Menyulut Gairah Suamiku

Menyulut Gairah Suamiku
Bab 5


__ADS_3

Hari-hari berikutnya, Excell mulai menuruti papanya untuk bisa mengenal Leni dengan baik karena pernikahannya tidak akan bisa dihindari lagi mengingat ancaman sang papa juga semakin hari semakin menyeramkan.


Kini waktu makan siang, Excell sudah tidak bisa bersama sang pacar tapi bersama calon istrinya.


Seperti sekarang ini, Excell dan Leni sedang menikmati makan siang disebuah restoran Padang.


"Liat deh, nanti aku mau pake gaun pengantin ini !" Leni memperlihatkan layar Hp-nya pada Excell membuat cowok itu menatap gambar disana.


Gaun ala princess yang sederhana namun elegan membuat Excell yakin gaun itu cocok pada Leni.


"Itu bagus !" Responnya membuat Leni tersenyum yang sejenak membuat Excell terpukau. Beberapa kali melihat Leni tersenyum baru kali ini terlihat begitu mempesona.


Namun Excell segera menggelengkan kepala saat mengingat Tasya.


Keduanya mulai membicarakan konsep pesta yang katanya sudah diatur oleh para orang tua.


"Maaf, pernikahan ini ada karena paksaan orang tuaku. Aku tidak pernah berniat untuk menyakiti kamu karena aku mencintai Tasya !" Jelas Excell jujur menatap tidak enak gadis didepannya.


"Aku juga gak mau mempermainkan pernikahan tapi aku juga sudah gak tahu lagi bagaimana menolak pernikahan ini dan mempertahankan Tasya. Papa mamaku tidak pernah memberi restu kalau aku bilang mau melamar Tasya !" Tambah Excell menghela nafas kasar seraya menatap langit-langit bangunan.


Senyum sinis terbit di bibir Leni mendengar itu kemudian terlihat datar saat Excell kembali menatapnya.


"Kamu berhak bahagia, kamu berhak mendapatkan laki-laki yang tulus cinta sama kamu bukan aku yang malah mencintai orang lain !" Excell menggenggam tangan Leni membuat gadis itu mematung dengan sentuhan pertama mereka.


"Kita jalani aja dulu kak demi orang tua kita dan saya tidak akan menghalangi hubungan kalian nanti. Kalaupun memang hubungan kita tidak ada kemajuan ayo berpisah baik-baik !" Leni tersenyum membuat Excell terperangah.


"Kamu yakin ?"


Leni mengangguk dengan senyuman.


"Baiklah, semoga kedepannya kita bisa saling menghargai !" Ucap Excell yang disambut senyuman oleh Leni.


'Lebih tepatnya aku akan buat kamu melupakan pacarmu. Perempuan jahat nan kasar seperti Tasya tidak pantas untukmu !' Sinis Leni dalam hati.


'Aku akan buat kamu jatuh cinta padaku seperti aku mencintaimu !' Tekad Leni. Api cintanya pada Excel yang sempat ingin redup kini berkobar dengan ganas dan nyaris membakar akal sehatnya.


Setelah itu keduanya berpisah, Excell mengantar Leni ke kampusnya kemudian menuju kantornya sendiri.


*****


Excell terkejut saat membuka pintu ruangannya, Tasya duduk di sofa menyambutnya dengan senyum manis membuat cowok itu gugup.


"Kamu dari mana ? aku udah nunggu lama tadi ? trus kenapa hp kamu gak aktif ?" Tanya Tasya beruntun.


"Emm.. anu.. itu. Tadi papa ajak aku buat temani hadiri rapat, mungkin karena terlalu fokus jadinya aku gak tau kalau Hpku mati !" Excell bohong.


Tadi papanya menyuruh untuk tidak ikut rapat agar Excell bisa makan siang bersama Leni.

__ADS_1


"Oh gitu, ya udah. Kamu udah makan belum ?" Tanya Tasya membuat Excell menggeleng agar kekasihnya tidak kecewa saat melihat kotak makanan disamping tas gadis itu.


"Ayo sini, aku udah beli makanan kesukaan kamu !" Tasya menggandeng Excell menuju sofa.


Ia meraih kotak makanan dari restoran ternama itu dan membukanya. Wangi lezat menguar disana. Tasya meraih sendok dan menyuapkan makanan itu pada Excell yang diterima cowok itu meski ia merasa sudah kenyang namun ia berusaha memakannya agar Tasya tidak kecewa.


"Enak ?"


"Banget !"


Mendengar itu Tasya tersenyum senang, momen seperti ini rasanya begitu menyenangkan untuk kedua insan yang saling mencinta itu.


"Sini, kamu juga harus makan !" Excell meraih kotak makanan itu dan ganti menyuapi Tasya.


"Eh, nggak usah. Lihat, aku juga ada !" Tunjuknya pada kotak yang sama dan masih utuh didekatnya.


"Begini lebih romantis !" Ucap Excell membuat Tasya tertawa.


Dan akhirnya keduanya suap-suapan sambil bercanda ria menambah kesan romantis suasana sekarang.


Excell menatap Tasya lekat dan meyakini jika ia tidak akan bisa berpaling dari gadis ini. Gadis yang sudah bersamanya selama 3 tahun dan selama itu juga keduanya tak pernah bertengkar karena Tasya selalu berusaha membuat Excell senang membuat Excell yakin jika inilah cinta terakhirnya.


