
Beberapa minggu berlalu, hubungan Excell dan Leni berjalan layaknya pasangan suami istri normalnya. Perlahan tapi pasti Excell yakin kalau ia memang benar-benar sudah bisa menerima pernikahan ini sepenuhnya dan juga ia telah mencintai Leni, namun ia belum memiliki keberanian untuk menyatakan perasaannya kepada sang istri hingga hari demi hari berlalu.
Dan akhirnya Leni dan Nayla lulus juga, setelah berkutat ditemani stres dalam menyusun skripsi pada akhirnya keduanya lulus dengan IPK memuaskan.
Dan tanpa membuang-buang waktu, kini keduanya mulai melamar pekerjaan karena tak ingin lama-lama menganggur.
Leni berniat ingin sukses tanpa campur tangan suaminya, meski Excell membuka peluang untuknya di perusahaannya tapi Leni ingin sukses diatas kakinya sendiri tanpa bantuan siapapun terutama suaminya.
Hubungannya dengan Excell berjalan seperti biasa meski ada Tasya ditengah-tengah mereka.
"Huft.. cari kerja susah juga !" Keluhnya. Saat ini dia sedang duduk di sebuah cafe bersama Nayla.
Keduanya sudah banyak memasukkan lamaran ke beberapa perusahaan namun masih belum ada hasil.
"Betul, lebih baik kita minta tolong sama papa aja buat kita mudah dapat kerja !"
"Eh jangan, kita berdua harus bisa buktiin ke mama papa kalau kita bisa sukses dengan kekuatan kita sendiri !" Sanggah Leni langsung.
"Tapi kenyataannya, udah berapa lamaran kita kasih masuk tapi tidak panggilan satupun !" Kalimat itu membuat Leni menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya.. Benar juga. Hehehe !"
Hening, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
Eh, tapi kamu bisa lho minta tolong sama suamimu untuk masuk ke perusahaannya atau minta dibuatkan usaha gitu !" Saran Nayla.
"Nggak deh, aku tetap mau berusaha dulu pake kemampuanku sendiri buat dapat kerjaan. Gak mau bergantung sama siapapun terutama suami atau mama papa !" Tegas Leni.
"Yakin ? percaya diri sekali ?"
"Harus yakin, kita kan pintar jadi ya harus yakin !"
"Oh ya, kamu gak apa-apa lama-lama keluar begini. Gak dicariin suamimu gitu ?"
"Oh nggak, mas Excell lagi ke luar negeri. Dia bakal pulang Minggu depan !" Kata Leni.
Seminggu yang lalu, sang suami melakukan perjalanan bisnis ke Eropa, mengunjungi negara satu ke negara lainnya membuat keduanya LDR dulu.
"Oke deh kalau begitu !" Nayla mengangguk.
"Ya, kita sabar aja. Smoga ada keajaiban untuk cewek-cewek baik seperti kita !" Hibur Leni yang disambut senyum geli Nayla.
Keduanya hendak beranjak untuk pulang saat Hp Nayla berbunyi, gadis itu mengangkatnya. Leni hanya melihat respon Nayla yang tiba-tiba berbinar-binar.
"Baik, besok saya akan datang ke kantor anda. Terima kasih banyak !" Ucap Nayla sebelum telepon itu mati.
"Aku dapat panggilan wawancara dari PT. Istana Mode !" Tutur Nayla senang.
"Selamat Nay, smoga ini rejekimu !" Ucap Leni ikut bahagia.
"Maaf Len, aku gak enak padamu karena dapat wawancara duluan padahal kemarin kita melamar sama-sama !" Wajah Nayla sendu.
"Nggak apa-apa lah Nay, mungkin tempatku buka disana !" Leni berbesar hati.
__ADS_1
"Tapi...!" Ucapan Nayla terhenti saat Hp Leni berbunyi.
"Halo....!"
"Iya, saya sendiri !"
"Apa ? Iya.. iya.. besok saya pasti datang. Terima kasih.. Terima kasih !"
Leni menutup telepon dan menoleh kearah Nayla dengan binar yang sama.
"Nay, aku juga ditelepon Istana Mode. Aku juga besok diminta datang buat wawancara !" Tutur Leni membuat Nayla membulatkan mata.
"Ya ampun, akhirnya kita sama-sama wawancara !" Keduanya berpelukan dan berjingkrak-jingkrak senang tidak peduli dengan sekelilingnya.
"Oke, oke. Sekarang kita pulang buat persiapan diri besok. Jangan begadang harus cepat tidur. Oke !"
Keduanya berpisah pulang ke rumah masing-masing.
🐟🐟🐟🐟🐟
Keesokan harinya, Leni dan Nayla telah berada di Istana Mode, sebuah bangunan mewah nan luas. Sebuah tempat dimana butik iya, perusahaan iya dan juga tempat dimana para desainer bisa mendapat nama baik jika karya mereka terpilih di perusahaan itu.
Suasana yang ramai dimana banyak orang-orang yang bernasib sama mencari pekerjaan.
