
Meski tidak tahu apa saja yang bisa dijadikan ajang bisnis di pesta semalam nyatanya berkat bantuan sang asisten kini perusahaan Excell ikut menanam saham pada perusahaan fashion terbesar di Indonesia itu. Menilik dari pengalaman juga hasil maka tidak diragukan jika ia ikut menyuntikkan dana.
Perusahaan itu juga akan memberi kesempatan pada pelajar atau pemula lainnya untuk mengembangkan minat juga bakat dalam bidang fashion sehingga menerima banyak dukungan positif dari berbagai kalangan.
Bukan hanya Excell. Masih banyak lagi yang tertarik menanam saham disana demi keuntungan yang besar.
Hari ini sesuai undangan yang tertuju pada calon pemegang saham yang diharapkan kehadirannya untuk pertemuan para pemegang saham disebuah hotel bintang lima.
Excell menghadiri rapat itu dan langkahnya terhenti saat melihat Tasya berdiri tak jauh dari pintu masuk dan memberikan senyuman manis menyambut kedatangannya karena semenjak malam itu, keduanya tak lagi berkomunikasi lebih tepatnya Excell menghindari kontak dengan Tasya.
Tasya hendak menghampiri Excell saat seseorang tiba-tiba muncul dan mengejutkan Excell.
"Kita ketemu lagi !" Miko menepuk keras pundak Excell.
"Ya ampun, aku kaget !" Semprot Excell seraya melotot membuat Miko terbahak.
Namun tawanya berhenti saat melihat Tasya menatap malas serta cemberut padanya membuat sebuah senyuman tipis kembali muncul diujung bibirnya. Pria itu mengedipkan sebelah matanya membuat Tasya tercengang, gadis itu segera berbalik meninggalkan pria-pria itu.
Sepanjang acara, Excell berusaha keras untuk fokus. Mengabaikan Tasya yang ia yakini sedang menatapnya dalam. Sedangkan Miko, meski ia terlihat fokus pada sang pembawa acara tapi ia begitu menyadari ada perang batin antara keduanya. Tasya tampak begitu galau melihat acuhnya Excell padanya.
Rapat para pemegang saham berjalan lancar, hasil presentasi menguntungkan semua pemegang saham. Saat semua orang sudah membubuhkan tanda tangan, maka berakhirlah acara.
Makan siang tiba, pihak penyelenggara sudah menyiapkan berbagai hidangan untuk tamu terhormat mereka.
"Duluan bro !" Excell menepuk pundak Miko kemudian berlalu setelah berpamitan pada kolega lain.
Tasya terlihat beranjak menyusul, Excell yang menyadari itu terburu-buru meninggalkan tempat itu memasuki mobilnya dan berlalu dengan kecepatan sedang.
Tasya rasanya ingin menangis melihat mobil Excell pergi hingga hilang dari pandangan. Gadis itu meraih Hp-nya dan berusaha menelpon Excell. Sedangkan yang ditelpon tidak bergeming dan tetap fokus menyetir meski Hp-nya menjerit-jerit minta diangkat.
Setelah benda itu diam, Excell memukul setir mobilnya. Ia begitu marah pada dirinya yang begitu pengecut. Akibat perasaannya yang tidak menentu membuatnya berperilaku seperti ini.
Panggilannya yang tidak diangkat akhirnya menjatuhkan air matanya, Tasya menatap nanar jalan dimana mobil Excell tadi terlihat.
"Kamu jahat, kamu bohong. Kamu bilang akan selalu ada buat aku. Kamu bilang bakal selalu cinta sama aku dan terus pertahankan hubungan kita. Kamu bohong, kamu ingkar janji. Kamu udah buat aku terluka !" Tasya menangis tidak peduli kondisi sekitar. Ia mengangkat tangan hendak melemparkan Hp-nya ke rerumputan.
Namun sebuah tangan menahan lengannya membuat tindakannya terhenti. Gadis itu menoleh dan melihat Miko menatapnya datar.
"Kalau begitu biarkan aku menyembuhkan luka hatimu dan menggantikan si Microsoft itu !" Ucap Miko seraya menempelkan lengan Tasya di dadanya membuat gadis itu tercengang.
"Maksudmu ?"
"Lupakan Excell dan datanglah dalam pelukanku !" Miko narsis membuat Tasya menganga. Ia menarik tangannya dari genggaman Miko.
__ADS_1
"Aku sudah suka sama kamu sejak SMA dan sepertinya kita jodoh. Buktinya kita ketemu lagi saat sama-sama jomblo !" Tengil sekali wajah Miko saat mengatakan itu.
"Heh, aku bukan jomblo ya. Catat !" Sentak Tasya seraya melotot sadis pada Miko.
"Oh ya ? Lalu siapa pacarmu ? Excell ?" Tanya Miko telak membuat Tasya Bungkam.
"Tahu apa kamu ?" Tasya melotot, kesal sekali pada cowok ini.
"Dia sudah nikah kan, jadi kamu masih berharap apa sama dia ?"
Tasya terdiam, matanya berkaca-kaca. Demi apapun ia belum rela melepaskan Excell, pria yang ia cintai.
"Nggak, Excell akan balik sama aku lagi. Dia udah janji kalau dia bakalan balik ke aku lagi. Kami akan sama-sama lagi !" Tasya berusaha keras tahan tangis.
