Menyulut Gairah Suamiku

Menyulut Gairah Suamiku
Bab 4


__ADS_3

Beberapa hari setelah kejadian itu..


Leni sudah tidak pernah mendengar perbincangan orang tuanya terkait perjodohannya atau bahkan bertanya bagaimana perkembangan hubungannya bersama cowok itu.


Dia pun berusaha menerima kenyataan jikalau ia dan Excell tidak berjodoh dan perlahan-lahan akan melupakan perasaannya pada cowok itu, meski berat namun ia yakin jika itu adalah sesuatu yang baik untuk dirinya sendiri.


"Oke.. Ayo move on !" Tekadnya yang berencana membuka hati untuk pria lain. Seseorang yang nantinya akan membuatnya melupakan Excell.


Minggu pagi itu, Leni bangun dengan semangat. Dia berencana menghabiskan hari libur ini dengan jalan-jalan ke mall atau pergi ke pantai. Ia segera membersihkan diri dan setelah siap dengan setelan kasualnya, ia menuju kamar Nayla untuk mengajak gadis itu.


Namun sebuah panggilan mengalihkannya.


"Leni, ayo sini turun sarapan sama-sama !" Panggil mama Delia.


"Iya ma !"


Leni menuruni tangga menuju meja makan, disana sudah berada Nayla yang menatapnya dengan aneh.


"Len, tanggal pernikahan kamu sudah ditetapkan, 3 Minggu lagi !" Ucap mama Delia.


Ucapan itu seketika menghentikan tangan Leni yang hendak menyendok nasi gorengnya, ia menoleh kearah mama Delia dengan wajah menganga.


"Eh, pernikahanku sama siapa ma !"


"Ya sama Excell, memang sama siapa lagi !"


"Tapi ma.......!"


"Tapi apa ?"


"Maksudnya kok buru-buru !"


"Lebih cepat lebih baik dan malam ini keluarga Excell akan datang untuk melakukan pertunangan kalian !"


"HAHHHH !"


Mendengar itu Leni melototkan matanya dengan mimik tidak percaya. Ia beralih menatap Nayla yang hanya menatap meringis padanya, Leni sudah menceritakan semua padanya tentang ucapan Excell termasuk niat Leni yang ingin melupakan perasaannya kepada Excell.


"Jadi Nayla, kamu temani Leni buat cari gaun yang cocok buat Leni nanti malam !" Perintah mama Delia seraya menyerahkan sebuah kartu kreditnya pada Nayla.


"Iya ma !" Nayla menurut.


"Len, pertunangan nanti malam acaranya sederhana kok. Hanya keluarga inti yang hadir, yang penting niat kita baik nanti kalau resepsi pernikahanmu nanti mama sama papa akan buat yang meriah !" Jelas mama Delia menyadari wajah syok Leni.


"Aku cuma kaget ma, karena ini mendadak. Aku kira beberapa bulan lagi !" Kilah Leni berusaha tersenyum.


"Nggak apa-apa, seperti mama bilang tadi, lebih cepat lebih baik !" Mama Delia tersenyum hangat membuat Leni tak berani membantah perkataan sang mama.


"I... Iya ma !"


"Ya udah, kita berangkat sekarang !" Ajak Nayla melihat Leni telah menghabiskan sarapannya.


Keduanya berangkat, Nayla menyetir sambil sesekali melirik Leni yang berwajah datar.


"Kamu senang atau nggak ?" Nayla.


Leni melirik dengan tatapan menghunus.


"Tentu saja tidak. Percuma menikah sama laki-laki yang disukai tapi kalau hatinya untuk orang lain yang pasti sengsara juga !" Ucap Leni membuat Nayla manggut-manggut.


"Ya udh Len, bilang aja ke mama papa kalau kamu gak mau dijodohin sama Excell. Nanti aku kenalin ke teman-temanku yang ganteng-ganteng !" Nayla antusias.


"Maunya juga gitu, tapi jangan deh Nay, aku gak berani bantah mama papa !" Leni sendu.


Keduanya terdiam hingga mobil itu memasuki area butik langganan mama Delia.


Mereka mulai berkeliling, menatap kagum gaun-gaun cantik yang berada disana membuat keduanya terpukau.

__ADS_1


"Len, yang itu bagus !" Tunjuk Nayla pada gaun warna pink tanpa lengan yang terlihat mewah.


Leni menatap gaun yang dimaksud Nayla, memang sangat bagus tapi bukan seleranya membuat gadis itu menggeleng.


"Kalau yang itu !" Tunjuk ya pada gaun model Sabrina dengan rok berenda dibawah lutut membuat Leni mengernyit, ia kembali menggeleng.


"Kalau itu, yang itu, itu juga sama yang itu ?" Tunjuk Nayla pada gaun beda warna dengan motif yang berbeda pula namun tak meninggalkan kesan mewah yang hanya dijawab gelengan kepala oleh Leni.


"Trus kmu maunya yang seperti apa ?" Tanduk Nayla sudah muncul saking kesalnya pada Leni.


Melihat Nayla yang sudah melotot ganas membuat Leni nyengir.


