
Beberapa hari berlalu tapi aku belum mendapatkan kabar dari Rendi. Hingga tiba-tiba suara hp ku membuyarkan lamunanku.
[Aku udah didepan kantor dan aku lihat dewa keluar dari kantor tapi dia gak bareng sama Sintia]
[ Mereka gak bareng? Coba ikutin ren plisss]
[Baik nona] dia menggodaku di pesannya itu
Selang beberapa jam tapi belum ada balasan kabar dari Rendi. Aku cemas karena abangku itu harus cuti demi mengikuti suamiku. Sebenarnya aku gak ingin ini terjadi tapi Rendi keras kepala ingin mencari celah agar aku bisa punya alasan masuk kantor.
Beberapa waktu sambil menunggu kabar dari Rendi perutku mulai lapar. Kulihat jam tanganku ternyata sudah waktunya makan siang.
"Oalah aku sampai lupa makan" pikirku
Aku duduk di meja makan, disana sudah terhidang makanan kesukaanku. Aku mulai menyendok ke piringku dan ku cicipi. Akh masakan mbok ati memang selalu enak
Mbok ati adalah ART di rumahku, dia sudah melayani keluarga kami bahkan mulai dari aku masih kecil. Dia adalah keluarga kedua yang ku miliki setelah Rendi.
[Lid ternyata tadi dewa ke hotel setelah agak lama gue tunggu benar aja dugaan gue Sintia datang menyusul]
Hotel? Hatiku semakin sakit. "Dia bertemu dengan Sintia di hotel? Apa-apaan ini ternya diamku selama ini dia jadikan alasan untuk bertemu perempuan itu di hotel" Rasa sakitku semakin besar. Dan aku mulai membenci laki-laki yang selama ini ku cintai itu. Bahkan rasa benciku sekarang lebih besar dari cinta yang ku miliki.
[ Hotel mana? Shareloc sekarang juga]
Setelah mendapat posisi Rendi sekarang aku segera menyalakan mobilku dan menuju ke hotel itu. Tapi entah kenapa jalanan hari ini cukup macet. Aku mulai gelisah, aku takut tidak sempat menonton pertunjukan ranjang yang hebat antara dewa dan Sintia. Karena aku yakin mereka check in demi itu. Logika aja laki-laki yang sudah semingguan didiamkan istri nya bertemu berduaan di kamar hotel dengan perempuan selingkuhannya pasti melakukan hubungan terlarang kan.
Sebenarnya jarak hotel itu dari rumah hanya 20 menit tapi karena macet aku hampir satu jam di jalan. Setelah sampai di lobby hotel aku mengirim pesan ke Rendi
__ADS_1
[Dimana, gue di lobby nih. Temenin gue yuk ini kan hotel lu kalau sendirian gue takut tidak akan dikasih kunci cadangan kamarnya]
Setelah membaca pesan itu kulihat Rendi berjalan keluar dari mobilnya. Dia berjalan ke arahku dan tersenyum.
"Ayog nona" katanya
"Selamat pagi Pak Rendi, selamat pagi Bu Lidia"
Manager hotel itu diikuti beberapa staf berlari menghampiri kami. Aku hampir lupa kalau abang sepupu kesayanganku ini adalah pemilik hotel ini. Tapi dia sangat tidak mau dibilang sultan, bahkan hingga kini dia masih bekerja di perusahaan majalah padahal hartanya berlimpah ruah.
"Pak mohon maaf bapak tiba-tiba datang kami tidak menyiapkan sesuatu untuk menyambut bapak. Apa ada masalah dengan hotel kita ini pak?" Manager itu bertanya dengan wajah yang khawatir.
"Enggak kok semua aman, aku hanya ingin menemani adikku ini untuk mengecek sesuatu. Oh iya resepsionis nya mana panggilkan dia padaku"
Lima menit berselang seorang perempuan berlari kearah kami duduk. Aku bisa melihat ketakutan di wajahnya seakan dia telah melakukan kesalahan.
