Mereka Yang Ku Sayang Menghianatiku

Mereka Yang Ku Sayang Menghianatiku
Tertangkap Basah


__ADS_3

Sesampainya di dalam kamar kembali kubuka handphone ku. Kubuka galeri di handphone dan kulihat semua kenangan indah bersama mas dewa.


Dulu kami sangat bahagia, dulu semua cintaku kuberikan padanya tanpa pernah berpikir dia sanggup menyakitiku. Aku memang sangat ingin membalaskan rasa sakit yang kurasakan ini. Tapi jauh di dasar hatiku, aku tau bukan ini yang harus kulakukan. Hatiku sangat hancur bukan karena penghianatan itu saja tapi karena bodohnya aku selama ini tidak menyadari dua orang yang paling ku sayangi menusukku diam-diam.


Mereka menusukku sampai ku tak lagi dapat berkata-kata. Penghianatan mereka ini seoalah pertanda dunia berakhir untukku. Tapi benar kata bang Rendi, aku harus bangkit. Aku tidak boleh lemah dan aku tidak ingin ada seorang pun yang tau kalau aku sering menangisi semuanya jika sedang sendirian.


Rintihan dan keluhan yang keluar dari mulutku selalu sama. "Seandainya mama papa masih hidup mungkin semua tak akan serumit ini" Kata-kata itu selalu berputar di otakku.


Aku terbangun di pagi harinya, rupanya aku ketiduran semalam. Aku ketiduran tanpa sempat mandi dan berganti pakaian. Ku langkahkan kakiku menuju cermin besar di kamar ku. Ku tatapi wajahku sembari menyemangati diri. Aku memandang tajam ke pantulan wajahku di cermin itu.


"Kamu kuat lid, kamu pasti bisa. Sakit yang kau rasa bukan berarti dunia telah berakhir untukmu. Ayo saatnya tunjukkan bahwa kau hebat"


.


.


.


.


"Mbok hari ini masak apa?" tanyaku pada mbok nah. Mbok nah sudah ikut dengan keluarga ku sejak aku masih SMP.


"Masak ayam opor kesukaan neng ini. Non mau kemana kok tumben pagi gini sudah rapi ?"


"Enggak mbok, mulai ini aku kerja di perusahaan papa mama. Bosan juga mbok di rumah seharian. "


"Oh ya mbok, selagi saya kerja saya titip rumah ya. Jangan lupa kasih makan ikan di kolam itu. Jangan sampai lupa ya mbok"


"Siap non. Non makan non selagi panas"

__ADS_1


"Bapak kemana mbok?" tanyaku penasaran karena tumben sedari tadi aku gak melihat dewa seliweran di meja makan. Biasanya dia sudah harus makan jam segini.


"Bapak pagi-pagi sekali tadi udah berangkat non bahkan gak sempat serapan"


Apa ? Dewa pagi-pagi sudah berangkat ? Dia pasti menemui lidia. Kalau enggak mana ada urusan kantor dimulai pagi sekali. Tapu gapapa bagus deh pikirku karena kedatanganku ke kantor akan mengagetkan mereka berdua dengan begitu aku bisa leluasa memberikan kejutan ini.


Selesai makan terdengar suara klakson mobil depan rumahku. Cepat amat bang Rendi udah nyampe sini aja pikirku. Ku ambil tasku dan berjalan menuju pintu.


"Cepat amat bang? tumben amat" selidikku padanya


"Gapapa, gue udah gak sabar nih mau lihat lu berangkat ke kantor. Kan udah lama juga lu gak ngantor. BTW lu masih ingat gak sih denah kantor lu, jangan-jangan kebanyakan diam di rumah lu jadi lupa semuanya" dia memang selalu begini meledekku terus-terusan. Gak jarang aku sampai kesal sekali dibuatnya


"Enak aja lu, ya ingat lah. Lu pikir otak gue sama kayak elu. Kalau elu sih iya otaknya cetek pasti langsung lupa"


"Enak aja lu, santai kali cantik. Tadi masih manggil abang sekarang udah elu elu."


