
Sampai di rumah, Excell langsung menuju balkon kamarnya. Bisa Leni lihat dengan jelas jikalau pria itu berusaha menghubungi seseorang.
Leni meletakkan barang-barangnya dan saat hendak menuju kamar mandi, terdengar Excell berdebat di Hpnya. Bahkan Leni bisa mendengar jeritan Tasya menuduh Excell ingkar janji membuatnya terkejut. Leni segera berlalu menghilang didalam kamar mandi meninggalkan Excell yang berusaha menjelaskan pada Tasya.
"Aku minta maaf Sya, aku gak bermaksud nyakitin kamu !"
"Percuma, kamu sudah nyakitin aku. Kamu tegaaaaaaa !" Excell menjauhkan Hp dari telinganya saat jeritan Tasya kembali hampir membuat telinganya tuli.
Jeritan itu biasanya terjadi jika gadis itu benar-benar marah membuat Excell nyaris jantungan.
"Dia cantik lho, cantik sekali jadinya pasti kamu bisa jatuh cinta sama dia !" Bentak Tasya diiringi tangisan cemburunya.
Excell terdiam mendengar itu, ia kehilangan kata-kata, tidak tahu harus mengatakan apa ada Tasya.
"EXCELLLLLLLL !" Jerit Tasya lagi membuat Excell terlonjak kaget mendengar jeritan keras itu.
"Sya, aku...!"
" KAMU JAHATTTTTTT, KAMU BOHONGGGGG... Aku benci sama kamu. Tut.. Tut.. Tut !" Tasya histeris kemudian memutus sambungan telepon.
Excell menghela nafas, kedua tangannya menggenggam erat besi balkon. Kini ia semakin pusing memikirkan kondisi ini.
Tak jauh disana, Tasya meninju bantalnya brutal. Tangisannya menyayat hati.
Pertama kali melihat istri Excell membuatnya yakin Excell bisa berpaling mengingat betapa cantiknya wanita itu.
Namun Tasya tak mau menyerah, ia tak akan kalah dari istri meski secantik apapun perempuan itu. Excell miliknya dan selamanya akan seperti itu.
Diluar kamar, Purie mengintip apa yang dilakukan Tasya. Ia biarkan temannya meluapkan marahnya agar perasaan Tasya bisa lebih baik. Namun jujur, ia pun terluka melihat Excell bersama istrinya dimana wanita itu amat cantik membuatnya semakin jauh untuk mendekati Excell.
*****
Excell yang stres memutuskan tidur, melepaskan pakaiannya dengan kasar dan melempar sembarangan hingga menyisakan boxer saja.
pria itu berbaring dan menutup selimut hingga perut dan menutup matanya dengan lengan. Pemandangan yang seksi bagi seseorang yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Bisa Excell rasakan Leni naik ditempat tidur. Hening sejenak dan detik berikutnya sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya membuat Excell tersentak dan refleks menyingkirkan lengan dari matanya. Ditatapnya Leni yang tampak mantap aduhai dengan baju tidur seksi membuatnya terpana.
Excell terdiam saat Leni kembali menciumnya, memainkan bibirnya dengan lembut apalagi tangan lembut sang istri ikut ambil andil, membelai pipinya lembut nan mesra. Excell terpejam, perlahan pikirannya mulai hampa udara, kekuatannya pun terasa tersedot hingga ia merasa lemas tak berdaya dalam kungkungan istrinya.
Tangan Leni perlahan dengan lembut berpindah ke rahang Excell, membelai bekas cukuran yang terasa geli dalam sentuhan tangannya serta dadanya bertumpu di dada excell yang mampu menambah desiran dahsyat pada keduanya.
Tangan lentik itu kembali membelai turun menuju leher hingga Excell merasakan geli disana. Saat tangan itu hendak menuju dada Excell dan akan menyentuh chocochip ajaib milik suaminya, tiba-tiba dengan cepat Excell membalik keadaan hingga kini Leni berada dibawahnya.
Keduanya bertatapan, ekspresi terkejut Leni cukup menghibur Excell dan detik berikutnya, Leni tersenyum menggoda. Perlahan ia menarik kepala Excell untuk mendekat kearahnya dan kembali mencium bibirnya lembut.
Keduanya larut dalam letupan gairah, tangan Excell tak tinggal diam, bibir dan tangannya sama-sama sibuk menyentuh area lembut juga empuk. Bahkan entah sejak kapan keduanya polos begitu saja.
Excell begitu beringas memakan habis istrinya, bibirnya tak berhenti mengecup dan ******* sedangkan tangannya sudah hinggap pada keajaiban dunia yang kembar, meremasnya juga mencicipi pucuknya membuat Leni semakin hilang kendali.
