
Leni terbangun dan menatap Excell yang masih terlelap sambil mendengkur, pria itu terlihat lelah membuat Leni tak sampai hati membangunkannya. Mumpung hari libur, ia biarkan saja Excell tidur sepuasnya.
Jam sepuluh lewat, Excell akhirnya bangun. menatap keluar jendela dimana matahari bersinar sangat terang. Pria itu bangkit seraya merenggangkan otot tubuhnya, matanya fokus pada pemandangan luar jendela yang terbuka hingga ia beralih pada seseorang yang nampak sibuk di sisi lainnya.
Leni sedang membelakangi suaminya seraya memasukkan pakaian bersih Excell ke lemari, Excell menatap sang istri dari ujung kaki ke ujung rambut dimana wanita itu terlihat sangat seksi dengan gaun tali spageti diatas lutut membuat sesuatu dalam dirinya seketika bangkit untuk minta disalurkan.
"Len, bisa tolong kesini !" Excell yang kembali merebahkan tubuhnya memanggil.
Leni menoleh dan segera menghampiri suaminya.
"Iya mas ?" Tanyanya.
Tanpa kata Excell meraih tangan Leni dan menariknya hingga terjatuh menimpanya membuat wanita itu memekik kaget.
Tanpa ba-bi-bu, Excell kemudian ******* bibir indah sang istri. Leni yang awalnya terdiam karena terkejut kini memejamkan mata ikut larut dalam permainan suaminya. Tangan lembutnya menelusuri setiap jengkal otot Excell.
Excell berguling bersama Leni diperlukannya membuat wanita itu kini berada dibawah kuasanya.
Seperti orang yang kelaparan, Excell dengan brutal menikmati kulit lembut wanita dibawah kungkungannya. Semua area lembut maupun yang empuk sekali tak lolos dari kecupan bibirnya yang membuat sang istri semakin merasa gila. Suara desahnya semakin menyulut sang suami untuk berbuat sesuka hati.
Sejujurnya, jauh di lubuk hati Excell, ia mulai merasa bersalah karena bertemu Tasya dibelakang Leni padahal ia tak perlu merasa risau sebab ia pernah menjelaskan kepada Leni tapi entah mengapa rasa bersalah itu tetap ada.
Penyatuan terjadi, keduanya menggila. Rasa nikmat yang menjalar dengan cepat pada setiap urat nadi hingga meresap dalam setiap sel darah membuat keduanya lupa segalanya. Rasa nikmat yang mendominasi membuat keduanya serasa terbang ke langit ketujuh, terutama Excell, bukan hanya berusaha melepaskan hasratnya tapi juga beban pikirannya yang terasa mencekiknya.
🐟🐟🐟🐟🐟
Tasya sedang fokus pada dokumen didepannya saat seseorang didepannya menyerahkan sebuah map, Tasya meraihnya karena itu map untuk orang yang akan berkerja padanya.
Tanpa melihat orang didepannya dibukanya map itu dan seketika melihat nama serta foto yang tertera disana. Seketika Tasya mendongak yang disambut kedipan mata oleh Miko.
"Hai cantik, kita ketemu lagi !" Miko tersenyum menggoda.
"Melihatmu rasanya membuat moodku hancur !" semprot Tasya.
"Ih, kok kamu gitu sih ? aku kan sengaja meluangkan waktuku hanya untukmu !" Miko sok imut membuat Tasya mau muntah.
"Kamu ada apa kesini ?" Tanya Tasya seraya membuka berkas Miko tadi.
"Mulai hari ini aku akan jadi partner kerja kamu !"
"Hah ? Nggak mungkin !"
"Semua mungkin lho !"
"Tapi kan !" Tasya langsung stres, membayangkan Miko akan selalu mengganggunya.
"Aku ikut kerjasama di perusahaan ini dengan syarat aku mau ikut melihat langsung semua pekerjaan para desainer terutama desainer cantik sepertimu !" Miko tersenyum menggoda diiringi kedipan mata membuat Tasya sebal.
"Dasar sinting !"
🐟🐟🐟🐟🐟
Excell membuka mata dimana hari benar-benar sudah sangat siang. Pertempuran tadi kembali menguras tenaganya. Tak dilihatnya Leni berada disampingnya, ia terdiam dengan posisi duduk sambil menatap kosong luar jendela.
Pintu terbuka menampilkan Leni yang terlihat segar.
"Mas udah bangun ! Ayo makan siang, mas pasti lapar kan ?" Ucap Leni.
Excell mengangguk kemudian beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Leni langsung merapikan tempat tidur yang beberapa saat lalu membuatnya mabuk kepayang. Kemudian ia menyiapkan baju ganti untuk sang suami.
Excell mandi dengan cepat, meraih pakaian yang sudah tersedia dan keluar menuju meja makan bersama sang istri. Keduanya menikmati makan siang dengan tenang.
Hp Excell berbunyi, sebuah pesan masuk membuat pria itu melirik.
