
Baru saja Excell turun dari mobilnya saat sepasang tangan memeluk erat perutnya dari belakang membuatnya terperanjat kaget.
"Sayang, kamu salah paham. Yang kemarin itu cuma teman aku !" Si pemeluk to the point.
"Lepas !" Suara tegas Excell terdengar bercampur dengan amarah. Tangannya mengepal kuat menahan diri untuk tidak melepas kasar tangan itu.
"Sayang, aku gak bohong, yang kemarin itu cuma teman aku, kamu jangan salah paham, kamu jangan marah. Aku gak bisa lihat kamu marah seperti ini !" Tasya peka dengan amarah Excell.
"Itu beneran cuma teman aku yank, aku cuma sayang sama kamu !"
Tasya terus menjelaskan, berusaha mereda amarah Excell.
"Iya, Teman tapi mesra. Mana adegannya mesra lagi !" Sindir Excell, masih terdengar emosi.
Mendengar itu Tasya terdiam, ia melepas pelukannya dan berdiri didepan Excell, menatap sendu bola mata pria itu.
Diraihnya kedua tangan Excell dan ditempelkannya telapak tangan besar itu di kedua pipinya.
"Aku cuma mencintai kamu Excell Septian, tidak ada yang lain. Selama ini aku hanya berusaha menjaga hati buat kamu jadi tolong percaya sama aku !" Mata Tasya berkaca-kaca.
Excell terdiam, hatinya mulai luluh melihat mata itu.
"Yang kemarin beneran teman aku, maaf dia sempat gombal-gombal tapi aku benar-benar gak pernah macam-macam dibelakang kamu !" Kata Tasya serius.
"Lalu kenapa kamu selama ini tidak bisa dihubungi ?"
Tasya gelagapan mendengar itu namun gadis itu berusaha fokus.
"Maaf, aku kemarin masih gak terima dengan rencana orang tua kamu yang mau jodohin kamu !" Jelas Tasya masih mempertahankan mata berkacanya.
"Sayangnya itu sudah terjadi, aku sudah menikah Sya !" Ucap Excell membuat Tasya terkejut seketika.
"Maksudnya ?" Tasya memastikan ia tidak salah dengar.
"Aku sudah menikah dengan pilihan orang tuaku !" Ucap Excell.
"Apa ? Kamu bohong kan ? Kapan ? Kenapa secepat ini ?" Tasya nyaris menjerit.
"Maaf, aku kemarin berusaha untuk menghubungi kami buat jelasin ini semua tapi kamu benar-benar gak bisa dihubungin !"
"Itu bukan alasan, kenapa kamu cepat sekali terima perjodohan orang tua kamu ? Kamu bisa nolak kan ? Atau tunda kan !" Air mata Tasya lolos juga.
__ADS_1
"Maaf, aku gak bisa ngebantah orang tuaku !"
"Lalu sekarang bagaimana ? Bagaimana hubungan kita ? Putus begitu ?"
"Sya, aku sayang banget sama kamu, aku harap kamu bisa bersabar menunggu sampai hubunganku dan Leni selesai. Dia mengerti aku punya kamu dan terima kalau pernikahan ini tidak akan lama !" Excell benar-benar luluh dan kini berbalik arah dimana ia yang meredakan amarah Tasya.
"Kamu pikir itu bisa aku terima !" Bentak Tasya. Air matanya kian deras seraya menatap Excell terluka.
"Tasya, aku gak bisa menolak kemauan orang tuaku.. tapi Leni juga setuju kalau...!"
"Kamu jahat !" Belum selesai Excell bicara sebuah tamparan diterimanya disertai teriakan Tasya, detik berikutnya Tasya berlari meninggalkan pria itu dengan linangan air mata.
Excell ingin mengejar namun Tasya langsung mengendarai mobilnya meninggalkan Excell yang terlihat stress.
****
Leni duduk santai di balkon kamar memerhatikan pemandangan taman. Meski duduknya tidak nyaman karena merasakan ada yang mengganjal dalam duduknya.
Mengingat yang pertamanya membuatnya malu, walau ia yakin setelah ini Excell mungkin akan menjaga jarak padanya namun sebisa mungkin agar Excell bisa memperhatikannya atau membuat sang suami lebih sering menyentuhnya. Ya, itulah langkah penting untuk menaklukan sang suami.
Leni beranjak menuju meja riasnya, memerhatikan wajahnya yang pada dasarnya sudah cantik namun mengapa rasanya sulit sekali ia gapai hati suaminya.
Leni memutuskan mengunjungi sebuah salon kecantikan, memodel rambutnya dengan gaya kekinian dan juga melakukan perawatan tubuh menyeluruh agar ia terlihat semakin memukau didepan suaminya.
Setelah itu ia berjalan-jalan ke mall, kemarin saat jalan-jalan ia tak sengaja melihat toko pakaian dalam wanita dan sekarang ia menuju kesana. Leni memasuki tempat itu yang terperangah melihat berbagai bentuk pakaian haram itu. Melihatnya saja sudah risih, gimana kalau memakainya, namun demi menggaet hati suaminya, Leni memutuskan membeli beberapa dengan berbagai bentuk.
Setelah itu Leni memutuskan untuk pulang, saat hendak mencapai pintu keluar ia tak sengaja bertabrakan dengan seseorang hingga membuat tas belanjanya berjatuhan.
