
Dari awal aku bertemu dengannya ku lihat kehidupannya yang sempurna. Dia terlahir dari keluarga yang sempurna. Dulu aku sangat menyayangi nya hingga pada suatu saat aku mengetahui kenyataan yang begitu menyakitkan.
Kenyataan yang menghantam hatiku. Pada suatu hari aku tak sengaja menemukan surat peninggalan mamaku. Ku baca isi surat terakhirnya itu. Ternyata dulu papaku dan papa Lidia adalah rekan bisnis. Tak jelas dijelaskan dalam surat itu masalah yang terjadi antara papaku dan papa sahabatku itu. Hingga akhirnya papa Lidia atau yang biasa ku panggil om Burhan itu melaporkan papaku ke polisi dan akhirnya dia berakhir di penjara. Kejadian itu akhirnya menjerumuskan mamaku ke lubang depresi. Dia terlalu larut dalam kesedihan. Mungkin dia tak sanggup jauh dari belahan jiwanya itu. Beliau mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya.
Dulu aku tak tahu apa penyebabnya. Sampai saat itu maka aku putuskan harus membalaskan dendam orang tuaku. Anak om Burhan yaitu Lidia Subarsono harus merasakan pahitnya kehilangan orang yang dia sayangi.
Hingga dengan berkedok sebagai sahabatnya bertahun-tahun ku sembunyikan rasa dendam ku. Hingga pas kejadian Om Burhan dan istrinya meninggal maka aku memasang badan untuk selalu ada mendampingi Lidia saat itu. Aku ingin dia memandangku sebagai satu-satunya orang yang selalu ada disampingnya.
Tak lama setelah itu Lidia dengan bodohnya mengenalkan calon suaminya padaku. Hahaha.... bodohnya dia batinku
Dia bilang padaku kalau dia sangat menyayangi pria tampan di depannya itu.
"Halo... Kenalin aku Sintia. Aku sahabatnya Lidia." ucapku pada pertemuan pertama kami itu
"Halo Sintia, Lidia sering menceritakan tentangmu padaku. Dia selalu bilang kamu sahabat terbaiknya"
"uuuuuu. sayang kamu juga sahabat terbaikku" godaku pada Lidia saat itu
__ADS_1
Sejak pertemuan pertama itu kami sering jalan bertiga. Saat mereka kencan bahkan mereka mengajakku ikut serta. Hahahaha.... betapa bodohnya si Lidia itu. Dia terlalu naif karena tidak memikirkan apa yang bisa terjadi karena perbuatannya itu.
Hingga pada suatu saat tepatnya di bulan Maret kala itu. Saat aku dan Mas Dewa bekerja di kantor. Mas dewa tiba-tiba menghampiriku
"Sin makan di luar yuk. Inikan sudah jam makan siang. Aku punya hal yang perlu ku diskusikan denganmu"
"Diskusi apa mas, perihal kerjaan kah ?"
"Oh tidak, ini tentang masalah pribadiku. Ayolah temani aku"
"Nanti Lidia lihat dia berpikir hal aneh mas" tanyaku pada laki-laki tampan yang berdiri di samping meja kerjaku itu
Ku setujui permintaan mas dewa saat itu. Siang itu dia membawaku ke restoran seafood yang lagi viral itu. Dia memesan beberapa hidangan mewah. Aku kaget ada acara apa ini pikirku.
"Kok banyak banget ini mas. Ada hal apa sih"
Mas dewa tidak menjawab pertanyaan ku. Dia hanya memegang tanganku.
__ADS_1
"Sin maafkan aku, aku tau mungkin apa yang akan ku sampaikan ini salah tapi aku gak bisa membohongi apa yang aku rasakan padamu saat ini. Aku menyayangimu sin"
Hahaha...
Dia masuk perangkap ku pikirku... Dengan berpura-pura merasa tidak enak dengan Lidia aku menjawab
"Bagaimana mungkin mas. Lidia itu sahabatku bagaimana mungkin aku sanggup menerima perasaanmu. Aku menyayangi dia mas, aku tak akan tega melukai hatinya."
"Tapi sin perasaan itu gak bisa dipaksakan. Kamu juga menyayangi ku bukan. Kenapa tidak kita coba jalani. Lidia tak perlu tau karena kita akan menyembunyikan ini darinya"
"Aku menyayangimu tapi aku tak mungkin bisa menerima perasaanmu. Lagian aku tak ingin dijadikan simpanan"
" Hanya untuk sementara sin, Aku akan menceraikan Lidia untukmu setelah semua ini berlalu" Saat itu mas Dewa tetap membujukku untuk mengikuti hubungan terlarang itu. Tentunya aku pura-pura jual mahal. Tapi pada akhirnya ku terima juga perasaan mas dewa itu. Karena tentunya itu keinganan ku kan.
hahaha...
semua berjalan sesuai keinginanku. Mas dewa akhirnya masuk perangkap ku.
__ADS_1
"Ma.. Pa.. akhirnya dendam kalian akan ku balaskan. Maafkan Sintia bila ini berjalan dengan sangat lambat" celutuk ku dalam hatiku. Sejujurnya awalnya ada rasa tidak yakin dalam hatiku, tapi bila mengingat kematian papa dan mama ku rasa dendam di hati ku kian membara. "Lidia Subarsono, aku akan merebut kebahagiaan mu satu persatu. Sama seperti papa mu yang merebut semuanya dariku, aku Sintia Laubelly akan merebut semua dari mu termasuk suami yang selama ini kau bangga-banggakan itu" batinku seakan mengingatkan diriku kalau ini tidak salah, ini memang hal yang seharusnya ku lakukan. Aku yakin papa dan mamaku di surga bangga dengan apa yang kini ku lakukan