__ADS_1
..."Nanti jam 10 kamu datang yah ke restoran favorit kita berdua. Aku akan tunggu kamu di taman. Aku akan tunggu sampai kamu datang , sampai kamu datang !"...
Excell menghela nafas berat membuat Leni mendongak ke arahnya.
"Kenapa mas ?" Tanyanya.
"Maaf, nanti malam aku harus temui rekan kerjaku !" Ucapan Excell membuat Leni mengurutkan kening.
"Kenapa gak datang kesini aja !"
"Dia gak mau, dia mau ngerasain suasana malam Minggu juga !"
"Oh. oke !" Meski heran Leni tidak bertanya lebih lanjut.
Hingga jam 10 malam, Leni sudah terlelap. Menyisakan Excell yang masih terjaga. Setelah berperang batin, akhirnya ia memutuskan untuk menemui Tasya. Sulit untuk mengabaikan gadis itu, apalagi dalam kondisi malam seperti ini.
Excell beranjak perlahan, tidak ingin menganggu Leni, ia meraih kunci mobil dan perlahan keluar. Ia memasuki mobil, terdiam sejenak sambil berpikir kemudian menjalankan mobilnya.
Sementara Tasya yang sudah berada di taman, menunggu dengan harap-harap cemas. Ia benar-benar berharap Excell datang hingga ia tak akan ragu jika pria itu memang masih mencintainya.
Sebuah tangan hinggap di pundaknya membuatnya tersadar, dengan cepat ia bangun dari duduknya, dan langsung memeluk tubuh dibelakangnya.
"Akhirnya kamu datang, terima kasih. Ini buat aku yakin kalau kamu memang masih sayang sama aku !" Tutur Tasya. Ia memeluk erat tubuh itu, memejamkan mata seraya menikmati aroma tubuh itu.
Hingga kemudian ia merasa sedikit janggal, postur tubuh ini terasa berbeda. Wangi parfum ini juga membuatnya merasa tidak asing. Tasya membuka mata kemudian mendongak, seketika ia melotot saat senyum menyebalkan Miko menyambut pandangannya.
Seketika Tasya dengan cepat melepaskan pelukannya hingga ia terjatuh ke belakang. Namun segera ia bangkit saat melihat Miko hendak menolongnya.
"Kamu ngapain disini ?" Semprot Tasya.
"Harusnya aku yang tanya kamu lagi apa disini sendirian ? Gak takut diculik genderuwo ?"
"Gak lucu, tolong pergi karena kamu merusak moodku !"
"Takdir kepalamu !" Semprot Tasya sambil memelototi Miko sadis.
Miko terpaku melihat reaksi Tasya didepannya, ia menatap datar sesaat.
"Kamu tetap cantik kok meski marah-marah begitu !" Ucap Miko tanpa beban.
GUBRAKKK
Rasanya tubuh Tasya terhempas bebas ke tanah mendengar ucapan cowok didepannya. Tasya hendak pergi tak ingin meladeni cowok sinting ini saat tangannya dicekal dan sedikit tarikan kuat membuat Tasya oleng dan berakhir dipelukan Miko.
Seperti drama Korea, keduanya terpaku dalam tatapan dalam bagai atmosfer berputar disekitar keduanya. Miko tersenyum melihat wajah jarak dekat Tasya sedangkan gadis itu mendengus menatap sebal pada wajah Miko yang amat dekat padanya.
"Awwww !" Keduanya berteriak bersamaan saat Tasya mencolok mata Miko membuat pelukan Miko terlepas dan tanpa sengaja mendorong gadis itu hingga tubuh Tasya jatuh ke tanah dengan cukup keras.
"Kamu kok kasar gitu sih ?" Miko geram juga merasakan ketidaknyamanan di matanya.
"Hei, kamu yang kasar. Aduh, bokongku sakit !" Tasya juga tak terima saat Miko begitu saja menjatuhkannya.
"Kamu itu harusnya lembut dong, apalagi sama calon masa depanmu ini !" Kata Miko membuat Tasya berdecih.
"Salah sendiri, huh !" Tasya tidak peduli dan segera balik badan untuk pergi dari sana. Namun ia mematung saat melihat tak jauh dari sana, Excell berdiri seraya menatapnya bersama Miko dengan tatapan yang sulit diartikan.
Gadis itu tersadar sambil tersenyum, dengan cepat ia menghampiri Excell dan memeluknya erat. Ia kembali memejamkan mata seraya menikmati aroma tubuh Excell yang sesungguhnya.
Sesaat kemudian gadis itu membuka mata saat menyadari Excell tidak membalas pelukannya. Ia mendongak menatap wajah Excell yang sedang bersitatap dengan Miko.
"Ayo masuk, kamu lapar kan !" Excell melepas pelukan Tasya dan berlalu memasuki restoran, Tasya berlari kecil menyusul pria itu meninggalkan Miko yang menatap tajam keduanya. Ia pun memutuskan ikut masuk ke restoran itu.
Suasana restoran di jam seperti ini sudah terlihat cukup sepi hanya terlihat 3 meja yang masih terisi. Keduanya kemudian duduk disudut.
