Mereka Yang Ku Sayang Menghianatiku

Mereka Yang Ku Sayang Menghianatiku
Hidup harus berlanjut kan?


__ADS_3

Tidak terasa satu minggu berlalu aku menghabiskan waktu ku di rumah kakek. Betapa nyaman yang kurasa, aku tidak harus bertemu dengan dewa dan Sintia. Tapi biar bagaimanapun hidup harus tetap berjalan kan.


Aku memejamkan mataku sembari mengingat semua kenangan indah dengan mas dewa. Dulu kami adalah dua orang yang saling mencintai. Entah bagaimana dia tega melakukan ini padaku. Dulu aku merasa semua indah, aku memiliki suami dan sahabat yang sangat baik. Tapi ternyata semua itu adalah palsu. Aku memang sangat menyayangi mas dewa tapi luka yang kudapat dibalik penghianatan nya ini seakan menenggelamkan rasa cintaku.


Aku sudah putuskan untuk membalaskan dendamku. Aku lebih memilih jadi wanita yang kuat dan tangguh daripada jadi istri yang memohon-mohon agar dia kembali padaku. Kalau memang dia menikmati permainannya biarlah mereka lanjutkan tapi tentunya dengan Hujaman balasan dariku.


Namun biar bagaimana pun hatiku tidak bisa bohong. Kala sendiri aku tetap merasa sakit yang luar biasa. Bukan karena penghianatan suamiku tapi karena sahabatku yang selama ini ku anggap orang paling penting di hidupku ternyata menyimpan dendam yang luar biasa padaku.


Kubuka mataku dan aku berjalan ke arah cermin di dinding kamar orang tuaku.


"Kamu cantik dan luar biasa Lidia, tak seharusnya kamu merasa di hianati. Dewa yang rugi membuang berlian demi setumpuk batu biasa di pinggir jalan."


Aku menyemangati diriku sendiri di depan cermin itu lalu aku berjalan menuju koperku. Kutarik koper itu menuju pintu tapi sebelum aku membuka pintu dan meninggalkan kamar ini. Kupandangi sekeliling kamar, kamar yang memiliki sejuta kenangan indah untukku.


"Aku akan kembali dengan keadaan yang lebih baik lagi. Mama papa doain Lidia ya, tunggu Lidia nanti Lidia datang berkunjung lagi" kataku sembari menahan sesak di dadaku seakan tak ingin pulang ke Jakarta. Tapi aku udah putuskan besok aku akan masuk kantor.


"Lama amat princess ngambil koper aja. Meditasi apa gimana lu di dalam"


"Diam lu ren, bawel amat lu. Ayo cepat kita pamitan sama kakek"

__ADS_1


"Selow dong lid jangan galak-galak akh nanti cantiknya luntur"


"Bawel" sahutku sembari berjalan menuju ruang tamu.


Disana kulihat kakek udah nungguin kami berdua. Sepintas ku lihat raut wajahnya sangat sedih.


"Kenapa kakek kok sedih?"


"Kalian cepat banget pulangnya. Kakek terlalu bahagia lihat kalian seminggu ini disini. Kakek tidak merasa sepi lagi"


"Jangan gitu dong kek, kalau gitu kakek ikut Rendi aja ke Jakarta. Nanti kakek tinggal bareng sama Rendi daripada disini sendirian"


Lagi dan lagi bang Rendi mencoba membujuk kakek agar ikut dengan kami ke Jakarta. Kami juga tidak tega meninggalkan kakek disini sendirian.


"Enggak lah, kakek disini saja. Kalian hati-hati di Jalan ya"


Tidak terasa kami sudah sampai kembali di jakarta. Bang Rendi mengantarkan aku kembali ke rumah tapi aku malas masuk ke rumah itu. Rasanya sekarang rumah itu sama rasanya dengan neraka untukku.


"Masuk gih, katanya wanita kuat. Itu rumah lu Lidia masa masuk ke rumah sendiri aja takut"

__ADS_1


"bukan takut ren tapi males. Nanti pasti ketemu dewa lagi. Ihh ogahhh"


"Jangan gitu, kalau ketemu dia cuekin aja. Besok abang jemput dan antar ke kantor jadi malam ini langsung tidur ya jangan begadang. Kalau elu sakit gue yang repot ngurusin"


"Iya iya bawell. Pulang sana, hati-hati di jalan awas ada mbak Kunti yang nemanin" aku mencoba menakut-nakuti Rendi


"Sue lu ya udah gue balik"


Ku langkahkan kakiku dengan malas menuju pintu. Di depan pintu aku melihat mas dewa yang senyum seakan menunggu aku pulang


"Dari mana aja lid, kamu seminggu gak bisa dihubungi"


"Dari rumah kakek. Udah akh aku capek mas mau istirahat"


aku ingin berjalan menuju kamarku karena sangat malas berurusan dengan lelaki satu ini. Tapi baru mau melangkah mas dewa menarik tanganku


"Apaan sih mas lepasin" kataku memberontak


"Kita harus ngomongin ini lid. Jangan gini terus"

__ADS_1


"Gak ada yang perlu diomongin lagi. Aku capek mas. Udah ya aku mau istirahat"


Aku berlalu meninggalkan dia. Sungguh aku tidak ingin lagi melihat wajahnya. Ada rasa sakit di hatiku saat melihat nya. Meski sejujurnya aku juga rindu bermanja di pelukannya. Tapi sekarang bagiku dia tidak lebih dari orang asing


__ADS_2