Menyulut Gairah Suamiku

Menyulut Gairah Suamiku
Bab 15


__ADS_3

Tasya dan Purie sedang menghabiskan waktu di sebuah cafe, bekerja sambil makan. Didepan keduanya telah berserakan kertas yang dipenuhi desain baju.


"Ini bagus kali kalau di bagian dada dikasih bunga besar jadi kesannya cantik dan eksotis !" Saran Tasya.


"Eh, menurutku lebih bagus kalau yang ini polos aja supaya nanti yang make bisa dipadukan dengan perhiasan apa aja. Kalau pake bunga tu kesannya norak bukan eksotis !" Sangkal Purie membuat Tasya melotot.


"Norak darimana ? Itu bagus lho apalagi nanti disesuaikan sama selera kekinian orang-orang !"


"No.. no.. no.. no.. no.. Bisa kalau yang pake nenek-nenek, pasti eksotis dan cantik !"


"Kampret !"


"Ya emang begitu, jangan pake bungalah ganti gitu pake pita atau bener deh yang polos aja supaya cocok sama perhiasan apa aja !" Purie.


"Inikan karyaku harusnya kamu dukung dong !"


"Ya aku dukunglah makanya aku kasih masukan supaya karyamu lebih bagus tapi pilihanmu bikin geleng-geleng kepala !" Purie mengerti jikalau Tasya sedang galau makanya sulit fokus.


Keduanya berdebat layaknya anak TK rebutan mainan.


"Pokoknya jangan pake bunga besar, norak !"


Tasya hendak melawan ucapan Purie saat mendengar suara fals menyanyi membuat keduanya sontak menoleh.


"🎶Kau cantik hari ini dan aku ganteng🎵. Kau lain sekali dan aku ganteng🎶 !" Miko muncul dengan setangkai bunga mawar di mulutnya dengan penuh percaya diri, tidak peduli meski suaranya hancur.


Layaknya pangeran, Miko langsung duduk disamping Tasya seraya menatapnya syahdu. Meraih bunga mawar di mulutnya dan memberikannya ada Tasya yang menatapnya bergidik pada bunga itu tapi tetap ia terima.


"Eum...!"


"🎶Berhenti aliran darahku saat kau menatap mataku🎵. Kau cantik hari ini dan aku ganteng🎶 !" Tasya tersentak kaget sekaligus panik saat Miko kembali menyanyi dengan suara yang lebih keras membuat semua mata yang ada di cafe itu seketika menoleh kearahnya membuatnya malu.


Seketika ia menatap sengit pada Miko, apalagi tidak sedikit yang tertawa mendengar suara Miko. Didepannya Purie pun terpingkal-pingkal tanpa suara hingga wajahnya memerah.


"Kamu sudah makan ?" Tanya Miko lembut seraya memegang tangan Tasya.


"Ini lagi makan !" Jawabnya ketus. Miko langsung melihat piring di meja dan pandangannya tertuju pada kertas desain didepan Tasya.


"Wah, ini karya kamu ?" Tanya dengan tatapan takjub.

__ADS_1


"Iya, itu desain yang nanti mau dibikin sama Tasya. Rencananya dia mau tambah bunga besar di bagian dada !" Lapor Purie.


"Hah ?" Mendengar itu seketika kening Miko berkerut. Ia menatap lekat desain yang didepannya.


"Jelek ah kalau ditambah bunga besar kesannya seperti cosplay bunga bukan gaun !" Serius sekali wajah Miko saat mengatakan itu membuat Tasya melotot sedangkan Purie ia kembali tertawa.


"Heh, memang kamu tahu apa soal fashion ? Kamu tuh fokus aja sama dokumen-dokumenmu !" Tasya melotot sadis membuat Miko melongo.


"Aku ngerti lho karena aku berharap menjadi sumber inspirasi untukmu ?" Miko semakin tidak nyambung.


"Hah ?"


Miko meraih tangan Tasya dan meletakkan di dadanya.


"Aku berharap mulai detik ini bisa menjadi inspirasi untukmu dalam mendesain sebuah pakaian karena itu artinya aku termasuk orang yang berharga untukmu !" Merdu sekali terdengar kalimat Miko membuat Tasya dan Purie kompak menganga.


Miko tersenyum seraya mendekatkan wajahnya ada Tasya kemudian mengecup pipi kanan gadis itu membuat mata kedua gadis itu melotot.


"Mikooooo !" Tasya menjerit.


"Aku pergi dulu sayang. Jangan terlalu capek, kerja seperlunya dan istirahat ya. Aku tuh gak bisa lihat kamu kenapa-kenapa !" Miko mengedipkan matanya seraya beranjak dari duduknya dan berlalu dari sana begitu saja.


"Apa yang baru saja terjadi ?" Tasya bertanya ada Purie dengan ekspresi linglung.


