
Selesai dari pemakaman aku dan bang Rendi memutuskan untuk makan di restoran dekat dengan kantor ku. Restoran ini adalah restoran favorit ku, tempat dimana banyak kenangan antara aku, mas dewa, bahkan Sintia juga. Setelah selesai pesan menu makanan aku pamit ke toilet sebentar.
"Bang Ren, gue ke toilet bentar ya kalau makanannya datang abang makan duluan saja gak usah nungguin Lidia. Lu udah pasti lapar kan dari tadi nungguin gue dan nemenin gue ke makan papa mama" celotehku sama bang Rendi.
"Iya bawel akh, sana.. sana.. Gak usah nyuruh-nyuruh gue ntar juga kalau lu nya kelamaan gue makan sendiri"
Aku bergegas menuju toilet sejujurnya hatiku masih belum siap menginjakkan kaki di restoran ini karena banyak banget kenangan antara kami disini. Sekuat apapun aku melupakan semua penghianatan ini tapi aku tau jauh di lubuk hati ku yang paling dalam aku juga terluka dan menjerit kesakitan.
Aku menatap cerminan diriku di cermin di depanku. Apa kurangnya aku ? tanyaku pada diriku. Kejahatan apa yang udah kulakukan sehingga Sintia sahabatku dendam terhadapku. Bagaimana bisa selama ini mereka berkhianat di belakang ku tapi aku baru tau sekarang ini. Apa selama ini mereka berpikir aku terlalu bodoh makanya ini terjadi ? tanyaku lagi dan lagi sama diriku. Tapi akh sudahlah, aku tau aku gak akan nemuin jawabannya. Dan saat ini aku gak butuh jawaban aku hanya ingin balas dendam. Aku Lidia Subarsono akan membalas berkali-kali lipat lebih sakit untuk rasa sakitku ini.
__ADS_1
setelah mempersiapkan hati aku berjalan menuju meja, disana kulihat bang Rendi menatapi makanan di depannya.
"Kenapa gak makan duluan" sahutku membuyarkan lamunannya
"makan sendirian gak enak, lagian lu lama amat di toiletnya. Ngapain aja sih lu? Lu nyimpan cowo ya disana?" ledek bang Rendi padaku
"Udah akh bawel amat, makan cepat nanti makanannya keburu dingin. Lagian masa bos kelamaan di luar kantor sih" kata bang dewa sambil menyantap makanan di depannya.
Saat tengah asyik makan tiba-tiba mas dewa membuka pembicaraan dan memecah ketenangan makan kami
__ADS_1
"Gimana pendapat Lu tentang si Leo itu, Gak kenapa-kenapa nih baru kenal udah diangkat jadi asisten pribadi?"
"Enggak bang. Saat ketemu dia, gue udah lihat potensi di matanya. Gue tau dia punya kemampuan. Lagian kan dia lulusan luar negeri juga jadi gak ada salahnya memberikan kesempatan ini padanya, siapa tau dengan begitu kantor kita dan dia bisa sama-sama maju" aku memandang ke arah bang Rendi dan mencoba membuatnya yakin dengan keputusan ku ini.
"Iya sih, tapi masa karena itu aja ? Abang pikir kamu ingin membuat si dewa itu panas dengan adanya pria muda dan ganteng yang selalu ada di samping mu ?"
"awalnya gak kepikiran ke situ tapi karena Abang ngomong gitu jadi kepikiran deh. abangku yang satu ini emang jenius deh, idenya selalu bagus untuk dicoba" Ledekku
Tapi setelah bang Rendi ngomong gitu tiba-tiba terlintas di benakku untuk melakukan hal itu. Kenapa enggak ? Leo kan masih muda dan ganteng. Setelah selesai makan akhirnya bang Rendi mengantarkan aku kembali ke kantorku. Kumantapkan kakiku untuk melangkah masuk ke kantor itu.
__ADS_1