Keduanya sabar menunggu sambil sesekali berdecak kagum pada interior bangunan mewah itu. Apalagi para karyawan yang sejak tadi berlalu lalang nampak sangat mengagumkan.
"Wah, beruntung banget orang yang bisa kerja disini. Kayaknya hanya orang-orang yang bertalenta bisa masuk disini !" Ucap Nayla.
"Betul. Trus kita bagaimana ? Jurusan kita kan bukan fashion. Trus bagaimana kita bisa masuk disini ?"
"Mati kita !" Cicit Leni.
"Hush, berdoa aja. Semoga pekerjaan ini rejeki kita !" Nayla melotot.
"Amin !" Balas Leni.
Setelah nyaris seharian menunggu, akhirnya tiba giliran keduanya. Nama Nayla dipanggil lebih dulu.
"Oke, tenang, senyum dan jangan gugup. Santai aja. Kamu pasti bisa jawab semua pertanyaan nanti karena kamu pintar. tarik nafas, buang nafas !" Ucap Leni menyemangati Nayla yang dilanda gugup seketika.
"Iya, oke !" Nayla menarik nafas sebelum memasuki ruangan wawancara.
Cukup lama menunggu, Nayla akhirnya keluar dengan wajah yang sulit diartikan. Tidak sempat bertanya, nama Leni dipanggil. Keduanya saling menatap sejenak sebelum tubuh Leni hilang di ruangan itu.
Leni keluar dengan helaan nafas berat. Persis saat Nayla keluar dari ruangan itu tadi. Melihat Leni, Nayla langsung bangkit dari duduknya. Ia hanya tersenyum karena tahu pertanyaan wawancara didalam sangat menjebak maka dari itu harus hati-hati agar tidak terjatuh atau terpeleset.
"Ayo pergi makan !" Ajak Nayla yang disambut anggukan Leni.
"Gila, kayaknya itu pertanyaan wawancara untuk jadi presiden lho mana yang mewawancarai kayak batu !" Ungkap Leni membuat Nayla tertawa, ia setuju karena sudah merasakan tadi.
Seorang wanita gemuk seusia Excell mewawancarai tanpa senyum dengan tatapan setajam silet mampu membuat orang didepannya ciut.
"Udah.. udah.. berdoa aja semoga setelah ini kita dapat kabar baik. Untuk sekarang kita makan sepuasnya !" Ajak Leni.
__ADS_1
"Ayok.. ayok..!" Keduanya dengan riang menuju tempat makan favorit mereka.
*****
Excell menatap keluar jendela kamar hotelnya, menatap kelap-kelip lampu bangunan diluar sana yang menghiasi indahnya malam.
Namun semua itu tak dirasakan Excell sebab hatinya kini berkutat merindukan... eh merindukan siapa ? pacarnya atau istrinya ?
Bawah perut Excell bereaksi dan kini wajah cantik sang istri memenuhi kepalanya. Andai saja Leni ada disini mungkin dia akan ini dan akan itu.
Hp Excell berbunyi, pria itu melirik dan melihat nama Tasya terpampang disana membuat pria itu menghela nafas berat kemudian mengabaikannya dengan kembali menatap keluar jendela. Ia semakin yakin jika Tasya sudah tak ada dihatinya.
Benda itu kembali berdering dan terus berdering namun Excel tidak bergeming, terus saja menatap pemandangan didepannya.
"Maafin aku Sya !" Ucap Excell lirih saat benda pipih itu akhirnya diam.
Tak ingin larut dalam rasa bersalah, Ia meraih Hp-nya dan menelpon nomor istrinya.
"Halo !" Leni langsung mengangkat.
"Halo, kamu lagi apa ?"
"Ini mau lagi siap-siap mau jalan sama Nayla. Mas lagi apa ?"
"Lagi mikirin kamu !"
Leni tertegun, rasanya ini pertama kalinya Excell menggodanya.
"Kok diam ?" Tanya Excell.
"Mas udah makan ?"
"Udah, meski aku kangen makanan rumah !"
"Sabar mas, nanti kalau mas udah pulang, mas bisa makan apapun !"
"Iya, aku gak sabar buat pulang ke rumah. Kamu mau dibawakan oleh-oleh apa ?"
"Gak usah mas, tolong pulang dengan selamat. Itu aja yang aku mau !" Excell tersenyum mendengar itu.
"Aku kangen sama mas !" Ucap Leni malu-malu, ia bahkan menutup wajahnya dengan sebelah tangan.
"Mas juga, apalagi bawah perut mas. Benar-benar kangen !"
Leni terdiam mencerna ucapan Excell barusan.
"Mas jangan mesum !"
"Sama istri sendiri gak apa-apa lho !"
"Ih udah ih, aku jalan dulu sama Nayla. Udah ya mas. Assalamualaikum !" Leni langsung mematikan sambungan telepon. Andai Excell bisa melihat betapa merahnya wajah Leni kini akibat ucapannya.
Sedangkan Excell, pria itu tertawa saat bisa menangkap nada gugup dan salah tingkah istrinya.
__ADS_1
"Leni !" Lirihnya menembus gelap malam. Sebuah rencana yang menurutnya romantis kini sudah tersusun dikepalanya.