Kedua orang yang bertabrakan itu saling tatap, Leni mengingat gadis ini, ini pacar Excell.
"Maaf !" Ucap Tasya datar kemudian berlalu begitu saja.
Leni menghela nafas dan meraih paperbag miliknya dan pulang.
*****
Excell pulang ke rumah hampir mendekati tengah malam, rumah orang tuanya terlihat sangat sepi.
Excell benar-benar pusing memikirkan keadaannya sekarang, antara istrinya atau pacarnya. Lagi-lagi ia sulit menghubungi Tasya membuatnya kian stres.
Excell memasuki kamarnya dan bisa dilihatnya sang istri sedang tidur nyenyak dengan pose amburadul, dengan pakaian tidur baju celana pendek sutra ungu dengan renda dibagian dada membuat darah Excell semakin berdesir melihat pemandangan menggiurkan itu. Rasa lelahnya hilang seketika berganti gelora yang kian beranjak naik.
__ADS_1
Excell tersadar dan buru-buru berbalik arah berusaha agar tidak terlalu lama melihat pemandangan itu hingga ia kembali tergoda. Namun, sekuat apapun ia bertahan tapi kepalanya terasa bergerak otomatis menoleh ke sang istri yang menggoda iman.
Entah sadar atau tidak, Excell melepaskan seluruh pakaiannya kemudian menuju istrinya.
Pelan-pelan ia berada diatas Leni, Excell menatap lekat wanita itu. Cantik & seksi adalah kata yang pas untuk sekarang ini apalagi wangi rempah yang enak menyeruak dari kulitnya hingga mampu membuatnya tak bisa menahan diri.
Excell menyentuh pipi Leni, membelai sebentar dengan lembut kemudian turun ke leher dan hinggap di dada Leni. Excell menyingkap kain sutra itu hingga leher sang istri, ia terdiam sejenak menatap keajaiban dunia yang terpampang nyata didepan matanya itu.
Bibir Excell segera bekerja, matanya terpejam saat indera pengecapnya menikmati betapa empuk dan lembutnya keajaiban dunia itu. Tangannya pun tak tinggal diam, ikut meremas lembut.
Tangan Excell berpindah, membelai lembut perut Leni yang perlahan turun semakin bawah.
Leni melenguh dalam tidurnya, tapi Excell malah semakin nakal menggerayangi tempat yang bisa ia sentuh, pada akhirnya ia membiarkan dirinya lagi-lagi kalah oleh nalurinya yang berhasil terbakar oleh gairah.
Leni membuka mata saat merasakan kecupan cukup kuat dilehernya, ia terkejut saat bahu kekar sang suami menyambut pandangannya.
"Kak Cell !" lenguhnya saat kecupan dari sang suami membuatnya geli.
Leni ingin menolak, berharap Excell tidak menyentuhnya malam ini karena rasa sakit dan perih masih ia rasakan dibawah sana namun melihat Excell yang nampak beringas membuat Leni memilih diam.
Excell menelusuri area leher menuju dada lalu ke perut dengan kecupan maut membuat Leni pada akhirnya ikut terlena.
Saat Excell bangkit untuk memposisikan diri, Leni menyadari keduanya sudah sama-sama polos hingga keduanya menyatu membuat Leni memekik.
Excell terdiam sejenak saat merasa Leni masih kesakitan. Ia pandangi wajah terpejam seraya mengernyit itu. Dibelai lembut dahi itu membuat Leni membuka mata dan pandangan keduanya terikat dalam.
Hingga perlahan Excell mulai bergerak perlahan nan lembut, dengan pasti Leni kembali memejamkan mata saat rasa nikmat itu menjalar dengan cepat menuju urat nadinya serta meresap dalam setiap sel darahnya yang seketika membuatnya gila.
Excell menambah tempo, memejamkan mata merasakan hal yang sama. Meluapkan semua beban pikiran dengan kegiatan ini nyatanya cukup membuatnya terbuai.
Leni meremas lengan Excell yang masih setia bergerak dengan tempo yang pas. Suara-suara aneh namun mengandung makna dahsyat menggema memenuhi kamar itu.
Hingga akhirnya keduanya sampai pada puncak kenikmatan. Keduanya saling memeluk erat saat pelepasan itu datang. Masih berpelukan erat, keduanya mengatur nafas hingga pelukan keduanya terurai dan Excell berguling kesamping.
Pria itu langsung menutup kedua matanya dengan lengan, marah pada dirinya sendiri yang lagi-lagi hilang kendali.
Sedangkan Leni, ia kembali terlelap akibat tenaganya sudah terkuras habis.
Tasya kembali hinggap di ingatan Excell, amarah gadis itu saat mendengar kejujurannya membuat Excell gamang, tak dipungkiri ia masih mencintai gadis itu namun sekarang saat bersama sang istri, ia sepertinya melangkah begitu jauh dari rencananya sendiri.
Excell menoleh, menatap wajah teduh nan polos yang sudah terlelap itu. Ia merubah posisi menghadap pada Leni. Menatap lekat sang istrinya yang cantik, Ia yakin pria manapun tak akan bisa menahan diri jika wanita secantik Leni begitu menggoda. Jarinya terulur membenahi rambut Leni yang berantakan, kemudian jemari itu menelusuri hidung hingga bibir dan membelai sensual disana dengan pikiran kacau, Excell menghela nafas, menghadap ke langit-langit kamar hingga akhirnya ia pun terlelap.
__ADS_1