"Yang kamu tunjuk tadi terlalu terbuka !" Terang Leni membuat Nayla mendengus sebal.


Keduanya kembali berkeliling dengan Nayla tak lagi bersuara.


Hingga, Leni terpukau pada sebuah gaun panjang lengan pendek berwarna krem yang menutup rapat area bahu dengan rok yang lumayan lebar, terlihat sederhana namun sangat elegan dengan pilihan kain mewah dan hiasan permata dibagian dada membuatnya langsung jatuh cinta.


"Aku mau yang ini Nay !" Tunjuk Leni pada gaun krem itu membuat Nayla menghela nafas, yang seperti itu memang cocok pada Leni.


"Oke !" Nayla meminta salah satu pegawai mengambilkan gaun itu seraya menunjuk gaun yang ia juga inginkan. Keduanya mencoba gaun masing-masing di ruang ganti. Setelah cocok mereka menuju kasir membayar gaun itu.


Sambil menunggu, netra Leni menangkap seseorang yang baru saja memasuki butik, ia mengingatnya, gadis yang dilihatnya tempo hari bersama Excell.


Tasya berjalan dengan tatapan angkuh dan berhenti pada gaun pink yang sempat ditunjuk Nayla tadi, terlihat gadis itu begitu kagum dengan gaun itu dan tak butuh waktu lama untuk mengambil gaun itu.


BRUK. Seorang pegawai yang sedang membawa tumpukan kain tidak sengaja menabrak Tasya.


"Mata kamu itu taro mana ?" Bentak Tasya dengan mata melotot membuat Leni dan Nayla terkejut.


"Saya minta maaf kak, saya tidak sengaja !" Si karyawan menunduk hormat.


"Makanya kalau jalan mata di pake !" Bentak Tasya lagi dengan keras.


"Minggir !" Tasya mendorong kasar karyawan yang hendak bersuara itu hingga gadis itu terjengkang ke belakang hampir menubruk meja kasir jika Leni dan Nayla tidak menahan tubuhnya.


"Maaf, terima kasih kak !" Ucap gadis itu menahan tangis seraya menunduk hormat dan segera berlalu dari sana.


"Bukan urusanmu !" Bentak Tasya lebih keras.


Kedua gadis itu saling melotot, Leni kembali ingin membalas ucapan Tasya namun Nayla menahannya, memberi kode jikalau mereka sekarang jadi bahan perhatian membuat Leni mengalah.


Masih dengan mimik angkuhnya Tasya menuju kasir, meletakkan dengan kasar kartu kredit di meja yang membuat siapapun yang melihat itu mengurutkan dada.


Leni dan Nayla meraih paperbag masing-masing dan berlalu dari sana. Saat memasuki mobil, tiba-tiba senyum penuh arti tersungging di bibir Leni.


"Aku lebih baik dari dia !" Bisiknya pada Nayla yang awalnya membuat gadis itu bingung namun detik berikutnya ia geleng-geleng kepala.


*****


Malam harinya, Leni menatap pantulan dirinya dalam cermin, saat ini ia sudah berubah 180° dari biasanya, kini terlihat sangat cantik dengan polesan make up tangan ahli. Namun tersenyum miris menatap dirinya, merenungi nasibnya yang akan menempuh hidup baru bersama pria yang tidak mencintainya.


"Len, ayo turun. Keluarga Excell sudah dekat !" Nayla melongokkan kepala. Leni mengangguk dan mengikuti Nayla turun ke bawah.


"Kamu cantik sekali sayang !" Mama Delia takjub melihat penampilan Leni yang sederhana namun sangat elegan dengan polesan make up yang memancarkan cantik dirinya.


"Terima kasih ma !" Leni memeluk mama Delia erat kemudian tersenyum pada semua yang berada disana.


Mereka pun mengobrol ringan seputar rencana pernikahan Leni nantinya.


"Kamu mau nanti konsep pernikahan yang seperti apa ?" Tanya mama Delia.


"Eh, maaf. Leni gak tau ma. Leni ikut aja seperti maunya papa dan mama !" Leni gugup.


"Hmm.. Baiklah. Bagusnya konsep negeri dongeng trus kamu pake baju princess !" Sang mama nampak membayangkan pemikirannya membuat Leni tersenyum geli.


"Ih, itu kayaknya lebay deh ma. Lebih bagus ala-ala pesta kebun gitu yang banyak bunga-bunganya !" Nayla tidak setuju.

__ADS_1


"Justru itu yang lebay !" Bantah sang mama langsung.


Ibu dan anak itu berdebat mengenai konsep pernikahan Leni saat terdengar suara mobil memasuki pekarangan rumah.


Papa dan mama langsung menoleh dan beranjak untuk menyambut tamunya, sedangkan Leni hanya terdiam menunggu keluarga Excell memasuki rumah.


Saat melihat keluarga itu hendak masuk, Leni segera beranjak dari duduknya bersama Nayla dan memberikan senyuman manis pada calon keluarganya.


"Ya ampun, kamu cantik sekali sayang !" Ucap mama Evelin takjub dengan penampilan seserahan namun elegan Leni.