__ADS_1
"Kamu jangan salah paham ya, aku tadi gak sengaja ketemu Miko trus dia jahilin aku terus. Aku kira tadi kmu yang datang malah dia yang muncul, jengkel sekali sama cowok perusuh itu !" Jelas Tasya yang hny ditanggapi datar oleh Excell.
"Tidak masalah !" Setelah mengatakan itu, Excell kembali diam.
Tasya ingin menjelaskan lagi saat seorang pelayan mendekati mereka.
"Mas, pesan beef steak 2 dengan jus jeruk 2 sama air mineral juga 2 !" Pesan Tasya kepada pelayan itu.
Setelah pelayan itu berlalu, Tasya beralih kepada Excell yang sejak tadi diam.
"Kamu kenapa diam terus ? Gak suka aku ajak kesini ?" Tebaknya.
"Kita makan aja dulu. Kamu lapar kan, aku juga lapar soalnya !" Dalih Excell.
Perasaan Tasya jadi tidak karuan, entah mengapa tatapan Excell berbeda malam ini.
Pesanan mereka datang, Excell lngsung melahap makanannya tidak memperdulikan Tasya yang terus saja meliriknya. Keduanya menikmati makanan masing-masing dalam diam hingga tandas.
"Sya !" Ucap Excell membuat Tasya terkejut.
"I.. iya !" Jawabnya gugup.
"Ayo akhiri !" Excell menatap tepat manik mata Tasya.
Seketika tubuh Tasya bergetar mendengar kalimat itu.
"Akhiri ap...!"
"Ayo putus, maaf aku sudah menikah dan aku tidak bisa terus lanjutin hubungan ini dengan kamu !"
Bagai disambar geledek, Tasya kaget. Matanya sudah berkaca-kaca, ia menatap tidak percaya pada excell yang terlihat yakin dengan keputusannya.
"Tapi kenapa ? kamu udah gak sayang sama aku lagi ? kamu jatuh cinta sama istri barumu itu ?" Cecarnya.
Mendengar kalimat itu membuat Excell terdiam, dia hanya bisa menatap Tasya dengan rasa bersalah.
"Maaf !" Kata Excell singkat.
"Kenapa kamu berubah ? kamu udah janji bakal balik lagi ke aku. Kita bisa tetap seperti dulu walau kamu udah nikah sama orang lain. Kamu tetap bakal sayang sama aku terus. Kamu bilang begitu kan ?" Cecarnya lagi dengan limpahan air mata di pipinya.
"Aku minta maaf. Maaf aku ingkari janji. Maaf perasaanku berubah. Maaf sekali lagi maaf !" Excell memelas.
"Kamu jahat. Kamu bohong !" teriak Tasya membuat semua yang berada di restoran seketika menoleh. Tapi Tasya tidak peduli, ia hanya bisa menatap benci pada excell.
"Kenapa seperti ini ? Kamu janji kita bakal nikah ! Kamu janji bakal tetap jaga hati buat aku meski kamu udah menikahi cewek lain. Kamu bilang dia bisa terima itu ! Tapi kenapa ? kenapa sekarang ?" Air mata Tasya terus meleleh. Ia tergugu membuat Excell tak tahu harus berbuat apa.
"Kamu jahat, kamu pengecut !" Bentak Tasya emosi. Excell hanya menghela nafas.
"Maaf Sya, beginilah keputusanku. Jadi tolong jangan hubungi aku lagi untuk bertemu seperti ini. Aku gak akan mau datang lagi. Sekali lagi aku minta maaf !" Excell beranjak dari duduknya mengeluarkan dompet, ia meletakkan beberapa lembar uang di meja dan berlalu keluar tanpa kata lagi.
Tasya terperanjat, ia meraih cepat tasnya kemudian menyusul Excell dengan langkah juga cepat.
"Sayang.. Sayang !" Panggil Tasya dengan berurai air mata tapi Excell tidak menggubris sama sekali. Pria itu memasuki mobilnya dan segera menjalankannya meninggalkan Tasya yang berusaha menggapai mobil itu hingga ia tersandung dan terjatuh.
Tangis Tasya semakin pecah saat ia hanya bisa menatap mobil itu hilang dibelokan. Gadis itu terus menangis tak peduli sekitar berharap Excell kembali menghampirinya.
Seseorang menarik Tasya dan memeluknya erat membuat tangis gadis itu semakin deras. Miko membelai lembut kepala Tasya, berusaha menenangkan gadis itu.
Ya, ia mendengar semua pembicaraan Tasya dan Excell didalam tadi.
"Sudah, keputusan Excell sudah benar dan tolong kamu terima dengan lapang dada !" Ucapnya lembut. Mendengar kalimat itu, tangis Tasya serasa tak ingin berhenti mengalir.
"Aku sayang banget sama dia tapi kenapa dia tega ?" Tasya sesenggukan.
__ADS_1
"Ini yang terbaik, relakan Excell. Dia sudah jadi milik orang lain !" Tegas Miko membuat Tasya terus menangis.