Mereka Yang Ku Sayang Menghianatiku

Mereka Yang Ku Sayang Menghianatiku
Rumah


__ADS_3

tin... tin... tinn...


Aku terbangun ketika bang Rendi membunyikan klakson mobilnya terus menerus. Dengan wajah judes ku lihat ke arah Rendi.


"Apa-apaan sih lo, ribut amat. Selo ae kali bunyiin klakson mobilnya bar bar amat"


"Wah tuan putri udah bangun. Enak tidurnya" kata Rendi dengan wajah sedikit mengejek


"Biasa aja dong" ku jawab dengan nada yang sama


"Sepanjang jalan dari Jakarta nyampe Bandung enak ya tidurnya, gue berasa jadi supir pribadi Lo. Untung tadi gak kecelakaan, sepanjang jalan gue takut gue bosan karena tidak ada teman ngobrol dan malah ngantuk. Eh Lo malah enak-enak mendengkur di samping gue. Rese lo ya" Rendi mulai ngedumel karena emang tadi gue ngerasa capek banget dan tidur sepanjang jalan.


"Mana lagi nih bapak satpam kok gak nongol dari tadi udah di klaksonin. Gue klakson kencang juga nih" Rendi mulai ngedumel lagi. Dan aku hanya ketawa cekikikan melihat tingkahnya. Lucu juga abang ku yang satu ini pikirku


TIN....................


"Aduh sakit nih telinga gue rese lo ya" aku kaget ketika dia membunyikan klakson mobilnya dengan sangat lama"


Tiba-tiba gerbang rumah kakek terbuka, disana aku bisa melihat raut wajah satpam yang sangat gelisah.


"Dari mana aja sih pak dari tadi di klakson gak dibukakan"


"Maaf pak Rendi tadi saya ke toilet sebentar dan gak kedengaran suara klakson bapak sampai ke toilet dan saya baru dengar ketika bapak ngeklakson lama itu. Maaf ya pak"


"Ya udah lah ren jangan galak-galak." Kataku.

__ADS_1


Pantes lama di bukakan, memang rumah kakek sangatlah luas apalagi tamannya jadi wajar pak satpam tidak dengar tadi pikirku.


"Kakek dimana pak, beliau di rumah kan " tanya ku pada bapak satpam itu


"Ada non, bapak lagi di ruang keluarga nonton Tv"


"oh oke pak, makasih ya udah jagain kakek" kataku sambil memberi bapak itu tips. Dia pantas dapatin itu karena selagi kami jauh dia lah yang menemani kakek kami di rumah ini.


Aku berjalan menyusuri setiap lorong di rumah ini. Sejujurnya aku tidak terlalu suka datang ke sini karena disini banyak kenangan pahit. Setiap aku datang berkunjung kesini selalu aja ada rasa sesak di dadaku.


Dulu pas aku kecil aku sama mama papa tinggal disini bersama kakek. Semua kenangan masa kecil terpampang jelas di mataku. Ku ingat jelas saat papaku minta untuk merantau ke Jakarta. Papa merantau bukan karena kakek tidak memberinya kepercayaan untuk mengurus perusahaannya tapi karena papa ingin maju dengan usahanya sendiri.


Saat itu kakek sempat menentang. Kakek lebih ingin papa mengurus perusahaan keluarga tapi papa ngotot ingin merantau karena ingin membuktikan usahanya sendiri. Saat itu akhirnya kakek luluh dan mengizinkannya. Masih kuingat saat itu aku masih duduk di bangku SD. Kalau butuh apa-apa datang lah, papa siap bantu. Itu kata-kata kakek saat itu.


Hingga akhirnya perusahaan yang papa bangun dari keringatnya sendiri itu berkembang dengan sangat pesat. Kuakui papa sangat ulet dan gigih bekerja. Walau udah tinggal di Jakarta, kami sekeluarga masih sering pulang untuk mengunjungi kakek di Bandung. Hingga saat kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuaku. Kakek saat itu sangat bersikeras agar mama papa dibawa ke Bandung dan dimakamkan disini. Oleh karena itu rumah ini sangat menyimpan kenangan pahit dan indah di hatiku.


tok.. tok.. tokk


"Kakek ini Lidia dan Rendi datang berkunjung" aku mengetuk pintu dan tak lama ku dengar suara pintu terbuka. Aku sedikit berlari dan ku peluk tubuh kakekku itu. Wahh.. aku sangat merindukannya. Lama gak ketemu kakek kok tambah tua aja godaku. Kakekku tersenyum


"Kok datang gak ngasih tau kakek dulu kan kakek bisa nyuruh bibi siapin makanan kesukaan kalian."