"Terima kasih Tante !" Leni tersenyum malu apalagi semua keluarga Excell menatapnya kagum.


Excell pun sekejap tidak berkedip melihat calon tunangannya itu membuat perasaanya tidak karuan.


"Ayo silahkan duduk !" Ucap papa Amir mempersilahkan para tamu duduk di sofa yang sudah di tata ulang agar muat dalam banyak orang.


Leni berusaha meredakan rasa gugupnya saat ia duduk persis disamping Excell. Ia berusaha menetralkan detak jantungnya dengan terus menunduk.


"Akhirnya kita bisa menyelenggarakan acara ini juga, meski sederhana tapi rasanya melegakan !" Ucap mama Delia.


"Eh, belum jeng. Nanti kalau mereka udah nikah baru bisa lega !" Bantah mama Evelin.


"Oh ya, bener jeng !" Kedua wanita itu tertawa.


"Ya udah, supaya tidak membuang waktu bagaimana kalau kita mulai tukar cincinnya !" Ucap papa Rio.


"Oh iya benar !" Sambut papa Amir.


Mama Evelin mengeluarkan sebuah kotak cincin kecil dari tasnya dan menyerahkan pada Excell. Cowok itu meraih dan membukanya. Leni takjub melihat cincin putih bertahtakan berlian putih disana.


Excell mengambil cincin bertahta berlian kemudian meraih tangan Leni, disematkannya cincin cantik itu pada jari gadis cantik didepannya membuat Leni semakin terlihat cantik.


Dan sekarang giliran Leni menyematkan cincin satunya pada jari Excell. Saat berhasil menyematkannya, ada rasa bahagia yang tak bisa dicegah untuk membuncah dihatinya membuatnya mendongak menatap wajah Excel yang juga menatapnya. Laki-laki itu kemudian menatap lekat cincin yang sudah tersemat dijarinya dengan tatapan datar.


"Semoga hubungan mereka langgeng sampai hari pernikahan nanti dan sampai mereka tua seperti kita !" Ucap mama Delia.


"Amin !" Sambut semua orang membuat Leni tersenyum kecut, ia sedikit melirik kearah Excell yang setia berwajah datar.


"Kalau begitu, ayo silahkan dinikmati hidangannya !" Ucap papa Amir melihat para pelayan telah siap menata banyak makanan lezat di meja makan


Para orang tua menikmati makan malamnya dengan obrolan ringan tentang konsep pernikahan keduanya.


Setelah makan malam, Leni dan Excell menuju taman belakang dekat kolam renang. Para orang tua meminta pada mereka untuk bisa saling mengenal.


Keduanya duduk ditepi kolam renang dengan pemandangan langit malam bertabur banyak bintang.


"Aku kira rencana pernikahan kita sudah batal, kenapa tiba-tiba kita bisa tunangan ?" Tanya Leni memecah kesunyian diantara mereka.


"Kamu sendiri apa sudah bilang ke mama papamu ?" Excell balik tanya.


"Maaf kak, aku gak berani ngebantah mama papa. Jadi pembatalan ini aku tunggu dari pihak kak Excell aja yang batalin !" Jawaban Leni membuat Excell menoleh padanya dan menatap wajah serius gadis itu.


"Jadi ?" Tanya Leni lagi.


"Aku juga gak bisa ngelawan mama papa lagi. Apalagi papa, dia galak sekaliiiiiiiiiii trus kalau marah matanya seperti mau keluar !" Jelas Excell dengan ekspresi gemas membuat Leni tertawa.


Excell ingat ia begitu kesal saat mengungkapkan keinginannya untuk membatalkan rencana pernikahannya tapi pak tua itu malah mengancam akan memecatnya dari perusahaan, akan mengusirnya dari rumah dan menghapus namanya dari daftar warisan. Papa Rio mengancam dengan urat terlihat dilehernya membuat Excell ketakutan juga melihatnya mimik wajah ayahnya yang menyeramkan ditambah ancamannya membuatnya akhirnya menurut meski dengan hati yang sangat kesal.


Excell melirik Leni yang masih tertawa, menatap lekat gadis itu seraya bertanya-tanya apa istimewanya gadis ini hingga kedua orang tuanya ngotot menginginkannya sebagai menantu.


Memang ia akui gadis ini cantik dan bahkan malam ini terlihat luar biasa membuatnya sejenak melupakan Tasya.


"Eh, maaf. Aku gak nyangka om Rio segalak itu padahal kelihatannya baik banget !" Ucapan Leni membuyarkan lamunan Excell.


"Iya, tapi kalau sama anaknya sendiri dia bakal berubah jadi drakula penghisap darah. Wuih, ngeri pokoknya !" Excell bergidik membuat tawa Leni lebih kencang dari yang tadi membuat Excell juga ikut tertawa.


Setelah puas tertawa, keduanya terdiam sejenak. Mengalihkan pandangan pada guratan awan pada langit malam.

__ADS_1


"Jadi, bagaimana hubungan kita nanti kalau kita sudah menikah ?" Leni bertanya serius membuat Excell terdiam tak tahu harus menjawab apa.


Keduanya hanyut dalam pikiran tidak menentu.


__ADS_2