"Mungkin, tapi aku gak yakin itu akan terjadi. Lebih baik kamu lupakan dia dan move on lah padaku !" Miko meyakinkan.
"Aku bisa lebih sayang ke kamu dibandingkan si microsoft itu jadi lupakanlah dia !" Sahut Miko melihat Tasya terdiam.
"Aku akan menerima cintamu dengan lapang dada selama kamu bisa membahagiakanku !" Sambungnya kali ini meraih dagu Tasya dan berperilaku seolah akan mencium gadis itu.
Tasya yang tersadar segera mendorong wajah cowok itu hingga Miko nyaris terjengkang ke belakang.
"Dasar sinting !" Semprot Tasya sebelum berlalu dan segera memasuki mobilnya.
*****
Excell memasuki perusahaannya dengan perasaan gusar, ia tergesa-gesa memasuki ruangannya. Langsung duduk di kursi kebesarannya seraya melonggarkan dasinya yang membuatnya terasa sesak.
Matanya berpusat pada langit-langit ruangan, Tasya benar-benar membuatnya kacau balau namun di satu sisi ia juga tak ingin membuat Leni marah.
Excell begitu pusing, ia mengacak-acak rambutnya ditambah perutnya yang lapar karena tidak menyentuh makanan apapun di hotel tadi. Kehadiran Tasya malah membuatnya melupakan segalanya.
Excell beranjak hendak memerintahkan asistennya untuk memesankannya makanan, namun langkahnya terhenti saat matanya melirik kearah sofa.
"Ya ampunnnnnn !" Pekiknya kaget saat melihat Leni duduk cantik disana seraya menatapnya misterius membuat Excell merinding.
"Kamu sejak kapan duduk disitu ?" Tanya Excell setelah sadar dari kekagetannya.
Leni menoleh kearah jam dinding dibelakang Excell.
"Baru 10 menit yang lalu. Ini aku bawakan makan siang. Tadi waktu datang, kata pegawaimu kamu ada rapat di hotel jadinya tadi aku mau pulang karena pikir kamu makan disana !" Jelas Leni seraya meletakkan rantang diatas meja.
"Oh ya, wow, oke. Kebetulan aku lapar, disana aku gak makan apa-apa !" Ucap Excell. Ia mendekat dan mulai memakan apa yang disiapkan istrinya.
__ADS_1
"Enak, masakanmu ?"
"Bukan, buatan bibik, aku cuma bawakan kesini !" Keduanya tertawa.
"Nanti kapan-kapan aku bawakan masakan buatanku !"
"Oke, aku tunggu !"
Excell fokus dan begitu lahap pada makanannya, melupakan sejenak permasalahan cinta segitiganya. Lain lagi Leni, ia memerhatikan Excell makan seraya menerka-nerka apa yang membuat pria itu nampak begitu gelisah saat memasuki ruangannya. Siapa yang ditemui disana ? Tasya kah ?
Menyadari Excell pasti sulit lepas dari masa lalunya apalagi cintanya ada gadis itu besar membuatnya harus ekstra sabar dalam memperjuangkan hati Excell.
"Kamu gak makan ?" Pertanyaan Excell membuat Leni tersentak.
"Nggak, aku tadi udah makan. Itu makanan khusus untuk kamu seorang !"
Mendengar itu, Excell tersenyum dan kembali mengunyah makanannya.
Setelah selesai, Leni membereskan peralatan makan Excell. Sang suami kini fokus pada dokumen di mejanya. Excell terlihat amat tampan saat serius seperti itu membuat Leni senyum-senyum tidak jelas.
"Kenapa senyum-senyum begitu ?"
"Nggak, kamu tampan mas !" Jawab Leni membuat Excell geleng-geleng kepala mendengar itu.
"Kamu kenapa tadi kelihatan gelisah ? Ada masalah ?" Tanya Leni. Excell terdiam sejenak.
"Nggak apa-apa, cuma masalah kerjaan aja. Kamu gak perlu khawatir !" Tandas Excell membuat istrinya tersenyum tipis.
Leni menoleh sejenak pada pintu yang tertutup rapat kemudian beralih pada Excell yang kembali fokus pada dokumen didepannya. Perlahan wanita itu mendekat, Excell mendongak saat Leni berada disampingnya.
"Kenapa ?" Tanyanya bingung. Leni hanya tersenyum kecil seraya menggeleng, kemudian ia duduk dipangkuan Excell membuat pria itu terkejut.
"Len !" Excell melotot melihat senyum mesum Leni.
Leni membelai lembut pipi dan rahang suaminya, setelahnya mendekatkan wajahnya dan mencium Excell yang kaget atas tindakan istrinya namun tak ayal matanya ikut terpejam dan menikmati ciuman istrinya.
Suasana sunyi melingkupi keduanya yang terus menikmati apa yang keduanya lakukan. Tangan Excell pun tak tinggal diam, ia meraba apa saja yang bisa ia raba.
Namun suara ketukan pintu membuat semua itu berakhir, Excell bahkan hampir melepas kancing baju Leni saat wanita itu segera berdiri dan memperbaiki penampilannya sebelum si pengetuk masuk.
Tak lama asisten Excell masuk dan tersenyum ramah pada istri bosnya namun mengerutkan kening saat melihat tatapan intimidasi Excell.
"Ya udah mas, aku pulang dulu ya !" Pamit Leni yang diangguki Excell terpaksa.
__ADS_1