Menyulut Gairah Suamiku

Menyulut Gairah Suamiku
Bab 6


__ADS_3

Seminggu lagi pernikahan Excell dan Leni. hari ini keduanya diperintahkan untuk fitting baju dan mencari cincin pernikahan.


Keduanya menuju butik untuk mencoba pakaian pengantin pilihan orang tua mereka yang artinya Leni tidak bisa mengenakan gaun pilihannya. Sampai disana, keduanya langsung mencoba pakaian yang sudah dipesankan. Merasa pas di badan, keduanya tak berlama-lama disana dan langsung menyetujui pakaian pengantin itu.


Setelah itu, keduanya menuju toko perhiasan terbesar disalah satu mall terbesar di kota itu. Sesampainya disana, keduanya begitu terpukau menatap barisan cincin dengan berbagai bentuk yang menawan nan mewah.


"Kamu pilih yang kamu suka !" Ucap Excell, Leni langsung mengangguk.


Gadis itu memperhatikan cincin satu ke cincin lainnya membuatnya bingung.


Hingga akhirnya, tatapannya tertuju pada cincin kawin emas bertahtakan berlian ungu sedangkan untuk cincin satunya polos dengan ukiran abstrak yang seketika membuatnya jatuh cinta.


"Menurutmu yang ini bagaimana ?" Tanyanya pada Excell seraya menunjuk cincin itu.


Excell memperhatikan cincin itu, menurutnya cincin itu berliannya kecil bahkan cincin pertunangan kemarin saja masih lebih bagus.


"Kamu yakin ?"


"Kenapa ? Kamu gak suka yah ?"


"Bukan gak suka, cuma aku mampu beliin kamu yang lebih bagus, yang berliannya lebih besar !"


"Nggak apa-apa, aku suka ini supaya aku bisa pake terus takutnya kalau beli yang berliannya besar nanti aku dijambret !" Jelas Leni.


Mendengar itu, Excell terdiam berusaha mencerna ucapan barusan.


"Ya udah dek, tolong bungkuskan cincin itu !" Ucap Excell pada pegawai disana seraya menyerahkan kartu kreditnya.


"Tolong tunggu sebentar ya kak !" Pegawai itu membungkuskan cincin kawin itu.


"Yank !" Sebuah suara seketika membuat Excell membeku. Perlahan ia berbalik dan menatap Tasya yang menatapnya curiga.


Tanpa kentara, Leni menjauh perlahan dari Excell, berusaha agar tidak menimbulkan kecurigaan.


"Kamu sama siapa disini ?" Tanya Tasya melirik kearah Leni yang nampak tidak peduli pada keduanya.


"Sendirian, aku kesini diminta tolong sama mama buat ambilin cincin pesanannya !" Bohong Excell.


"Oh, aku kira kamu sama dia !" Tunjuknya pada gadis yang menerima kotak cincin beserta kartu kredit Excell dan langsung berlalu begitu saja, menegaskan jika dia dan Excell benar-benar tidak saling kenal.


"Oh ya, kamu sendiri sama siapa kesini ?" Excell balik tanya.

__ADS_1


"Sama mama tapi dia lagi pergi ke toko kue deh !" Jawab Tasya.


"Ya udah, aku mau langsung pulang takutnya mama tungguin cincinnya !"


"Ya udah, aku cari mama dulu. Bye !" Tasya dan Excell menuju arah yang berbeda.


Excell menoleh kesana-kemari mencari keberadaan Leni dan akhirnya menemukan gadis itu sembunyi disamping mobilnya.


"Pacar kakak mana ?" Tanyanya saat Excell berada didepannya.


"Dia pergi menemui mamanya. Mau langsung pulang ? Gak mau jalan-jalan dulu ?" Tawarnya yang disambut gelengan kepala Leni.


"Gak usah kak, nanti pacar kakak lihat trus kalian perang, gimana ?" Jawab Leni membuat Excell tertawa.


"Ya udah, kita cari tempat makan dulu baru pulang !"


*****


Setelah fitting baju dan membeli cincin kawin, Excell dan Leni sudah dilarang untuk bertemu. Keduanya pun tetap diminta untuk melakukan serangkaian perawatan sebelum hari H.


Biasanya setelah itu, disamping menyusun skripsinya, Leni juga sering menghabiskan waktunya membaca tips-tips apa saja yang seharusnya dilakukan seorang istri kepada suami dari bangun tidur hingga tidur kembali membuat gadis itu sesekali merona saat sesuatu yang menjurus ke ranjang ikut terbaca.


Ia bahkan sudah lama belajar masak hingga ikut kursus. Selain itu, ia harus belajar tentang fashion juga skinker agar dia bisa merebut hati Excell nanti dengan daya pikatnya sebagai wanita.


Hari berlalu hingga sehari sebelum pernikahan, Excell mengajak Tasya bertemu yang tentu saja membuat gadis itu senang karena ia memang merindukan cowok itu. Excell memintanya menemuinya di sebuah kafe membuat Tasya merasa aneh karena biasanya Excell akan menjemputnya.


"Sayang kangen !" Tasya langsung memeluk Excell dari belakang saat melihat cowok itu duduk disudut sambil memperhatikan pemandangan luar jendela.


