Mereka Yang Ku Sayang Menghianatiku

Mereka Yang Ku Sayang Menghianatiku
Aku Dewa


__ADS_3

Semenjak kejadian di hotel itu setelah Lidia memergoki aku di kamar hotel bersama sintia, aku sudah tak lagi melihatnya. Ini sudah hari ke tiga setelah kejadian itu. Setelah dia keluar dari kamar itu aku mencoba mengejarnya tapi lagi-lagi abang sepupunya yang sok jago itu menghalangi aku. Ku coba mengejarnya tapi badanku sudah kalah kuat dibanding dengannya.


Aku berdiri terpaku di lobby hotel memandangi istriku itu masuk ke mobil abang sepupunya. Aku hanya bisa menyesali kenapa Lidia harus datang ke hotel ini. Aku bertanya-tanya darimana dia tau aku dan Sintia di sini.


Tapi aku terlalu egois untuk mengakui kesalahan ku.


"Salahnya mendiami aku berhari-hari. Aku datang menemui Sintia karena dia sudah tidak menjalankan kewajibannya sebagi istri beberapa waktu belakangan ini. Aku kan laki-laki dewasa yang butuh kehangatan juga" aku berseru ke diriku sendiri.


Aku terlalu gengsi untuk mengakui aku bersalah karena memang di pikiranku apa yang aku lakukan ini tidak salah. Aku mencintai kedua wanita itu. Dimana salahku ? pikirku


Lidia sangat telaten dalam hal mengurus aku dan rumah tangga kami, tapi Sintia juga sangat hot dalam urusan ranjang. Dalam hal body Lidia kalah jauh dari Sintia. Sewaktu Lidia menyuruh aku memilih antara dirinya dan Sintia, jelas aku bilang aku tidak bisa memilih karena aku ingin keduanya.


Dia tak menjawab apapun lagi setelah itu tapi dia melayangkan tamparan keras di pipiku. Tak apalah pikirku, dia mungkin masih mencoba menerima. Tapi ketika dia sudah tidak pulang selama tiga hari ini tak bisa ku pungkiri aku sangat merindukannya. Aku rindu bau tubuhnya. Aku rindu saat dia bermanja di pelukanku.


Beberapa hari yang lalu aku mencoba mengirimkan pesan padanya. Tapi dia tidak membalasnya. Sejak itu handphone nya tak lagi bisa dihubungi.


Akhirnya hari ini aku memutuskan untuk kembali masuk kantor bagaimanapun aku tak bisa begini terus pikirku.


[Hari ini aku masuk kantor ya. Siapkan semua berkas yang perlu ku urus]


Aku mengirimi pesan pada Sintia biar tugas ku di kantor tidak terlalu menumpuk


[Baik sayangku, akan ku urus semuanya. Yang cepat ya, aku kangen banget mas]


Aku hanya bisa tersenyum. Itulah salah satu keunggulan Sintia yang membuatku terpikat. Dia selalu tau menaikkan mood ku.


.


.

__ADS_1


.


Kubuka pintu ruangan ku disitu ku lihat Sintia sedang sibuk bergelut dengan laptop dan setumpuk berkas di hadapannya. Aku tersenyum merona melihat betapa cantiknya pacarku itu. Di mataku dia cantik dan sangat lembut. Saat bersamanya aku selalu bisa melupakan Lidia, entah karena apa. Mungkin karena pesona yang dia keluarkan untuk memikat aku.


"ekhemm.. ekhemm.. sibuk amat ya sampai gak nyadar aku udah disini dari 5 menit yang lalu"


"Eh Pak Dewa. Maaf pak saya tidak dengar bapak masuk"


"kok manggil bapak kan kita cuma berdua, biasanya juga manggil sayang sambil bergelanyutan"


Dia hanya tersenyum malu tapi senyuman nya itu mampu menaikkan gairahku. Ku berjalan ke arah pintu dan ku tutup.