Dan penyatuan tejadi, Excell melakukannya dengan semangat seolah menumpahkan seluruh beban pikiran dan meluapkan perasaanya pada kegiatan yang sedang ia lakukan. Apalagi suara desah istrinya yang bermelodi membuat ia semakin terbakar dan terus memacu tempo dibawah sana hingga rasa nikmat terasa melewati setiap urat nadi juga meresap dalam setiap sel darah yang membuat keduanya menggila.
*****
Beberapa hari kemudian di malam hari. Leni sedang bersiap untuk menghadiri pesta bersama Excell.
Menata rambutnya dan memoles tipis make up diwajahnya serta mengenakan gaun pink selutut yang juga menutup bahunya membuatnya terlihat amat memukau.
Excell terdiam, begitu terpesona melihat penampilan terbaru istrinya membuatnya ingin kembali melempar istrinya itu ke ranjang.
__ADS_1
"Kamu cantik !" Datar sekali Excell mengatakan itu.
"Kakak juga tampan !" Leni tertawa melihat wajah dan mendengar pujian suaminya.
Leni mendekat, memperbaiki jas Excell juga membelai lembut pipi pria itu. Kedua mata itu bertemu dan hampir menghadirkan percikan gairah.
"Ya udah, ayo berangkat sekarang !" Ucap Excell, menahan diri agar tidak membawa istrinya ke kamar dan mengacaukan rencana mereka.
Keduanya sampai disebuah gedung mewah nan luas. Didalam sudah didekorasi dengan mewah nan meriah, ditengah ruangan telah disediakan panggung untuk peragaan busana para desainer terkenal.
Berbagai makanan lezat dari ringan hingga berat memenuhi sudut ruangan dengan cantik.
"Wow, baru pertama kali aku ke tempat seperti ini !" Ucap Leni dengan wajah takjub menatap seluruh ruangan.
"Memang tempat apa yang sering kamu datangi ?" Tanya Excell.
"Ya, biasa di perpustakaan atau ke mall. Biasa ke pantai atau tempat-tempat bagus lainnya. Eh, biasa juga kalau ada teman ulang tahun dirayakan di hotel yang bagus kak tapi ya gak sebagus ini !" Jelas Leni polos membuat Excell tersenyum geli.
"Ya udah nanti....!"
"Excell !"
Belum selesai Excell bicara saat sebuah suara memanggilnya dari belakang. Keduanya menoleh bersamaan, ada Tasya dan Purie yang tampak sangat cantik malam ini.
Tatapan Tasya begitu menusuk pada pengantin baru didepannya.
"Hai, apa kabar ?" Tanya Excell, menatap ramah pada kedua gadis cantik itu.
Tasya langsung menarik tangan Purie untuk beranjak dari sana meninggalkan Excell yang bengong. Pria itu hanya bisa menghela nafas melihat sikap Tasya.
Disisi lain, seorang pria yang baru datang melihat interaksi itu nampak mengerutkan kening karena mengenal mereka.
"Excell !" Panggilnya.
"Miko !" Sapanya.
Kedua pria itu berjabat tangan kemudian berpelukan.
"Apa kabar ? Sudah berapa lama di Indo ?" Tanya Excell.
"Baru aja, aku mungkin bakal menetap disini dan gak balik lagi ke China !" Ucap Miko.
"Oh itu bagus, kamu sudah menikah ?" Tanya Excell.
"Belum !"
"Oh ya Len, kenalkan ini teman SMA-ku namanya Miko dan ini Leni, istriku !" Excell menarik Leni yang sejak tadi diam melihat interaksi kedua pria itu.
"Hah ? Istri ?" Miko terkejut, sontak ia menatap Leni dari ujung kaki hingga ujung rambut kemudian menoleh kearah Tasya yang tampak mengobrol dengan Purie.
"Kok aku gak diundang ?" Tanya Miko setelah ia dan Leni selesai berjabat tangan.
"Sorry, lupa. Hehehehe !" Excell tidak tahu harus menjawab apa.
"Trus, Tasya...!" Miko tak melanjutkan. Pikirannya berputar dengan cepat melihat keadaan ini.
"Hei Mr. Miko !" Seorang pria bule memanggil Miko, membuat pria itu seketika ambyar pikirannya.
"Hei, Mr. John !" Setelah berpamitan dengan pengantin baru itu, Miko menghampiri koleganya.
__ADS_1
"Kakak mau buah ?" Tawar Leni, yang diangguki Excell.
Leni menuju meja buah dan Excell tersenyum ramah pada kolega yang menyapanya.
"Hai Cell !" Seorang menyapa membuat Excell menoleh.
"Hai Rie, apa kabar ?" Sambut Excell tersenyum ramah membuat hati Purie kian tak menentu.
Saat melihat Leni meninggalkan Excell membuat Purie refleks mendekati pria itu.
