
"Lidia buka pintunya sayang aku akan jelaskan semuanya. Maafkan aku sayang aku tau aku salah"
Kucoba membujuk istriku itu untuk membuka pintu kamar tapi dia tidak bergeming sedikitpun. Yang ku dengar hanya Isak tangisnya yang menembus ke luar pintu.
Hatiku terasa di iris mendengar suara tangisnya. Sekalipun aku telah mengkhianatinya tapi aku sangat tau dia masih menempati satu ruang di hatiku.
Malam pun tiba biasanya jam segini istriku telah menungguku di meja makan dan mempersiapkan makanan untukku. Sekalipun di rumah kami punya mbak untuk mengerjakan pekerjaan rumah tapi istriku itu tak pernah melupakan kewajibannya sebagai istri. Dia tetap memasak untukku setiap harinya.
Tapi malam ini tak ku dapati dia di sana. Meja makan pun kosong tak ada makanan yang terhidang di sana. Aku tersadar sedari tadi istriku tidak keluar kamar. Apa yang sudah ku lakukan, dulu aku tak pernah berpikir dampaknya akan begini makanya aku memulai hubungan terlarang itu. Aku tau salah tapi bagaimana sekarang ini diperbaiki karena Sintia juga telah menempati tempat lain di hatiku. Aku egois tapi aku mencintai mereka berdua dan tak ingin melepas salah satunya.
Ku naiki anak tangga itu satu persatu. Aku mulai mencerna semua kenangan dan kebaikan istriku selama ini dan betapa bodohnya aku menghianati nya begitu.
"Sayang buka pintunya ayo kita bicara. Kalau kamu begini maka tidak akan ketemu jalan keluarnya" Ku bujuk istriku itu. Tapi syukurlah dia mau membuka pintu untukku
"Bagaimana kamu bisa melakukan ini padaku mas, apa kurang ku padamu"
__ADS_1
"Bukan, semua bukan salahmu" "Aku hanya terlalu serakah jatuh cinta pada kalian berdua. Maafkan aku tapi aku tidak bisa memilih satu diantara kalian"
plakkkk
tamparan istriku mendarat di pipiku. Wanita lembut yang selalu bergelayut manja di pundak ku ini menamparku dengan keras.
Cukup mas, aku tak ingin melanjutkan ini semua. Aku ingin menenangkan diriku agar aku bisa berpikir apa yang akan aku lakukan kedepannya. Dan mulai ini aku akan tidur di kamar tamu karena aku tak akan Sudi menghabiskan malam ku dengan pria sepertimu.
Aku terbengong melihat istriku mulai mengemas bajunya kedalam koper. Tanpa sempat dia izinkan aku berbicara lagi dia meninggalkan kamar kami dan menuju kamar tamu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah kejadian aku mendapati suami dan sahabatku selingkuh aku segera pulang dan mengunci diri di kamar. Aku hempas kan badanku ke atas ranjang di sana aku tumpahkan semua. Aku mulai berdoa, dosa besar apa yang sudah kulakukan sehingga Tuhan menghukum ku begini.
[Maafkan aku sayang, kasih aku kesempatan untuk menjelaskan sekali lagi padamu]
__ADS_1
Dari tadi handphone ku berbunyi dan ku lihat mas dewa mencoba menelpon ku dari tadi. Tapi tak ku hiraukan satu pun panggilannya. dan akhirnya ku terima chat darinya.
Kubuka pesan itu tapi tidak ku balas. Rasaku cukup sakit semua ini. Aku tak ingin berbicara dengannya lagi.
tok... tok... tok...
sayang... buka sayang....
"Lidia buka pintunya" terdengar suara dari luar. Suara yang selama ini membuatku mabuk cinta padanya. Tapi aku tetap berdiam di kasurku menumpahkan semua rasa sakit yang saat ini sedang menusuk hatiku. Aku tak habis pikir orang-orang yang paling aku sayang bersekongkol menyakitiku. Rasa sakit ini tak bisa ku gambarkan seakan air mataku tak cukup untuk menggambarkan semuanya
Setelah malam berlalu dan ada sedikit perbincangan yang memancing emosiku lagi maka ku putuskan untuk pisah kamar dengannya. Aku terlalu muak sekamar dengannya. Ketika ku lihat wajahnya tergambar semua penghianatannya.
klong... Handphone ku berbunyi kulihat nama Sintiaku sayang disana. Aku tak habis pikir dia masih berani menghubungiku. Ku buka pesan itu dan aku sangat kaget.
[Bagus deh kamu sudah tau sehingga aku tak perlu berpura-pura di depanmu. Ini baru permulaan Lidia. Dewa akan menjadi satu-satunya milikku dan satu persatu kebahagiaan mu akan ku rebut darimu. Aku sangat membencimu]
__ADS_1
Aku tak menyangka dia yang ku sayang ternyata selama ini menyimpan dendam untukku. Dendam yang selama ini sudah dia pupuk di hatinya untukku. Selama ini ternyata dia menutup dendamnya dengan berlagak seperti sahabatku