'Maafin aku Leni, aku harap di pernikahan kita nanti aku tidak membuatmu sengsara !' Batin Excell sendu. Ia sudah membayangkan dan amat yakin kalau tidak akan bisa mencintai gadis itu.


Tanpa ia sadari, gadis yang akan ia nikahi nanti sudah berniat membuat perasaannya porak-poranda.


"Aku udah kenyang yank, makasih makanannya !"


"Aku juga udah kenyang yank !"


"Lho, kamu kan tadi cuma makan sedikit karena bagi 2 dengan aku. Kamu buka deh kotak yang itu trus makan lagi !"


"Tapi aku udah kenyang !"


"Yakin ?"


"Yakin banget, makan sekotak berdua ternyata efektif tuk kenyang lebih cepat !"


Excell tertawa mendengar itu, keduanya larut dalam canda tawa hingga pintu ruangan Excell tiba-tiba terbuka menampilkan papa Rio membuat keduanya membisu seketika.


Papa Rio menatap tajam keduanya sesaat kemudian keluar menutup pintu tanpa berkata apa-apa.


"Papa kamu kenapa sih ? kok kayaknya gak suka sama aku !" Tasya sepertinya bisa menangkap maksud dari sikap papa Rio.


"Itu cuma perasaan kamu aja yank, papa suka kok sama kamu !" Kilah Excell panik.


"Trus kok papa kamu gak pernah ramah sama aku ? trus gak pernah mau ngobrol sama aku !" Tasya memperlihatkan mimik sedih.

__ADS_1


"Kamu jangan berpikir begitu. Biasanya muka papa seperti itu karena hasil meeting tadi gak sesuai harapan papa jadi kamu jangan pikir macam-macam yah. Ini semua bukan karena kamu !" Excell mengusap lembut rambut Tasya membuat gadis itu akhirnya tersenyum.


"Kamu tenang aja, suatu hari nanti papa akan mengadakan pernikahan impian kita berdua !" Excell menggenggam tangan Tasya seraya menatap dalam matanya membuat gadis itu amat senang.


Keduanya kembali larut dalam canda tawa bersama.


"Eh, udah jam segini. Aku harus balik ke butik. Yank, makanan ini buat kamu, nanti kmu makan kalau lapar lagi ya !" Ucap Tasya seraya menunjuk kotak makan yan masih utuh. Ia bekerja di butik keluarganya yang cukup terkenal dikalangan sosialita.


"Oke, kamu hati-hati ya !" Excell mencium kening gadis itu yang dibalas Tasya degan mengecup pipi Excell.


"Bye !" Tasya tersenyum manis sebelum menghilang dibalik pintu.


Excell merebahkan kepalanya di sofa, memijat pelan keningnya yang terasa berdenyut saat memikirkan hubungannya dengan Tasya, pernikahannya dengan Leni dan juga bagiamana ia akan bersikap kedepannya.


Ia menoleh kearah kotak makan tadi dan memutuskan membawa makanan itu keruangan papanya.


Tok.. tok.. tok..


Excell memasuki ruangan direktur yang tak jauh dari ruangannya dan disambut wajah asam sang papa.


"Papa udah makan siang ? ini ada makanan buat papa !" Excell meletakkan kotak makanan itu didepan sang papa.


"Bagaimana hubunganmu dengan Leni ? Sudah ada kemajuan ?" Sang papa mengabaikan kotak makanan didepannya.


Excell menghela nafas mendengar itu.


"Iya pa, kami baik-baik aja. Aku dan Leni sudah sepakat untuk menikah !" Jelas Excell.


"Lalu kenapa kamu masih menemui wanita itu ? putuskan dia karena sebentar lagi kamu menikah !" Sang papa memberikan tatapan menghunus membuat Excell terdiam.


"Papa silakan nikmati makan siangnya !" Excell berlalu pergi sebelum sang papa akan kembali mengancamnya.


Papa Rio menatap tajam sang anak hingga hilang dibalik pintu. Tak lama pintu kembali terbuka, seorang office girl paruh baya membawakan kopi untuk direktur utama.


"Ambil makanan ini buat kamu !" Tunjuknya pada kotak makanan didepannya.


"Eh, terima kasih tuan !" Wanita itu begitu senang menerima makanan yang terlihat mewah itu dan keluar ruangan itu setelah sang direktur mengangguk.


Sementara itu, lift yang Tasya naiki sudah berada dilantai dasar, dengan wajah angkuh ia melangkah keluar. Semua karyawan yang mengenalnya sebagai pacar bos mereka, menundukkan kepala saat gadis itu lewat dengan sombongnya.


'Bagus, seperti ini memanglah seharusnya kalian menghormatiku !' Batinnya bangga saat semua karyawan menundukkan kepala. tanpa tahu tatapan mata air karyawan itu berubah sinis padanya.


Sebelum memasuki mobilnya, Tasya menatap lekat perusahaan besar dihadapannya.


"Apapun yang terjadi, aku harus bisa menikah dengan Excell dan tua bangka itu akan kukirim ke panti jompo !" Sinis Tasya.


Ia bukan tidak menyadari namun sangat menyadari jika orang tua Excell terang-terangan memperlihatkan ketidaksukaan kepadanya entah karena apa. Padahal ia pun berasal dari keluarga kaya.

__ADS_1


Tapi ia berusaha tidak ambil pusing karena tujuan utamanya menikah dengan Excell yang akan membuatnya kaya 7 turunan tanpa harus kerja keras.


__ADS_2