
Suara dering telepon yang begitu keras membangunkan pengantin baru itu. Keduanya terkejut dan membuka mata bersamaan.
Sontak saja Excell dan Leni kaget saat melihat satu sama lain berada di ranjang yang sama, nampaknya keduanya lupa jikalau mereka sudah menikah. Excell segera meraih Hp-nya.
"Halo !" Sapa Excell.
"Halo Cell, apa kalian baru bangun ?"
"Iya ma !"
"Oh maaf, mama ganggu ya. Mama cuma mau ingatin 2 jam lagi kalian bakal berangkat ke Bali jadi kalian siap-siap dari sekarang !"
"Oke ma !"
Telepon ditutup, Excell menoleh pada Leni yang masih setia duduk di kasur dengan memeluk bantal.
"2 jam lagi kita akan berangkat ke Bali. Jadi kata mama, kita harus siap-siap sekarang !" Ujar Excell.
"Iya kak !"
"Mandilah duluan, biar aku pesan sarapan untuk kita !"
"Iya kak !"
Leni turun dari ranjang dan menuju kamar mandi setelah meraih sebuah dress dari kopernya.
20 menit kemudian, Leni keluar dengan mengenakan dress navy selutut lengan pendek. Excell kembali terpaku melihat cantik alami istrinya membuat netranya mengikuti setiap langkah sang istri.
Saat Leni duduk didepan meja rias dan menyisir rambut panjang sepunggungnya, Excell beranjak memasuki kamar mandi, menghindari Leni yang menurutnya menggoda iman. Segera ia mandi untuk menenangkan tubuhnya yang tadi berdesir aneh.
*****
Excell dan Leni sudah tiba di bandara Ngurah Rai. Keduanya menuju hotel menggunakan taksi.
Leni begitu takjub saat memasuki kamar mewah hotel, belum lagi saat ia membuka gorden. Pemandangan laut biru menyambut netranya membuatnya begitu berterima kasih kepada mertuanya yang begitu memperhatikan kenyamanan anak menantunya. Hadiah pernikahan terindah dari mertua yang membuat Leni senang.
Leni begitu terpukau dengan pemandangan didepannya. Ia berbalik melihat Excell yang duduk di sofa sambil menatap serius laptopnya, Leni menghela nafas, memang apa yang ia harapkan.
Leni menuju kopernya, mengambil baju santai dan menggantinya dikamar mandi kemudian menuju ranjang dan berbaring disana seraya menatap pemandangan laut diluar jendela membuatnya sangat nyaman hingga matanya berat dan akhirnya terlelap.
Excell menutup laptopnya setelah pekerjaannya selesai, matanya mulai mencari keberadaan Leni dan menemukan istrinya itu sedang berbaring dikasur. Ia beranjak menuju ranjang dan duduk disisinya, menatap wajah Leni yang terlelap dengan lekat.
'Gadis yang cantik !' Batinnya.
Tanpa sadar ia ikut berbaring seraya terus menatap cantik alami istrinya hingga ia pun terlelap.
Suara dering telepon kembali mengagetkan pengantin baru yang masih terlelap itu, keduanya kembali bangun bersamaan dan menatap sekitar dengan bingung.
Excell meraih Hp-nya di nakas.
"Halo ma !"
"Kamu darimana ? Daritadi mama telepon gak diangkat. Mama khawatir lho, kalian udah sampai di Bali kan ?"
"Maaf ma, aku dan Leni ketiduran. Iya, kami udah sampai di Bali trus langsung tidur tadi !" Jawab Excell tapi sang mama malah berpikiran lain.
"Oh gitu, maaf deh mama ganggu. Ya udah kalian lanjut aja, hehehehe !"
Excell meletakkan hp dengan kening berkerut, bingung dengan ucapan terakhir mamanya.
__ADS_1
"Kak, lihattttttt !" Pekik Leni membuat Excell menoleh dengan cepat.
Bola dunia terlihat hampir menyentuh permukaan air laut dan tak lama kemudian tenggelam seluruhnya membuat siapa saja yang melihat pemandangan itu merasa beruntung.
