
"Udah dong mas, ada aku disini kok kamu nangis. Apa aku diundang kesini untuk dengerin ini aja" aku memajukan bibirku dan berpura-pura ngambek sama mas dewa.
Mas dewa pun melemparkan pandangannya ke arah jendela kamar hotel itu. Sekitar 10 menit dia tidak mengatakan apapun. Melihatnya duduk terpaku dipinggiran kasur, ku hampiri dia. Ku rangkulkan tanganku dari belakang di lehernya.
"Mas bagaimana jika Lidia menyuruhmu memilih antara aku dan dia mas. Aku gak ingin kamu memilihnya tapi aku juga tak ingin kehilanganmu. Aku menyayangi Lidia mas tapi cintaku padamu sudah tumbuh sangat dalam"
Aku masih berpura-pura meyayangi sahabatku itu karena sejujurnya aku tidak ingin mas dewa tau apa yang terjadi antar aku dan Lidia.
Aku jelas-jelas gak ingin dia tau masa kelas antara papaku dan papa mertua mas dewa itu.
"Enggak sin, aku juga tidak akan bisa memilih satu diantara kalian. Tapi dengan Lidia mendiami ku terus tanpa mengajakku bicara rasanya ada separuh diriku yang terbang melayang"
"Maaf sin, aku ingin menata hati karena itu aku memintamu kemari"
Tanpa sempat kusadari bibir mas dewa sudah merapat ke bibirku. Dia menggenggam tanganku dia tanya boleh kah?
__ADS_1
Boleh mas jawabku. Aku tau ini mungkin salah tapi aku menikmati tiap sentuhan dari suami sahabatku itu. Dia mulai menarik aku pelan-pelan dalam pelukannya. Dia menciumi tiap inci dari tubuhku.
"Mas kenapa, tumben lebih agresif "
"Gapapa sayang aku hanya sangat menginginkan mu"
Satu jam pun berlalu setelah kami dengan sangat hebat mengumul di ranjang hotel itu mas dewa bergerak menuju kamar mandi.
"Mau mandi mas? Aku ikut ya, mandi bareng yuk" rayuku. Sejujurnya aku hanya gak mau dia mengingat istrinya itu walau sebentar aja.
Tak lama setelah itu aku melihat mas dewa telah tertidur pulas. Ku pandangi wajah tampannya itu. Sejujurnya aku sangat menginginkan laki-laki di depanku ini menjadi milikku satu-satunya tapi aku tau aku harus sabar karena aku harus menyingkirkan Lidia dari kehidupan mas dewa dulu tapi aku juga ingin memastikan harta Lidia harus jadi milikku dan mas dewa. Sahabatku itu kan sangat polos bagaimana bisa dia menang melawanku pikirku..
Cukup lama ku pandangi wajah tampan di depanku. Ada sedikit pertanyaan yang sangat menyakiti hatiku.
"Mas apakah memang di hatimu ada cinta untuk aku atau mungkin kau hanya jadikan aku pelampiasan nafsumu"
__ADS_1
"Kenapa sulit sekali melepaskan Lidia mas, apa karena hartanya atau memang hatimu masih sepenuhnya miliknya"
Kulontarkan pertanyaan itu tapi tak ku dapati satu jawaban pun. Ya tentu saja, bagaimana mungkin aku berani bertanya padanya kalau dia sudah bangun bisa-bisa itu hanya akan menaikkan emosinya saja.
Tak lama kemudian kurasakan mataku mulai mengantuk. Ku tarik tangan mas dewa kuletakkan di perutku. Aku ingin dia tidur dengan posisi memelukku.
tokk....tokkk.....tokkk....
Belum lama aku tertidur kudengar suara ribut-ribut di luar pintu kamarku.
"Mas bangun bukain pintunya itu ada yang ribut depan pintu. Ini kan hotel kok ribut banget sih mas" tanyaku dengan perasaan was-was
"Bentar aku lihat, rapikan dulu rambutmu" katanya
"Dewa buka..." teriak seorang wanita di depan. Aku sangat mengenali suara itu. Itu adalah Lidia
__ADS_1
Dengan sangat panik mas dewa membuka pintu kamar.