Mereka Yang Ku Sayang Menghianatiku

Mereka Yang Ku Sayang Menghianatiku
Pembalasan akhirnya kumulai


__ADS_3

setelah sekian lama aku menunggu akhirnya aku masuk lagi ke ruangan itu. Ruangan yang banyak menyimpan kenangan indah tapi juga kenangan buruk untukku. Mungkin disini lah dewa dan Sintia memadu kasih di belakang ku. Mungkin karena terbiasa berdua di ruangan ini sehingga mas dewa terbiasa dengan adanya Sintia di sampingnya, lalu ia memutuskan untuk mengkhianati pernikahan kami


Sesaat setelah aku masuk ku lihat wajah kedua orang di depanku ini, ada rasa sakit yang menghantam dadaku. Seakan ada besi yang sangat berat menimpa dadaku, tapi aku harus kuat agar Sintia tidak merasa menang dengan perbuatannya. Ku pandangi wajah mas dewa untuk sesaat, wajah yang selama ini selalu membuatku tersenyum. Ku pandangi dia untuk sesaat, betapa aku merindukan bergelanyut manja di pelukannya.


Tapi kini yang tersisa bagiku hanya luka dan dendam. Penghianatan mas dewa dan sahabatku adalah kado pernikahan yang harus ku terima dari mas dewa.


"Ada apa lid ? Kenapa sampai datang ke kantor, apakah ada masalah?" dewa dengan wajah yang masih merasa bersalah bertanya penuh kuatir padaku.


"Enggak, enggak ada masalah. Tapi setelah aku pikirkan, ku putuskan mulai hari ini aku akan kembali berkerja di kantor ini"


"rasaku udah terlalu lama aku berdiam diri, Jadi mulai ini aku akan bekerja disini, dan mas dewa maaf tapi kamu akan menjadi wakilku atau asisten pribadiku bukan lagi CEO kantor Subarsono Corp ini" kataku memperjelas tujuanku datang ke kantor ini


"Bagaimana mungkin Lid? Apa kata karyawan-karyawan kita nanti jika mereka tau aku turun jabatan jadi asisten pribadimu. Lid mungkin kamu masih emosi tapi tolong jangan permalukan aku di kantor ini, kamu istriku harusnya kamu menjaga harga diriku. Jika para karyawan tau dimana harga diriku lid" kata dewa dengan wajah yang sangat memelas


"Sejak kau berani bermain gila di belakangku mas, dan selingkuh dengan sahabatku maka sejak saat itu di mataku kau sudah tidak punya harga diri. Ini sudah ku renungkan sejak aku ke Bandung dan keputusanku sudah bulat"


Mas dewa hanya terdiam, dia terjatuh lemas ke lantai. Dia tak pernah berpikir kalau penghianatan yang dia lakukan akan berakibat seburuk ini. Kini di hatinya cuma ada penyesalan yang sangat besar, selain dia kehilangan istrinya dia juga harus kehilangan posisinya di kantor ini. Tapi entah bagaimana, hatinya tetao tidak mau melepaskan salah satu dari antara ke dua wanita itu. Lidia dan Sintia sama-sama penting di hatinya, dia menyayangi kedua wanita itu.


"Terus bagaimana denganku lid, jika mas dewa mengambil posisiku apa kau akan memecat ku ?" tanya Sintia dengan wajah yang sangat panik. Karena bagaimanapun Subarsono Corp ini adalah satu-satunya tempat dia mencari rejeki untuk bertahan hidup.


"tentu tidak, aku masih menghargai bagaimana dulu kamu menolongku saat aku terpuruk. Jadi sudah ku siapkan satu posisi yang bagus untukmu. Kamu aku masukkan ke divisi marketing. Jadi sekarang juga benahi barang-barang kalian dan pergi ke tempat kerja yang sudah ditentukan" Lidia berkata sambil tersenyum.

__ADS_1


""kurang ajar kamu lid, kamu menyangkut pautkan masalah pribadi di kantor untuk saranamu balas dendam" Sintia memekik marah


"Semua terserah padaku Sintia, kamu jangan lupa ini semua mutlak perusahaan ku bukan milik mas dewa"


"Nikmati lah selagi aku masih berbaik hati. Kamu harusnya bersyukur aku masih mengingat persabahatan kita dulu kalau bukan karena itu aku sudah memecat mu sejak aku tau penghianatan mu."