Excell dan Leni begitu terpukau melihat pemandangan itu.
"Ya udah, siap-siap nanti kita makan malam dibawah !"
"Oke kak, kakak mandi aja duluan, aku mau telpon mama dulu !"
"Oke !" Jawab Excell seraya menuju kamar mandi bersamaan Leni yang mencari Hp-nya di tas untuk menghubungi mama Delia.
******
Malamnya, pengantin baru itu menuju lantai dasar untuk menikmati makan malam. Leni merengek ingin makan malam di halaman hotel dimana ia bisa menikmati pemandangan tepi pantai yang mana Excell pun mengabulkannya.
Keduanya menikmati makan malam yang masuk kategori romantis itu. Leni mulai menikmati spagetinya lebih dulu seraya meraih puding susu kesukaannya.
Excell pun menikmati makanannya seraya terus mencoba menghubungi Tasya. Leni yang bisa melihat mimik gusar suaminya tersenyum kecut, ia berpikir sepertinya menahlukan hati Excell butuh perjuangan panjang serta ekstra sabar.
Terlihat jelas disekitarnya begitu banyak pasangan yang sudah menikah atau mungkin masih pacaran begitu romantis dengan pasangan masing-masing. Ada yang saling menyuap, bersenda gurau atau bersandar di dada/bahu pasangan yang menambah kesan romantis malam itu. Leni menghela nafas seraya menatap Excell yang masih menatap gusar Hp-nya, memikirkan langkah awal apa yang harus diambil untuk menahlukan Excell.
Sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba seorang bocah laki-laki berlari sambil membawa minuman ditangannya dan tak lama bocah itu kesandung saking kencangnya berlari hingga minuman ditangannya terlempar dan menerpa Leni. Gadis itu mematung saat minuman coklat kental menetes dari rambutnya mengotori bajunya bahkan ia bisa merasakan minuman itu mengalir dibalik pakaiannya dan menuju kakinya.
"Aduh, maaf ya, anak saya gak sengaja !" Ucap ibu dari bocah itu.
"Sebagai permintaan maaf, makanannya biar saya aja yang bayar !" Wanita itu benar-benar tidak enak hati melihat penampilan Leni yang kacau balau karena anaknya.
"Tidak usah, saya tidak apa-apa kok !" Leni tersenyum ramah.
"Tapi gara-gara anak saya penampilan kamu.....!"
"Kalau begitu maaf ya !" Wanita itu berlalu bersama anaknya yang nampak takut melihat Leni yang berlumur coklat kehitaman.
Excell yang tadinya melongo melihat penampilan Leni yang berubah mati-matian menahan tawa melihat penampilan istrinya.
"Aku mau ganti baju dulu ya !" Pamit Leni pada Excell.
"Oh iya iya ya !" Jawab Excell seraya menatap Leni yang perlahan menjauh dan hilang dalam lift, saat itulah dia mengeluarkan tawanya, tertawa hingga puas seraya mengabaikan tatapan aneh orang-orang.
Ia kembali mencoba menghubungi Tasya atau mengirimi gadis itu pesan agar membalas pesannya sambil mencomot makanan yang berada di meja.
Hingga... Krutukkkkkk..
Excell melotot saat merasakan perutnya terasa melilit, ia menatap semua menu yang berada di meja dan melihat spageti Leni yang ia yakin tadi memakannya sesendok kemudian beralih pada pudding milik Leni yang kini tinggal setengah.
"Permisi !" Panggilnya pada pelayang yang lewat.
"Iya kak !" Pelayan itu bertanya ramah.
"Ini namanya puding apa ya ?" Tunjuknya pada puding di meja.
"Puding susu kak !"
"Siallll !" Geram Excell membuat pelayan itu takut.
"Maaf, kenapa ya kak !"
"Oh nggak, maaf aku harus segera ke toilet !"
__ADS_1
Excell bangkit dan berlari menuju kamarnya, mengabaikan pelayan yang hendak menunjuk toilet terdekat.
