untuk mengganti gigi mobil setelah itu kembali menggenggamnya erat seolah ia takut jikalau tangan itu hilang dari genggamannya.


Tasya pun menyadari ada yang salah dengan kekasihnya itu, dibalik mimik wajah Excell yang fokus menyetir nampak juga kegelisahan disana.


"Kamu kenapa sih yank ? ada masalah ?" Tasya memecah kesunyian.


Excell menoleh dan langsung menyunggingkan senyum.


"Aku gak apa-apa yank !"


"Masa ? Kamu kelihatan banget kayak lagi banyak pikiran ?"


"Biasa, urusan kantor !" Excell berkilah seraya memberikan senyum manis kepada kekasihnya membuat Tasya terdiam meski ia merasa Excell menyembunyikan sesuatu.


Mobil Excell memasuki area parkir mall dan keduanya keluar mobil kemudian memasuki mall sambil bergandengan tangan mesra.


Malam itu Excell berniat memanjakan kekasihnya, keduanya menuju outlet tas branded yang membuat Tasya terlihat bahagia.


Excell pun tersenyum melihat mimik bahagia kekasihnya meski disisi lain ia resah bagaimana jika perjodohannya benar-benar terlaksana. Apa yang akan dikatakannya kepada Tasya ? Tapi ia memutuskan tidak mengingatnya sekarang.


Sementara itu, Leni dan Nayla juga sudah memasuki area parkir mall untuk mengantarkan adik Nayla, Febri yang masih kelas 1 SMP untuk mencari keperluan sekolahnya. Kedua gadis itu bercanda ria sambil memasuki mall dan segera memasuki toko buku terbesar dan terlengkap disana.


Saat ketiganya mulai berkeliling di dalam toko buku, netra Leni tidak sengaja menangkap sepasang anak manusia yang sedang bergandengan tangan mesra. Leni mematung melihat itu, melihat Excell yang nampak bahagia bersama gadis cantik nan anggun disebelahnya. Excell nampak tidak peduli sekelilingnya, hanya 1 yang ia fokuskan yaitu wanita disebelahnya.


Saat pasangan itu mulai menjauh, Leni mengikuti dari jarak aman, ia tidak suka melihat 2 tangan didepannya nampak bahagia.


Pasangan itu memasuki sebuah tempat makan. Leni mengirim pesan kepada Nayla terkait keberadaannya dan segera menyusul pasangan itu.


Nayla mengintip sebentar. Untunglah meja dibelakang Excell duduk tampak kosong, dengan hati-hati agar Excell tidak melihatnya, ia menuju meja itu dan duduk tepat dibelakang Excell hingga ia mampu mencium aroma parfum maskulin cowok itu.


"Makasih sayang tas-nya, aku suka banget !" Suara Tasya terdengar senang sekali sambil menatap bahagia tas yang berada digenggamannya.


"Apa sih yang nggak buat kamu !" Excell menggombal membuat Leni tersenyum kecut.


"Makin sayang deh sama kamu !" Saat Tasya mengatakan itu, Leni menoleh sedikit ke belakang dan melihat tangan Excell digenggam erat gadis itu.


"Aku lebih sayang sama kamu !"


Ingin rasanya Leni segera pergi dari tempat itu namun pinggangnya terasa berat untuk beranjak.


2 pelayan bersamaan menghampiri meja Excell dan Leni. Excell dan Tasya memesan paket makanan dan Leni memesan 3 minuman yang bisa dibawa pulang.


Setelahnya Leni mendengar canda tawa pasangan dibelakangnya, hatinya tercubit juga menyadari betapa bahagianya pasangan ini. Dari suaranya Excell terdengar bahagia, sangat berbeda saat mereka bertemu tempo hari membuat Leni bimbang. Apa ia tega merusak kebahagiaan pasangan yang jelas-jelas terlihat saling mencintai itu ?


"Yank, kamu kapan mau nikahin aku ?" Tanya Tasya.


Leni terkejut mendengar itu, sedangkan Excell menghela nafas pelan. Ini bukan pertama kalinya pertanyaan itu terlontar dari Tasya hanya saja ia tidak pernah memberitahu jikalau kendala ada pada restu orang tuanya.


"Kamu sabar ya yank. Nanti saat aku udah menduduki kursi direktur, baru aku bicarakan sama orang tuaku !" Jelas Excell.


"Tapi kapan yank ? Kita udah pacaran lama. Kita sudah sama-sama dewasa. Kita bisa menikah sekarang sambil tunggu kamu dapat kursi direktur !"


Leni menahan nafas menunggu perkataan Excell.


"Kamu yakin sama aku kalau perasaanku gak main-main ke kamu. Tolong kamu sabar, aku pasti memperjuangkan kita !"


