
"Dahhh, aku masuk ya sin. Makasih tadi udah meluangkan waktu berhargamu menemaniku belanja seharian ini" ucapku pada sahabatku sembari aku keluar dari mobilnya.
Dia adalah satu-satunya teman yang kupunya saat ini. Satu-satunya orang yang paling aku sayang setelah suamiku. Ya, aku adalah anak sebatang kara kedua orang tuaku meninggal beberapa tahun lalu dalam sebuah tragedi kecelakaan pesawat terbang.
Mereka meninggalkan aku menjadi anak yatim piatu dan meninggalkan semua usaha keluarga ini untuk ku urus. Orang tuaku memang konglomerat tapi apa gunanya harta ini bila aku tak punya mereka di dunia ini. Tapi hidup harus tetap di jalani bukan.
__ADS_1
Setelah kejadian mengerikan itu, aku tau aku harus bangkit maka kuputuskan untuk berangkat ke kantor. Aku adalah gadis berusia 21 tahun dan sudah harus mengurus bisnis keluarga. Tapi itu sudah berlalu. Semuanya kulewati dengan baik dan sekarang aku sudah cukup bahagia.
"apa sih yang gak kulakukan untukmu lid, kau tau kan aku menyayangimu" Sintia lalu menutup mobilnya dan melaju meninggalkan ku yang mulai memasuki rumah ku.
"Mas, aku pulang. Maaf ya lama tadi aku sama Sintia keasikan ngobrol di salah satu restoran di mall itu mas. Maklumlah kalau cewek udah ketemuan pasti banyak yang di bahas"
__ADS_1
Begitulah suamiku itu, dia orang yang romantis menurutku. Dan mas dewa selalu mendukungku bahkan dia orang yang paling mengerti diriku. Aku sangat bahagia di tiap detik kehidupan ku hingga tiba di hari ini. Hari dimana aku melihat secara langsung apa yang sahabatku dan suamiku lakukan di belakangku. Memang setelah menikah dengan mas dewa, aku sepenuhnya menyerahkan urusan perusahaan kepadanya. Bukan karena aku tak mampu mengerjakannya tapi aku tak ingin dia menjadi bawahan ku terus menerus. Sebelum menjadi suamiku mas dewa adalah salah satu karyawan di perusahaan peninggalan orang tuaku. Aku ingin mempercayakan urusan perusahaan sepenuhnya padanya bahkan saat dia meminta persetujuan ku tentang rencananya yang ingin mengangkat sintia jadi sekretaris sekaligus asisten pribadinya.
Tak apalah pikirku. Awalnya aku berpikir mas dewa hanya kasihan melihat sahabatku itu harus bekerja berjualan di pinggir jalan setiap hari. Tanpa ada pikiran buruk ku setujui permintaan suamiku itu. Betapa bodohnya aku karena melakukan itu hanya karena dia sahabatku.
Hingga pada pagi ini, ku putuskan untuk berangkat ke kantor. Aku ingin memberikan kejutan untuk suamiku karena ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami. Sejak bangun tidur dia tidak membahas apapun tentang ulang tahun pernikahan kami. Ah dia ingin memberikan kejutan untuk ku batinku.
__ADS_1
Sehingga setelah dia berangkat kerja aku juga buru-buru meraih tasku dan kuambil kunci mobilku. Ku pacu mobilku ke restoran favorit kami. Ku pesan makanan kesukaan suamiku dan ku bawa ke kantornya. Dengan senyuman yang merekah di wajahku ku buka pintu ruangan suamiku tanpa mengetuknya. Betapa kagetnya aku melihat pemandangan yang tak pernah ingin kulihat ini. Ku dapati mas dewa dan sintia lagi bercumbu mesra didalam ruangan itu. Mas dewa menciuminya dengan sangat lembut sampai mereka tak sadar dengan kehadiranku. Badanku seolah membeku dalam beberapa menit mulutku seolah tidak dapat berbicara. Aku terlalu shock untuk peristiwa di depan mataku