"Lama kita gak ketemu, sekalinya ketemu malah dapat kabar kamu udah nikah !" Purie tersenyum hambar.
"Hmm.. maaf, kemarin mendadak jadinya banyak gak undang teman termasuk kamu, hehehe !"
"Dia cantik, apa kamu cinta sama dia ?" Excell terdiam, pembicaraan ini mulai mendekati hal sensitif. Ia menatap Purie yang nampak berbeda dari tatapan mata maupun nada bicaranya.
"Rie !"
"Jangan bergerak !" Purie mendekat dan meraih sesuatu dari rambut Excell.
"Ini ada semut !" Ia meraih hewan itu kemudian membuangnya ke lantai.
"Eum.. Terima kasih !" Excell sedikit canggung karena Purie tadi lumayan dekat membuat pria itu menahan nafas.
"Sama-sama !" Jawab Purie seraya sedikit merapikan jas Excell.
Hal itu tak luput dari pandangan 2 wanita yang menatap tajam kejadian itu. Purie beranjak meninggalkan Excell saat melihat Leni mendekat.
"Ini kak, ayo makan !" Leni menyarahkan sepiring buah-buahan pada Excell. Keduanya menuju kursi yang telah disiapkan.
Pesta dimulai, para gaun rancangan para desainer kelas atas mulai diperlihatkan, membuat orang-orang yang memiliki selera tinggi mulai terpukau. Para model dengan begitu anggun berlenggak lenggok memukau semua orang membuat para undangan serasa dimanjakan.
Namun tidak semua orang menikmati pesta itu, Excell bertatapan dengan Tasya yang seolah mencakar wajahnya. Lain lagi dengan Leni, melihat interaksi antara Purie dan Excell ditambah dengan tatapan mata juga gestur tubuh gadis itu membuat Leni yakin jikalau teman Tasya itu ada hati pada Excell.
Seperti sekarang, bukan hanya Tasya yang menatap Excell tapi juga Purie, bisa Tasya rasakan perasaan cinta dari tatapan mata teman Tasya itu.
Pesta yang berlangsung dengan begitu meriah tak dirasakan beberapa orang yang merasa risau dalam hati masing-masing.
Tasya terlihat beranjak dari tempat duduknya, melihat itu Excell pun ikutan beranjak setelah berpamitan pada Leni.
Excell menunggu didepan toilet wanita, cukup lama Tasya berada didalam hingga gadis itu keluar dengan mata yang sedikit sembab. Ia terkejut kala melihat Excell berada tepat didepannya yang juga tengah menatapnya sendu.
Tasya melengos memutus pandangan pada pujaan hatinya itu dan memutuskan segera pergi dari sana.
"Maaf !" Satu kata Excell itu mampu menghentikan langkah Tasya. Jantung Tasya berdebar kencang menunggu kalimat apalagi yang akan Excell katakan. Ia menoleh kearah Excell kembali menatap matanya.
"aku...!" Belum selesai Excell berucap, Tasya refleks langsung memeluknya, ia begitu takut Excell menyelesaikan kata-katanya.
"Jangan bicara lagi, aku akan berusaha mengerti tentang keadaanmu dan aku akan menunggu seperti yang pernah kamu bilang !" Tasya merasa jikalau Excell berniat mengakhiri hubungan mereka membuatnya tidak rela.
"Sya...!"
"Aku sayang sama kamu dan aku yakin kamu pun masih sayang sama aku jadi aku akan tunggu sampai kamu dan dia berpisah, aku minta maaf dan aku akan turuti apapun kata-katamu yang penting kamu juga bisa tepati janjimu !" Tasya menangis terisak seraya memeluk erat Excell yang menyadari itu tidak membalas pelukan Tasya, hatinya benar-benar galau menghadapi situasi ini.
Pria itu berniat melepaskan Tasya, agar gadis itu tidak ia berikan harapan palsu karena sekarang ia tidak yakin bagaimana sekarang perasaannya bersama sang istri.
Saat keduanya masih dalam posisi memeluk, disana Leni mengintip dan mendengarkan pembicaraan itu yang membuat hatinya panas, sebelum air matanya jatuh ia berbalik hendak kembali namun ia nyaris teriak saat seseorang berdiri dibelakangnya.
"Maaf, kaget ya ?" Miko tersenyum tidak enak.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, permisi !" Leni bergegas meninggalkan area itu.
Setelah Leni berlalu, Miko yang tadinya ingin ke toilet malah melihat Leni dengan posisi mengintip yang membuatnya penasaran dan ikut mengintip yang akhirnya mendengarkan sesuatu yang mengejutkan. Ia kini menatap dalam pada Tasya yang masih memeluk erat Excell seraya terisak. Bisa dia rasakan betapa galaunya cinta segitiga ini hingga lama kemudian sebuah senyuman muncul diujung bibirnya.