"Gapapa kakek, kita kangen kakek jadi kita mutusin untuk langsung kesini"


"Ya ampun cucu kesayangan kakek, kok udah lama sih gak datang berkunjung"

__ADS_1


"Maaf kakek, Lidia akhir-akhir ini sedikit sibuk. Tapi kan Lidia udah disini jadi bisa nemenin kakek."


Kakek emang selalu bilang kalau aku adalah cucu kesayangannya. Kami mengobrol sangat la di ruang keluarga itu. Kakek mulai menasehati bang Rendi agar segera menikah. Aku juga bingung kenapa abang ku yang begitu tampan ini betah menyendiri. Selang beberapa lama aku izin istirahat sama kakek. Aku bilang aku cukup kelelahan dan kakek mengizinkannya.


Sejujurnya badanku memang sangat lelah apalagi dengan kejadian akhir-akhir ini. Tapi aku ingin mampir ke kamar mama papa. Ku buka pintu kamar itu, disana masih terpajang foto-foto mama papa dan barangnya masih tersusun rapi.


Aku masuk kedalam kamar itu dan ku tutup pintunya. Ku ambil foto keluarga kami hang terletak di meja rias mamaku. Kupeluk foto itu dan kucoba merasakan setiap kasih sayang mereka.


Tak sadar aku mulai menangis. Hatiku sangat hancur mengingat apa yang terjadi belakangan ini dan betapa sakitnya mereka tak ada di sampingku.


"Ma.. Pa.. mungkin kalau kalian masih ada yang kurasakan gak akan sesakit ini. Mas dewa dan Sintia selingkuh dibelakang ku ma... pa..Lidia harus apa, Lidia ngerasa sakitnya sendirian. Kalau kalian masih ada pasti papa gak akan biarin Lidia sendirian ngadepin ini semua."


"Kenapa? Kenapa Lidia ditinggalkan begitu cepat?" Tangis ku semakin pecah karena disini aku merasa bisa menumpahkan isi hatiku. Ku pandangi foto pernikahan mama papaku yang di pajang sangat besar di dinding kamar itu.


Akh betapa bahagianya mereka, bahkan sampai maut menjemput mereka tetap menjadi pasangan yang saling mencintai.Mereka sangat cocok bersanding. Bahkan ketika maut datang, cinta mereka lebih memilih untuk pergi ke pangkuan illahi bersama dan meninggalkan aku disini sendirian


Saat aku mulai kembali ke kesadaran ku, kulihat ada notifikasi pesan di hp ku. Itu chat dari mas dewa


[Dimana kamu lid, aku dari tadi nyariin


Aku udah di rumah tapi kamu gak disini. Aku ingin jelasin semuanya sayang. Kasih tau aku ya lokasimu dimana itu tadi hanya salah paham]


hahahaha salah paham katanya jelas-jelas aku tau apa yang mereka perbuat tapi dia bilang itu cuma salah paham. Ternyata aku baru tau pria yang selama ini ku cintai begitu tidak mau merasa bersalah. Bodohnya aku baru sadar itu. Aku cuma baca chat itu dan ku putuskan untuk tidak membalasnya.


[Sayang kok cuma di read, balas dong. Jangan gini, mau sampai kapan kamu diamin aku. Pliss malam ini pulang ke rumah ya, aku ingin kita bicarakan empat mata]

__ADS_1


lagi-lagi ku baca chat itu dan ku nonaktifkan hpku agar tak lagi ada chat masuk darinya. Aku muak dengannya. Badanku sangat lelah dan aku segera berjalan menuju kamar mandi. Selesai mandi ku putuskan untuk istirahat sebentar untuk melepas penat badan ku.


__ADS_2