"Dan kalian jangan macam-macam ingat aku punya video bagaimana kalian sangat panas bercumbu tadi, jika kalian sampai berbuat sesuatu yang merugikan perusahaan ku maka video ini akan ku sebar di internet"


"Kamu jahat lid" kata Sintia meneriaki aku


"Kalian yang lebih dulu manabuh genderang perang pada ku, jangan lupa aku hanya mengikuti permainan kalian".


Sesudah itu aku berjalan menuju ke ruangan ku, ruangan yang memang sudah kuatir sedemikian rupa untukku. Disana ku elus dada ku, di depan mereka aku berpura-pura tegas dan kuat tapi nyatanya tak mudah untuk menjalani ini semua.


aku membaca pesan masuk dari bang Rendi, gila ternyata dari tadi dia tidak beranjak dari depan kantorku.


[well done brother, gue cukup puas dan gue merekam video panas mereka. Lo harus traktir gue makan sushi kesukaan gue karena otak brilian gue ini]


[gila, si dewa benar-benar melakukan itu di kantor. Lu jago sis tidak terpancing emosi dan malah sempat ngerekam. Sini turun kita makan sushi untuk merayakan ini]


Akhh lucunya abang ku ini, dia selalu berusaha melakukan yang terbaik untukku dan selalu menuruti kemauanku. Mungkin karena cucu kakek cuma kami berdua saja lalu dia selalu memanjakan aku layaknya adik kecilnya. Aku dengan wajah yang gembira berjalan menyusuri koridor kantor ku. Disana ku dapati banyak karyawan yang berbicara tentang aku yang menurunkan jabatan mas dewa dan melempar Sintia ke devisi marketing. Tapi aku tak menghiraukan itu, karena memang ini yang aku mau.

__ADS_1


Aku ingin perlahan-lahan mas dewa dan Sintia akan kehilangan muka di kantor ini, jadi mereka akan memilih mengundurkan diri dan saat itu ketika mas dewa meminta bercerai maka aku akan mengabulkannya tanpa sepeserpun pembagian harta. Saat itu aku akan membiarkan Sintia menikahi mas dewa yang sudah dia rebut dari aku, tentunya aku tak akan memberikan sepeserpun harta padanya karena semua ini milik ayahku.


Setelah langkah demi langkah ku jalani tak terasa aku sudah sampai di mobil bang Rendi. Dia tersenyum lebar menatap tajam ke arahku.


"Well done sis, lu hebat bisa sampai sejauh ini. Karena lu udah ngelakuin sejauh ini maka bertahanlah, kami disini mendukungmu. Semangat sis"


"La lu la lu, kenapa sih bang harus pakai gue lu gue lu risih tau bang " timpal ku seakan mengejeknya.


"Gapapa lid, gue lebih nyaman menggunakan panggilan itu. Udah akh sekarang kita kemana nih, mau makan dulu atau gimana ?" tanya bang Rendi padaku.


"Makan mulu, lu mau gue gendut ? Udah akh sekarang antar gue ke makam mama papa, gue udah lama ga gak kesana ren, gue kangen "


"Siap princess, meluncur"


bang Rendi memacu mobilnya ke arah makam mama papaku. Dalam hati aku mengucap "ma pa Lidia kangen" Aku terhanyut dalam lamunanku, sehingga tak kusadari ternyata Rendi sedari tadi menatap ke arahku.


"Udah lah lid, ikhlasin aja si dewa brengsek itu. Lu pantes dapat yang lebih baik dari dia lid. Dan lu harus tau lu berharga di mata orang lain"


" Enggak bang, bukan masalah dewa yang kini Lidia pikirkan. Lidia udah ikhlas malah Lidia kan udah mulai balas dendam"


"Jadi kenapa lid, kenapa dari tadi melamun aja "

__ADS_1


"Lidia cuma kangen dengan mama papa bang"


"Sabar ya lid, gue tau lu nyesek saking rindunya dengan om Burhan tapi sabar ya kita doain mereka tenang disana" bang Rendi mencoba menghiburku


__ADS_2