Excell menahan sekuat mungkin perutnya yang melilit sakit didalam lift. Memelototi angka disana agar berubah secepat kilat.
Dan saat sudah berada dilantai kamarnya, ia kemudian berlari kencang menuju pintu kamarnya, membukanya dengan tergesa-gesa dan berlari kearah kamar mandi.
BUAK.. Pintu terbuka dengan keras diiringi suara lari yang kencang mengagetkan seseorang yang berada dibawah shower.
Leni yang sedang mandi mematung menyadari kehadiran Excell didekatnya.
DUAR
DUAR
DUAR
Leni kembali kaget mendengar suara yang mengeluarkan isi perut itu dan tak lama aroma busuk menyeruak memenuhi ruangan itu bahkan mengalahkan wangi sabun mandi yang sedang Leni gunakan.
Excell menoleh dan kaget sekali saat melihat tubuh polos istrinya yang membelakanginya. Ditatap lekat dari ujung kaki hingga ujung kepala betapa mulusnya kulit itu membuat sesuatu dalam dirinya bangkit.
DUAR
DUAR
DUAR
Suara diare Excell kembali mengagetkan keduanya.
Tanpa bisa dilihat Excell, Leni tersenyum tipis, ia kembali menyabuni tubuhnya yang sempat terhenti karena kehadiran Excell. Digosok tubuhnya dengan gerakan sedikit sensual dan menggoda. Apalagi saat Leni menunduk untuk membersihkan bagian kakinya, Excell melotot maksimal melihat pemandangan yang terpampang jelas itu dan gunung kembar itu seolah mengundangnya untuk segera hinggap disana.
Leni menyalakan shower, membilas tubuhnya dari busa-busa sabun itu dengan gerakan menggoda dan semua itu tak luput dari pandangan Excell yang menganga menatap keindahan itu, tangannya terasa gatal ingin menyentuh bokong indah itu.
Leni meraih handuk dan melilitkan ke tubuhnya kemudian beranjak keluar dari sana. Ia melirik kearah suaminya bermaksud melihat reaksi pria itu tapi pandangan Leni malah tertuju pada senjata pamungkas Excell yang sudah berdiri tegak menantang langit membuat gadis itu kaget dan bergegas keluar dari sana.
Setelah Leni keluar, Excell pun menoleh kebawah dan kaget juga melihat senjata pamungkasnya siap menembakkan amunisi cinta membuat cowok itu menghela nafas frustasi dan kembali konsentrasi menyelesaikan kegiatannya agar sakit perutnya hilang.
Setengah jam kemudian Excell keluar dari kamar mandi dan melihat Leni sedang duduk di sofa sambil menonton tivi.
"Maaf !" Ucapnya. Sungguh malu dengan kejadian tadi.
"Tidak apa-apa. Kakak diare ?" Leni berusaha agar terlihat tidak salah tingkah, ia tidak bisa melupakan senjata pamungkas suaminya tadi.
"Aku tadi gak sengaja makan pudingmu dan aku alergi susu !" Jelas Excell.
"Oh ya ampun, sini duduk sini !" Leni menepuk sofa sampingnya.
Excell duduk di sofa dan Leni beranjak mengambil sesuatu di kopernya kemudian mengambil air hangat dan memberikannya pada Excell.
"Buka bajunya kak !" Leni menumpahkan minyak kayu putih ditangannya dan membuka kaos Excell kemudian membalur rata diperut sixpack cowok itu.
Excell kembali tegang saat tangan halus itu menggosok dengan lembut area perutnya. Begitu juga dengan Leni yang menelan Saliva saat merasakan perut kotak-kotak itu.
"Bagaimana ? udah enakan ?" Tanya Leni yang diangguki kepala oleh Excell.
Leni tersenyum dan beranjak untuk menyimpan minyak kayu putihnya, meninggalkan Excell yang kembali kalang kabut.
'Bagaimana ini ?'
'Bagaimana ini ?'
__ADS_1
Excell panik saat senjata pamungkasnya kembali tegak menantang membuat Excell menatap Leni yang masih membelakanginya.