*****


Waktu tengah malam, Excell bangun dengan begitu pelan dari kasurnya, berusaha agar Leni yang tengah terlelap tidak terganggu. Cowok itu meraih pakaian kasualnya kemudian mengendap-endap keluar kamar seraya menengok kearah ranjang memastikan sang istri tetap terlelap.


Memutuskan menyewa mobil grab yang masih ada berkeliaran diwaktu buta seperti ini. Excell terdiam menatap luar jendela.


Setengah jam kemudian ia sampai disebuah hotel bintang 5 tepi pantai, setelahnya Excell menuju pantai sambil menoleh kesana-kemari mencari seseorang. Benar-benar sepi, hanya terlihat beberapa pegawai hotel yang berlaku lalang menyelesaikan pekerjaan. Saat ia masih mencari saat sepasang tangan memeluk perutnya dari belakang.


"Aku senang kamu datang, aku kangen kamu !" Ucap Tasya sambil menenggelamkan wajahnya pada jaket Excell menghirup aroma maskulin cowok itu.


"Sya !"


"Ayo duduk disitu, ini aku udah siapkan banyak cemilan untuk kita !" Tasya melompat kedepan Excell dan tersenyum riang sambil memperlihatkan 2 kantong makanan yaitu bakso bakar, somay, sate dll.


Gadis itu menarik tangan Excell menuju pohon tumbang dan duduk disana, menghadap laut hitam yang indah namun menyeramkan.

__ADS_1


Tasya merapatkan selendangnya untuk menutupi tubuhnya kemudian membuka kantong makanan dan mengambil tusukan sate.


"Nih, Aaaaaaaa !" Tasya hendak menyuapkan sate itu pada Excell yang langsung diterima pria itu.


"Enak !" Excell mengangguk membuat Tasya tertawa dan ikut menikmati makanan itu.


"Kamu tengah malam gini jangan suka berkeliaran kemana-mana nanti kamu kenapa-kenapa bagaimana ?" Excell meluapkan pikirannya sejak tadi.


"Habisnya kita kapan lagi bisa ketemu kalau bukan saat seperti ini ?" Wajah Tasya berubah sendu melihat tatapan marah Excell.


"Aku mengerti tapi kita bisa ketemu ditempat yang lebih aman. Kamu sendirian tunggu aku disini pasti bikin aku khawatir !"


Kalimat itu malah membuat Tasya tersenyum, yang artinya Excell masih peduli padanya dan juga masih menyayanginya.


"Aku senang kamu peduli sama aku !" Tasya tersipu.


"Kalau aku gak peduli, aku gak akan datang kesini !" Jawab Excell yang membuat senyum Tasya semakin lebar.


Seharian ini Tasya berusaha menelepon Excell walau pria itu mengabaikannya namun ia terus menelepon Excell hingga akhirnya pria itu mengangkatnya dan memberitahu jikalau ia berada di sebuah hotel pinggir pantai yang cukup sepi karena jauh dari pemukiman warga.


Excell panik saat gadis itu mengatakan akan jalan-jalan ditengah malam buta seraya menunggunya sampai ia datang membuat pria itu seketika takut jika gadis itu bertemu orang jahat. Jadi mau tidak mau Excell harus datang memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.


Tasya itu merebahkan kepalanya di dada Excell dengan perasaan yang membuncah, makanan yang ia makan pun terasa sangat enak. Ia melanjutkan menghabiskan makanannya yang juga menyuap Excell seraya menatap keindahan laut didepan mata.


Sinar rembulan yang menerangi lautan semakin membuatnya cantik.


Excell teringat pada niatnya yang ingin melepaskan Tasya, namun entah mengapa sekarang pria itu sulit mengungkapkannya dan malah membelai lembut rambut panjang gadis itu. Excell menatap lautan dengan perasaan yang kembali galau.


"Tolong jangan cuek lagi ke aku. Aku gak bisa kalo kamu cuek begitu !" Ungkap Tasya seraya memeluk erat lengan Excell.


"Sya...!"


"Jangan ngomong apapun. Kita nikmatin aja kebersamaan kita ini yang jarang terjadi !"


"Maaf...!"


"Nggak apa-apa, yang penting jangan diulangi !"


'Maaf sepertinya aku tidak bisa menepati janji !' Ucap Excell dalam hati.

__ADS_1


Keduanya terdiam seraya menatap lurus kedepan, deburan ombak-ombak kecil menguasai keheningan malam itu. Hingga suara dengkuran halus Tasya terdengar ditelinga Excell.


Pria itu kemudian menggendong Tasya memasuki mobil gadis itu, sejenak Excell menatap lekat pada gadis yang terlelap itu dengan perasaan berkecamuk hingga ia berjalan menuju pintu kemudi dan mengendarai mobil pulang menuju rumah Tasya.


__ADS_2