"Siapa suruh lu ngeselin, jalan gak kalau enggak gue naik mobil sendiri aja"


Syukurlah jalanan hari ini gak begitu macet jadi cepat nyampainya. Aku segera turun dari mobil bang Rendi.


"Gue turun ya, nanti gue kabarin perkembangannya"


"sayang amat gue gak bisa nonton pertunjukan seru yang akan terjadi ini"


"hus..huss... sana kerja, jangan malah ngetem depan kantor orang. Kerja Sono nanti tunggu kabar baik dari gue"


Aku melangkahkan kakiku di kantor ini lagi. Kantor yang dengan susah payah papa bangun. Sudah lama kantor ini gak ditangani lagi oleh keluarga Subarsono. Sepanjang lorong aku berjalan banyak sekali sapaan dari para karyawan yang ku dapati. Wajar sih mereka pasti kaget, tiba-tiba aku masuk kantor lagi. Saat mendekati ruangan kerja dewa dan Sintia tak sengaja ku dengar obrolan mereka. Bodoh sekali orang-orang ini ngobrol hal intim tapi pintu tidak ditutup rapat pikirku.


Sengaja aku tak langsung masuk. Kuambil ponselku dan mulai ku rekam adegan di depanku. Mas dewa dan Sintia sedang pangku-pangkuan dan asyik bercumbu disana.

__ADS_1


"bagaimana bisa mas kemarin kamu begitu. Wanita yang kau tidurin itu aku tapi mas dewa malah manggil nama Lidia" Lidia menatap lembut kearah mas dewa.


"Maaf sayang, karena masalah yang terjadi itu jadi aku kepikiran terus sama dia"


"Tapi tadi pagi mas datang ke apartemen ku, bukannya minta maaf malah mas datang dengan nafsu yang sudah di ubun-ubun. Mas tau aku gak bisa nolak saat mas minta jatah padaku makanya mas datang tanpa minta maaf"


Des.... Mendengar itu rasanya hatiku sangat sakit. Benar dugaan ku mas dewa menemui Sintia. Tapi aku gak nyangka mas dewa menemuinya hanya untuk berhubungan badan. Rendahnya mereka berdua di mataku. Tapi tetap aku memutuskan untuk merekam mereka yang lagi asyik bercumbu di ruangan kerja. Aku ingin jadikan ini bukti saat aku ingin bercerai dengan lelaki bajingan itu.


"Udah mas minta maaf ya gak akan terulang lagi, tapi mas pengen lagi nih"


"gila kau mas, ini kantor gak mungkin kita melakukan itu disini"


"Gapapa sayang, kan gak akan ada yang ganggu. Aku udah nelpon Staff yang lain agar tidak menggangu sejam ini."


"Ya udah deh, tapi cepat aja ya, aku takut ada orang"


Sakit sekali rasanya hatiku menyaksikan itu secara langsung. Sejujurnya kakiku sudah terkulai lemas karena masih ada sedikit cinta di hatiku untuk mas dewa. Dan sekarang aku melihatnya melakukan hubungan terlarang di depan mataku sendiri. Adegan demi adegan yang mereka lakukan kurekam dengan baik dalam ponselku.


Saat mereka lagi asyik-asyiknya bercumbu tiba-tiba ku buka pintu ruangan kerja mereka itu.


"Enak?" aku teriak ke arah mereka.


Sintia sangat kaget melihat ku ada di ruangan itu. Dia segera berlari menuju kamar mandi dengan membawa pakaiannya sedangkan mas dewa hanya berdiri mematung di depanku.


"Kamu udah buktikan padaku bahwa memang kamu itu murah, kamu gak punya harga diri dewa. Bodohnya aku selama ini jatuh cinta pada pria gak punya hati sepertimu. Pakai bajumu, aku gak ingin mempermalukan kamu tapi dalam lima menit aku akan masuk dan kita harus bicara.


Lalu aku berjalan ke luar pintu. Kudengar suara mas dewa tersungkur ke lantai.


"Tunggu lid" katanya tapi aku tetap berjalan ke luar.

__ADS_1


"Cepat benahi dirimu ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian" sahutku sambil meninggalkan ruangan itu


__ADS_2