"Maaf Pak Rendi memanggil saya" dia gemetar
"Enggak pak"
"Kalau enggak kenapa takut apa aku kelihatan seseram itu"
Aku cekikikan mendengar Rendi ngomong gitu. Ini kali pertamanya akau melihat betapa staffnya sangat menakutinya.
"Tolong bawa buku tamu hari ini. Tolong lihat nama dewa disana. Dia check in sekitar pukul 10 tadi. Setelah itu bawakan aku kunci cadangannya"
"Baik pak" kata perempuan itu sambil berlari. Kemudian Rendi menyuruh manager dan staf yang mengikutinya tadi untuk kembali bekerja. Rendi bilang dia kesini untuk masalah pribadi. Selang beberapa waktu resepsionis tadi datang membawa kunci cadangan. Di gagang kunci itu tertera 405 yang menandakan dewa ada dilantai 4. Kami bergegas menuju ke kamar yang tertera di kunci itu.
__ADS_1
Setelah sampai di depan kamar itu kuputuskan untuk tidak menggunakan kunci cadangan itu. Ku ketok pintu itu dengan sangat kasar.
"Pakai kunci ini aja lid" sahut Rendi
"Enggak usah ren, tadinya kunci itu ku perlukan apabila ku dengar suara-suara halus dari kamar ini. Tapi sepertinya pertunjukan yang ingin ku tonton itu sudah lewat jadi kunci itu sudah tidak perlu lagi."
"Dewa buka " teriakku dari luar.
Tak lama kudengar suara pintu dibuka. Hatiku sangat panas sehingga ku layangkan dua tamparan di wajah dewa. Wajah yang selama ini sangat aku kagumi ternyata kini membuatku sangat muak. Aku jijik melihatnya.
Ku tumpahkan semua isi hatiku. Ku hampiri juga Lidia, bagaimana pun juga dia pernah jadi orang yang sangat ku sayang. Tapi lagi-lagi dia bersikap sok polos sehingga ku layangkan satu tamparan di wajah nya itu. Setelah puas mengutarakan semua, aku berlari menuju Rendi dan ku ajak dia keluar. Selama di dalam kamar 405 itu Rendi memang tidak berbicara apapun, dia memberiku ruang untuk menumpahkan semua isi hatiku. Tapi saat aku melihat ke arahnya aku melihat seakan bola matanya mau keluar. Dia memelototi dewa dan membuat dewa ciut. Ya, mas dewa memang dari dulu sangat menghormati nya.
Saat di luar kamar aku kaget dengan banyaknya staf dan tamu hotel yang berkerumun disitu. Aku sedikit gugup dan malu tapi tiba-tiba kurasakan tangan Rendi menggenggam tangan ku.
"Gapapa lid, yang lu lakukan itu benar. Ada gue di samping lu jadi jangan gugup kita keluar hotel dulu."
"Malam ini lu gak usah pulang dulu ya lid, kita ke rumah kakek dulu. Kita nginap disana aja. Gue tau lu masih gak ingin pulang ke rumah dan melihat wajah suami kurang ajar lu itu"
"Tapi ren, ke Bandung itu butuh waktu 3 jam loh
Lu gak capek?" Rumah kakek kami memang terletak di Bandung. Kakek lebih memilih tinggal di daerah perkebunan luas disana
"Gapapa lid lagian kita kan sudah lama tidak menjenguk kakek kita itu. Gue kangen kakek nih. Emang lu enggak? Ih cucu durhaka lu" dia menggodaiku lagi. Aku tau aku selalu gak pernah bisa menolak perkataan abangku ini.
"Ih apaan sih" aku memanyunkan bibirku
hahahaha Rendi ketawa cekikikan melihatku berpura-pura ngambek.
__ADS_1
"Gue juga kangen kakek tau, udah lama gak ketemu. Ya udah ayo ke rumah kakek tapi sebelum itu kita makan dulu ya. Gue lapar nih habis marah-marah lagi"
Ya perutku memang lapar lagi. aku baru sadar ternyata kejadian tadi sangat menguras energi ku makanya aku lapar lagi. hahaha