Suasana cukup ramai apalagi dimeriahkan oleh band yang bersuara indah menambah keseruan suasana kafe yang membuat Excell seketika mengurungkan niatnya.


"Aku juga kangen kamu !" Excell mengelus lembut lengan Tasya yang melingkar dilehernya.


Tasya beralih duduk didepan Excell, keduanya tersenyum seraya menikmati suasana kafe yang romantis.


"Tumben kamu ajak aku kesini !" Kata Tasya yang hanya dijawab oleh Excell dengan senyuman.


"Mau coba suasana baru, ayo kita pesan !" Excell memanggil pelayang dan memesan makanan mereka.


Keduanya mengobrol ringan, bersenda gurau sampai tertawa hingga pesanan mereka datang dan keduanya terdiam menikmati makanan itu hingga habis.


Excell menatap gadis didepannya dengan rasa bersalah yang semakin membuncah.

__ADS_1


"Kamu kenapa ?" Tasya menyadari tatapan aneh Excell.


"Bagaimana kalau kita keluar, disini terlalu berisik !" Ajak Excell, Tasya hanya mengangguk seraya mengikuti langkah cowok itu.


Tiba-tiba Tasya berpikir jikalau sikap aneh Excell sekarang ini karena cowok itu hendak melamarnya dan ingin membuat kejutan, ia pun merasa senang dan rasanya tak sabar menunggu ucapan itu keluar dari mulut Excell.


Excell membawa Tasya kearah taman yang masih berada dilingkungan kafe itu, suasana cukup sepi dan mendukung untuk Excell mengutarakan maksudnya.


Tasya pun yang sangat yakin jika Excell akan melamarnya jadi gugup saat mereka sudah duduk di bangku panjang taman itu, matanya menelisik kantung pakaian Excell mencari dimana cincin itu berada.


Excell terlihat gelisah, dengan tatapan mata menoleh kesana-kemari juga keatas dan kebawah seraya meraba belakang kepalanya, ia benar-benar bingung bagaimana menyampaikannya.


"Kamu kenapa sih ?" Tasya bingung juga dengan ekspresi Excell.


"Aku mau nikah !" Excell to the point. Jantungnya terasa bertalu-talu.


Tasya terdiam, rasa senang membuncah dihatinya saat Excell mengatakan itu. Apa ini akhirnya penantian keduanya akhirnya terwujud. Senyum lebar menghiasi bibirnya yang menandakan ia bahagia.


"Tapi sama cewek lain, pilihan orang tuaku !" Excell menatap Tasya sedih.


Senyum gadis itu langsung luntur seketika, ucapan Excell barusan bagai bom yang meluluhlantakkan perasaannya.


"Maksudnya bagaimana ?" Tasya emosi.


"Maaf, aku gak bisa nolak perjodohan orang tuaku !" Mendengar itu Tasya menangis, ia tidak menyangka akan kehilangan Excell.


"Kamu bercanda kan ? kamu lagi nge-prank aku kan ?" Tasya berharap Excell sedang mengerjainya namun cowok itu malah menggeleng dengan mimik serius.


"Tapi kamu tenang aja, aku sama Leni sudah bicara. Aku udah jujur sama dia kalau aku cuma cinta sama kamu. Dia mengerti dan gak akan menghalangi hubungan kita !" Excell meraih dan menggenggam erat tangan Leni.


"Kalau begitu jangan nikahi dia !" Bentak Tasya, ia menatap nyalang cowok didepannya.


"Gak bisa, aku harus nikahi dia atau papa akan memecatku dari perusahaan dan dicoret dari daftar pewaris !"


Tasya terdiam, jika Excell tidak jadi direktur utama dan menjadi pengangguran maka semakin jauh baginya untuk hidup makmur nantinya tapi memikirkan dia menikahi wanita lain membuat ia tidak terima juga.


"Nggak, kamu harus cari cara supaya papa kamu gak pecat kamu tapi jangan juga menikah dengan cewek lain, aku gak terima !" Tangis Tasya masih deras.


"Tapi aku benar-benar gak tau bagaimana lagi tolak keinginan papa. Kamu tenang aja, hubungan kita akan tetap baik-baik aja meski aku udah nikah, aku sayang sama kamu !" Excell ingin menghapus air mata Tasya namun ditepis gadis itu.


"Aku gak mau tau, aku gak terima kamu nikah sama orang lain. Kamu harusnya pertahanin hubungan kita ke orang tuamu bukan malah terima dijodohkan, kamu pasti bohong kan bilang sayang sama aku, kalau kamu sayang PERTAHANIN !" Tasya murka dan segera bergegas meninggalkan Excell.

__ADS_1


Excell terus memanggil nama Tasya dan berusaha mengejarnya namun gadis itu lebih dulu memasuki mobilnya dan pergi dari sana dengan tangisan deras.


Sementara Excell melihat kepergian mobil Tasya sambil menendang batu kecil dengan emosi, ia menarik nafas meredakan galau dihatinya kemudian berlalu pulang seraya memikirkan bagaimana membujuk Tasya nantinya.


__ADS_2