"Memperjuangkan ? Maksud kamu !" Tasya seperti bisa menangkap keanehan dari kata kekasihnya.


"Aku pasti setia sama kamu. Percaya ya ! Jadi tolong sabar tunggu aku. Aku sayang sama kamu !" Excell panik namun berusaha terlihat biasa dengan tersenyum lembut, mengalihkan fokus Tasya dari ucapannya barusan membuat Tasya terharu.


"Aku juga sayang sama kamu !" Tangan keduanya saling bergenggam erat disertai tatapan mesra.

__ADS_1


"Tapi bener ya, kamu secepatnya nikahin aku !" Pinta Tasya lagi.


"Iya, apa sih yang nggak buat kamu !" Excell kembali menggoda membuat Leni mematung.


Ada rasa kecewa menyusup dalam relung hatinya mendengar percakapan itu, membuat ia kehilangan kepercayaan diri serta harapannya yang perlahan retak.


Tak lama, Nayla dan Febri menghampiri meja Leni. Nayla yang sempat mendengar percakapan cinta Excell kini menatap prihatin pada sahabatnya.


"Kalian mau makan ?" Tanya Leni sambil menyodorkan jus alpukat pada Nayla dan Febri yang duduk didepannya.


"Aku masih kenyang. Kalau kamu Feb ?" Tanya Nayla pada adiknya yang asik menikmati jus alpukatnya.


"Aku juga masih kenyang !" Jawabnya.


"Ya udah bagaimana kalau kita pulang aja !" Ajak Nayla.


"Ya udah ayo !" Sambut Leni seraya beranjak dari duduknya dan berjalan keluar tanpa menoleh lagi pada pasangan dibelakangnya.


"Aku nggak apa-apa !" Ucap Leni saat menyadari tatapan sendu Nayla.


"Batalkan aja gimana ? Mumpung kita semua belum siapin apapun !" Saran Nayla.


Leni terdiam dan hanya menatap Nayla dengan tatapan tak terbaca.


*****


"Leni !" Panggil mama Delia lembut.


"Iya ma !" Sahut Leni.


"Nanti kita makan siang bareng lagi. Kamu nanti nyusul ya !"


"Iya ma !"


Semuanya sarapan bersama setelah itu Leni, Nayla dan Febri pamit berangkat untuk menuntut ilmu.


Leni dan Nayla mahasiswi semester 7 di sebuah universitas swasta di kota itu dan mengambil jurusan yang sama yaitu manajemen. Keduanya selalu bersekolah ditempat yang sama semenjak bangku SD.


Saat jam makan siang, Leni menghampiri Nayla yang sedang bercengkrama dengan teman sekelasnya dibawah pohon besar sambil minum es teh, mantap.


"Nay, aku mau makan siang bareng mama papa. Kamu mau ikut gak ?" Ajaknya.


Nayla menoleh dan terdiam sejenak menatap Leni.


"Nggak deh, aku udah janji makan sama teman-teman yang lain !" Tolak Nayla.


"Ya udah, kalau gitu aku nyusul mama papa dulu !"


"Oke, hati-hati !" Sahut Nayla yang dibalas lambaian tangan sahabat sekaligus saudaranya itu.


Leni turun dari taksi dan memasuki restoran seafood tempat yang dikatakan mama Delia. Leni langsung memasuki ruangan VIP yang katanya sudah dipesan.


Dan saat pintu terbuka, terlihatlah Excell yang sedang memainkan Hp-nya dan langsung menoleh begitu mendengar pintu terbuka.


Keduanya mematung saling tatap sebentar, hanya ada mereka berdua disana tidak ada mama dan papa.


"Masuklah !" Ucap Excell memecah suasana canggung itu.


Leni menutup pintu dengan pelan dan duduk lesehan didepan Excell yang menatap tajam padanya.


"Mama papa eh om dan Tante mana ?" Tanya Leni. Ia memalingkan wajah dari tatapan menusuk Excell.

__ADS_1


"Mereka belum datang !" Jawab Excell datar.


"Oh oke !"


Keduanya terdiam dengan perasaan salah tingkah saat pintu kembali terbuka dan menampilkan pelayan membawa nampan makanan.


"Eh, tapi aku belum pesan !" Ucap Excell saat makanan itu mulai terhidang di meja.


"Oh, makanan ini sudah dipesan bersamaan booking tempatnya kak. Dipesan untuk pengantin baru kak Excell dan kak Leni !" Ucap pelayan gamblang membuat 2 orang yang mendengarnya menganga.


Sepertinya para orang tua sedang berusaha mendekatkan mereka dan dipastikan mereka tidak akan datang agar tidak menganggu keduanya.


"Kalau begitu silahkan dinikmati makanannya kak !" Ucap sang pelayan lagi sebelum meninggalkan ruangan itu.