"Ikut aku ke kamar istirahat ku yuk, badanku sakit nih mau di kusuk bentar"


"alahh mas Dewa mulai nakal di kantor ya"


Setelah aku berjalan ke dalam kamar itu dan di ikuti Sintia dari belakang. Aku duduk di ujung kasur dengan Sintia berdiri mematung di depanku.


"Duduk sayang, sini kupang ku" kutarik Sintia duduk di pangkuan ku. Lidia memang selalu seksi dan hot. Dia selalu memilih baju yang ngetat dan memperlihatkan bentuk tubuhnya beda dengan istriku yang selalu menutupi bentuk tubuhnya.


"Di ajak kesini malah di anggurin nih" Sintia menggodaku. Dan itu membuat diriku semakin merasa tertantang untuk menjalani setiap senti tubuhnya.


Ku dorong tubuhnya hingga dia telentang di atas kasur dan tidak berapa lama kami hanyut di permainan kami. Entah apa yang terjadi tiba-tiba ditengah panasnya permainan kami Sintia tiba-tiba menampar ku dan dia segera mengambil semua baju dan dalaman nya yang sudah berserakan di lantai. Dia berjalan menuju kamar mandi.


Aku hanya bisa terdiam dan bertanya kenapa dia menamparku.


"Jika memang kamu masih memikirkan istrimu itu buat apa kamu menyentuh aku. Kamu tadi manggil nama Lidia saat berada di atasku"


Aku kaget dan tidak berkata apa-apa lagi. Ternyata aku salah manggil nama. Aku terlalu merindukan istriku sampai saat asyik dalam permainanku dengan Sintia aku menyebut namanya.

__ADS_1


"Maaf sin bukan gitu maksudku. Lidia belum pulang tiga hari jadi aku kuatir"


"Kuatir sampai kau memanggilnya saat kau lagi tidur denganku?"


Dia keluar kamar mandi dan meninggalkan aku yang masih berdiri mematung. Aku merasa bersalah, dadaku sesak seakan ribuan jarum menghantam hatiku.


Setelah beberes pakaianku aku masuk ke ruangan tempat kerja kami. Ku lihat wajah Sintia. Dia memasang wajah yang sangat sedih. Aku tidak tahan melihatnya


"Maaf ya Sin, bukan gitu maksudku. Bukan aku mengingatnya saat bersamamu. Aku hanya terlalu kuatir jadi gak sadar manggil namanya"


"Pak ini jam kerja. Dan kalau bukan urusan kerjaan saya tidak mau bicara dengan Bapak. Jadi saya mohon jangan ganggu saya"


Aku terdiam lalu aku berjalan ke arah mejaku. Disana Sintia sudah mengatur berkas yang harus aku urus hari ini.


"Jam dua siang nanti Bapak ada meeting sama clien baru kita di restoran mekar sari ya pak"


"Iya baik" balasku menimpali omongan Sintia itu.


"Kamu masih marah?" tanyaku tapi Sintia fidk menjawab apapun.


Waktu terasa berjalan sangat lama, ruangan kami sangat hening karena tidak ada obrolan di antara kami. Aku menunggu sampai jam makan siang sehingga aku bisa lebih leluasa ngobrol dengan Sintia.


Tapi pas jam makan siang ketika aku mencoba menghampiri Sintia di mejanya. Dia lebih dulu berdiri dan berjalan menuju pintu. Sebelum dia keluar dia menoleh ke arahku.


"Jangan ganggu aku dulu, aku masih sakit hati. Aku mau makan di luar sendirian nanti setelah jam makan siang selesai, aku kembali lagi kok ke kantor. Jadi tenang aja, aku cuma mau nenangin hati dan pikiranku" Katanya sambil berjalan ke luar ruangan


Rasa bersalah di hatiku semakin besar, aku mengerti bagaimana yang dia rasakan. Aku berpikir betapa bodohnya aku, bagaimana bisa aku salah memanggil nama nya.


Saat itu aku tidak jadi keluar untuk makan siang. Aku memutuskan untuk tetap di ruangan kerjaku.

__ADS_1


__ADS_2