Tinggallah Excell dan Leni yang salah tingkah, menatap berbagai macam seafood lezat di meja.


"Mari makan !" Leni tersenyum manis memecah kecanggungan diantara mereka kemudian mulai menyantap hidangan didepannya itu.


Excell masih diam dan tanpa sadar menatap lekat gadis yang berada didepannya ini. Dia akui, Leni memang cantik dengan proporsi tubuh yang yahud meski berada dibalik kemeja dan celana kulot itu. Andai belum ada Tasya dihatinya entahlah mungkin Excell bersedia menerima perjodohan ini.


"Aku udah punya pacar !" Excell to the point, memancing reaksi Leni.


Dan gerakan Leni yang hendak menyendok udang terhenti kemudian menatap Excell yang juga menatap lekat padanya. Keduanya bertatapan dengan pikiran yang sama-sama berkecamuk.


"Ya udah, ayo batalkan pernikahan !" Ucap Leni, ia mulai memantapkan hati menghilangkan niatnya. Apalagi kejadian semalam membuatnya yakin untuk melakukan ini.


Excell menghela nafas kasar terdiam kembali memikirkan bagaimana baiknya.


"Andai bisa segampang itu !" Excell menghela nafas mengingat wajah garang sang papa.


"Lho kenapa ?" Leni mengerutkan kening namun hanya dijawab gelengan kepala oleh Excell.


"Tidak baik pernikahan tetap dilanjutkan kalau 1 pihak menolak. Ini nggak akan baik. Jadi sebelum terlambat ayo batalkan dan silahkan perjuangkan pacarmu dan ya ayo bicara sama orang tua masing-masing !"


"Nggak semudah itu !"


"Lalu seperti apa ? Kita tetap menikah dan kamu tetap menjalin hubungan dengan pacarmu ? Maaf aku tidak bisa terima itu !"


Excell kembali menatap lekat gadis didepannya.


"Kamu gak punya pacar ?" Tanya Excell.


"Nggak punya !"


Keduanya kembali terdiam, Leni menatap dalam cowok didepannya. Rencana awalnya yang ingin berusaha menaklukkan Excell setelah menikah tapi sekarang niat itu perlahan goyah mendengar ucapan Excell yang secara tidak langsung memilih pacarnya.


"Jujur, aku gak pernah pacaran jadi saat kita menikah nanti kemungkinan besar aku bisa langsung punya rasa padamu dan aku takut, saat aku jatuh cinta sama kamu tapi perasaanmu masih utuh untuk pacarmu dan kamu terus memikirkan dia !" Jelas Leni membuat Excell menatapnya kaget. Secara tidak langsung Leni mengungkapkan perasaannya.


"Untuk kebaikan kita bersama dan juga untuk menjaga agar perasaanku gak tersakiti, lebih baik kita membatalkan rencana pernikahan kita. Lebih baik kamu mempertahankan orang yang kamu cintai dan aku akan nantinya ketemu cowok yang mencintaiku juga !" Saat berucap begitu, Leni berusaha keras menampilkan ekspresi wajah biasa dengan tersenyum sementara tangannya terkepal di atas pahanya.


"Ayo makan !" Tambah Leni saat melihat Excell hanya mematung dengan mimik wajah tak bisa dijelaskan.


Gadis itu berusaha terlihat kuat, terlihat baik-baik saja didepan pria yang pada dasarnya tidak mengenalnya. Meski hatinya bergemuruh berusaha meredam perasaan cinta yang ada untuk Excell sejak lama.


Akhirnya dengan penuh perjuangan, Leni bisa menghabiskan makanannya agar meyakini Excell bahwa dia baik-baik saja.


"Kalau begitu, aku duluan. Aku masih ada jam kuliah !" Pamit Leni, setelah Excell mengangguk tanpa kata, gadis itu beranjak dan dengan cepat meninggalkan tempat itu.


Excell yang masih mematung mendengar perkataan Leni tadi membuat perasaannya jadi kacau. Andai gadis itu tahu seperti apa perjuangannya untuk meminta orang tuanya merestui Tasya. Ia memijat kepalanya yang serasa mau pecah memikirkan masalah ini.


Sedangkan Leni yang berjalan cepat segera menghentikan taksi yang lewat, saat masuk ia memejamkan mata berusaha meredam perasaan berat yang kini menghimpit dadanya.

__ADS_1


'Mungkin ini yang terbaik, sudah lama aku memendam rasa untuk kamu dan sekarang waktunya aku untuk menghilangkan perasaan ini !' Tekad Leni dalam hati seraya membelai pipinya sendiri. Ia membuka mata dan menatap luar jendela.


Cinta yang muncul dan ia rawat dengan baik kini harus ia relakan karena ternyata cinta itu bukan untuknya.


__ADS_2